Demonstrasi Hong Kong: Puluhan Masih Bertahan di Kampus
20 November 2019
Puluhan pengunjuk rasa masih bersembunyi di dalam sebuah universitas Hong Kong setelah ratusan orang melarikan diri dari kondisi yang memburuk.
Foto: Reuters/A. Perawongmetha
Iklan
Masih ada puluhan demonstran penentang pemerintah yang bertahan di dalam kampus Universitas Politeknik Hong Kong yang telah terkepung selama empat hari berturut-turut. Pertikaian antara pengunjuk rasa dan polisi masih berlanjut pada hari Rabu (20/11).
Para pengunjuk rasa di kampus mengatakan sekitar 50 orang masih bertahan, setelah ratusan melarikan diri dari kondisi yang memburuk dan menyusul peringatan resmi bahwa polisi mungkin menembakkan peluru tajam untuk membersihkan daerah itu.
"Saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan berjuang sampai akhir," ujar seorang demonstran berusia 15 tahun bersenjatakan busur dan anak panah, yang mengidentifikasi dirinya sebagai William, kepada kantor berita AFP. "Tapi ... itu sangat berbahaya karena ketika kamu menggunakan busur, polisi harus menembakmu, dengan beberapa peluru yang tidak diketahui. Mungkin peluru yang sebenarnya."
Dalam beberapa hari terakhir, kampus telah berubah menjadi pusat gerakan protes selama hampir enam bulan terhadap Beijing. Pemrotes telah menggunakan bom molotov, batu bata dan panah untuk mengusir polisi anti huru-hara.
Sementara itu, pihak berwenang telah membuat barisan di sekeliling kampus untuk mencegah siapa pun melarikan diri. Selama beberapa hari terakhir, lebih dari 1.000 orang telah ditangkap dan ratusan terluka dirawat di rumah sakit, kata pihak berwenang.
Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam pada hari Selasa (19/11) menyerukan untuk mengakhiri pengepungan secara manusiawi dan mendesak para pengunjuk rasa di universitas untuk menyerah. Lam menambahkan bahwa mereka yang berusia di atas 18 tahun akan menghadapi tuduhan kerusuhan, sedangkan anak di bawah umur tidak akan ditangkap.
Protes, yang telah menimbulkan kekacauan di Hong Kong selama berbulan-bulan, telah meningkat selama beberapa minggu terakhir. Kampus universitas pun jadi saksi bentrokan sengit antara pengunjuk rasa dan polisi. Beberapa kampus di seluruh kota telah dirusak dan dibarikade oleh pengunjuk rasa berpakaian hitam yang mengklaim mereka membela kampus dari polisi.
Rabu pagi (20/11), banyak insiden pemrotes yang menghentikan kereta dengan membuka pintu darurat dan mengganggu lalu lintas, tetapi dalam skala yang jauh lebih kecil daripada minggu lalu. Beberapa stasiun kereta api tetap tutup karena kerusakan dari protes sebelumnya.
Hari-hari Penuh Kekerasan di Hong Kong
Selama setengah tahun, para mahasiswa di Hong Kong berdemonstrasi menuntut kebebasan dan demokrasi. Protes pun semakin radikal. Terakhir, pecah bentrokan di Universitas Politeknik Hong Kong.
Foto: Reuters/T. Siu
Protes di Kampus Politeknik
Inilah kampus Universitas Politeknik. Para demonstran dipukul mundur di sini dan terlibat dalam bentrokan dengan polisi selama lebih dari 24 jam. Di kampus, ratusan orang berbekal senjata alat pembakar dan senjata rakitan sendiri. Untuk menangkal polisi, mereka menyalakan api besar-besar.
Foto: Getty Images/AFP/Ye Aung Thu
Diringkus dan ditangkap
Aktivis melaporkan bahwa polisi mencoba menyerbu gedung universitas. Karena gagal, aparat pun menciduk para demonstran di sekitaran universitas. Mahasiswa yang ingin meninggalkan kampus ditangkap. Polisi mengatakan mereka menembakkan amunisi di dekat universitas pada pagi hari, tetapi tidak ada yang tertembak.
