1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ekonomi

Diancam Boikot Sawit, Malaysia Dekati India dan Pakistan

16 Januari 2020

PM Mahathir Mohamad membibit perang dagang dengan India seputar isu Kashmir. Kini Menteri Perindustrian Teresa Kok ditugaskan memitigasi dampak konflik lewat jalur diplomasi. Kok antara lain berharap pada Pakistan.

Petani sawit Malaysia berdemonstrasi menentang boikot Uni Eropa.
Petani sawit Malaysia berdemonstrasi menentang boikot Uni Eropa. Foto: picture-alliance/AP Photo/B. Muhammad

Sikap Mahathir Mohamad tidak juga melunak. Sejak menyebut operasi militer India di Kashmir sebagai sebuah "invasi dan pendudukan" beberapa bulan silam, Malaysia dan India bersitegang dan menjurus ke arah perang dagang. Baru-baru ini New Delhi dikabarkan mengubah status impor sawit dari "bebas" menjadi "terbatas."

Ancaman perang dagang itu kini coba dimitigasi oleh Menteri Perindustrian Malaysia Teresa Kok. "Tahun ini kami menghadapi tantangan baru di sejumlah pasar utama kami." Dia memastikan pihaknya berhubungan erat dengan kedutaan besar India untuk mencegah eskalasi konflik dagang.

"Bagi kami yang penting adalah melanjutkan dialog lewat kanal diplomatik," katanya kepada Reuters. "Kami akan terus berusaha," imbuhnya.

Baca juga:India Boikot Minyak Sawit Malaysia Indonesia Berpeluang Diuntungkan 

Meski demikian Mahathir enggan mencabut ucapannya itu. "Kami khawatir, tentu saja, karena kami menjual banyak minyak sawit ke India, tapi kami harus berkata jujur dan jika ada sebuah kesalahan, kami harus mengatakannya" bahkan jika harus merugi secara finansial, ujar sang perdana menteri kepada harian Singapura, The Straits Times.

Hari-hari belakangan pemerintah India bersikap sensitif menyusul aksi demonstrasi anti amandemen UU Kewarganegaraan dan kependudukan yang dinilai membuka pintu bagi gelombang pengungsi dan mengancam prinsip sekuler India dengan mendiskriminasi pencari suaka muslim.

Selain itu New Delhi juga diserbu hujan kecaman saat mencabut status otonomi Kashmir dan mengirimkan serdadu untuk mengamankan kawasan berpenduduk mayoritas muslim tersebut. Antara lain PM Pakistan Imran Khan mengritik kebijakan Modi tersebut didasarkan pada "ideologi ekstrem Hindutva" yang lahir dari "kebencian terhadap kaum muslim," kata dia dalam wawancara eksklusif dengan DW.

Negara importir terbesar bagi minyak sawit Malaysia

Atas isu boikot tersebut pemerintah India memberikan bantahan resmi. Menteri Perdagangan Piyush Goyal memastikan pihaknya tidak menjatuhkan sanksi ekonomi kepada siapapun. "India mempercayai prinsip perlakuan adil dan kebebasan untuk semua," kata dia di tengah sebuah konferensi keamanan di New Delhi.

Dia mengklaim pemerintahan Modi bahkan tidak mempertimbangkan sanksi buat Turki dan Malaysia. Jikapun pemerintah menetapkan batasan impor, aturan tersebut berlaku untuk semua negara. "Kalau sebagian dari batasan itu berdampak pada Malaysia, saya tidak yakin mereka akan menjadi satu-satunya negara yang terkena," imbuhnya.

India adalah pengimpor terbesar minyak sawit di dunia. Pekan ini Reuters melapokran New Delhi tidak hanya membidik minyak sawit, tetapi juga minyak mentah, aluminium, gas alam cair dan suku cadang komputer. Terutama minyak sawit dan produk elektronik merupakan dua primadona ekspor Malaysia.

Baca juga:Perang Dagang Malaysia dan India Berimbas pada Sawit 

Untuk meredakan ketegangan, pemerintah Malaysia sempat menawarkan penambahan kuota impor daging sapi dan gula dari India. Kedua sektor primadona ekspor India itu belakangan sedang remuk oleh rendahnya harga komoditas di pasar global. Kementerian Perdagangan di Kuala Lumpur berharap, menyeimbangkan defisit perdagangan senilai lebih dari USD 4 miliar dengan India bisa menjadi cara merelai konflik antara kedua negara.

"Malaysia membuka diri bagi negosiasi dagang untuk menanggapi kekhawatiran India soal defisit perdagangan antara kedua negara," kata Kok kepada Reuters, Oktober silam.

Neraca ekspor Malaysia tahun 2018

Kuala Lumpur sedang berpacu dengan waktu. Menyusul selisih harga minyak sawit dan minyak kedelai yang kian menipis di pasar global, India yang sedang merajut perjanjian dagang dengan Amerika Serikat dikhawatirkan akan lebih banyak membeli minyak kedelai dari AS untuk memasok kebutuhan minyak makan di dalam negeri.

Tahun lalu sebanyak 2,04 juta ton minyak sawit yang diimpor India diproses ulang untuk dijadikan minyak makan.

Bersamaan dengan itu Menteri Perindustrian Teresa Kok juga menaruh harapan dari Pakistan. Dalam kunjungannya ke Islamabad pekan lalu dia bertemu dengan Penasehat Perdagangan Abdul Razak Dawood. "Kami membahas potensi penambahan impor minyak sawit di pasar yang terus berkembang ini," ujarnya seperti dilansir Reuters.

Baca juga: B30: Setelah Ditolak Uni Eropa, Biodiesel Harus Jadi Primadona di Negeri Sendiri?

Tahun lalu Pakistan mengimpor 1.16 juta ton minyak sawit dari Malaysia.

Meski demikian perang dagang seputar sawit antara India dan Malaysia diyakini tidak akan berdampak banyak pada pasar minyak sawit dunia. Menurut studi lembaga pemeringkat kredit, Fitch, harga minyak sawit pada 2020 akan bertengger di kisaran USD 550 per ton, meningkat dari USD 500 per ton pada tahun 2019.

Menurut laporan yang dipublikasikan November silam itu, kenaikan harga sawit dipicu oleh meningkatnya permintaan pasar menyusul penggunaan minyak sawit sebagai campuran untuk bahan bakar diesel. Indonesia yang meluncurkan produk B30 dengan campuran minyak sawit tertinggi di dunia.

rzn/vlz (rtr, ap, ft, bloomberg, freemalaysiatoday)