1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

231008 China EU

24 Oktober 2008

Cina berulangkali memperingatkan agar Eropa tidak menganugerahkan penghargaan Sakharov kepada aktivis hak asasi Hu Jia. Namun Parlemen Eropa tetap melakukannya. Lalu bagaimana reaksi Cina?

Parlemen Eropa Di Brüssel. Tahun ini Parlemen Eropa memilih aktifis Cina Hu Jia sebagai pemenang hadiah Sakharov.Foto: Photo European Parliament/Architecture Studio

Awalnya, juru bicara pemerintah Liu Jianchao menyampaikan apa yang sudah diperkirakan sebelumnya. Ketidakpuasan karena penghargaan Sakharov dari Parlemen Eropa dianugerahkan pada Hu Jia, yang masih mendekam di penjara. Hu Jia adalah penjahat, tapi di Eropa dia merupakan pejuang hak asasi.

Tapi setelah itu Liu Jianchao mendadak menyampaikan hal mengejutkan.

Ia mengatakan, “Saya tidak percaya pemberian hadiah itu akan mengganggu jalannya KTT ASEM di Beijing. Walaupun ini adalah campur tangan besar terhadap urusan dalam negeri Cina. Dibandingkan dengan apa yang baru saja menimpa dunia internasional, itu cuma hal kecil. Tidak berharga buat dibicarakan. Cina, seluruh kawasan Asia, memiliki sejarah, kultur dan nilai yang berbeda dengan Europa. Tentu saja kita berbeda pandang dalam beberapa hal. Saya harap, kedua pihak akan lebih banyak berbicara satu sama lain, jika ada perbedaan pendapat. Dialog berdasarkan keadilan dan respek. ”

Di masa lalu jarang ada wakil pemerintah Cina yang bereaksi setenang itu terhadap kritik dari luar, terutama Eropa. Kritik seringkali berbuntut bekunya hubungan diplomatik selama beberapa minggu, bahkan bulan. Kali ini berbeda, Beijing jelas-jelas memilih KTT ASEM sebagai prioritas.

Liu Jianchao mengatakan, “Kita menghadapi krisis global. Hal terpenting, bagaimana menguatkan kerjasama antarnegara, penyelarasan kebijakan politik, kepercayaan di pasar uang. Semua neara di dunia harus bekerjasama, bergandengan tangan untuk mengatasi kesulitan. Ini berlaku baik untuk negara industri maupun berkembang."

Memang saat ini negara-negara industri yang terkena dampak paling buruk krisis keuangan. Tapi bukan berarti negara berkembang kebal dari krisis yang bermula dari goncangnya kredit perumahan AS. Negara berkembang menghadapi melemahnya permintaan ekspor dari luar negeri dan inflasi yang terus meningkat.

Juru bicara pemerintah Liu Jianchao menegaskan, Cina siap mengikuti rangkaian KTT, seperti yang diusulkan AS dan Perancis, untuk mencari solusi krisis keuangan.

“Cina memberi perhatian pada usulan seperti KTT keuangan. Cina siap beraprtisipasi dalam KTT tersebut. Kami akan menjalin kontak dengan negara-negara pemrakarsa,dan bekerjasama dengan mereka. Sementara itu, lewat KTT ASEM kami ingin mendorong diskusi untuk menaklukkan krisis keuangan global dan memperoleh stabilitas keuangan di seluruh dunia”, kata Liu.

Mulai Jumat ini hingga Sabtu besok, lebih dari 43 kepala negara dari Asia dan Eropa akan bertemu di Beijing. Selain situasi ekonomi dunia, perlindungan iklim juga menjadi topik utama konferensi yang tidak akan menghasilkan resolusi ini. (rp)