1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Penegakan HukumJerman

Jerman: Seberapa Efektif Deradikalisasi Islamis Ekstrem?

30 Juli 2026

Jerman mengembangkan beragam proyek deradikalisasi berbiaya besar untuk menanggulangi Islamisme ekstrem. Namun, usai serangan terhadap Parade Berlin Pride, efektifitas program-program tersebut mulai dipertanyakan.

Orang-orang berduka dan meletakkan bunga serta menyampaikan ucapan belasungkawa di salah satu lokasi kejadian di Tiergarten, Berlin, dua hari setelah serangan terhadap perayaan Christopher Street Day (CSD) di Berlin yang menewaskan satu orang dan melukai 29 orang lainnya
Setelah serangan terhadap Parade Pride di Berlin, Jerman sekarang sedang mendiskusikan cara menangani individu yang dikategorikan sebagai ancaman keamanan berhaluan IslamisFoto: Christian Ditsch/epd/IMAGO

Akibat serangan teror mematikan yang dilakukan oleh Abdul B. di Parade Berlin Pride pada Sabtu (25/07), perdebatan kembali mencuat di Jerman mengenai konsekuensi yang harus diambil dari insiden tersebut.

Pelaku berusia 21 tahun itu telah ditembak mati oleh polisi saat berusaha melarikan diri. Sebelumnya, ia telah menjalani dua wawancara asesmen pada Juni dan Juli sebagai bagian dari program deradikalisasi di Berlin.

Namun, menurut Thomas Mücke, Direktur Eksekutif Violence Prevention Network, pelaku tampaknya tidak benar-benar ingin meninggalkan lingkungan radikalisme. Karena itu, kecil kemungkinan ia akan diterima dalam program tersebut.

Kasus serupa juga terjadi dari waktu ke waktu dalam Program Keluar dari Islamisme (Aussteiger Programm Islamismus/API).

"Dalam situasi seperti itu, kami harus menyimpulkan bahwa pendampingan untuk keluar dari kelompok tersebut belum memungkinkan, karena kami tidak memiliki alasan untuk percaya bahwa orang tersebut benar-benar ingin mengambil jarak," kata konselor API sekaligus pekerja sosial, Stefanie Adler*, kepada DW.

*Nama telah disamarkan untuk melindungi privasi 

Kendaraan yang digunakan pelaku untuk menabrak kerumunan orang di Parade Berlin Pride, dibawa pergi dari lokasi kejadianFoto: Annegret Hilse/REUTERS

Program Keluar dari Islamisme API berbasis di negara bagian Nordrhein-Westfalen, yakni negara bagian dengan jumlah penduduk terbesar di Jerman. Program ini didirikan pada 2014 untuk mendukung orang-orang yang ingin keluar dari lingkungan Islamis radikal, termasuk mereka yang dianggap sebagai ancaman potensial oleh aparat keamanan.

"Apa yang kami lihat selama dua tahun terakhir adalah kami berhadapan dengan individu yang usianya semakin muda. Dulu kami menangani orang-orang yang pergi ke Suriah, dan kurang lebih jelas bahwa mereka pergi ke sana, bergabung dengan ISIS, lalu mengalami radikalisasi di dunia nyata," jelas Adler.

Kini, menurutnya, mereka berusia lebih muda dan sering kali mengalami radikalisasi lewat media digital.

"Media sosial menjadi penguat proses radikalisasi, dan prosesnya berlangsung jauh lebih cepat," tambah Adler.

Deradikalisasi adalah proses yang panjang dan berat

Sebagian orang tidak datang ke API atas inisiatif sendiri, sementara calon peserta lainnya dirujuk oleh polisi atau layanan pengadilan anak melalui orang-orang yang berhubungan dengan mereka di lembaga pemasyarakatan.

"Kami kemudian mempelajari orang tersebut lebih lanjut," kata konselor deradikalisasi API sekaligus psikolog Viola Geiger*.

"Kami mengumpulkan informasi dan memulai proses pendampingan yang awalnya setiap minggu, lalu menjelang akhir program terkadang hanya setiap beberapa bulan sekali. Ini jelas merupakan proses yang panjang," ujar Geiger.

Seseorang dianggap berhasil menjalani deradikalisasi setelah secara meyakinkan menunjukkan bahwa ia tidak lagi menganggap kekerasan sebagai tindakan yang sah serta mampu menghadapi situasi krisis secara mandiri. Setelah itu, kasusnya akan ditutup. Namun, untuk mencapai tahap tersebut dibutuhkan kesabaran dan ketekunan.

Dalam salah satu kasus, para konselor API mendampingi seorang peserta selama tujuh tahun. Terlepas dari tantangan tersebut, menurut Stefanie Adler, program deradikalisasi mutlak diperlukan.

"Kalau program-program seperti ini tidak ada, apa alternatifnya? Banyak orang yang keluar dari penjara setelah menjalani hukuman membutuhkan program semacam ini agar bisa kembali berintegrasi ke masyarakat," kata Adler.

Menurutnya, masyarakat juga sebagian besar tidak mengetahui banyak kisah sukses dari program-program tersebut.

"Orang sering lupa bahwa mereka yang berhasil meninggalkan gerakan itu kemudian tidak lagi menjadi sorotan dan tidak lagi muncul di ruang publik karena mereka hanya ingin menjalani hidup mereka," tambahnya. 

Reaksi Warga Berlin Usai Tragedi Berlin Pride

00:58

This browser does not support the video element.

Dampak ketidakstabilan politik global

Sebanyak 40 organisasi dan inisiatif yang bergerak di bidang pencegahan, pelepasan dari kelompok ekstrem, maupun deradikalisasi ekstremisme bermotif agama tergabung dalam organisasi payung Kelompok Kerja Federal Penanggulangan Ekstremisme Bermotif Agama (Federal Working Group on Religiously Motivated Extremism/BAG RelEx).

Direktur Eksekutif BAG RelEx, Jamuna Oehlmann, mengaku sama terkejutnya dengan banyak orang setelah serangan di Berlin.

Namun, kepada DW ia mengatakan bahwa persoalan Islamisme radikal di Jerman masih tetap signifikan.

"Semakin banyak perempuan muda yang juga mengalami radikalisasi. Namun tetap saja, sebagian besar adalah laki-laki muda di Jerman yang mengalami radikalisasi, melakukan aksi kekerasan, dan mewujudkan fantasi kekerasan mereka," kata Oehlmann.

Ia menjelaskan bahwa radikalisasi merupakan sebuah proses yang dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan dan dalam skenario terburuk dapat berujung pada seseorang mengalami radikalisasi.

"Masyarakat dan faktor-faktor eksternal memainkan peran penting dalam hal ini, tapi demikian pula tanggung jawab setiap individu yang mengalami radikalisasi," ucapnya.

Oehlmann mengidentifikasi situasi-situasi krisis tertentu yang dapat membuat seseorang merasa terasing dari masyarakat. Faktor-faktor tersebut meliputi kehilangan orang tua yang dicintai, gagal dalam ujian, krisis perumahan, kehilangan pekerjaan, mengalami diskriminasi, pengucilan, dan perundungan. Selain itu, meningkatnya ketidakstabilan politik global juga mendorong semakin banyak orang ke dalam keputusasaan.

"Dalam situasi seperti itu, kelompok-kelompok Islamis radikal tahu bagaimana memanfaatkan krisis kehidupan tersebut dan menyasar anak-anak muda dengan membuat mereka merasa, 'Bersama kami kamu akan didengar, bersama kami kamu menjadi bagian dari kami, bersama kami kamu bisa menjadi seseorang.' Selain itu, mereka juga menyederhanakan kompleksitas dunia dengan membaginya menjadi baik dan buruk, hitam dan putih," jelasnya. 

Program deradikalisasi terancam pemotongan anggaran

Maka itu, pendanaan bagi organisasi yang bekerja dalam pencegahan maupun deradikalisasi Islamisme menjadi semakin penting dan tidak seharusnya dipangkas. Namun, Menteri Pendidikan Federal Jerman Karin Prien justru mengumumkan langkah tersebut.

Prien berencana merombak program pendanaan Live Democracy! , dengan mengakhiri pendanaan bagi sekitar 200 proyek pada akhir tahun ini. Sebanyak 23 dari 40 organisasi anggota BAG RelEx terdampak oleh kebijakan tersebut. Jamuna Oehlmann pun mengkritik keputusan itu.

"Masalahnya adalah bahkan proyek-proyek yang selama ini bekerja dengan baik juga ikut terdampak. Akibatnya, sekarang mereka harus memusatkan perhatian pada penggalangan dana, yaitu mencari sumber pendanaan baru, alih-alih berkonsentrasi pada pekerjaan utama mereka dalam mencegah Islamisme radikal. Yang kami butuhkan adalah kepastian dan pendekatan jangka panjang," sebutnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Prita Kusumaputri

Editor: Rizki Nugraha

Oliver Pieper Reporter meliput isu sosial dan politik Jerman dan Amerika Selatan.