1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cina Terima Kritik Juga dari Dalam

26 Maret 2008

Pemerintah Cina memberlakukan kebijakan politik yang menakutkan, suara kritis yang terlontar di dalam negeri malah semakin banyak. Sejumlah ilmuawan Cina mendesak agar pemerintah Cina menghentikan kekerasan di Tibet.

China Peking Demonstration für Pressefreiheit Olympia 2008
Anggota "Reporter Lintas Batas" demo kebebasan Pers Cina di depan kantor panitia Olimpiade BeijingFoto: AP

Pertemuan dengan Wang Li Xiong berlangsung di lapangan parkir sebuah pusat perbelanjaan populer di pusat kota Beijing. Wang tak bisa lagi diwawancara di rumah, karena sudah bertahun-tahun ia diawasi ketat oleh aparat keamanan Cina. Di depan rumah Wang bahkan didirikan pos pengawasan. Mereka mengamati setiap langkah Wang dan istrinya yang warga Tibet, Woese. Woese adalah penulis yang buku-buku dilarang di Cina. Begitu pula karya-karya suaminya, karena Wang Li Xiong adalah pakar soal Tibet.

Kerusuhan di atap dunia itu mengguncang Wang Li Xiong. Bersama 28 ilmuwan lainnya ia membuat surat terbuka. Dalam surat itu mereka mendesak pemerintah Cina agar menghentikan kekerasan di Tibet, mengijinkan masuk pengamat independen dan mengupayakan perundingan dengan pemimpin spiritual tertinggi Tibet, Dalai Lama. Surat itu adalah tindakan yang berani. Wang Li Xiong paham, semua penandatangan surat tersebut mempertaruhkan kebebasan mereka.

"Tentu saja saya takut. Justru dengan saya bersedia diwawancara sekarang, maka semua bisa dipakai sebagai bukti untuk memberatkan saya. Sekarang ini saya sudah berstatus tahanan rumah. Konstitusi kami menetapkan bahwa kami bisa menikmati hak-hak individu, tapi dalam kebebasan itu kami bisa dengan mudah dihalang-halangi. Jadi ini menyangkut hak asasi. Dan selama olimpiade berlangsung, kami akan lebih ketat diawasi dan dibatasi, itu harus saya katakan." Beberapa hari lalu, pejuang hak asasi Yang Chunlin divonis lima tahun penjara. Ia mengkritik penyelenggaraan Olimpiade di Beijing. Sementara aktivis hak asasi Hu Jia masih menunggu keputusan pengadilan. Hu menyebut pesta olahraga itu sebagai bencana hak asasi dan ia ditangkap secepat kilat. Walaupun pemerintah Cina memberlakukan kebijakan politik yang menakutkan, suara-suara kritis yang terlontar di dalam negeri malah semakin banyak. Misalnya mantan Sekretaris Negara Bao Tung. Ia tak disukai lagi oleh pemerintah tahun 80-an, setelah mengecam penumpasan berdarah gerakan pro demokrasi di lapangan Tiannamen tahun 1989. Ketika itu, kenang Bao Tung, pemerintah mencoba menutup-nutupi pembantaian demonstran. Kejadian di Tibet mengingatkan pria berusia lebih 70 tahun itu, pada peristiwa Tiannamen, saat pemerintah menghadapi protes mahasiswa dengan kekerasan senjata. "Partai mencoba melemparkan kesalahan pada pihak lain, padahal mereka sendiri yang membuat kesalahan. Seperti peristiwa tahun 1989. Kalau saya mengamati pengalaman masa lalu dan sikap pemerintah terhadap media, maka kali ini pun saya juga tidak mempercayai mereka. Pemerintah kami tidak bisa dipercaya, mohon maaf, saya harus mengatakan itu."

Di stasiun-stasiun televisi yang diawasi pemerintah, rakyat Cina diserbu propaganda. Orang bisa menyaksikan biksu-biksu yang menyesal, meminta maaf kepada rakyat atas kerusuhan di Tibet. Orang bisa menyaksikan polisi menangkap para tersangka perusuh. Di televisi, selalu terdengar orang-orang yang membeo pernyataan pemerintah, bahwa Dalai Lama adalah dalang kerusuhan, serigala berjubah biksu yang ingin memecah-belah bangsa.

Tak ada satupun yang benar, semua propaganda, kata Bao Tung yang kritis terhadap Beijing. Sikap pemerintah Cina membuktikan bahwa Cina menolak melakukan pembicaraan, sekalipun itu satu-satunya peluang agar Tibet kembali tenang.

"Saya melihat sosok Dalai Lama, persis seperti yang dikenal seluruh dunia. Dia pemenang Nobel perdamaian, yang mencintai rakyatnya dan menolak kekerasan. Saya tidak menganjurkan kemerdekaan bagi Tibet. Tapi Dalai Lama adalah orang yang tepat untuk diajak berunding. Bagi saya dia ibarat Gandhi dari Tibet." (rp)