240708 Tourismus China
5 Agustus 2008
Bila Komite Penyelenggara Olimpiade Cina menggelar konferensi pers mereka selalu mengumumkan sukses besar dalam persiapan untuk perhelatan olah raga akbar di Beijing. Berbeda lagi bila bicara mengenai pariwisata selama Olimpiade. Wakil direktur Badan Pariwisata Beijing Xiong Yumei menyatakan:
"Jumlah reservasi perlahan bertambah dengan stabil. Bulan Mei, 77 persen kamar di hotel bintang lima sudah habis, bulan Juni ada peningkatan setengah persen. Itu sesuai dengan harapan kami. Menurut perkiraan kami, 450 000 wisatawan asing akan datang untuk Olimpiade dan membawa keuntungan 400 miliar Dollar."
Sementara, hotel-hotel murah yang masih separuh kosong mulai menurunkan harga kamarnya. Ini tak hanya berlaku pada hotel Cina tapi juga hotel kelas menengah milik rantai internasional. Hotel Ibis misalnya memasang harga kamar untuk satu kamar dobel bed dengan 80 Euro atau sekitar 1.100.000 rupiah. Ini pertanda, boom Olimpiade yang didengung-dengungkan tak kunjung tiba untuk sektor pariwisata. Martin Botz, salah satu pemilik biro perjalanan The Last Frontiers membenarkan hal ini:
"Saat bicara denga mitra kami di Beijing mereka melaporkan jumlah tamu sekarang berkurang. Itu menurut biro perjalanan Cina di Beijing. Tapi, hal sama juga dikeluhkan perusahaan besar yang mencatat penurunan tamu antara 30 sampai 50 persen tahun ini."
Setahun menjelang Olimpiade, harga kamar di Beijing meroket, antara 50 sampai 80 persen dari harga semula. Misalna hotel Grand Hyatt. Di internet tercantum harga satu kamar untuk dua orang selama Olimpiade sekitar 900 Euro. Beberapa hari setelah pesta olah raga itu usai, harga kamar tinggal 200 Euro. Grup hotel besar tak dapat mengembalikan kontingen hotel yang telah disepakati dengan Komite Penyelenggara Olimpiade. Sementara boom pembanguan hotel tetap berlanjut. Wakil direktur Kantor Pariwisata Beijing Xiong Yumei:
"Menurut statistik kami, 30 hotel baru akan diresmikan sebelum Olimpiade dimulai, hampir setengahnya adalah hotel bintang lima."
Lalu, mengapa para wisawatan tak kunjung datang ke Cina? Salah satu faktornya adalah politik Cina. Demikian menurut juru bicara kantor perjalanan China-Tours Kurt Uebachs:
"Menyeruaknya konflik Tibet musim semi ini tentu merupakan salah satu penyebabnya. Selain itu, gempa hebat yang terjadi di Cina juga membuat wisatawan enggan datang. Jadi, berkurangnya tamu tahun ini tak hanya disebabkan Olimpiade dan ledakan harga kamar di Beijing."
Sementara, Kepala Kamar Dagang Eropa di Beijing Jörg Wuttke menyebutkan ketatnya syarat untuk memperoleh visa masuk ke Cina sebagai faktor penghambat boom pariwisata:
"Saya kira, hal ini menyebabkan Cina tampak tertutup bagi orang asing dan pada akhirnya hanya sedikit wisatawan yang datang ke sini. Kota yang dibangun Cina untuk menyambut tamu dan mengajak mereka berpesta sepi pengunjung, hanya sedikit orang yang dapat menikmati kota yang luar biasa dengan budayanya yang cantik ini." (zer)