"Das crazy" jadi Ungkapan Gaul Terpopuler Remaja Jerman 2025
20 Oktober 2025
Dulu, orang Jerman akan mengatakan “Das ist verrückt” untuk menyebut sesuatu yang benar-benar gila. Namun, sekarang anak muda lebih suka bilang “Das crazy.”
Ungkapan ini digunakan saat seseorang terkejut, kehabisan kata, ingin berkomentar secara sarkastik, atau sekadar menjaga obrolan tetap berjalan. Menurut juri, “Das crazy” cocok dipakai saat bingung mau menjawab apa, tidak ingin merespons langsung, atau ingin tetap sopan dalam percakapan.
Meski terdengar janggal bagi generasi yang lebih tua, bentuk ini memang sengaja melanggar aturan bahasa. Secara tata bahasa, seharusnya “Das ist crazy.” Gabungan artikel Jerman “das” dengan kata Inggris “crazy” adalah bentuk humor khas anak muda yang lahir dari budaya meme dan internet.
Di media sosial dan obrolan daring, “Das crazy” kini sudah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari generasi muda Jerman.
Mencerminkan semangat zaman
"Pilihan tahun ini sekali lagi menunjukkan dominasi bahasa Inggris yang terus bertahan dan tren ke arah gaya bahasa yang singkat,” kata Nikolas Hoenig, Kepala Pemasaran PONS Langenscheidt, penerbit di balik pemilihan tahunan tersebut. Ia menambahkan, "Das crazy" dengan cerdas merepresentasikan semangat zaman, dan itulah alasan mengapa istilah ini terpilih.
Penerbit PONS Langenscheidt sudah memilih Youth Word of the Year sejak 2008. Awalnya lewat juri, dan sejak 2020, pemilihan dilakukan secara daring.
Tahun ini, dua juta orang ikut memberikan suara. Siapa pun bisa ikut memilih, tetapi hanya kata yang diajukan oleh anak muda yang akan dipertimbangkan. Istilah yang bersifat ofensif, rasis, atau diskriminatif tidak diperbolehkan.
Menurut Patricia Kunth, manajer pemasaran sekaligus kepala kampanye Youth Word of the Year, tidak ada yang lebih menggambarkan semangat generasi muda sejelas cara mereka berbicara. "Setiap tahun muncul istilah baru yang mengejutkan kami di penerbitan, dan menunjukkan betapa cepatnya bahasa berubah.”
Bahkan cara mereka memilih pun menarik untuk diperhatikan. "Sekitar 88% kunjungan ke halaman pemungutan suara dilakukan lewat ponsel. Wajar saja, karena bahasa anak muda lahir di tempat mereka menggunakannya, baik di perjalanan, di dunia maya, dan di kehidupan sehari-hari.”
"Goonen" kalah tipis
Pemenang Youth Word of the Year diumumkan Sabtu (18/10) lalu di Frankfurt Book Fair. "Das crazy” menempati posisi pertama dengan 35,7% suara, sedikit di atas "goonen” dan "checkst du.”
"Goonen” adalah istilah gaul yang merujuk pada aktivitas memuaskan diri sendiri secara berlebihan dan berkepanjangan. Dalam pernyataannya, komite Langenscheidt menyebut ingin bersikap terbuka terhadap istilah yang berkonotasi seksual, tapi juga ingin menyoroti risikonya. Mereka memperingatkan bahwa masturbasi berlebihan bisa memicu ketergantungan terhadap dopamin, hormon kebahagiaan, dan menyebabkan hubungan yang tidak sehat dengan seksualitas diri sendiri.
Istilah di posisi ketiga, "checkst du” (Apakah kamu paham?), adalah versi modern dari pertanyaan "Do you understand?”. Ungkapan ini dipakai di akhir kalimat untuk memastikan lawan bicara benar-benar mengerti, bukan hanya secara harfiah, tapi juga secara emosional.
Kata lain yang juga masuk nominasi tahun 2025 adalah "Digga(h)”, istilah yang sudah lama jadi bagian dari bahasa anak muda. Ini bukan kali pertama "Digga” masuk daftar favorit. Kata ini juga dinominasikan pada 2021, tapi tidak menang karena sudah dianggap terlalu umum digunakan. "Digga” berasal dari kata "Dicker” (yang bisa berarti gendut), tetapi tidak bermakna menghina. Sebaliknya, kata ini digunakan secara akrab untuk menyapa teman.
Pada 2024, istilah "aura” terpilih sebagai Youth Word of the Year. Kata ini digunakan untuk menggambarkan karisma seseorang, bisa dalam arti positif maupun negatif. Siapa pun yang disebut punya "plus 20 aura” dianggap sudah melakukan segalanya dengan tepat.
Bagi Langenscheidt, pemilihan Youth Word of the Year adalah kesempatan penting untuk menyoroti perkembangan bahasa. Tujuannya adalah agar generasi muda juga merasa diwakili oleh bahasa yang mereka gunakan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara
Editor: Hani Anggraini