1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiCina

Golden Week Cina: Lonjakan Perjalanan, tapi Ekonomi Lesu

Andrew Zi-Qi Fang | Yu-Chun Chou dari Taipei, Taiwan
9 Oktober 2026

Jutaan wisatawan Cina bepergian selama Golden Week, tetapi pengeluaran dilaporkan tetap lesu. Tren belanja hemat ini memunculkan pertanyaan baru tentang lemahnya permintaan domestik di ekonomi terbesar kedua dunia ini.

Seorang perempuan memegang bendera Cina terlihat berpose untuk foto di Tembok Besar Cina
Golden Week biasanya identik dengan momen ketika tingkat perjalanan dan pengeluaran tinggi di CinaFoto: Ryohei Moriya/The Yomiuri Shimbun/AP Photo/picture alliance

Ya Xi baru saja tiba kembali di Shanghai dengan penerbangan malam setelah perjalanan liburan Golden Week-nya ke Asia Tenggara. "Saya rela begadang demi tiket yang lebih murah," ungkapnya kepada DW.

Ia termasuk dalam 31,19 juta penumpang yang bepergian selama periode liburan 13 hari yang dimulai sejak Festival Pertengahan Musim Gugur pada 25 September 2026 dan Hari Nasional Cina pada 1 Oktober 2026.

Banyak di antara mereka yang lebih berhati-hati dalam mengelola anggaran perjalanan tahun ini.

"Penghasilan saya tahun ini lebih kecil, jadi saya memangkas anggaran untuk Golden Week tahun ini," ujar Xi, yang kini berada di pertengahan usia 20-an. "Saya menghabiskan 5.000 yuan (sekitar Rp13,4 juta) untuk tiket pesawat dan itu adalah pengeluaran terbesar dalam perjalanan saya."

Media pemerintah Cina melaporkan rekor jumlah penumpang kereta api selama Golden WeekFoto: CFOTO/picture alliance

Golden Week dipandang sebagai tolok ukur perekonomian Cina. Beijing memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk memamerkan kekuatan belanja ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Media pemerintah, misalnya, melaporkan rekor 25,204 juta perjalanan penumpang di jaringan kereta api Cina pada 1 Oktober 2026.

Namun, menurut analis Citigroup , data awal menunjukkan pengeluaran per wisatawan yang lebih moderat dan volume lalu lintas penumpang yang cenderung stagnan. Volume lalu lintas selama empat hari pertama liburan hanya naik 0,1% dibanding tahun lalu, jauh di bawah kenaikan 3,5% yang tercatat selama liburan Hari Buruh tahun ini.

Konsumen muda makin selektif dalam berbelanja

Lizzi C. Lee, peneliti ekonomi Cina di Asia Society Policy Institute, mengatakan kepada DW bahwa konsumen Cina semakin selektif.

"Menurut saya, orang-orang tetap mau keluar dan berbelanja. Mereka hanya jauh lebih cermat soal berapa banyak dan untuk apa mereka membelanjakannya," tegas Lee.

Namun, bersikap hati-hati bukan berarti berhenti bergerak, tambahnya. "Mereka akan menghabiskan uang untuk perjalanan, konser, restoran, pengalaman, dan teknologi ... jika mereka merasa itu sepadan, mereka akan berhemat sangat agresif di tempat lain."

Perjalanan Golden Week Ya Xi mengikuti pola ini. Dia membayar lebih untuk pengalaman yang berarti dan berhemat di pos lain. "Makan, minum, dan bersenang-senang," jelas Ya Xi, yang mengaku bersedia mengeluarkan lebih banyak untuk makanan. Contohnya, ia menetapkan anggaran 200 yuan (sekitar Rp350 ribu) untuk setiap kali makan.

Guo-Chen Wang, peneliti asosiasi di Chung-Hua Institution for Economic Research, mengatakan kepada DW bahwa tren wisata hemat di kalangan wisatawan Cina masih terus berlanjut.

"Jumlah perjalanan memang meningkat, tetapi daya konsumsi tetap tertekan, seperti yang saya lihat pada tahun-tahun sebelumnya," papar Wang.

Pemerintah Cina berupaya mendorong pengeluaran selama Golden Week dengan menyediakan kupon senilai lebih dari 310 juta yuan (sekitar Rp829 miliar). Namun, Wang meragukan efektivitas langkah tersebut. "Itu solusi lama untuk masalah yang juga sudah lama."

Muncul tren warga Cina memilih perjalanan hemat ketimbang perjalanan yang mewahFoto: CFOTO/picture alliance

Cerminan lemahnya permintaan domestik Cina?

Ini bukan pertama kalinya Golden Week mencatatkan lemahnya permintaan konsumen. Pada musim liburan tahun 2025, rata-rata pengeluaran per perjalanan hanya 911,04 yuan (sekitar Rp2,4 juta), yang merupakan angka terendah dalam tiga tahun terakhir, menurut Reuters.

"Beijing masih percaya bahwa rendahnya belanja terjadi karena konsumen enggan mengeluarkan uang," jelas Wang. "Padahal, menurut kami, konsumen Cina memang tidak mampu untuk berbelanja."

Meski tabungan di bank-bank Cina terus meningkat, Wang mengatakan bahwa sebagian besar tabungan tersebut terkonsentrasi di tangan sebagian kecil penduduk. "Dengan kata lain, mayoritas warga Cina tidak memiliki tabungan."

"Masalah mendasarnya adalah kesenjangan kekayaan dalam masyarakat Cina," ucapnya. "Saya tidak tahu apakah Beijing benar-benar mengabaikan masalah ini atau memang tidak mau menghadapinya."

Sebuah publikasi terbaru Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), berjudul Toward a New Economic Growth Model for Cina, kembali mencatat bahwa permintaan domestik Cina melemah sejak pandemi, ketika koreksi pasar properti mulai terjadi.

Lee, sebaliknya, melihat lemahnya belanja selama Golden Week ini sebagai persoalan kepercayaan.

"Penurunan sektor properti telah memukul kekayaan rumah tangga, ekspektasi pendapatan dan pekerjaan masih sangat lemah, dan beberapa tahun harga yang lesu telah melatih orang untuk menunggu diskon dan mencari nilai terbaik," katanya kepada DW.

Aturan perjalanan lintas batas

Beberapa pekan sebelum Golden Week, pengetatan pembatasan perjalanan Cina mulai berlaku pada 15 September 2026. Aturan baru itu melarang warga negara Cina bepergian ke luar negeri jika dinilai berpotensi menimbulkan risiko bagi keamanan nasional maupun keamanan industri atau teknologi.

Wang memperkirakan wisatawan Cina akan beralih ke perjalanan domestik di bawah aturan baru ini, tetapi hasilnya tidak sesuai ekspektasinya. "Volume perjalanan ke luar negeri justru terus tumbuh, meski tidak banyak," jelasnya.

Lee menilai tidak ada bukti kuat bahwa aturan baru itu secara luas menghalangi wisatawan biasa untuk bepergian ke luar negeri. Menurutnya, angka Golden Week justru menjadi "pengingat bahwa situasi di lapangan” tidak seburuk yang dikhawatirkan.

"Aturan September itu memberi otoritas lebih banyak ruang untuk memverifikasi tujuan perjalanan dan meminta informasi tambahan dalam beberapa kasus," kata Lee. "Namun, aturan itu tetap menyisakan ruang yang luas bagi pariwisata luar negeri biasa."

Mi Tang di Taipei berkontribusi pada artikel ini

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi

Editor: Ayu Purwaningsih

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait