Cina Tambah Tekanan di Tibet
21 Maret 2008
Cina menambah tekanan terhadap demonstran Tibet Jumat ini (21/03) dengan menyebarluaskan foto 21 tersangka yang paling dicari, yang terekam kamera video dalam kerusuhan pekan lalu di Lhasa. Foto-foto tersebut juga muncul di situs-situs internet yang populer seperti yahoo.com dan sina.com.
Koran Tibet Daily kemudian memberitakan bahwa dua tersangka sudah ditangkap. Surat kabar yang diawasi pemerintah itu juga mencantumkan nomor telefon hotline untuk menerima informasi masyarakat tentang buronan sisanya.
Merujuk pada pengerahan aparat keamanan ke Tibet dan kawasan lain di Cina yang banyak dihuni warga Tibet, para aktivis dan kelompok hak asasi memperingatkan terjadinya penangkapan massal dan kemungkinan penyiksaan terhadap mereka yang ditahan.
Upaya Cina untuk menampilkan wajah terbaiknya menjelang perhelatan akbar Olimpiade di Beijing bulan Agustus, berhadapan dengan dunia internasional yang mengecam cara Cina menangani protes anti pemerintah di Tibet.
Ketua parlemen Amerika Serikat Nancy Pelosi hari Jumat (21/03) melontarkan kata-kata keras terhadap pemerintah Cina. Situasi di Tibet adalah tantangan bagi hati nurani dunia, kata Pelosi yang disambut ribuan eksil Tibet yang mengibar-ngibarkan bendera, setibanya ia di Dharmsala untuk bertemu Dalai Lama. Pelosi menyerukan agar dilakukan penyelidikan internasional mengenai kekerasan yang terjadi di Tibet. Dunia harus tahu apa yang terjadi, katanya.
Menghadapi keprihatinan internasional terhadap cara Cina menangani kerusuhan di Tibet, media pemerintah untuk pertama kalinya mengakui bahwa polisi melepaskan tembakan ke arah pemrotes. Selama berhari-hari kantor berita Xinhua memberitakan pernyataan resmi bahwa tidak digunakan senjata api untuk membubarkan huru-hara, dengan korban tewas yang jumlahnya tak diketahui jelas. Namun Kamis malam Xinhua melaporkan, 4 orang ditembak dan terluka, di provinsi Sichuan. Disebutkan, polisi menembak dalam rangka membela diri. Sichuan adalah provinsi Cina yang banyak dihuni warga TIbet.
Secara resmi Cina mengindikasikan 13 orang terbunuh dalam kerusuhan yang meletus di ibukota Tibet, Lhasa, dan menyebar ke kawasan lain. Kerusuhan menentang kekuasaan Cina di Tibet pekan lalu merupakan yang terburuk sejak 20 tahun.
Keterangan resmi menyebutkan, para korban semuanya warga sipil tak bersalah yang dibunuh oleh gerombolan Tibet. Namun, pemerintahan eksil Tibet pimpinan Dalai Lama yang berpusat di Dharmsala India, mengatakan telah mengkonfirmasi bahwa 99 orang tewas dalam kerusuhan, akibat tindakan keras militer Cina.
Di Dharmsala, Dalai Lama juga menegaskan niatnya untuk mundur jika kekerasan terus meningkat. ia juga berterima kasih pada negara-negara, seperti AS, atas dukungan mereka.
Dalai Lama mengatakan, "Sangat,sangat suportif, sangat simpatik, dan tentu saja mereka bisa membantu. Tapi kesepakatan final harus dicapai oleh Cina dan Tibet."
Dalai Lama kembali menekankan, bahwa ia memperjuangkan otonomi bagi Tibet, dan bukan kemerdekaan.
Katanya, "Di pihak saya ada satu mantra untuk diucapkan: kami tidak berkata kemerdekaan, kami tidak berkata kemerdekaan. (para wartawan tertawa). Itu mantra saya. Saya mengulangnya ribuan kali. (ketawa). Lalu, dipihak pemerintah Cina ada mantra lain, yaitu Tibet bagian dari Cina, Tibet bagian dari Cina. Itu mantra mereka. (ketawa.)"
Pemerintah di Beijing menyatakan bersedia berdialog dengan Dalai Lama, jika ia menghentikan aktivitas separatisnya dan mengakui Tibet dan Taiwan adalah bagian dari Cina. (rp)