Mobil Jerman dulu simbol rekayasa sempurna dan kekuatan ekonomi. Kini penjualan turun karena Cina beralih ke kendaraan listrik. India bisa menutup sebagian celah, tapi tantangannya besar.
Volkswagen, produsen mobil terbesar Jerman, hanya memiliki pangsa pasar 2% di IndiaFoto: Divyakant Solanki/dpa/picture alliance
Iklan
Nürburgring di perbukitan di barat Jerman adalah sirkuit permanen terpanjang di dunia. Usianya hampir satu abad dan pernah menjadi lokasi banyak balapan Formula Satu Grand Prix.
Bagian utama lintasan disebut Nordschleife, atau Lingkar Utara. Lintasan sepanjang 20,8 kilometer ini dijuluki "Green Hell" atau neraka hijau, karena hutan di sekitarnya di kawasan Eifel, serta tata letak lintasannya yang menantang.
Produsen mobil Jerman menguji kendaraan mereka hingga batas maksimum di NürburgringFoto: Thomas Frey/imageBROKER/picture alliance
Untuk memahami pentingnya rekayasa dan performa dalam industri otomotif Jerman, Nordschleife adalah tempat yang tepat untuk memulai, kata Misha Charoudin, pembalap dan influencer otomotif.
"Jika sebuah mobil bisa mencatat waktu putaran yang bagus di sini, itu berarti semua komponen bekerja: suspensi, ban, mesin, sasis, dan tentu saja pengemudinya," katanya, sambil melaju melalui tikungan dengan kecepatan 190 kilometer per jam. "Ini lebih menegangkan daripada roller coaster."
Pengujian di sirkuit
Semua produsen mobil besar memiliki pusat pengujian di Nürburgring, katanya. Bahkan, pengujian mobil menjadi salah satu alasan penting dibangunnya sirkuit ini pada 1927.
YouTuber Misha Charoudin mengajak penggemar mobil merasakan kecepatan di NürburgringFoto: Andreas Becker/Nicolas Martin
Industri otomotif Jerman telah memanfaatkan warisan ini, bersama dengan Autobahn tanpa batas kecepatan, untuk keunggulan dalam iklan dan pembangunan merek.
Merek seperti Mercedes-Benz, BMW, Audi, dan Volkswagen melambangkan rekayasa presisi, performa, dan keandalan. Mereka bukan sekadar mobil, mereka adalah ikon budaya dan tulang punggung ekonomi Jerman.
Namun kini, pesona itu mulai memudar.
Wunderland yang hilang
Industri otomotif Jerman mempekerjakan lebih dari satu juta orang dan lama menjadi indikator kesehatan ekonomi. Pada 1950, produsen mobil Jerman menjual sekitar 200.000 kendaraan. Kini, mereka menjual sekitar 14 juta unit secara global. Untuk beberapa dekade, rumusnya sederhana: rekayasa kelas dunia ditambah permintaan global sama dengan kesuksesan.
Tapi masa kejayaan itu berakhir. Penjualan menurun, pekerjaan dipangkas, dan pabrik menghadapi kemungkinan penutupan. "Tekanan meningkat, penghematan biaya luar biasa," kata seorang karyawan Mercedes yang ingin namanya dirahasiakan. "Semua tentang pemotongan biaya di mana-mana."
Tanda pertama muncul pada 2015 dengan Dieselgate, ketika Volkswagen ketahuan curang dalam uji emisi. Skandal ini menelan biaya lebih dari €30 miliar (sekitar Rp555 triliun) dan merusak kepercayaan terhadap merek Jerman. Lebih parah, hal ini bertepatan dengan pergeseran global menuju teknologi ramah lingkungan. Sementara Tesla menggandakan penjualan mobil listrik atau electric vehicle (EV), produsen Jerman ragu-ragu.
Cina: Dari peluang emas hingga kehilangan pangsa
Selama bertahun-tahun, Cina adalah ‘negeri harapan’. Pada 1980-an, para pemimpin politik Cina mengundang Volkswagen (yang dalam bahasa Jerman berarti "mobil rakyat") untuk membentuk usaha patungan dan membangun industri mobil di Cina, untuk rakyat Cina. Ada masa ketika pangsa pasar Volkswagen hampir mencapai 50%.
Produsen mobil lain kemudian mengikuti. Semakin besar ekonomi Cina, semakin besar pula pasar mobilnya. Hingga beberapa tahun lalu, produsen Jerman menjual setiap mobil ketiga di Cina.
"Itu masa pencarian emas," kenang Beatrix Keim, yang menghabiskan dua dekade bekerja di VW Cina dan kini menjadi direktur di CAR, konsultan industri di Duisburg. "Menjual banyak mobil, menghasilkan banyak uang. Tidak banyak kompetisi dari Cina."
Mobil-mobil Kultus dari Jerman, Yang Mana Favorit Anda?
Para pecinta fanatik mobil mungkin terharu jika melihat model-model lama dari VW, BMW, Opel, Mercedes-Benz. Para pembuat mobil Jerman ini telah menciptakan kultus. Inilah bentuk-bentuk yang paling indah.
Foto: picture-alliance/dpa/P. Kneffel
Trabant 601 (1964)
Sebuah kendaraan massal yang diproduksi dengan harga murah. Hingga kini masih ada sekitar 33.000 Trabis (julukan untuk mobil ini), yang ‘berseliweran‘ di jalan-jalan Jerman. Masih terkenang dalam ingatan banyak orang ketika malam Tembok Berlin runtuh, warga Jerman Timur bersorak-sorai dan tepuk tangan ketika mobil-mobil ini melewati perbatasan Jerman yang telah dibuka.
Foto: Imago/Sven Simon
VW Beetle atau VW kodok (1938)
Ia melaju dan terus melaju. Sudah lebih dari 21 juta kali mobil jenis ini dirakit: The Beetle dari Volkswagen adalah mobil paling terkenal di dunia. Dari tahun 1938 hingga 2003, mobil ini diproduksi dalam bentuk asli yang sedikit dimodifikasi. Banyak orang mengenalnya dengan sebutan dalam film seri Amerika: "Herbie".
Foto: picture-alliance/dpa
VW T1 (1950)
Warna-warni yang dicat di mobil ini dengan simbol gerakan hippie pada awalnya tidak dianggap sebagai hal yang cukup baik untuk alasan imej perusahaan otomotif. Namun, tetap saja penjualannya tidak merugikannya. Lebih dari 10 juta unit VW Kombi telah terjual hingga saat ini, termasuk 1,8 juta T1. Mobil jenis ini juga dipakai dalam film-film- meski sejauh ini hanya sebagai ‘peran pendukung‘.
Foto: DW/M. Reitz
Messerschmitt (1953)
Jenis mobil beroda tiga ini aerodinamis dan kecepatannya hingga 90 km/jam. Bentuk mobil ini menunjukkan bahwa Messerschmitt pernah membangun pesawat. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, tak ada produksi. Sehingga desainer Fritz Fend bersama Messerchmitt membangun mobil ini. Tetapi kerjasama itu singkat. Dari 1956 Messerschmitt memproduksi pesawat lagi, dan Fend mendirikan pabriknya sendiri.
Foto: picture alliance/dpa/H. Galuschka
Mercedes 300 SL (1954)
Nama sebutannya "Gullwing". Silver Arrow 300 SL Mercedes-Benz pada tahun 1952 tampil kembali secara mengejutkan di dunia balap. Setelah kemenangan di 24 Hours of Le Mans dan Carrera Panamericana, produsen memutuskan untuk membawa mobil sport ini untuk diproduksi di jalan raya.
Foto: Daimler AG
BMW Isetta (1955)
“Isetta" BMW mungkin bukan pembalap yang cepat, tapi dari tahun 1955-1962 membantu keberhasilan keuangan BMW. Harganya murah dan praktis dikemudikan. "Isetta" adalah mobil yang memiliki mesin sepeda motor yang dimodifikasi. Karena keterbatasan ruang, penumpang masuk ke mobil melalui pintu depan, di mana setir terpasang.
Foto: picture-alliance/dpa/P. Kneffel
Goggomobil (1955)
Mobil bermesin motor ikonik lainnya adalah Goggo - dinamai seusia nama cucu dari bos Hans Glas GmbH. Berbeda dengan KR dan Isetta, Goggo menawarkan ruang untuk penumpang hingga empat orang. Interiornya cukup sempit dengan panjang 1,60 meter. Mobil ini sangat populer karena dengan bermodal SIM sepeda motor pun orang diperbolehkan menggerakkan kendaraan 250 cc ini.
Foto: picture-alliance/dpa/S. Gollnow
Porsche 911 (1963)
Dengan lebih dari 50 tahun sejarah produksi, "Neunelfer" adalah salah satu model yang paling lama hidup dalam sejarah otomotif. Pada semua varian, Porsche mempertahankan segi keunikannya yang tinggi. Seperti lampu depan yang mencolok, ekor yang miring. Tipe 911 dapat segera dilirik orang.
Foto: picture-alliance//HIP
Mercedes-Benz 600 (1964)
Di kompartemennya ada telepon mobil, AC, dan kulkas: Mercedes-Benz 600 adalah sedan mewah Jerman tahun 1960 dan 70-an. Daftar pemilik terkenalnya mulai dari Paus, mantan pemimpin Soviet Leonid Brezhnev hingga John Lennon dan Elizabeth Taylor. Mereka suka kenyamanan Daimler-Benz. Hanya saja bagi pemerintah Jerman, harga mobil ini tergolong mahal. Mereka menyewanya hanya untuk kunjungan kenegaraan.
Foto: picture-alliance/dpa
Opel Kadett B (1965)
Opel Cadet B (1965) "Baik sedan, “station wagon“ atau coupé, mobil paling ‘hot‘ adalah “kadet B", demikian menurut band Punk WIZO. 2,7 juta pembeli mobil menjadikannya sebagai salah satu model mobil paling sukses dari pabrik Opel di Rüsselsheim.
Foto: S. Storbeck
Wartburg 353 (1966)
Wartburg - diproduksi di VEB Automobile Plant Eisenach - dinamai sesuai nama landmark kota. Mobil ini dulu diproduksi di Jerman Timur terutama untuk ekspor. Mobil-mobil murah yang ditemukan di negara-negara, seperti Hungaria dan pelanggan Inggris. Di sisi lain, di Jerman, hampir tidak ada yang menginginkan mobil Jerman Timur. Itu ibaratnya pernyataan politik.
Foto: picture-alliance/ZB/J. Wolf
NSU Ro 80 (1967)
Ketika produsen mobil NSU memperkenalkan Ro 80, para competitor berkesiap. Ini mobil pertama dengan mesin rotary atau Wankelnmotor, dinamai sesuai penemunya Felix Wankel. Dengan demikian, Ro 80 mengamankan gelar "Car of the Year 1967". Namun teknologi ini tidak sepenuhnya dikembangkan.
Foto: picture-alliance/dpa/W. Gutberlet
Mercedes Benz /8 "Strich-Acht" (1968)
Dengan kecepatan tertinggi 130 km/jam, limousine ini bukanlah Mercedes tercepat. Ada mobil dengan jutaan kilometer yang kecepatannya lebih menakjubkan. Namun, kualitasnya yang meyakinkan, total 1,9 juta pembeli hingga akhir produksi pada tahun 1972, menjadikan mobil itu hingga kini barang koleksi.
Foto: R. Stricker
Opel GT (1968)
Opel GT adalah mobil impian yang nyata. Bentuk kurva menyapu tubuh diaplikasikan dengan inspirasi desain terkenal dari botol Coca-Cola dan lampu mobil yang mencolok menjadikannya terlihat istimewa. Dengan harga terjangkau 10.000 DM, pada masanya, mobil ini juga menarik perhatian di Amerika.
Foto: picture-alliance/dpa/R. Weihrauch
VW Type 181 "Courier Car" (1969)
Awalnya diproduksi untuk angkatan bersenjata Jerman Bundeswehr, VW juga segera memperuntukkan "mobil kurir" ini bagi kaum muda untuk dijadikan sebagai mobil rekreasi serbaguna. Mobil ini mendapat pengakuan terutama di Amerika Serikat, di mana mobil ini hanya disebut "The Thing", atau sesuatu. Di negara ini ia menjadi mobil kultus, hanya setelah akhir produksi.
Foto: picture alliance/dpa/JOKER
Opel Manta (1970)
Sebenarnya Opel ingin membawa Manta 1970 hanya sebagai mobil yang sporty untuk kelas menengah di pasaran. Namun mobil ini segera menarik perhatian para remaja tanggung. Akibatnya banyak lelucon tentang pengemudi Manta ber-IQ rendah. Produser film Bernd Eichinger menampilkan mobil ini pada tahun 1991 dalam komedi "Manta Manta" dan menjadi monumen sinematik. Til Schweiger jadi pemeran utama kedua.
Foto: picture-alliance/dpa
VW Golf (1974)
Pada tahun 1974, Volkswagen meluncurkan model Golf pertama di pasaran. Mobil ini dianggap sebagai penerus sah VW Beetle yang populer. Mobil kompak kecil itu cukup tampak ‘sporty‘ dan yang terpenting: hemat bensin. Penghematan ini terasa betul pada saat terjadi krisis minyak. Keberhasilan angka penjualannya bahkan mengejutkan VW. Varian cabriolet diberi nama "mobil kultus stroberi".
Foto: picture-alliance/dpa
Audi quattro (1980)
"Quattro" (atau empat dalam bahasa Italia) jadi singkatan dari ‘four-wheel drive’. Tipe ‘coupe’ ini memicu antusiasme konsumen di 1980, karena sebagai limousine, fiturnya unik. Empat tahun kemudian, Audi reproduksi Quattro Sport yang lebih kuat (foto), tetapi hanya 220 unit yang diproduksi sebagai barang koleksi. Mobil aslinya diproduksi 11.000 unit. Penulis: Melinda Reitz, Silke Wünsch (ap/ml)
Foto: picture alliance/dpa/Photoshot
18 foto1 | 18
Kesempatan Cina untuk mengungguli Jerman
Tapi Cina memiliki rencana: belajar dari mitra asing, lalu memimpin. Pada 2009, Beijing mengesahkan undang-undang mendorong kendaraan listrik. "Ini bukan benar-benar karena perubahan iklim," jelas Keim. "Ini untuk menemukan teknologi di mana Cina bisa mengungguli asing, di mana mereka bisa berkembang."
Produsen mobil Jerman tidak menyadari hal ini, tambahnya. Mereka meremehkan tekad pemerintah Cina dan kecepatan perkembangannya.
Miliaran subsidi dan pembangunan infrastruktur kemudian, Cina kini menjadi pemimpin dunia dalam kendaraan listrik dan baterai.
"Mulai dari EV, mereka punya kesempatan sekali seumur hidup untuk mengungguli Jerman. Dan mereka melakukannya," kata Manuel Vermeer, pengajar budaya dan bisnis Cina di University of Applied Sciences di Ludwigshafen.
Kini, setiap mobil kedua yang dijual di Cina adalah Listrik, dan hampir semuanya merek Cina. Penjualan mobil Jerman menurun drastis di pasar paling penting mereka.
"Saya rasa ini banyak berkaitan dengan kesombongan," kata Vermeer. "Saya sudah lebih dari 30 tahun melakukan pelatihan antarbudaya untuk orang Jerman mengenai Cina. Perspektif Jerman selalu: Kami superior, bagaimana mungkin kami diajari, mereka seharusnya belajar dari kami. Tapi hampir tidak pernah seperti: Kami bisa belajar dari mereka, kami harus lebih mendengarkan, atau mungkin mereka berbeda dari yang kami kira?"
Dan Jerman kini bergantung pada Cina untuk baterai. "Bahkan jika kami membuat mobil listrik yang sangat bagus, kami tetap membutuhkan baterai dari Cina," kata Vermeer. "Kami lebih tergantung daripada sebelumnya."
Iklan
Cina menghilang, Perhatian beralih ke India
Jika kita mengamati lalu lintas padat di Chennai, kota di tenggara India, jarang terlihat mobil Jerman. Mobil India, Jepang, dan Korea mendominasi jalanan kota yang sering disebut "Detroit-nya India" karena banyaknya pabrik mobil.
Pabrik BMW di Chennai hanya memproduksi sekitar 80 mobil per hari, dibandingkan 1.400 di pabrik utama Jerman. Namun pertumbuhannya kuat, lebih dari 10% per tahun.
Thomas Dose, manajer pabrik BMW di Chennai: 'Kami tidak akan mengalami pertumbuhan sebesar di CinaFoto: Andreas Becker/Nicolas Martin
"Ada perburuan besar ke pasar India," kata manajer pabrik Thomas Dose. "Semua merasa: jika kita tidak ada di India sekarang, kita akan melewatkan peluang."
Tetapi Dose realistis. "Apakah India Cina baru? Saya bilang tidak. Ini India, berbeda. Punya potensi. Tapi kita tidak akan punya pertumbuhan sebesar di Cina."
Para ahli setuju. Pasar India menjanjikan, tapi produsen mobil Jerman menghadapi hambatan budaya. "Kami ingin menjual mobil terbaik di dunia," kata Vermeer. "Tapi itu berlebihan, di India, cukup 80% saja, dapatkan masukan, lalu adaptasi. Standar 'sempurna' kami bukan hal terbaik untuk pasar ini."
Tidak Ada Produk Jerman di 5 Besar Mobil Listrik Tahun 2017
Penjualan mobil hybrid dan murni listrik tahun lalu naik menjadi 3,79 juta, lompatan 28 persen. Lambat laun mobil listrik makin populer. Inilah lima kendaraan listrik yang terlaris tahun 2017.
Foto: imago/A. Prost
Ranking 5: Tesla Crossover SUV Model X
Tahun 2017, Tesla menjual 33.000 unit Model X, menurut data dari peneliti pasar yang berbasis di Inggris, JATO Dynamics. Itu menempatkan mobil mewah berukuran sedang dengan pintu sayap falcon ini di posisi ke-5 dalam daftar mobil listrik terpopuler yang terjual tahun lalu.
Foto: picture-alliance/dpa/B. Pedersen
Ranking 4: Kecil dan unik...
Model sukses dari Cina: Zotye Zhidou (ZD). Sekitar 42.000 unit terjual tahun lalu. Mobil kecil ini terutama laku di pasar Asia yang terus berkembang.
Foto: picture alliance/dpa/Hao Xiqing
Ranking 3: Nissan Leaf
Pabrikan otomotif Jepang Nissan memperkenalkan Nissan Leaf tahun 2010. Mobil lima pintu ini menjadi mobil listrik ketiga terbanyak dalam angka penjualan tahun lalu, yaitu sekitar 46.000 unit. Kelebihan mobil ini adalah, baterainya bisa diisi sampai 80 persen dalam waktu 30 menit.
Foto: picture-alliance/dpa/S. Harms
Ranking 2: Tesla Model S
Mobil Tesla Model S adalah mobil listrik dengan kekuatan dan percepatan tinggi. Mobil ini juga punya fitur autopilot, sehingga pengendaranya bisa santai, sementara mobil meluncur secara otonom di jalan. Tahun 2017 terjual sekitar 47.000 unit.
Foto: picture-alliance/dpa/J. Woitas
Ranking 1: BAIC EC dari Cina
Inilah mobil listrik dengan angka penjualan tertinggi tahun lalu: 78.000 unit meninggalkan ruang showroom. Mobil listrik yang kecil dan kompak ini sangat populer di Cina. Mobil gaya trendi ini punya jangkauan sekitar 200 kilometer (Teks: Hardy Graupner/hp/yf)
Sementara itu, perlombaan untuk membangun kendaraan listrik yang sukses sedang berlangsung. Di Cina, produsen EV lokal menghadapi kelebihan kapasitas dan harga yang turun. Mereka juga mencoba menjual EV ke Eropa, sejauh ini dengan keberhasilan yang moderat.
Tetapi produsen EV dari Cina dan tempat lain kini menguji mobil mereka di Nürburgring Jerman sendiri, sebuah ironi simbolis dalam kisah dominasi yang hilang.
Apakah produsen mobil Jerman akan melewatkan kesempatan sama sekali?
"Bisa saja," kata pembalap Misha Charoudin. "Lihatlah Nokia. Mereka sukses. Lalu tiba-tiba, mereka melewatkan kesempatan."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid