Cina Bergantung pada Teknologi di Tengah Stagnasi Ekonomi
12 Maret 2026
Ribuan delegasi menghadiri pertemuan ”Dua Sesi” di Beijing - pertemuan tahunan dengan badan legislatif Cina, Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan pertemuan tahunan Badan Penasihat Politik Cina (CPPCC).
Pertemuan "Dua Sesi” ini membahas potensi perubahan kebijakan Cina terutama di bidang ekonomi, keamanan, dan urusan luar negeri.
Dalam pertemuan "Dua Sesi” yang akan berakhir pada Kamis (12/03) tersebut, Beijing mengirim sinyal jelas akan memperkuat teknologi dan meningkatkan permintaan domestik di tengah stagnasi ekonomi.
Cina menetapkan target pertumbuhan terendah
Sidang "Dua Sesi” tahun ini bertepatan dengan peluncuran Rencana Lima Tahun ke-15 Cina, peta jalan ekonomi dan politik negara tersebut untuk periode 2026–2030.
Perdana Menteri Li Qiang menetapkan target pertumbuhan PDB sekitar 4,5-5% untuk tahun 2026, yang merupakan target resmi terendah sejak 1991. Angka ini menandai pergeseran signifikan setelah puluhan tahun Cina mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, menempatkan negaranya sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi global.
Xu Chenggang, peneliti senior di Pusat Studi Ekonomi dan Institusi Cina di Universitas Stanford, AS, mengingatkan bahwa perkiraan independen pertumbuhan ekonomi Cina dapat menunjukkan angka yang mungkin jauh lebih rendah dari yang tercantum dalam statistik pemerintah.
"Mengingat ekonomi yang terus-menerus turun dan tekanan yang terus meningkat, mereka harus menurunkan proyeksi resmi mereka,” jelas Xu.
Meningkatkan pengeluaran konsumen menjadi prioritas utama lainnya yang turut ditekankan Perdana Menteri Li. Namun, pemerintah tidak mengumumkan stimulus fiskal yang secara signifikan lebih besar dibandingkan tahun lalu. Hal ini telah menimbulkan pertanyaan di kalangan beberapa analis, apakah langkah-langkah yang ada cukup untuk menghidupkan kembali permintaan domestik yang lemah.
Xu berargumen bahwa pendapatan rumah tangga Cina yang relatif rendah menghambat jumlah konsumsi. "Jika pendapatan tidak ditingkatkan, pemerintah hanya memberikan janji kosong dalam menangani masalah ini,” katanya.
Teknologi baru jadi sorotan dalam rencana lima tahunan
Peluncuran Rencana Lima Tahun Cina yang ke-15 juga menyoroti fokus Beijing pada pengembangan teknologi.
Meskipun terjadi perlambatan ekonomi, Cina berencana untuk menggandakan PDB-nya pada tahun 2035, membandingkannya dengan PDB tahun 2020. Di Beijing, Perdana Menteri Li menyatakan bahwa sektor-sektor seperti kecerdasan buatan, robotika humanoid, dan energi terbarukan akan memainkan peran sentral dalam mencapai tujuan tersebut.
Li juga mengatakan bahwa pemerintah akan "mengoordinasikan pengembangan infrastruktur komputasi… untuk memperkuat dasar-dasar pengembangan digital dan teknologi cerdas.”
Dorongan ini dilakukan di tengah persaingan teknologi canggih dengan AS.
Kecerdasan buatan esensial bagi perkembangan Cina
Alexander Brown, seorang analis senior di Mercator Institute for China Studies, mengatakan bahwa Beijing memandang kecerdasan buatan (AI) sebagai "alat penting untuk mempercepat ambisi industri dan teknologi tinggi mereka.”
Dia menambahkan bahwa energi terbarukan yang melimpah dan dukungan pemerintah yang kuat di Cina dapat memberikan keunggulan kompetitif dalam mengembangkan industri-industri ini.
Namun, Brown mempertanyakan bagaimana Cina memenuhi ambisi pengembangan industri berteknologi tinggi sembari mendorong pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh konsumsi domestik.
"Cina mengatakan ingin meningkatkan konsumsi sambil terus memperluas basis industri dan kemampuan inovasinya,” jelas Brown, "Saya pikir mereka tidak dapat melakukan keduanya secara efektif dalam lima tahun ke depan.”
Menlu Cina ingin eratkan hubungan dengan Eropa
Dalam kebijakan luar negerinya, Beijing menyatakan ingin memperbaiki hubungan dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat serta 'menegur' Jepang terkait Taiwan.
Dalam konferensi pers yang dihadiri oleh jurnalis domestik dan internasional, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan hubungan antara Cina dan Uni Eropa sedang membaik setelah sejumlah pemimpin Eropa mengunjungi Cina dalam beberapa bulan terakhir. Ia juga berargumen bahwa hubungan baik yang berlanjut akan menguntungkan kedua belah pihak secara ekonomi.
Pada saat yang sama, ia mendesak pembuat kebijakan Eropa untuk menciptakan "pemahaman yang benar tentang Cina.”
Wang juga menanggapi perselisihan diplomatik yang sedang berlangsung antara Cina dan Jepang terkait Taiwan, pula yang dianggap Beijing adalah bagian dari Cina, bukan negara independen.
Beijing dan Tokyo berselisih akibat pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengatakan invasi Cina ke Taiwan dapat dianggap sebagai "situasi yang mengancam kelangsungan hidup” Jepang. Hal ini memungkinkan Tokyo untuk menggunakan hak hukumnya untuk pertahanan kolektif.
Menlu Cina nampaknya mengkritik PM Jepang tersebut tanpa menyebut namanya secara langsung.
Dia menegaskan bahwa masalah Taiwan adalah urusan dalam negeri Cina, sembari mempertanyakan kepentingan Jepang dalam hal ini.
"Semakin jelas penolakan komunitas internasional terhadap ‘kemerdekaan Taiwan', semakin terjamin perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” kata Menlu Cina.
Wang juga menggambarkan tahun 2026 sebagai "tahun besar” bagi hubungan antara Cina dan Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa keterlibatan level tertinggi negara, termasuk kemungkinan pertemuan Xi dan Presiden Donald Trump, menjadi pertimbangan negaranya.
"Jika kedua belah pihak saling menghormati dan jujur,” kata Wang, "Daftar masalah akan semakin pendek dan daftar kerja sama akan semakin panjang.”
Wu-Ueh Chang, peneliti senior di Institut Penelitian Kebijakan Nasional Taiwan, mengatakan pertemuan potensial antara Xi dan Trump kemungkinan akan fokus pada stabilisasi hubungan daripada menghasilkan terobosan besar.
Terkait Taiwan, menurut Wu "Selama hubungan Cina-AS tidak diluar kendali, kemungkinan tidak akan ada kejutan besar.”
Beijing di tengah ketegangan internasional dan persaingan
Pertemuan yang rencananya berakhir pada 12 Maret, saat delegasi Kongres Rakyat Nasional akan melakukan voting untuk menyetujui anggaran pemerintah, target ekonomi, dan agenda legislatif.
Meskipun pemungutan suara tersebut umumnya dianggap sebagai formalitas, pertemuan tahunan tersebut mengukuhkan kerangka kebijakan Cina di tahun mendatang.
Secara keseluruhan, "Dua Sesi” tahun ini menunjukkan kepemimpinan yang bersiap menghadapi era yang lebih kompleks dengan berusaha menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi yang lamban, persaingan teknologi, dan ketegangan geopolitik.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid