Delhi Belly: Bakteri Asing 'Kacaukan' Perut saat Bepergian
4 Februari 2026
Orang-orang di India menyebutnya sebagai “Indian Belly”, sedangkan wisatawan di Meksiko mengenalnya sebagai “Montezuma’s Revenge”, dan para turis yang mengunjungi Indonesia menyebutnya sebagai “Bali Belly”- fenomena yang kerap terjadi pada para pelancong mancanegara. Meski penduduk lokal minum air yang sama dan makan hidangan yang sama, tubuh mereka baik-baik saja.
Mengapa perut “berontak" saat bepergian jauh
Diare saat bepergian umumnya disebabkan infeksi. Biasanya bakteri E.coli yang menghasilkan racun menjadi penyebab utamanya, tetapi Salmonella, Shigella, Campylobacter, atau parasit seperti Giardia juga turut berperan. Mikroba ini menyerang saluran pencernaan dan sering memicu diare.
Bakteri ini masuk lewat air yang terkontaminasi, es, salad mentah, atau makanan yang tidak disimpan dengan baik. Wisatawan dari negara-negara industri biasanya tidak memiliki antibodi terhadap banyak kuman ini. Hanya karena satu koktail, bakteri asing sudah cukup untuk mengganggu keseimbangan mikrobioma di usus.
Selain itu, tubuh berada dalam kondisi stres: perbedaan zona waktu, suhu yang tidak biasa, kurang tidur, dan pola makan yang berbeda melemahkan peran asam lambung, lapisan usus, dan sistem imun dan memberi ‘akses’ bagi bakteri.
Mikroba lokal ‘bermigrasi’
Faktor utama adalah mikrobioma, triliunan bakteri yang hidup di usus kita. Mereka terbiasa dengan pola makan dan lingkungan asal, sehingga perubahan mendadak bisa membuatnya kacau. Studi pada migran dari Thailand menunjukkan bahwa mikrobioma dapat menyesuaikan diri dengan pola makan dan gaya hidup baru dalam waktu enam hingga sembilan bulan.
Namun, proses ini tidak selalu lancar. Bagi sebagian orang berjalan tetap stabil, sementara yang lain dapat mengalami gangguan seperti diare dan kembung. Antibiotik yang sering diminum wisatawan saat gejala pertama kali muncul turut menghancurkan sebagian besar flora usus lama, membuat bakteri yang lebih agresif dan resisten.
Apakah penduduk lokal benar-benar kebal?
Anggapan bahwa penduduk lokal bisa makan apa saja sementara para pangunjung sakit tidak sepenuhnya benar. Orang yang sejak kecil terpapar bakteri tertentu membangun semacam perlindungan - sistem imun telah mengenali patogen dengan lebih cepat dan lapisan usus terbiasa dengan paparan tertentu.
Kontak berulang dengan bakteri penyebab diare seperti (Enterotoxigenic Escherichia coli) ETEC dapat memberi perlindungan sebagian, tapi tidak seluruhnya. Pada studi terhadap anak-anak di Afrika Barat menunjukkan infeksi ETEC menurunkan risiko infeksi ulang dengan serotip (variasi bakteri) yang sama sekitar 47%, namun tidak melindungi dari varian lain.
Penduduk lokal juga bisa sakit karena amuba, E.coli, atau Giardia, hanya saja gejalanya sering lebih ringan dan kadang tidak dianggap penyakit. Faktor sosial juga berperan: rutinitas kerja harian membuat penduduk lokal jarang membicarakan soal diare atau menceret, sedangkan wisatawan perlu mengubah seluruh rencana liburan jika mengalami gejala yang sama.
Bisakah tubuh beradaptasi dengan Indian Belly?
Jawaban singkatnya: bisa, tapi prosesnya lambat, tidak sempurna, dan berisiko. Sistem imun perlahan membangun pertahanan terhadap bakteri diare yang umum. Para ekspatriat yang tinggal lama di luar negeri bahkan bisa tetap memiliki perlindungan lebih baik beberapa tahun setelah kembali.
Namun, ada limitasinya. Kuman baru atau yang sangat agresif, jumlah bakteri yang banyak sekaligus, atau air yang sangat tercemar bisa tetap membuat orang sakit. Adaptasi ini juga bersifat reversibel. Dalam sebuah studi, mahasiswa AS yang sempat “kebab” terhadap diare di Meksiko kehilangan proteksi tersebut sekitar dua bulan setelah kembali ke AS.
Faktor genetik juga memengaruhi respons imun dan penyerapan nutrisi, kemungkinan besar turut menentukan kerentanan terhadap infeksi usus.
Mengapa orang dari India, Afrika, atau Asia jarang sakit di Eropa?
Diare wisatawan biasanya dialami orang dari negara maju yang bepergian ke wilayah dengan kualitas air dan makanan lebih rendah. Sebaliknya, Eropa Barat, Amerika Utara, atau Jepang termasuk wilayah risiko rendah dengan jumlah kuman lebih sedikit, air bisa diminum, dan keamanan makanan memiliki pengawasan ketat.
Selain itu, banyak orang dari India, Afrika, atau Asia sejak kecil sering terpapar patogen usus, sehingga sistem imun mereka lebih siap menghadapi kuman baru di Eropa. Oleh sebab itu,“Indian Belly” jarang terjadi pada mereka.
Tentu saja, orang non-Eropa juga bisa mengalami masalah pencernaan di Eropa, misalnya karena makanan busuk, Norovirus, makanan tidak biasa, atau stres.
"Kupas, Rebus, atau Jangan Makan" cara praktis lawan diare saat bepergian
Tidak ada "perut ajaib" yang kebal bakteri. Wisatawan sebaiknya menghindari makanan atau minuman yang berisiko terkontaminasi, seperti:
- Air mentah (ledeng), es, dan es krim
- Buah atau sayur mentah yang telah dikupas
- Daging atau ikan mentah atau setengah matang
- Buffet makanan yang terbuka lama tanpa pendingin
- Jus segar atau minuman fermentasi yang dicampur air ledeng atau disajikan dengan es
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid