1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiJerman

Dari Cina ke India: Peluang Baru bagi Produsen Mobil Jerman?

9 Januari 2026

Mobil Jerman dulu simbol rekayasa sempurna dan kekuatan ekonomi. Kini penjualan turun karena Cina beralih ke kendaraan listrik. India bisa menutup sebagian celah, tapi tantangannya besar.

India, Mumbai 2015 | Volkswagen Vento di depan dealer setelah kampanye penarikan kembali (recall)
Volkswagen, produsen mobil terbesar Jerman, hanya memiliki pangsa pasar 2% di IndiaFoto: Divyakant Solanki/dpa/picture alliance

Nürburgring di perbukitan di barat Jerman adalah sirkuit permanen terpanjang di dunia. Usianya hampir satu abad dan pernah menjadi lokasi banyak balapan Formula Satu Grand Prix.

Bagian utama lintasan disebut Nordschleife, atau Lingkar Utara. Lintasan sepanjang 20,8 kilometer ini dijuluki "Green Hell" atau neraka hijau, karena hutan di sekitarnya di kawasan Eifel, serta tata letak lintasannya yang menantang.

Produsen mobil Jerman menguji kendaraan mereka hingga batas maksimum di NürburgringFoto: Thomas Frey/imageBROKER/picture alliance

Untuk memahami pentingnya rekayasa dan performa dalam industri otomotif Jerman, Nordschleife adalah tempat yang tepat untuk memulai, kata Misha Charoudin, pembalap dan influencer otomotif.

"Jika sebuah mobil bisa mencatat waktu putaran yang bagus di sini, itu berarti semua komponen bekerja: suspensi, ban, mesin, sasis, dan tentu saja pengemudinya," katanya, sambil melaju melalui tikungan dengan kecepatan 190 kilometer per jam. "Ini lebih menegangkan daripada roller coaster."

Pengujian di sirkuit

Semua produsen mobil besar memiliki pusat pengujian di Nürburgring, katanya. Bahkan, pengujian mobil menjadi salah satu alasan penting dibangunnya sirkuit ini pada 1927.

YouTuber Misha Charoudin mengajak penggemar mobil merasakan kecepatan di NürburgringFoto: Andreas Becker/Nicolas Martin

Industri otomotif Jerman telah memanfaatkan warisan ini, bersama dengan Autobahn tanpa batas kecepatan, untuk keunggulan dalam iklan dan pembangunan merek.

Merek seperti Mercedes-Benz, BMW, Audi, dan Volkswagen melambangkan rekayasa presisi, performa, dan keandalan. Mereka bukan sekadar mobil, mereka adalah ikon budaya dan tulang punggung ekonomi Jerman.

Namun kini, pesona itu mulai memudar.

Wunderland yang hilang

Industri otomotif Jerman mempekerjakan lebih dari satu juta orang dan lama menjadi indikator kesehatan ekonomi. Pada 1950, produsen mobil Jerman menjual sekitar 200.000 kendaraan. Kini, mereka menjual sekitar 14 juta unit secara global. Untuk beberapa dekade, rumusnya sederhana: rekayasa kelas dunia ditambah permintaan global sama dengan kesuksesan.

Tapi masa kejayaan itu berakhir. Penjualan menurun, pekerjaan dipangkas, dan pabrik menghadapi kemungkinan penutupan. "Tekanan meningkat, penghematan biaya luar biasa," kata seorang karyawan Mercedes yang ingin namanya dirahasiakan. "Semua tentang pemotongan biaya di mana-mana."

Tanda pertama muncul pada 2015 dengan Dieselgate, ketika Volkswagen ketahuan curang dalam uji emisi. Skandal ini menelan biaya lebih dari €30 miliar (sekitar Rp555 triliun) dan merusak kepercayaan terhadap merek Jerman. Lebih parah, hal ini bertepatan dengan pergeseran global menuju teknologi ramah lingkungan. Sementara Tesla menggandakan penjualan mobil listrik atau electric vehicle (EV), produsen Jerman ragu-ragu.

Cina: Dari peluang emas hingga kehilangan pangsa

Selama bertahun-tahun, Cina adalah ‘negeri harapan’. Pada 1980-an, para pemimpin politik Cina mengundang Volkswagen (yang dalam bahasa Jerman berarti "mobil rakyat") untuk membentuk usaha patungan dan membangun industri mobil di Cina, untuk rakyat Cina. Ada masa ketika pangsa pasar Volkswagen hampir mencapai 50%.

Produsen mobil lain kemudian mengikuti. Semakin besar ekonomi Cina, semakin besar pula pasar mobilnya. Hingga beberapa tahun lalu, produsen Jerman menjual setiap mobil ketiga di Cina.

