Demo Besar Anti-Nuklir Di Berlin
6 September 2009
Demo anti-nuklir terbesar semenjak sepuluh tahun di Jerman ini diikuti lebih 100 organisasi dan sederetan tokoh masyarakat. Bergabung pula konvoi 400 traktor yang datang dari negara bagian Niedersachsen. Di kawasan terdapat sejumlah instalasi tenaga nuklir, serta tempat pembuangan limbah nuklir bawah tanah, Gorleben yang kontroversial.
Diperkirakan sekitar 50 ribu pengunjuk rasa ikut dalam aksi yang memrotes rencana Kanselir Jerman, Angel Merkel untuk membatalkan penutupan instalasi nuklir di Jerman. Sembari mengibarkan bendera kuning dan mengusung poster-poster bertuliskan “Atomic Power – No Thanks”, barisan pengunjuk rasa itu berpawai dari stasiun kereta api pusat Berlin, melewati kantor-kantor pemerintahan menuju gerbang Branderburger Tor. Sepanjang jalan, mereka menyerukan semboyan-semboyan anti nuklir.
Mayoritas anti tenaga nuklir
Tema energi nuklir sangat kontroversial di Jerman. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan organisasi lingkungan Greenpeace menunjukan bahwa mayoritas masarakat Jerman, yakni 59% populasi menginginkan penutupan semua instalasi nuklir di Jerman.
Di antara tokoh masyarakat yang berpartisipasi, terdapat banyak anggota partai Hijau, termasuk ketua partai Hijau, Claudia Roth dan mantan Menteri Lingkungan Hidup, Jürgen Trittin dari partai yang sama. Hubert Weiger, dari organisasi lingkungan Jerman, Friends of The Earth turut mengkordinasi acara demo. Ia menerangkan, “kami ikut mengorganisasi demonstrasi ini karena begitu dekat dengan pemilihan umum, dan kami merasa perlu mengingatkan para kandidat pemilu, untuk tidak membiarkan instalasi tenaga nuklir dihidupkan kembali.“
Sementara itu, petinggi Badan Lingkungan Hidup Jerman, Jochen Flasbarth, menyatakan dukungannya untuk para demonstran. Dalam sebuah wawancara radio, ia menegaskan bahwa energi nuklir bukan jenis energi yang dapat dipertahankan.
Serupa disampaikan sejumlah pengunjuk rasa, “Kami berdemonstrasi menentang energi nuklir di Jerman dan di dunia, dan ini merupakan demo besar menjelang pemilihan terpenting di Jerman. Kami ingin menegaskan pendapat kami kepada para politisi. Di Hamburg ada tempat penyimpanan limbah nuklir dan saat ini ada banyak orang dari Hamburg di sini yang ikut menentang penggunaan lokasi itu.“
Seorang pengunjuk rasa lain berkomentar, „kami ingin menunjukkan kepada para pemimpin politik kami, bahwa kami tidak gembira dengan rencana mengubah keputusan dan menggunakan tenaga nuklir lagi“.
Janji yang tak terpenuhi
Jurubicara demo, Jochen Stay mengritik, "Janji untuk mengakhiri era nuklir sudah cukup lama dikumandangkan, tapi sampai sekarang tidak pernah ditindak lanjuti.“
Tahun 2000 partai Hijau dan partai sosialis demokrat Jerman, SPD memerintah di Jerman. Kanselir Jerman saat itu, Gerhard Schröder dari SPD menyepakati penutupan semua instalasi nuklir di Jerman, secara bertahap sampai tahun 2020. Namun kini, Kanselir Jerman Angela Merkel dari partai Demokrat Kristen CDU ingin menegosiasi ulang batas waktu penutupan instalasi nuklir tersebut. Merkel yang tengah mengalang koalisi baru dengan partai liberal, FDP yang pro tenaga nuklir, mengatakan hal itu akan dilakukannya, apabila ia memenangkan pemilihan umum pada 27 September mendatang.
Kontroversi Gorleben
Ada 17 instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir, yang memproduksi 30% dari seluruh kebutuhan energi di Jerman. Selain itu, terdapat beberapa lokasi pembuangan limbah nuklir. Kontroversi terbesar menyangkut lokasi pembuangan limbah nuklir Gorleben, yang tidak saja menampung limbah nuklir lokal, melainkan juga limbah nuklir dari sejumlah negara Eropa lainnya. Lokasi penyimpanan limbah ini kerap menjadi target para demonstran yang menghadang transportasi limbah nuklir ke tempat itu.
Belakangan tercuat pula berita, bahwa dinding bekas tambang garam itu tidak mampu menahan radiasi yang terpancar dari limbah nuklir dan kawasan itu terancam kontaminasi. Selain itu, bahwa di masa pemerintahan mantan Kanselir Jerman, Helmut Kohl dari partai Demokrat Kristen CDU, pada tahun 1983, pemerintah Jerman mendesak para ilmuwan untuk mengubah hasil penelitiannya agar memungkinkan penggunaan bekas tambang garam Gorleben untuk penyimpanan limbah nuklir. Menghadapi pemilihan umum, muncul berita ini merupakan pukulan bagi Kanselir Jerman Angela Merkel.
Kini Menteri Lingkungan Hidup Jerman, Sigmar Gabriel, dari partai sosialis Demokrat, SPD, mengimbau Merkel untuk berhenti menjadi perpanjangan tangan industri nuklir. Ia mengatakan, bahwa masa depan adalah milik energi terbaharui.
EK/CS/DW/dpa/afp