1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cina, Rusia, dan India Unjuk ‘Solidaritas’ dalam KTT SCO

Sorta Caroline sumber: Reuters
27 Agustus 2025

Presiden Xi Jinping menghimpun lebih dari 20 pemimpin dunia dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) pekan depan, yang diharapkan melahirkan solidaritas baru negara-negara 'global south' dalam menghadapi era Trump.

Modi, Putin, dan Xi dalam KTT BRICS 2024
Modi, Putin, dan Xi dalam KTT BRICS 2024Foto: Alexander Kazakov/SNA/IMAGO

Lebih dari 20 pemimpin dunia dijadwalkan akan menghadiri KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO), demi meningkatkan kerjasama politik, ekonomi, keamanan, dan militer di kawasan Eurasia. SCO akan digelar 31 Agustus hingga 1 September mandatang. 

Forum keamanan regional ini diharapkan bisa merangsang solidaritas di antara negara-negara ‘global south' dalam menghadapi era Presiden Donald Trump.  Dalam pertemuan ini, Presiden Xi Jinping juga membuka ruang diplomasi bagi Rusia untuk melonggarkan himpitan sanksi serta tarif dagang, yang juga mengancam negara-negara anggota lainnya.

Konferensi Tingkat Tinggi SCO tahun ini akan digelar di kota pelabuhan Tianjin,Cina akan dihadiri pemimpin-pemimpin negara anggota penuh SCO yakni Cina, India, Rusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Uzbekistan, Iran, Pakistan dan Belarusia. SCO juga akan dihadiri organisasi internasional seperti ASEAN dan PBB, serta negara-negara mitra dialog seperti Indonesia, Turki, hingga Mesir.

Tatanan dunia baru tanpa AS

KTT ini menjadi kunjungan pertama Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Cina sejak tujuh tahun terakhir, setelah kedua negara bersitegang akibat sengketa wilayah perbatasan Ladakh yang diwarnai insiden baku pukul antara serdadu kedua negara.

Namun ini bukan kali pertama Modi melakukan pertemuan dengan Presiden Cina, Xi Jinping, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Ketiganya bertemu pada KTT BRICS yang digelar tahun lalu di Kazan, Rusia. Pejabat Kedutaan Besar Rusia di New Delhi pekan lalu mengatakan Moskow berharap pembicaraan trilateral antara Cina dan India akan segera berlangsung.

"Xi akan ingin menggunakan KTT ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan seperti apa tatanan internasional pasca-Amerika Serikat dan menunjukkan bahwa semua upaya Gedung Putih sejak Januari 2025 melawan Cina, Iran, Rusia, dan kini India belum memberikan efek yang signifikan," kata Eric Olander, kepada redaksi sebuah lembaga riset The Cina-Global South Project.

"Lihat saja betapa BRICS telah mengguncang (Presiden AS) Donald Trump, itulah tujuan dari kelompok-kelompok ini,” imbuhnya.

KTT tahun ini akan menjadi yang terbesar sejak SCO didirikan pada tahun 2001, kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Cina pekan lalu. Dia menyebut blok tersebut sebagai "kekuatan penting dalam membangun hubungan internasional yang baru".

Blok yang berfokus pada keamanan ini awalnya didirikan enam negara Eurasia yakni Cina, Rusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Uzbekistan yang kini telah berkembang menjadi 10 anggota tetap dan 16 negara mitra dialog dan pengamat dalam beberapa tahun terakhir. Cakupan kerja sama pun turut  meluas dari keamanan dan kontra-terorisme hingga kerja sama ekonomi dan militer.

‘Simbolik minim substansi'

Analis mengatakan perluasan keanggotaan penting dalam pertemuan ini, namun para analis sepakat bahwa blok tersebut belum mencapai hasil kerja sama substansial. Selain itu, Cina memang diyakini hanya ingin membangun citra solidaritas di antara negara-negara global south melawan kebijakan yang tidak konsisten dan gejolak geopolitik yang ditimbulkan AS.

"Visi dan implementasi praktis SCO masih ‘tidak jelas'. Meski platform ini memiliki kekuatan sebagai forum yang mempertemukan negara besar dan strategis serta dapat memproyeksikan narasi," kata Manoj Kewalramani, ketua program Penelitian Indo-Pasifik di lembaga think tank Takshashila Institution di Bangalore.

Efektivitas SCO dalam menangani isu-isu keamanan yang substansial pun masih sangat terbatas. Ketegangan tetap ada antara anggota intinya yakni India dan Pakistan. Pertemuan menteri pertahanan SCO pada Juni lalu tidak dapat mengadopsi pernyataan bersama setelah India mengajukan keberatan, dengan alasan pernyataan tersebut tidak mencantumkan serangan mematikan pada 22 April terhadap turis Hindu di Kashmir India, yang memicu pertempuran terparah dalam sejarah India dan Pakistan.

New Delhi juga turut menolak bergabung dengan SCO yang mengecam serangan Israel terhadap Iran, negara anggota SCO, pada awal Juni lalu. 

India: Cina sebagai alternatif terhadap AS?

‘Melonggarnya' ketengangan India dan Cina di perbatasan serta serta tekanan tarif baru dari administrasi Trump terhadap New Delhi, mendorong harapan akan hasil positif pertemuan Xi dan Modi di sela-sela KTT.

"Kemungkinan besar (New Delhi) tidak mempermasalahkan isu-isu yang ada dibalik SCO demi mempertahankan momentum perbaikan hubungan dengan Cina, yang saat ini menjadi prioritas utama Modi," kata Olander.

Analis memperkirakan India dan Cina akan mengumumkan langkah-langkah perbaikan di perbatasan, seperti penarikan pasukan, pelonggaran pembatasan perdagangan dan visa, kerja sama di bidang-bidang baru.

Sebelumnya, pada 19 Agustus lalu, Modi melakukan pertemuan langsung dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di New Delhi kembali menormalisasi hubungan kedua negara setelah ketegangan di perbatasan yang memuncak pada 2020. Pertemuan ini melahirkan kesepakatan bersama untuk melanjutkan penerbangan langsung, penerbitan visa jurnalis, serta memfasilitasi pertukaran perdagangan dan budaya.

Meskipun tidak ada pengumuman kebijakan substansial yang diharapkan di KTT ini, para ahli memperingatkan bahwa kekuatan blok ini terhadap negara-negara global south tidak dapat diremehkan.

"KTT ini tentang pencitraan, pencitraan yang sangat kuat,” tambah Olander. Modi diperkirakan akan meninggalkan Cina setelah KTT, sedangkan Putin akan tinggal lebih lama untuk menghadiri parade militer memperingati Perang Dunia II di Beijing pada akhir pekan ini, mengirim sinyal kuat kemitraan Rusia-Cina yang kian erat di tengah dominasi barat.

Editor: Rizki Nugraha