"Itu masa pencarian emas," kenang Beatrix Keim, yang menghabiskan dua dekade bekerja di VW Cina dan kini menjadi direktur di CAR, konsultan industri di Duisburg. "Menjual banyak mobil, menghasilkan banyak uang. Tidak banyak kompetisi dari Cina."

Kesempatan Cina untuk mengungguli Jerman

Tapi Cina memiliki rencana: belajar dari mitra asing, lalu memimpin. Pada 2009, Beijing mengesahkan undang-undang mendorong kendaraan listrik. "Ini bukan benar-benar karena perubahan iklim," jelas Keim. "Ini untuk menemukan teknologi di mana Cina bisa mengungguli asing, di mana mereka bisa berkembang."

Produsen mobil Jerman tidak menyadari hal ini, tambahnya. Mereka meremehkan tekad pemerintah Cina dan kecepatan perkembangannya.

Miliaran subsidi dan pembangunan infrastruktur kemudian, Cina kini menjadi pemimpin dunia dalam kendaraan listrik dan baterai.

"Mulai dari EV, mereka punya kesempatan sekali seumur hidup untuk mengungguli Jerman. Dan mereka melakukannya," kata Manuel Vermeer, pengajar budaya dan bisnis Cina di University of Applied Sciences di Ludwigshafen.

Kini, setiap mobil kedua yang dijual di Cina adalah Listrik, dan hampir semuanya merek Cina. Penjualan mobil Jerman menurun drastis di pasar paling penting mereka.

"Saya rasa ini banyak berkaitan dengan kesombongan," kata Vermeer. "Saya sudah lebih dari 30 tahun melakukan pelatihan antarbudaya untuk orang Jerman mengenai Cina. Perspektif Jerman selalu: Kami superior, bagaimana mungkin kami diajari, mereka seharusnya belajar dari kami. Tapi hampir tidak pernah seperti: Kami bisa belajar dari mereka, kami harus lebih mendengarkan, atau mungkin mereka berbeda dari yang kami kira?"

Dan Jerman kini bergantung pada Cina untuk baterai. "Bahkan jika kami membuat mobil listrik yang sangat bagus, kami tetap membutuhkan baterai dari Cina," kata Vermeer. "Kami lebih tergantung daripada sebelumnya."

Cina menghilang, Perhatian beralih ke India

Jika kita mengamati lalu lintas padat di Chennai, kota di tenggara India, jarang terlihat mobil Jerman. Mobil India, Jepang, dan Korea mendominasi jalanan kota yang sering disebut "Detroit-nya India" karena banyaknya pabrik mobil.

Pabrik BMW di Chennai hanya memproduksi sekitar 80 mobil per hari, dibandingkan 1.400 di pabrik utama Jerman. Namun pertumbuhannya kuat, lebih dari 10% per tahun.

Thomas Dose, manajer pabrik BMW di Chennai: 'Kami tidak akan mengalami pertumbuhan sebesar di CinaFoto: Andreas Becker/Nicolas Martin

"Ada perburuan besar ke pasar India," kata manajer pabrik Thomas Dose. "Semua merasa: jika kita tidak ada di India sekarang, kita akan melewatkan peluang."

Tetapi Dose realistis. "Apakah India Cina baru? Saya bilang tidak. Ini India, berbeda. Punya potensi. Tapi kita tidak akan punya pertumbuhan sebesar di Cina."

Para ahli setuju. Pasar India menjanjikan, tapi produsen mobil Jerman menghadapi hambatan budaya. "Kami ingin menjual mobil terbaik di dunia," kata Vermeer. "Tapi itu berlebihan, di India, cukup 80% saja, dapatkan masukan, lalu adaptasi. Standar 'sempurna' kami bukan hal terbaik untuk pasar ini."

Dapatkah Jerman mengejar ketinggalan?

Beatrix Keim percaya produsen mobil Jerman sedang mencoba berubah. "Mereka paham perlu lebih cepat, turun dari menara gading, dan belajar," katanya.

Sementara itu, perlombaan untuk membangun kendaraan listrik yang sukses sedang berlangsung. Di Cina, produsen EV lokal menghadapi kelebihan kapasitas dan harga yang turun. Mereka juga mencoba menjual EV ke Eropa, sejauh ini dengan keberhasilan yang moderat.

Tetapi produsen EV dari Cina dan tempat lain kini menguji mobil mereka di Nürburgring Jerman sendiri, sebuah ironi simbolis dalam kisah dominasi yang hilang.

Apakah produsen mobil Jerman akan melewatkan kesempatan sama sekali?

"Bisa saja," kata pembalap Misha Charoudin. "Lihatlah Nokia. Mereka sukses. Lalu tiba-tiba, mereka melewatkan kesempatan."

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid

Andreas Becker Editor bisnis dengan fokus pada perdagangan global, kebijakan moneter dan globalisasi.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait