Komisi Penanggulangan Rasisme dan Intoleransi di Dewan Eropa mencatat, betapa praktik racial profiling, transfobia dan diskriminasi rasial masih dikeluhkan di banyak negara.
Seorang perempuan muslim berkulit hitam di JermanFoto: Dwi Anoraganingrum/Panama Pictures/picture alliance
Iklan
"Boleh jadi, tekanan untuk mengentaskan rasisme dan intoleransi mungkin belum pernah sebesar saat ini," demikian ditegaskan Bertil Cottier, Ketua Komisi Eropa Menentang Rasisme dan Intoleransi (ECRI), dalam peluncuran laporan tahunannya.
Namun di tengah tantangan tersebut, kesadaran akan bahaya rasisme dan intoleransi terhadap demokrasi, supremasi hukum, dan hak asasi manusia di Eropa justru semakin meningkat. Cottier menyebutnya sebagai situasi paradoks yang tidak hanya terjadi di Eropa.
Dia juga menyayangkan keputusan Amerika Serikat keluar dari status pengamat ECRI pada Februari lalu. ECRI sendiri merupakan bagian dari Dewan Eropa, bukan lembaga Uni Eropa.
Zwarte Piet: Kontroversi Tradisi Rasis
03:47
"Racial Profiling" masih merajalela
Dalam laporannya, ECRI menyoroti sejumlah tantangan politik utama yang dihadapi negara-negara Eropa, salah satunya praktik "racial profiling" oleh aparat keamanan. Praktik ini mendasarkan pemeriksaan atau tindakan hukum berdasarkan warna kulit, kewarganegaraan, etnisitas, atau agama seseorang. Kebijakan ini masih diterapkan dalam pengawasan perbatasan, tindakan antiteror, atau kontrol umum lainnya. Menurut ECRI, tindakan ini menciptakan "rasa terhina dan ketidakadilan dalam masyarakat.”
Laporan tersebut sengaja tidak memuat daftar negara secara rinci ataupun peringkat, namun dalam tanggapannya terhadap pertanyaan Deutsche Welle (DW), Wakil Presiden Pertama ECRI, Tena Šimonović Einwalter, mengungkap bahwa praktik "racial profiling" secara eksplisit disebut dalam laporan negara untuk Prancis dan Italia, meski belum semua laporan diterbitkan.
Dia sebaliknya menyebut Inggris sebagai contoh positif dalam mengatasi praktik diksriminatif. ECRI menyerukan kepada seluruh anggota Dewan Eropa untuk mengadopsi larangan eksplisit dan mendokumentasikan data etnis dalam kasus penahanan atau pemeriksaan oleh polisi.
Jerman sendiri sebelumnya telah direkomendasikan untuk mengembangkan strategi pencegahan "racial profiling". Namun pada tahun 2022, ECRI menilai, rekomendasi tersebut belum dijalankan secara memadai.
Melawan Rasisme Lewat Kartun
Dari Turki, Iran hingga Belgia, kartunis dari seluruh dunia menjadikan karyanya sebagai sikap menentang diskriminasi ras.
Foto: -
Dunia penuh warna bagi semua
Dalam dunia penuh warna, beberapa orang selalu kalah. Ini yang digambarkan oleh kartunis Korea Selatan Young Sik Oh. Manusia belum berhasil memberantas rasisme yang merajalela. Diskriminasi tak hanya bagi orang berkulit gelap saja, namun kaum homoseksual, wanita atau pemeluk agama lain mengalaminya, tergantung lingkungan Anda di dunia.
Kamu bisa menggunakan lebih banyak warna
Kartun karya German Peer Wedderwille menampilkan dua burung hitam bertengger di dahan pohon, di atas lanskap hitam-putih yang suram. Sambil mengamati burung warna-warni di dahan seberangnya, burung hitam mengatakan pada burung pendatang dari visualnya saja sudah tidak sesuai.
Foto: -
Komponis rasis
“Ebony dan Ivory hidup bersama dalam harmoni yang sempurna, berdampingan di tuts pianoku, Ya Tuhan, kenapa kita tidak?” menirukan mantan personel The Beatle Paul McCartney dalam lagu terkenal “Ebony dan Ivory.” Kim Duchateau asal Belgia tentunya menanyakan hal yang sama pada dirinya saat menggambar kartun ini. Seorang pianis harus tahu, tanpa harmoni tuts hitam dan putih, hanya ada hiruk pikuk.
Ironi lagu kebangsaan Eropa
Lagu “Ode to Joy” dikenal di seluruh dunia: ditulis oleh penyair Friedrich Shciller, 1785, lalu Ludwig van Beethoven membuatnya jadi musik simfoni ke-9-nya. Telah jadi lagu resmi Uni Eropa sejak 1985. Kartun buronan yang terjebak dalam bar lagu menyerupai kawat berduri, kontras dengan kalimat “semua orang akan menjadi saudara,” menggambarkan perlakuan pengungsi di perbatasan Eropa.
Penyambutan bersyarat
Banyak alasan orang meninggalkan negaranya: perang, penindasan dan kemiskinan. Namun, pengungsi ini jarang diterima di negara lain. Mereka berusaha menuju “tanah yang menjanjikan” secara ilegal, berjalan kaki atau menggunakan perahu karet. Kartun Jan Tomaschoff menggambarkan negara yang katanya terbuka menerima pengungsi tetapi memilih-milih siapa yang layak datang.
Fasad sipil
Masyarakat demokratis dilarang bertindak rasis atau diskriminatif dalam konstitusi. Namun, beberapa orang yang terlihat “terhormat” menyembunyikan ide-ide sayap kanan di balik fasad manusia biasa, tergambar dalam kartun Bern Phlenz. Terlihat dalam kepala seorang peria berjas, ada pria lebih kecil dengan gaya skinhead, memegang tongkat bisbol, mengintip, seolah-olah matanya adalah lubang intip.
Foto: -
Kelompok rahasia yang rasis
Kartun karya Saaed Sadeghi, Iran, tampikan jejeran pensil, namun ada satu yang bertudung putih runcing lengkap dengan mata: merupakan pakaian Ku Klux Klan. Kelompok rahasia ini tidak terima kenyataan bahwa sistem perbudakan dihapuskan di AS setelah Perang Saudara Amerika (1861-1865). Anggotanya secara terencana memburu orang kulit hitam, yahudi, komunis dan homoseksual.
Penghormatan untuk Rosa Parks
Seniman AS Loren Fishman hormati ikon kulit hitam Amerika, Rosa Parks, dalam melawan segregasi ras. Dia ditangkap karena menolak menyerahkan kursinya di bus untuk penumpang kulit putih. Hampir 70 tahun, rasisme jadi isu utama di AS. Kartun ini, seorang perempuan kulit hitam berdiri di depan mesin cuci dengan pilihan mencuci warna dan putih, serta berpikir: “Persetan dengan ini…”
Hidup ini penuh warna
Keberagaman membuat hidup penuh warna. Kartunis Guido Kühn mengilustrasikan ini dalam “Gadis dengan Anting Mutiara” dari lukisan terkenal Johannes Vermeer. Di gambar ini, kecantikan “Mona Lisa dari Utara” terlihat dengan tiga perempuan lainnya tersenyum dengan warna kulit yang berbeda. Tulisan di bawahnya menjelaskan semuanya.
Foto: -
Pelukan yang utopis
Kartunis Turki, Burak Eergin, serukan toleransi yang lebih besar di masyarakat. Sementara rekaman polisi memukuli demonstran sering jadi berita utama. Dalam kartun ini, petugas polisi dan demonstran membawa bunga dan saling berpelukan. Namun, kenyataannya berbeda, kartun ini hanya keinginan utopis untuk keharmonisan.
Warna di dunia
Di Brasil, negara asal kartunis Freelah, ada istilah “warna etno”, begitu sebutnya. Orang dari berbagai negara telah menikah dengan penduduk asli di sini, dan orang Brasil dengan berbagai warna kulit merupakan kekayaan budaya negara itu. Namun rasisme terhadap orang kulit hitam atau gelap menjadi kebiasaan di sini.
Yin dan Yang
Rasisme mungkin tidak akan jadi masalah jika masyarakat menghayati prinsip Cina, yin dan yang: dua kekuatan berlawanan yang saling tarik menarik, namun tak ada yang lebih unggul satu sama lain. Mereka seimbang dan tidak terpisahkan sebagai dua bagian dari satu kesatuan, bersatu dalam harmoni. Kartunis Kuba, Miguel Moraloes dengan jelas menyerukan “katakan tidak pada rasisme.” (mh/hp)
12 foto1 | 12
Segregasi Sinti Roma di sekolah
ECRI juga mengkritik praktik pemisahan anak-anak etnis Roma di sekolah yang masih terjadi di sejumlah negara anggota Dewan Eropa.
Dalam banyak kasus, anak-anak etnis Roma kerap diajar dalam kelas atau sekolah terpisah, yang berujung pada rendahnya kualitas pendidikan dan tingginya konsentrasi anak Roma di sekolah tertentu. Meski beberapa negara telah memberlakukan larangan dan menganggap praktik ini sebagai diskriminasi, kemajuan di lapangan dinilai lambat. ECRI menyerukan penghapusan segala bentuk segregasi dalam sistem pendidikan.
Iklan
Kebencian terhadap minoritas seksual
Laporan ECRI juga menyoroti meningkatnya ujaran kebencian terhadap transgender, terutama selama masa kampanye politik menjelang pemilihan umum. Tren yang kerap muncul adalah retorika “melindungi anak-anak dari ideologi gender”.
Di sisi lain, kekerasan fisik terhadap orang transgender juga masih sering terjadi. ECRI mencatat, serangan ini menyebabkan dampak psikologis serius, termasuk depresi dan pemikiran untuk bunuh diri.
Nasib serupa dialami komunitas interseks, yakni mereka yang secara biologis tidak dapat diklasifikasikan secara jelas sebagai laki-laki atau perempuan. ECRI mengkritik keras praktik operasi penyesuaian kelamin pada anak interseks yang dilakukan tanpa kebutuhan medis yang jelas.
Alegra Wolter: Dokter Transpuan Pertama di Indonesia
01:00
This browser does not support the video element.
Praktik ini dianggap melanggar integritas tubuh dan hak atas keragaman gender. Meskipun begitu, ECRI mencatat beberapa kemajuan dalam legislasi perlindungan terhadap kelompok transgender dan interseks di sejumlah negara Eropa.
Komisi Eropa Menentang Rasisme dan Intoleransi (ECRI) adalah lembaga independen di bawah Dewan Eropa yang berbasis di Strasbourg, dengan 46 negara anggota, termasuk 27 negara Uni Eropa serta negara-negara Balkan Barat, Turki, dan Inggris. ECRI menerbitkan laporan negara dan rekomendasi kebijakan, berfokus pada diskriminasi struktural, bukan pengaduan individual. Dengan laporan tahunannya, ECRI berharap negara-negara anggota meningkatkan komitmen terhadap nilai-nilai kesetaraan, keadilan sosial, dan perlindungan terhadap kelompok minoritas yang selama ini kerap terpinggirkan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman