Debat Capres Indonesia
25 Juni 2009
Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla berduet selama lima tahun ini. Tetapi dalam debat kedua di televisi Kamis malam (25/06), kedua calon presiden ini saling sindir.
Mula-mula mengenai iklan kampanye SBY yang meniru jingle iklan mi instan. Iklan itu dianggap tak sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengetatkan impor. Mengkonsumsi lebih banyak mi instan berarti menaikkan impor gandum yang pada gilirinnya menaikkan inflasi, kata Kalla.
Yudhoyono membalas dengan mengatakan, mungkin mi instan yang dimakan Kalla terbuat dari 100% gandum, sementara mi yang ia makan menggunakan campuran sagu, singkong dan sukun.
Saling sindir berlanjut ketika Jusuf Kalla mengklaim sebagai konseptor Program Bantuan Langsung Tunai, yang melambungkan popularitas Yudhoyono. Ia juga melontarkan serangan terhadap tingginya imbal hasil sukuk global yang dikeluarkan pemerintah.
Pasangan Pemilu 2004 ini juga berbeda pandangandalam sejumlah isu. Misalnya soal revisi Undang Undang Ketenagakerjaan yang mandek. Yudhoyono mengatakan, belum diperlukan revisi dan menekankan mediasi antara pekerja, pengusaha dan pemerintah.
"Kita tidak perlu tergesa-gesa untuk merevisi UU ketengakerjaan. Karena lembaga tripartit yang sudah berjalan di pusat dan daerah, dalam banyak hal bisa mencapai titik temu. Di Batam misalnya di kawasan industri yang lain itu bisa ketemu bagaimana yang pas. Di satu sisi upah buruh layak. Disisi lain tidak ada PHK dan industri tumbuh baik. Itu juga solusi yang bisa kita lakukan ke depan ini”, kata Yudhoyono.
Sebaliknya, Jusuf Kalla menekankan pentingnya segera merevisi materi dalam Undang-Undang yang menyangkut uang pesangon dan tenaga kontrak.
"UU ini menarik, pengusaha tidak suka, buruh juga tidak suka. Jadi sebenarnya mudah merubahnya. Karena pengusaha tidak sepakat dengan uang pesangon. Sementara bagi buruh berat karena masalah Outsourcing. Jadi dua duanya kita perbaiki. Jadi harus ada pertemuan Bipartit dulu, supaya ada persetujuan antara pengusaha dan buruh soal dua point penting ini. Baru kemudian kita bertemu dalam tripartit dengan pemerintah, bagaimana mengatur UU ini dengan lebih baik”, kata Kalla.
Meski demikian, kedua kandidat punya pandangan sama dalam isu mempertahankan subsidi BBM dan hutang luar negeri. Untuk menutup defisit anggaran, Yudhoyono mengatakan, hutang luar negeri masih lebih baik ketimbang menjual aset. Sementara Jusuf kalla berjanji, akan menekan nilai utang luar negeri, tidak boleh lebih dari 1,5 persen, agar pemerintah mampu membayar.
Sikap berbeda ditunjukkan Megawati Soekarnoputri. Capres yang sepanjang debat tampil normatif ini, menyatakan pentingnya segera menghentikan hutang luar negeri.
Mega mengatakan, “Kita mesti punya prinsip dulu, mau terus hutang atau tidak. Kalau bagi saya kita mesti berhenti utang dulu. Karena bayangkan dari sejak lama, masak kita tidak pernah bisa menghentikan hutang kita. Karena sumber daya alam kita kan luar biasa. Persoalannya kan bagaimana mengelolanya untuk bisa menghasilkan, membayar hutang-hutang tersebut. Kalau hal itu tidak dilakukan tentu akan terus berhutang. Kita mesti punya kepercayaan diri juga, bahwa kita sanggup membayar hutang.”
Meski demikian, Megawati tak menjelaskan secara konkrit, solusi masalah ini, kecuali menekankan pentingnya menggenjot produktivitas di sektor kelautan dan pertanian.
Fokus utama debat calon presiden kedua adalah mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. Capres Megawati Soekarnoputri menyatakan, perlu kemandirian untuk memerangi kemiskinan. Jusuf Kalla menekankan, pentingnya menjaga stabilitas harga, guna menjaga daya beli masyarakat, agar tidak kembali miskin. Sementara Yudhoyono menargetkan untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran dalam lima tahun mendatang.
Secara keseluruhan, sebetulnya, tidak banyak hal baru yang dipaparkan para kandidat. Bagaimanapun, debat calon presiden ini nampaknya berhasil mengubah keraguan publik, setelah debat sebelumnya yang membosankan.
Ketiga kandidat masih akan kembali tampil pekan depan, dalam debat terakhir dengan tema demokrasi dan otonomi daerah
Zaki Amrullah
Editor: Renata Permadi