Dibekap Krisis Devisa, Kuba Buka Pintu Investasi Asing
16 Desember 2025
Pengumumannya ditunggu dengan penuh antusias. Menteri Perdagangan Luar Negeri Kuba Oscar Pérez-Oliva Fraga naik ke podium pada pembukaan Feria de La Habana, bursa dagang terbesar di Kuba. Di hadapan delegasi ekonomi dan pelaku usaha dari berbagai negara, Pérez-Oliva menyampaikan pesan yang jelas: Kuba membuka pintu bagi modal asing lebih lebar daripada sebelumnya.
Paket kebijakan yang dia paparkan menandai pergeseran pendekatan ekonomi, yang bagi sebagian pengamat dapat disebut sebagai perubahan paradigma.
Kuba sedang terperosok dalam krisis akut selama beberapa tahun terakhir. Dua faktor utama menjadi penyebabnya: runtuhnya sektor pariwisata sebagai penyumbang devisa utama—akibat pandemi Covid-19—serta kebijakan blokade Amerika Serikat yang terus diperketat, diperparah oleh inefisiensi internal.
Infrastruktur publik dan layanan dasar negara kian tergerus. Pemadaman listrik berjam-jam telah menjadi rutinitas. Kuba juga sangat bergantung pada impor—baik untuk pangan, bahan bakar, maupun suku cadang pembangkit listrik tenaga panas yang telah uzur.
"Pembukaan paling luas”
Untuk memperoleh devisa yang kian langka, pemerintah Kuba dalam beberapa tahun terakhir secara bertahap melakukan "dolarisasi” ekonomi: mulai dari sektor ritel, perusahaan impor negara, stasiun pengisian bahan bakar, hingga pariwisata.
Proses dolarisasi parsial ini akan berlanjut, tegas Pérez-Oliva. Dia mengumumkan bahwa sejumlah barang dan jasa ke depan hanya dapat dibayar dengan mata uang asing, meski belum merinci sektor mana saja yang akan terdampak.
Sebagai gantinya, pemerintah meluncurkan serangkaian langkah yang, menurut Pérez-Oliva, bertujuan membuat investasi asing berjalan lebih dinamis, berbasis kepercayaan, dan memiliki otonomi keuangan yang lebih besar. Inilah langkah pembukaan ekonomi Kuba yang paling luas dalam beberapa tahun terakhir.
Perbaikan iklim investasi
Lebih dari satu dekade lalu, Kuba sebenarnya telah mulai membuka diri terhadap modal asing. Pada akhir 2013, pemerintah membangun Zona Pengembangan Khusus Mariel di pinggiran Havana dengan insentif bea masuk dan pajak. Setahun kemudian, undang-undang investasi asing baru diberlakukan.
Namun hasilnya jauh dari harapan. Prosedur perizinan yang berlarut, belitan birokrasi, serta sanksi Amerika Serikat yang makin keras membuat investor asing enggan masuk dalam skala besar.
Kini Havana mencoba memperbaiki keadaan. Pérez-Oliva menjanjikan prosedur yang lebih sederhana, fleksibel, dan transparan. Investor asing akan diberi peluang mengambil alih industri dan fasilitas produksi yang tidak termanfaatkan. Skemanya, investor menanam modal, mengoperasikan fasilitas dalam jangka waktu tertentu, memperoleh keuntungan, lalu mengembalikannya kepada negara. Targetnya jelas: meningkatkan produksi nasional, mendorong ekspor, dan menekan impor.
Fokus pada pangan
"Bukan rahasia lagi bahwa dua kebutuhan impor terbesar Kuba adalah bahan bakar dan pangan. Padahal sebagian besar pangan itu sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri,” kata Pérez-Oliva.
Dalam proyek percontohan di Provinsi Pinar del Río, sebuah perusahaan Vietnam kini menanam padi di lahan yang disediakan negara. Panen awal dinilai menjanjikan dan model ini direncanakan diperluas ke wilayah lain. Pemerintah juga menyoroti uji coba penyewaan hotel kepada jaringan hotel internasional—yang memberi mereka keleluasaan operasional lebih besar—sebagai pola yang bisa direplikasi.
Selain itu, Kuba membuka sektor perbankan dan keuangan bagi modal asing. Meski tanpa rincian teknis, Pérez-Oliva mengumumkan instrumen pembiayaan baru. Menghadapi beban utang yang tinggi, Havana menawarkan skema SWAP: penukaran kewajiban utang dengan hak sementara atas pendapatan aset. Tujuannya, mengakses sumber pembiayaan baru dan mendatangkan devisa segar.
"Langkah ke arah yang benar”
"Pada dasarnya, satu-satunya jalan Kuba untuk mengakses sumber pendanaan eksternal saat ini adalah melalui investasi asing,” ujar ekonom Kuba Omar Everleny Pérez Villanueva. Kredit dan skema pembiayaan lain tertutup karena tingginya utang. Karena itu, dia menilai langkah pemerintah sebagai upaya yang tepat untuk menghidupkan kembali komitmen yang lama membeku.
Secara umum, Pérez Villanueva menyebut kebijakan ini sebagai "langkah ke arah yang benar”. Dia mengapresiasi pemangkasan prosedur perizinan. "Itu menunjukkan adanya kemauan tertentu,” ujarnya.
Namun, menurut dia, langkah tersebut belum cukup. Investor asing, katanya, tetap menghadapi tekanan dari pemerintah Amerika Serikat. Meski demikian, paket kebijakan baru ini setidaknya merapikan sejumlah hambatan struktural ekonomi Kuba. Dalam kondisi krisis saat ini, dia menilai kebijakan tersebut masih belum memadai.
Menunggu pelaksanaan
Salah satu langkah yang absen, kata Pérez Villanueva, adalah penghapusan agen penyalur tenaga kerja milik negara. Praktik lama yang mewajibkan perusahaan asing merekrut pekerja melalui agen negara selama ini dikeluhkan investor. Kini aturan itu dilonggarkan: agen tetap ada, tetapi perusahaan diperbolehkan merekrut langsung dan membayar bonus dalam dolar AS.
"Ini jelas mempermudah,” kata Frank Peter Apel dari perusahaan jasa hidraulik PAMAS—satu-satunya perusahaan Jerman yang beroperasi di Zona Mariel. Menurutnya, pengumuman tersebut merupakan respons langsung terhadap krisis mendalam. "Ada fleksibilitas dan niat untuk mereformasi,” ujarnya, sembari menekankan pentingnya menunggu rincian implementasi.
Nada optimistis berhati-hati juga disampaikan presiden sebuah perusahaan patungan Jerman-Kuba yang memilih anonim. Dia mengakui banyak karyawan pindah ke sektor swasta karena persoalan upah. Keterbatasan akibat agen tenaga kerja negara selama ini menjadi kendala. Dengan skema baru dan bonus dolar, situasi itu bisa berubah.
Namun, pertanyaan masih menggantung. "Pada akhirnya, semua bergantung pada bagaimana pengumuman ini diterapkan,” katanya. Sebuah kalimat yang berulang terdengar setelah pidato sang menteri.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid.