1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Di Iran Dimulai Revolusi Baru

16 Juni 2009

Boleh jadi revolusi yang sebenarnya sedang dimulai di Iran. Pimpinan religius Ayatullah Ali Khamenei kini menghadapi pilihan sulit.

Perkembangan situasi di Iran tetap menjadi sorotan dalam tajuk harian internasional. Harian konservatif Italia Corriere della Sera yang terbit di Milan dalam tajuknya berkomentar :

Peristiwa yang terjadi di Teheran hari Senin lalu, tidak sama dengan revolusi di Universitas Teheran 10 tahun lalu. Kali ini aksinya lebih besar. Dahulu hanya mahasiswa yang menggelar aksi protes. Sekarang seluruh warga. Mungkin lebih dari satu juta orang. Kelihatannya para penguasa di Teheran kini mengupayakan, agar bentrokan di jalanan yang dipicu hasil pemilu presiden pekan lalu itu, dapat dialihkan ke lembaga-lembaga resmi. Sebab, lebih mudah menuntaskan perbedaan pendapat di kamar-kamar penguasa, ketimbang di jalanan.

Harian Jerman Tageszeitung yang terbit di Berlin berkomentar :

Setiap warga Iran tahu, bahwa pimpinan religius Ali Khamenei bertanggung jawab untuk kekacauan ini. Tanpa perintahnya, tidak akan dilakukan kecurangan pemilu. Semua orang juga mengetahui, dewan pengawas tertinggi yang kebanyakan anggotanya diangkat oleh Khamenei, juga tunduk kepadanya. Jika dewan tertinggi sampai pada kesimpulan, telah dilakukan manipulasi pemilu, artinya Khamenei yang didiskreditkan. Tapi, apakah aksi protes akan dilanjutkan atau bahkan diperluas, amat tergantung pada kontribusi dari pimpinan oposisi, Moussavi, dan juga Khatami serta Rafsanjani. Jika mereka dapat diintimidasi dan diremehkan oleh Khamenei dan pimpinan militer Iran, hal ini dapat menjadi kekecewaan amat tragis bagi setiap warga Iran yang telah memilih Mousavi.

Harian konservatif Austria Die Presse yang terbit di Wina juga mengomentari posisi Ali Khamenei.

Disamping adu kekuatan di jalanan kota Teheran, kini juga pecah pertempuran terbuka di pusat kekuasaan. Tokoh pro-reformasi mulai melancarkan tekanan terhadap pimpinan revolusi Ayatullah Ali Khamenei. Khamenei kini menghadapi pilihan sulit. Jika tidak menanggapi tuntutan pendukung Moussavi, ia menghadapi risiko hujatan dari rakyatnya terhadap gagasan republik Islam Iran. Tapi jika memutuskan melakukan kompromi, ia juga mengkhawatirkan bahwa kelompok pro-reformasi melakukan modernisasi di negara itu, yang juga dapat berarti berakhirnya republik Islam Iran.

Terakhir harian independen Perancis Le Monde yang terbit di Paris berkomentar :

Walaupun keputusan program atom berada di tangan pemimpin religius Ayatullah Ali Khamenei, namun semua kandidat penantang Ahmadinejad bereaksi positif atas tawaran dialog dari presiden AS Barack Obama. Mereka juga berjanji untuk membuka Iran secara global. Ahmadinejad tidak melakukan kedua hal itu. Pengamat yang optimis mengatakan, kelompok ultrakonservatif di kubu Ahmadinejad, sebetulnya berada dalam posisi yang tepat, jika mereka membuka hubungan baru dengan AS. Namun saat ini justru terdapat kesan, rezim ini merasa terpojok dan semakin menutup diri terhadap dunia luar.



AS/dpa


Editor : Asril Ridwan