1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiAsia

Di Tengah Rivalitas AS, Cina Percepat Industri Teknologi

Adelia Dinda Sani sumber: Reuters
5 Maret 2026

Cina berkomitmen memperdalam investasi di industri berteknologi tinggi dan inovasi ilmiah. Ini dianggap sebagai kunci memperkuat keamanan dan kemandirian nasional di tengah meningkatnya persaingan dengan AS.

Perdana Menteri Cina Li Qiang berbicara di pembukaan sidang tahunan parlemen pada 2025
Cina kini menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 4,5% hingga 5%, lebih rendah dibandingkan 2025Foto: Andy Wong/AP Photo/picture alliance

Pada sidang tahunan parlemen, Cina menyatakan komitmennya untuk memperdalam investasi di industri berteknologi tinggi dan inovasi ilmiah. Hal ini dianggap sebagai kunci untuk memperkuat keamanan dan kemandirian nasional di tengah ketegangan geopolitik serta persaingan yang kian meningkat dengan Amerika Serikat (AS). 

Dalam pembukaan sidang tahunan parlemen yang berlangsung pada Kamis (05/03), Perdana Menteri Li Qiang memuji kemampuan Cina bertahan dari kenaikan tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump. Namun, ia menegaskan bahwa "multilateralisme dan perdagangan bebas berada di bawah ancaman serius," sambil mengumumkan kenaikan anggaran pertahanan nasional sebesar 7%, serta peningkatan anggaran riset dan pengembangan dengan persentase yang sama.

Beijing kini menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 4,5% hingga 5%. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan capaian pertumbuhan 5% pada 2025. Meski begitu, hal ini membuka ruang lebih besar untuk menekan kelebihan kapasitas industri dan menyeimbangkan kembali struktur ekonomi.

Rencana Lima Tahun ke-15 Cina menjanjikan investasi pada inovasi dan peningkatan industri, serta kenaikan signifikan yang tidak dirinci pada porsi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB).

Komitmen tersebut mengindikasikan kekhawatiran Beijing bahwa lemahnya permintaan domestik bisa membuat negara perekonomian terbesar kedua di dunia itu terlalu bergantung pada ekspor sebagai motor pertumbuhan. Namun, pemerintah juga tidak ingin meninggalkan agenda peningkatan kompleks industri berskala besar yang membuatnya unggul dalam rantai pasok atas AS dan sekutunya.

"Ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah sangat tajam, ekspektasi pasar lemah dan terdapat banyak risiko serta potensi bahaya di sektor-sektor kunci," ujar Li, seraya menyinggung kemerosotan sektor properti yang berkepanjangan serta tekanan pada keuangan pemerintah daerah.

Dalam pembukaan sidang tahunan parlemen, Perdana Menteri Li Qiang memuji kemampuan Cina bertahan dari kenaikan tarif Trump, tapi juga menegaskan ancaman perdagangan bebas saat ini Foto: Andy Wong/AP Photo/picture alliance

Para ekonom menilai target pertumbuhan yang lebih rendah memberi ruang bagi Cina untuk bereksperimen dengan penyesuaian atas kelebihan kapasitas industri. Sebelumnya, kelebihan kapasitas disebut menjadi pemicu tekanan deflasi kuat. Namun, mereka mengingatkan bahwa langkah tersebut tidak menggeser model pertumbuhan yang berfokus pada produksi.

Beijing mungkin akan mentoleransi konsolidasi di sektor-sektor bernilai tambah rendah. Namun, para analis menyebut manufaktur tetap dipandang sebagai tulang punggung keamanan nasional.

"Beijing berupaya mengelola 'pendaratan terkendali' dalam pertumbuhan sembari membangun ekonomi baru yang berbasis teknologi, bukan lagi properti," kata Andy Ji, analis valuta asing dan suku bunga Asia di ITC Markets.

"Ini adalah penyeimbangan ulang yang berisiko tinggi, di mana pemerintah mempertaruhkan segalanya pada kecerdasan buatan dan manufaktur maju untuk menggantikan mesin pertumbuhan lama yang bergantung pada properti," ujarnya.

Rencana lima tahun itu menargetkan peningkatan nilai tambah industri inti ekonomi digital menjadi 12,5% dari PDB. Pemerintah juga akan meluncurkan kebijakan untuk membentuk pasar data nasional yang terintegrasi serta membangun sistem pencegahan risiko keamanan kecerdasan buatan.

Komitmen untuk meningkatkan belanja riset dan pengembangan setara dengan kenaikan 40% selama periode rencana lima tahun. Mandat pendanaan tersebut dirancang untuk mengembangkan "kekuatan produktif baru" di bidang kecerdasan buatan dan semikonduktor, sekaligus melindungi Cina dari pembatasan ekspor AS.

Cina juga berjanji mendukung pengembangan "terobosan" di berbagai sektor, mulai dari benih pertanian dan biomedis hingga semikonduktor dan peralatan mesin.

Rencana stimulus yang stabil

Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, menyebut target pertumbuhan yang lebih rendah sebagai "langkah besar" yang menunjukkan bahwa "kualitas pertumbuhan lebih penting daripada kecepatan pertumbuhan" bagi Beijing.

Dari sisi stimulus, Cina merencanakan defisit anggaran sebesar 4% dari PDB, relatif sama dengan tahun lalu. Pemerintah mempertahankan kuota penerbitan utang khusus pemerintah pusat sebesar 1,3 triliun yuan (sekitar Rp3.183 triliun) serta pemerintah daerah sebesar 4,4 triliun yuan (sekitar Rp10.773 triliun).

Cina berjanji menaikkan pensiun minimum bulanan sebesar 20 yuan (sekitar Rp49 ribu) per orang serta subsidi asuransi kesehatan dasar bagi warga pedesaan yang tidak bekerja sebesar 24 yuan (sekitar Rp58 ribu). Pemerintah juga menyatakan akan meningkatkan belanja pendidikan, memberikan subsidi pengasuhan anak, serta mereformasi rumah sakit umum sebagai respons atas penurunan demografi.

Walau begitu, analis dari Mercator Institute for China Studies (MERICS) menilai janji-janji kepada publik bersifat "hampa". Menurutnya, pemerintah Cina yakin bahwa dukungan luas terhadap industri-industri kunci lebih selaras dengan kepentingan nasional di tengah kompetisi kekuatan besar global.

"Meski berada dalam keseimbangan yang rapuh, kebijakan ekonomi Cina akan terus secara sistematis lebih menguntungkan perusahaan dibandingkan rumah tangga," tulis analis MERICS dalam catatan sebelum sidang parlemen.

"Beijing akan terus memperlambat perluasan jaminan sosial, sembari menggunakan subsidi besar dan insentif pajak untuk mendorong pertumbuhan serta peningkatan industri," tulis mereka.

Bo Zhengyuan, mitra di konsultan riset Plenum, mengatakan Cina sebagai importir utama energi dan pangan kini juga menghadapi tantangan baru akibat perang AS-Israel dengan Iran.

"Hal itu dapat memengaruhi ekspor Cina serta harga energi, yang keduanya saat ini belum berada dalam kondisi ideal untuk mendorong pertumbuhan," pungkasnya.

Editor: Muhammad Hanafi

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait