Perdagangan narkoba hingga kekerasan di jalanan kerap diberitakan media Jerman. Namun, apakah kejahatan benar-benar meningkat? Bagaimana posisi Jerman dibandingkan dengan negara lain?
Polisi kerap melakukan razia di kawasan Bahnhofviertel Frankfurt yang terkenal rawanFoto: Boris Roessler/dpa/picture alliance
Iklan
Jerman yang baru adalah "aib dan sebuah tragedi,” kata Kurt Caz, travel blogger keturunan Afrika Selatan-Jerman.
Dalam sebuah video, dia memperlihatkan kawasan Bahnhofsviertel yang terkenal di Frankfurt, dekat stasiun utama kota. Dia menggambarkan Jerman seperti "benar-benar dikuasai oleh kejahatan, migran ilegal, dan narkoba.”
Tampak di video tersebut pecandu narkoba tergeletak di trotoar, seorang lelaki yang diduga pengedar mengancamnya, hingga seorang perempuan melempar botol. Video itu telah ditonton lebih dari 6 juta kali di YouTube, 10 juta kali di TikTok, dan dibanjiri komentar bernada xenofobia.
Banyak beredar video serupa tentang kejahatan di Jerman, seolah-olah menyentuh kegelisahan publik. Namun, apakah benar video-video tersebut mencerminkan kenyataan di lapangan?
Serangan di Festival Keberagaman Jerman
01:21
This browser does not support the video element.
Kota besar lebih berisiko dibanding pedesaan
Kepada DW, kriminolog Susanne Karstedt mengatakan bahwa Bahnhofsviertel, Frankfurt, memang sudah sejak lama menjadi kawasan prostitusi.
Iklan
"Tempat itu mengundang terjadinya kekerasan, juga mengundang kejahatan narkoba,” ujarnya.
Di sejumlah wilayah tertentu di Jerman, angka kriminalitas memang sangat tinggi. Seperti di banyak negara lain, kejahatan lebih sering terjadi di kota dibanding daerah pedesaan.
Tingkat kejahatan tinggi di kota-kota besar seperti Bremen, Berlin, dan Frankfurt, antara lain disebabkan karena kesenjangan sosial di sana juga lebih besar dibanding wilayah pedesaan.
Secara umum, Jerman bisa dianggap sebagai "negara yang sangat aman,” papar Karstedt, sambil menambahkan bahwa seperti di negara Barat lain, "kejahatan menurun sejak 1980-an dan 1990-an.”
Kemajuan teknologi turut mendorong tren penurunan ini. Contohnya, mobil modern jauh lebih sulit dibobol dibanding kendaraan lama.
Inilah Provinsi Paling Rawan Pelecehan Seksual
Indonesia belakangan didaulat sedang menghadapi darurat pemerkosaan dan pelecehan seksual. Ironisnya provinsi Aceh tergolong yang paling banyak mencatat kasus pencabulan terhadap perempuan dan anak-anak.
Foto: Imago/Xinhua
Darurat Pelecehan Seksual?
Menurut data Komisi Nasional Perempuan, tahun 2016 Indonesia mencatat lebih dari 6000 kasus kekerasan seksual. Sebagian di antaranya terjadi di rumah tangga. Sementara sisanya di komunitas-komunitas sosial. Tapi provinsi mana yang paling rawan tindak kekerasan seksual?
Foto: Getty Images
#1. Aceh
Yayasan Kita dan Buah Hati mendaulat Aceh sebagai provinsi dengan tingkat kasus pelecehan seksual tertinggi di Indonesia. Korban tidak cuma perempuan. Menurut data Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak-anak, daerah Syariat Islam itu tahun 2015 mencatat 147 kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.
Foto: picture-alliance/dpa/H. Simanjuntak
#2. Jawa Timur
Lembaga Bantuan Hukum Surabaya mencatat sepanjang tahun 2015 terdapat 116 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak di Jawa Timur. Angka tersebut sudah banyak menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar 183 kasus kekerasan.
Foto: Getty Images
#3. Jawa Barat
Setiap bulan 17 perempuan di Jawa Barat mengalami pelecehan seksual. Catatan muram tersebut berasal dari Data Kekerasan Seksual yang dipublikasikan Komisi Nasional untuk Perempuan. Menurut Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, kabupaten Bandung dan Bandung Barat menjadi daerah yang mencatat kasus kekerasan seksual tertinggi.
Foto: Imago/Xinhua
#4. DKI Jakarta
Menurut data kepolisian, sepanjang 2014 Jakarta mencatat 63 kasus pemerkosaan terhadap perempuan. Sementara kasus pelecehan seksual yang melibatkan bocah di bawah umur tercatat hampir mendekati angka 300 kasus.
Foto: Ulet Ifansasti/Getty Images
#5. Sumatera Selatan
Tahun 2014 Sumatera Selatan mencatat 111 kasus pemerkosaan dan pelecehaan seksual terhadap perempuan. Jumlahnya tidak banyak berubah di tahun 2015.
Foto: Getty Images/U. Ifansasti
6 foto1 | 6
Tingkat kasus pembunuhan di Jerman secara global
Cara terbaik untuk menilai posisi Jerman di tingkat internasional adalah dengan melihat angka pembunuhan, jelas Karstedt, yang berasal dari Hamburg dan kini mengajar serta meneliti di Griffith University, Australia.
"Sejumlah kolega saya menyebutnya (angka pembunuhan) sebagai standar emas perbandingan karena kita punya data paling panjang, misalnya dari PBB. Ini indikator yang tepat untuk menilai kekerasan serius,” ungkapnya.
Pada 2024, Jerman mencatat 0,91 kasus pembunuhan berencana per 100.000 penduduk dan berada di peringkat 147 dunia. Jumlah yang fantastis ada pada Afrika Selatan dan Ekuador, yang mencatatkan angka lebih dari 40 kasus pembunuhan berencana per 100.000 penduduk. Sementara, tingkat pembunuhan di AS adalah 5,76.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Dua puluh tahun lalu, angka pembunuhan di Jerman masih 2,5 kasus per 100.000 penduduk, jauh lebih tinggi daripada sekarang. Meski terjadi penurunan jangka panjang, Jerman akhir-akhir ini mengalami kenaikan pada beberapa jenis kejahatan, terutama tindak kekerasan.
Karstedt menekankan bahwa sebagian besar kekerasan dilakukan laki-laki muda. Menurutnya, dalam hal ini, faktor migrasi juga berperan.
"Banyak negara Eropa Barat kini dihuni semakin banyak laki-laki muda yang datang tanpa keluarga dan tanpa kontrol sosial. Banyak di antaranya menanggung trauma mendalam akibat perang, perang saudara, dan kejadian sejenis,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa tantangan ini harus diatasi. Kejahatan lebih banyak dipicu oleh faktor seperti pengangguran dan kurangnya prospek masa depan, bukan karena asal-usul negara. Oleh sebab itu, integrasi sosial yang berhasil dapat membantu menekan angka kriminalitas.
"Jelas ada masalah yang perlu ditangani. Namun, jika hubungan antara migrasi dan kriminalitas dilihat secara umum, hasilnya menunjukkan migran lebih jarang melakukan kejahatan dibanding penduduk lokal,” tegas Karstedt.
Inilah Para Pembunuh Berantai Paling Sadis di Jerman
Banyak kejahatan paling mengerikan di dunia dilakukan oleh pembunuh berantai, yang juga pemerkosa, penganiaya anak dan kanibal. Berikut beberapa pembunuh Jerman yang paling terkenal dan produktif selama abad terakhir.
Foto: picture alliance/dpa/C. Jaspersen
Kanibal Münsterberg
Karle Denke membunuh dan mengkanibal setidaknya 42 orang, sebagian besar penduduk desa, antara tahun 1903 dan 1924 di apartemennya di Münsterberg di Prussia (foto). Ia bahkan diduga menjual daging korbannya di pasar sebagai daging babi. Seorang korban berhasil melarikan diri. Polisi juga menemukan daging manusia yang diawetkan di rumahnya. Denke gantung diri di sel penjara dua hari kemudian.
Foto: 171413picture-alliance/arkivi
Horor di Hannover
Fritz Haarmann diaduga melakukan kejahatan seksual, membunuh, dan memutilasi setidaknya 24 anak laki-laki dan laki-laki muda antara 1918 dan 1924. Kejahatannya terungkap setelah 500 potongan tulang manusia ditemukan oleh warga kota Hannover yang khawatir akan hilangnya banyak anak-anak di daerah tersebut. Haarmann, yang pernah menjadi informan polisi, dipenggal kepalanya pada 1925.
Karl Grossmann membunuh korbannya dan menjual daging mereka di pasar gelap dan di stand hotdog-nya. Tidak jelas berapa banyak nyawa yang direggut Grossmann, tetapi ia dicurigai memutilasi 23 wanita. Dia gantung diri pada tahun 1922 sebelum menjalani hukuman mati.
Foto: Gemeinfrei
Teror Danau Falkenhagen
Friedrich Schumann adalah seorang tukang kunci yang memperkosa, membunuh, dan mencuri dari korbannya tahun 1918 hingga 1920. Schumann ditangkap dan dituduh melakukan pembunuhan terhadap enam orang dan berusaha membunuh 11 orang lainnya. Dia dijatuhi hukuman mati enam kali. Malam sebelum eksekusinya pada usia 28, ia mengaku membunuh 25 orang, termasuk korban pertamanya - sepupunya.
Foto: picture-alliance/dpa/P. Pleul
Pembunuh Trem
Paul Ogorzow dinyatakan bersalah atas 31 serangan seksual, pembunuhan 8 wanita dan percobaan pembunuhan enam orang lainnya di era Nazi Berlin antara tahun 1940 dan 1941. Ogorzow bekerja untuk sistem kereta komuter Jerman dan mengancam, menikam atau memaki korban perkosaannya sebelum melemparnya dari kereta trem yang bergerak. Dia dijatuhi hukuman mati dan dipenggal dua hari kemudian.
Foto: Gemeinfrei
Penjaga Perbatasan
Pada tahun 1946 dan 1947, Rudolf Pleil bekerja sebagai penjaga perbatasan di Pegunungan Harz dan secara ilegal melakukan perdagangan manusia dengan 'menjual' wanita dari Jerman Timur ke Jerman Barat. Pleil dinyatakan bersalah membunuh seorang pria dan sembilan wanita, tetapi dia mengklaim telah membunuh 25 orang. Ia dihukum penjara seumur hidup tahun 1950, namun 8 tahun kemudian ia bunuh diri.
Foto: picture-alliance/dpa
Pemakan Manusia dari Duisburg
Joachim Gero Kroll adalah pembunuh berantai, pemerkosa, penganiaya anak, dan kanibal. Antara 1955 dan 1976 dia membunuh hingga 14 orang. Ketika dia ditangkap pada tahun 1976, mayat manusia ditemukan dalam lemari esnya dan dia tengah memasak lengan dan tangan anak perempuan empat tahun yang baru saja dia bunuh. Kroll dipenjarakan seumur hidup tahun 1982. Ia meninggal karena serangan jantung 1991.
Foto: picture-alliance/dpa/P. Sieländer
Pembunuh PSK
Fritz Honka terkenal karena membunuh setidaknya empat wanita antara tahun 1970 dan 1975. Dia mencekik pelacur di apartemennya dan memotong mayat mereka. Petugas pemadam kebakaran menemukan bagian tubuh yang tersembunyi di apartemennya setelah kebakaran terjadi. Honka dijatuhi hukuman 15 tahun di institusi psikiatri.
Foto: picture-alliance/dpa
Pembunuh St. Pauli
Werner Pinzner adalah pembunuh bayaran bagi mucikari di distrik lampu merah Hamburg. Dia diduga telah membunuh tujuh hingga 10 orang. Pinzner terkenal pada tahun 1986 ketika dibawa ke departemen kepolisian Hamburg untuk diinterogasi dengan istri dan pengacaranya. Dia tiba-tiba mengeluarkan pistol dan menembak jaksa penyidik sebelum menembakkan pistol pada istri dan dirinya sendiri.
Foto: picture-alliance/dpa
Racun Pembunuh
Perawat Marianne Nölle membunuh pasien dalam perawatannya dengan meracuni mereka menggunakan obat antipsikotik antara 1984 dan 1992. Polisi yakin dia membunuh 17 orang dan berusaha melakukan 18 pembunuhan lagi, tetapi dia hanya dihukum karena membunuh tujuh pasien. Dia tidak pernah mengakui kejahatannya dan sejak 1993, Nölle telah menjalani hukuman seumur hidup.
Foto: picture-alliance/dpa/DB
Pembunuh di Jalan
Volker Eckert adalah pengemudi truk Jerman yang membunuh setidaknya sembilan wanita, antara tahun 2001 dan 2006. Korban pertamanya adalah teman sekelas yang dicekiknya di usia 15 tahun. Sebagian besar korbannya adalah pelacur yang dijemputnya di seluruh Eropa dan dia menyimpan piala seperti rambut korbannya. Eckert menggantung dirinya di sel saat persidangan tahun 2007.
Foto: Imago
Malaikat Maut
Stephan Letter adalah bekas perawat yang bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 29 pasien dengan suntikan mematikan di sebuah rumah sakit di Bayern antara 2003 dan 2004. Ditangkap karena pencurian obat-obatan, Letter mengakui beberapa pembunuhan. Namun, ia bersikeras hanya ingin meringankan penderitaan pasien. Dia menjalani hukuman seumur hidup.
Foto: picture alliance/AP/U. Lein
Perawat Pembunuh
Ingin dikagumi oleh rekan kerja karena menyelamatkan jiwa, Niels Högel menyuntikkan pasien dengan obat kardiovaskular agar mereka gagal jantung atau mengalami kolpas sirkulasi. Dia dihukum karena membunuh dua orang dan dipenjara seumur hidup pada tahun 2015. Namun, setelah penyelidikan beberapa tahun, para penyidik yakin Högel bertanggung jawab atas lebih dari 100 kematian. (vlz/yp)
Foto: picture alliance/dpa/C. Jaspersen
13 foto1 | 13
Banyak kejahatan tidak dilaporkan
Sebuah studi dari Ifo atau Institute for Economic Research di München menyimpulkan bahwa selain gender dan usia, lokasi tempat tinggal berperan penting dalam tingkat kriminalitas.
Gina Rosa Wollinger, seorang kriminolog dari University of Applied Sciences for Police and Public Administration di Köln, menjelaskan bahwa migran lebih sering tinggal di kota daripada di pedesaan.
"Wilayah perkotaan jauh lebih erat kaitannya dengan kejahatan. Jadi, kriminalitas tidak semata-mata disebabkan oleh faktor migrasi,” ujarnya.
Hal ini juga tercermin dalam studi yang berbasis survei, bukan data kepolisian.
"Kejahatan remaja sudah banyak diteliti dan hasilnya jelas: Penyebab tindak kekerasan yang dilakukan baik oleh remaja Jerman maupun non-Jerman sama, meski risikonya lebih tinggi pada remaja migran,” beber Wollinger.
Faktor-faktor yang dimaksud mencakup tingkat pendidikan, pengalaman kekerasan seperti kekerasan dalam keluarga, hingga pandangan yang menganggap wajar adanya kekerasan dalam norma maskulinitas.
Kantor Kriminal Federal Jerman, Bundeskriminalamt, menjadi sumber utama data kriminalitas di Jerman. Setiap tahun, lembaga ini merilis statistik, meski hanya terbatas pada kasus yang dilaporkan ke polisi.
Sulit memperkirakan seberapa besar jumlah kejahatan yang tidak dilaporkan. Hal ini bisa menjadi masalah jika ada jenis kejahatan tertentu yang jarang dilaporkan, atau ketika kelompok tertentu, misalnya minoritas rasial, lebih sering dilaporkan ke polisi dibanding kelompok lain. Akibatnya, gambaran kriminalitas dalam data resmi sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan.
Situasi ini bisa membuat beberapa kejahatan tampak sepele, misalnya kekerasan dalam rumah tangga di wilayah pedesaan.
Di Jerman Kabur dari Penjara Bukan Kriminal
00:31
This browser does not support the video element.
Kekerasan sering dilakukan oleh orang terdekat
Hal ini juga berlaku untuk kasus kekerasan seksual. "Terkait kekerasan seksual, kasus dengan pelaku asing itu jarang terjadi,” kata Karstedt.
"Kejahatan semacam ini biasanya dilakukan orang yang dikenal korban. Misalnya paman, ayah tiri, guru, atau pelatih. Pernah ada kejadian seperti malam Tahun Baru 2015 di Köln, saat itu pelaku merupakan orang asing, tapi kejadian serupa sangat jarang.”
Karstedt meninggalkan Jerman 25 tahun lalu, awalnya pindah ke Inggris lalu ke Australia.
Bagaimana perasaannya saat kembali ke Hamburg?
Ia mengatakan kepada DW bahwa dirinya selalu merasa aman di Hamburg, bahkan saat menggunakan kereta bawah tanah. Secara keseluruhan, Jerman adalah negara yang aman dan ramah, meski menurutnya mungkin tidak sehangat Australia.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman.