Cina-Meksiko Mendingin Gara-gara Flu Babi
6 Mei 2009
Sebuah pesawat jet dari Meksiko mendarat di Shanghai Selasa (05/05) untuk membawa pulang warga Meksiko yang dikarantina aparat Cina sebagai upaya menghindari penyebaran flu babi. Pesawat AeroMexico itu juga akan singgah di Beijing, Guangzhou dan Hongkong untuk melakukan misi serupa.
Di sebuah hotel di Shanghai, polisi bersenjata memandu petugas medis dengan masker dan pakaian pelindung untuk memindahkan warga Meksiko ke dalam sekitar 30 ambulans yang membawa mereka ke lapangan udara. Demikian terbaca dalam Eastday.com, situs internet yang dijalankan pemerintah kota.
Akhir pekan lalu, Duta Besar Meksiko di Cina Jorge Guajardo memprotes perlakuan otoritas setempat terhadap 70 warganya. Ia mengatakan, "Kami mendapat laporan bahwa mereka dikarantina semata-mata karena mereka menunjukkan paspor Meksiko. Bahkan tidak teliti lebih dulu apakah mereka baru tiba dari Meksiko atau tidak. Atau apakah mereka baru berhubungan dengan orang lain dari Meksiko atau tidak. Jadi hanya karena mereka menunjukkan paspor Meksiko."
Akhir pekan lalu Cina menghentikan penerbangan dari dan ke Meksiko, pusat penyebaran wabah flu babi. Cina juga mengirim sebuah pesawat ke Meksiko guna mengangkut sekitar 200 warganya yang terdampar di negara itu akibat krisis flu babi, demikian pernyataan China Southern Airlines, setelah kedua negara menyetujui perjanjian repatriasi atau pemulangan.
Selasa (05/05), Kementrian Luar Negeri Cina mmembela tindakan preventif terhadap flu babi yang dampaknya terutama dirasakan warga Meksiko. Selain itu, sekitar 25 mahasiswa Kanada juga dikaratina selama 7 hari di Changchun, kota di timur laut Cina, walaupun mereka lolos dalam pemeriksaan kesehatan di bandara Beijing. Juru bicara Kementrian Luar Negeri Cina Ma Zhou mengatakan, karantina terhadap mahasiswa Kanada dilakukan sejalan dengan peraturan terkait dan undang-undang pencegahan epidemi. Kanada termasuk negara yang memiliki angka tertinggi kasus flu babi. Kepada wartawan, Ma mengatakan tidak bisa menyebut jumlah total warga asing yang dikarantina di Cina.
Cina juga mempertahankan larangan terhadap daging babi impor dari kawasan yang terjangkit flu babi, termasuk Meksiko, Amerika Serikat dan Kanada. Ma Zhou mengatakan, larangan itu sesuai dengan peraturan Organisasi Perdagangan Dunia, WTO.
Sementara itu, Sekertaris Jendral PBB Ban Ki Moon menghalau kekuatiran mengenai kemungkinan dinaikkannya status siaga oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO. "Semua negara memiliki sumber daya yang mereka butuhkan untuk melakukan pengawasan dan melindungi rakyat mereka. WHO tidak punya rencana untuk menaikkan tingkat siaga menjadi enam, saat ini", kata Ban.
Dari Jenewa dilaporkan, WHO memulai pengiriman 2,4 juta obat antiflu ke 72 negara yang paling membutuhkan. WHO menolak menyebut nama negara penerima namun menyatakan Meksiko termasuk di dalamnya. Juga negara yang dinilai tidak mampu mengupayakan persediaan obat tersebut. Jurubicara WHO Fadela Chaib mengatakan, obat itu adalah stok dari lima juta Tamiflu, produksi Roche Holding AG, yang disumbangkan kepada WHO tahun 2005 dan 2006.
RP/ap/afp/rtr
Editor: Hendra Pasuhuk