1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Condoleezza Rice di Jerman

Daniel Scheschkewitz6 Desember 2005

Baik Jerman maupun AS kini memuji hubungan baik kedua negara. Tetapi para pakar meragukan, hubungan akan sebaik pada masa perang dingin. Yang dianggap penting adalah sikap warga Jerman yang menolak perang Irak.

Kunjungan Menlu AS Rice kepada Kanselir Jerman Merkel di Berlin
Kunjungan Menlu AS Rice kepada Kanselir Jerman Merkel di BerlinFoto: AP

Bukan kebetulan, bahwa Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice pertama-tama mengunjungi Berlin dalam lawatannya ke negara-negara Eropa. Wakil pemerintahan Presiden George W. Bush belakangan tak kunjung lelah memuji hubungan baik negaranya dan Jerman. Contohnya jurubicara Departemen Luar Negeri, Sean McCormack, yang mengatakan, Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice menjadikan perbaikan hubungan dengan Eropa sebagai tugas utamanya dan ini sudah mendatangkan hasil.

McCormack: "Kami bekerjasama dengan Jerman dan negara-negara Eropa lain dalam upaya mencegah agar Iran tidak memiliki senjata nuklir. Dengan Afganistan kerjasama juga berjalan lancar. Demikian halnya dengan Irak. Kita berhasil mengatasi perbedaan pendapat."

Menteri Luar Negeri baru Jerman, Frank-Walter Steinmeier juga tidak mau kalah dalam hal memuji hubungan baik AS dan Jerman. Ia mengacu pada perjanjian pemerintahan koalisi Uni Kristen Demokrat CDU dan Sosial Demokrat SPD, dimana dicantumkan bahwa hubungan Jerman AS adalah tonggak kedua politik luar negeri Jerman, di samping hubungannya dengan Eropa.

Perubahan Terjadi dalam Hubungan Kedua Negara

Namun demikian, para pakar politik berpendapat, ada perubahan dalam kualitas hubungan kedua negara. Seperti pendapat Stephen Zabo, profesor dalam bidang studi Eropa di Universitas John-Hopkins di Washington.

Stephen Zabo: "Hubungannya sekarang lebih baik. Yang jelas lebih baik daripada di jaman Kanselir Schröder. Ini terutama terlihat dalam suasananya, tetapi kemungkinan juga dalam beberapa kebijakan politik. Namun saya rasa, hubungan sangat baik seperti di masa lalu tidak terjalin lagi. Penyebabnya adalah keadaan strategis yang baru dan kepentingan kedua negara yang tidak lagi sejalan seperti dulu."

Faktor terpenting yang menyebabkan berbedanya kepentingan setelah perang dingin berakhir adalah perubahan dalam politik luar negeri AS. Ini disebabkan serangan 11 September dan pemberantasan terorisme yang dijadikan prioritas utama. Dan dalam hal ini, Washington juga bekerjasama erat dengan pemerintahan Schröder. Contohnya, baru akhir pekan lalu harian AS “Washington Post“ melaporkan, bahwa Mei 2004 Duta Besar AS untuk Jerman telah menginformasikan mantan Menteri Dalam Negeri Jerman, Otto Schily bahwa AS melakukan kesalahan dengan menahan seorang warga Jerman di salah satu penjara AS di Afganistan.

Masalah ini kemudian diselesaikan kedua belah pihak secara rahasia. Juga bukan kebetulan, bahwa sebelum berkunjung ke Eropa Condoleezza Rice menunjuk pada kenyataan, bahwa melalui informasi dinas rahasia AS CIA nyawa warga Eropa berhasil diselamatkan. Nampaknya kerjasama di bidang ini akan dapat mempererat hubungan kedua negara. Demikian pendapat para pakar.

Masyarakat Jerman Menentang Perang Irak

Yang jelas, masyarakat umum AS telah memaafkan Jerman yang tidak ikut dalam perang Irak. Apakah masyarakat Jerman sebaliknya juga mengampuni AS yang menyerang Irak? Dalam hal ini bahkan pakar Eropa seperti Stephen Zabo juga ragu-ragu.

"Jajak pendapat menunjukkan, warga AS mempertanyakan sikap Perancis. Tetapi keberatan terhadap Jerman sudah berkurang. Demikian Zabo. Bagi rakyat AS, hubungan Jerman dan negaranya sangat baik. Masalahnya adalah sikap masyarakat Jerman. Dalam 3 tahun terakhir penolakan terhadap perang Irak di Jerman sangat jelas. Pandangan masyarakat umum Jerman terhadap AS lah yang menentukan." (ml)