1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kebebasan PersGlobal

CPJ: Tahun 2025 Catatkan Rekor Kematian Wartawan

Timothy Jones sumber: AFP
26 Februari 2026

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) melaporkan angka kematian wartawan mencapai rekor selama dua tahun berturut-turut. Perang di Gaza mewakili sepertiga jumlah korban jiwa.

Wartawan dalam Perang Gaza
Perang Gaza menjadi kuburan massal bagi jurnalis Palestina, lapor CPJFoto: Khasan Alzaanin/TASS/ZUMA/picture alliance

Sebanyak 129 jurnalis dan pekerja media tewas sepanjang 2025. Angka itu dicatat oleh Committee to Protect Journalists (CPJ) dalam laporan tahunannya yang dirilis Rabu (25/2) waktu setempat.

Jumlah tersebut menjadikan 2025 sebagai tahun paling mematikan bagi insan pers sejak lembaga itu mulai menghimpun data lebih dari tiga dekade silam.

"Jurnalis dibunuh dalam jumlah yang memecahkan rekor, di saat akses terhadap informasi menjadi semakin penting,” ujar CEO CPJ, Jodie Ginsberg, dalam pernyataan tertulis. Ia menegaskan, ketika jurnalis dibungkam lewat kekerasan, publik luas ikut menanggung risikonya.

Perang korbankan awak media

Lebih dari tiga perempat kematian terjadi di wilayah konflik. CPJ menyebut dua pertiga dari total korban tewas berkaitan dengan operasi militer Israel. Sebanyak 86 jurnalis disebut tewas oleh pasukan Israel—lebih dari 60 persen di antaranya warga Palestina yang melaporkan situasi dari Gaza, mengutip kantor berita Agence France-Presse.

Militer Israel membantah secara sengaja menargetkan jurnalis.

Jurnalis Palestina Tewas dalam Serangan Gaza

01:18

This browser does not support the video element.

Selain Gaza, lonjakan kematian juga tercatat di Ukraina dan Sudan—dua negara yang sama-sama dilanda perang berkepanjangan. Laporan itu menyoroti peningkatan penggunaan drone sebagai instrumen mematikan. Dari 39 kasus yang terdokumentasi, 28 terjadi di Gaza oleh Israel, lima oleh kelompok paramiliter Rapid Support Forces di Sudan, dan empat oleh drone militer Rusia di Ukraina.

Impunitas dan minimnya transparansi

Di luar zona perang, kekerasan terhadap jurnalis tak surut. Di Meksiko, enam jurnalis terbunuh sepanjang tahun ini tanpa satu pun pelaku yang terungkap. Bangladesh, India, dan Peru juga mencatat kematian jurnalis yang berkaitan dengan peliputan kejahatan.

CPJ menilai penyelidikan atas kasus-kasus tersebut kerap tak transparan, bahkan mandek.

Sorotan tajam juga diarahkan ke Arab Saudi. Kolumnis terkemuka Turki al-Jasser dieksekusi negara dengan dakwaan yang disebut CPJ sebagai tuduhan keamanan nasional dan kejahatan finansial yang direkayasa untuk membungkam kritik. Ia menjadi jurnalis pertama yang didokumentasikan tewas oleh negara itu sejak pembunuhan Jamal Khashoggi pada 2018.

Hingga 1 Desember 2025, CPJ juga mencatat 329 jurnalis masih dipenjara di berbagai negara. Sebanyak 84 lainnya dilaporkan hilang.

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait