1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Debat Anggaran di Parlemen Jerman

26 November 2003

Anggaran belanja sering disebut-sebut sebagai ‚neraca nasib suatu bangsa'. Itu sebabnya, debat mengenai anggaran sering berlangsung berapi-api. Hari Rabu, parlemen Jerman‚ Bundestag berdebat mengenai rancangan anggaran pemerintahan Schröder. Berikut laporan Jens Thurau.

Debat parlemen hari Rabu memang tidak membawa aspek baru dalam sengketa antara pemerintah dan oposisi mengenai langkah pembaruan. Debat itu berkisar pada garis besar politik Kanselir Gerhard Schröder. Pemerintah Jerman ingin agar beberapa langkah pembaruan sudah bisa diputuskan sebelum hari natal. Terutama yang berkaitan dengan percepatan pembaruan pajak tahun depan. Namun untuk itu, pemerintah perlu dukungan dari partai oposisi, yang menguasai suara mayoritas di Majelis Daerah, Bundesrat. Saat ini, beberapa rancangan undang-undang terpaksa harus dirundingkan di Komisi Arbitrase, karena Bundesrat menolak rancangan yang sudah disetujui parlemen. Di Komisi Arbitrase, front tampaknya semakin meruncing.

Dalam debat di parlemen, kanselir Gerhard Schröder mencoba berargumentasi dengan istilah patriotisme. Ia menyerukan, pemerintah dan oposisi harus bekerjasama, agar agenda reformasi bisa terlaksana. Schröder mengakui, hal itu hanya mungkin melalui kompromi. Namun kompromi itu hendaknya dicapai melalui pertimbangan obyektif. Jika kompromi itu tercapai, berarti pemerintah dan oposisi siap mengemban tanggungjawab demi negara.

Oposisi Unikristen menyatakan hanya akan setuju percepatan pembaruan pajak, kalau pemerintah membiayai langkah itu melalui penghematan, bukan dengan membuat utang baru. Di lain pihak, pemerintah menilai langkah penghematan pada saat ini kontraproduktif, karena bisa menggangu perekonomian yang baru menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Tetapi Ketua oposisi Angela Merkel tidak mau mengalah. Ia menegaskan, oposisi hanya bisa menyetujui suatu kebijakan, jika jelas keuntungannya lebih banyak daripada kerugian. Itulah patokan oposisi, dan pertimbangan inilah yang akan mendasari sikapnya. Merkel mengatakan, pihak oposisi siap melakukan kompromi dengan pemerintah demi kebaikan Jerman. Walaupun oposisi sebenarnya sadar ada jalan yang lebih baik, seandainya mereka yang memerintah.

Debat di parlemen berlangsung cukup obyektif. Tidak ada argumen baru yang dikemukakan. Oposisi menuduh pemerintah hanya menambah utang negara dan tidak mampu menciptakan lapangan kerja. Sementara koalisi pemerintah, SPD dan Partai Hijau, menuduh oposisi Unikristen dan Partai Liberal FDP hanya memblokir langkah reformasi yang sangat penting untuk Jerman. Tetapi kelihatan, baik pemerintah maupun oposisi agak menahan diri. Mereka masih menunggu hasil perundingan di Komisi Arbitrase yang kemungkinan rampung pertengahan Desember. Jika hasil itu sudah ada, baru semua partai harus memutuskan secara tegas, apakah mereka mendukung atau menentang kompromi yang diusulkan.