Foto: Reuters/T. Siu
Gagal melarikan diri
Di luar kampus, polisi bersiaga dengan meriam air. Asosiasi mahasiswa melaporkan bahwa sekitar 100 mahasiswa mencoba meninggalkan gedung universitas. Namun mereka terpaksa kembali ke dalam gedung kampus ketika polisi menembakkan gas air mata ke arah mereka.
Foto: Reuters/T. Peter
Lokasi strategis penting
Universitas Politeknik menjadi penting dan strategis bagi para demonstran karena terletak di pintu masuk terowongan yang menghubungkan daerah itu dengan pulau Hong Kong. Dalam beberapa hari terakhir, pengunjuk rasa telah mendirikan barikade di luar terowongan untuk memblokir pasukan polisi. Ini adalah bagian dari taktik baru untuk melumpuhkan kota dan meningkatkan tekanan pada pemerintah.
Foto: Reuters/T. Peter
Apa tuntutannya?
Protes di Wilayah Administratif Khusus ini telah berlangsung selama lebih dari lima bulan. Tuntutan para demonstran antara lain yaitu pemilihan umum yang bebas dan penyelidikan kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Perwakilan pemerintahan Beijing di Hong Kong belum menanggapi kedua tuntutan ini.
Foto: Reuters/T. Peter
Peningkatan kekerasan
Protes yang awalnya damai kini berubah menjadi penuh kekerasan. Polisi menindak tegas dan mengancam akan menggunakan amunisi tajam. Aktivis Hong Kong berbicara tentang adanya 4.000 penangkapan sejak protes dimulai. Para demonstran sendiri melawan dengan melempari batu, melemparkan bom Molotov dan menggunakan busur serta anak panah.
Foto: Reuters/T. Siu
Busur dan anak panah untuk melawan
Seorang polisi terluka pada hari Minggu (17/11) akibat tusukan anak panah di kakinya. Aktivis terkenal Hong Kong, Joshua Wong, membenarkan kekerasan yang dilakukan para demonstran. "Dengan protes yang damai, kami tidak akan mencapai tujuan kami. Dengan kekerasan saja juga tidak mungkin, kami membutuhkan keduanya," kata Wong kepada media Jerman, Süddeutsche Zeitung.
Foto: picture-alliance/dpa/Hong Kong Police Dept.
Sembunyikan identitas
Pemerintah Hong Kong telah melarang pemakaian topeng. Banyak demonstran memakai masker gas untuk perlindungan terhadap serangan gas air mata. Yang lain mengikat kain di depan wajah mereka untuk menyembunyikan identitas. Mereka takut penangkapan dan konsekuensinya jika mereka sampai dikenali.
Foto: Reuters/T. Siu
Khawatir militer turun tangan
Eskalasi kekerasan juga makin berlanjut. Kehadiran beberapa tentara Cina pada hari Sabtu (16/11) di Hong Kong menyebabkan kekhawatiran. Para tentara ini diturunkan untuk membantu membersihkan serakan batu. Di antara para demonstran, muncul kekhawatiran besar bahwa Cina bisa saja menggunakan militernya untuk mengakhiri protes di Hong Kong. (ae/pkp)
Foto: picture-alliance/dpa/AP/Ng Han Guan
9 foto1 | 9
Senat AS mendukung hak asasi manusia di Hong Kong
Di Washington, Senat AS pada hari Selasa (19/11) dengan suara bulat meloloskan "Undang-Undang Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong," yang akan mengharuskan menteri luar negeri menyatakan setidaknya satu kali setahun bahwa Hong Kong memiliki cukup otonomi untuk memenuhi syarat yang akan menjadi pertimbangan perdagangan khusus AS dan akan menjatuhkan sanksi terhadap pejabat yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM.
Beijing mengecam tindakan Senat AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Geng Shuang, mengkritiknya sebagai campur tangan "terang-terangan" dalam urusan dalam negeri Cina.
Geng mengatakan undang-undang itu "menutupi tindakan kriminal dengan dalih usaha pencapaian hak asasi manusia dan demokrasi" serta dan menuduh Washington memiliki "agenda politik tersembunyi" untuk mengguncang Cina dan Hong Kong.