Board of Peace Janjikan $7 Miliar untuk Bangun Gaza
20 Februari 2026
Presiden AS Donald Trump membuka pertemuan perdana "Board of Peace" pada hari Kamis (19/02), yang dihadiri perwakilan dari lebih dari 40 negara serta pengamat dari puluhan negara lainnya.
Trump menyatakan bahwa tujuh miliar dolar AS telah dijanjikan oleh sembilan anggota organisasi tersebut untuk paket bantuan Gaza. Jumlah itu hanya sekitar 10% dari total 70 miliar dolar AS yang dibutuhkan untuk membangun kembali wilayah tersebut setelah kehancuran akibat dua tahun perang.
Presiden AS itu juga menjanjikan tambahan 10 miliar dolar AS, namun tanpa menjelaskan akan dialokasikan untuk apa dana tersebut.
Siapa saja yang menjanjikan dana?
Trump mengatakan bahwa Kazakhstan, Azerbaijan, Uni Emirat Arab, Maroko, Bahrain, Qatar, Arab Saudi, Uzbekistan, dan Kuwait adalah negara-negara yang menawarkan pendanaan bagi paket bantuan Gaza melalui Board of Peace.
"Setiap dolar yang dibelanjakan adalah investasi untuk stabilitas dan harapan bagi kawasan yang baru dan harmonis,” ujar Trump.
"Board of Peace menunjukkan bagaimana masa depan yang lebih baik dapat dibangun, dimulai dari ruangan ini,” tambahnya.
Trump juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang lawan politik domestiknya serta memuji dukungannya terhadap sejumlah pemimpin asing dalam pemilu.
Selain komitmen pendanaan, beberapa negara berikut juga menyatakan akan mengirim pasukan ke Gaza sebagai bagian dari pasukan stabilisasi: Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania.
Apa itu "Board of Peace" ?
Apa yang disebut sebagai "Board of Peace" muncul dari kesepakatan gencatan senjata yang dinegosiasikan antara Israel dan Hamasdi Gaza untuk mengakhiri dua tahun perang. Namun, kesepakatan tersebut belum sepenuhnya menghentikan kekerasan mematikan, dengan lebih dari 600 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata dimulai, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Meskipun awalnya dibentuk sebagai badan rekonstruksi khusus Gaza, piagam organisasi ini kemudian berkembang menjadi mandat yang lebih luas dan ambigu. Piagam pendiriannya, yang ditandatangani di Davos pada 22 Januari 2026, tidak secara eksplisit menyebut Gaza. Pernyataan Trump yang tidak jelas memicu kritik bahwa ia berupaya menyaingi atau membayangi PBB, dari mana ia juga telah menarik sebagian besar pendanaan AS.
Namun, organisasi ini berfungsi sangat berbeda dari PBB. Para anggota diwajibkan membayar satu miliar dolar AS untuk memperpanjang keanggotaan mereka setelah dua tahun pertama, dan Trump menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua, yang berarti ia akan tetap memegang kendali bahkan setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Selain sekutu dekat Trump seperti para pemimpin Israel, Hungaria, dan Argentina, terdapat pula negara-negara seperti Pakistan yang dinilai ingin mendekatkan diri dengan Gedung Putih dan telah bergabung dengan dewan tersebut.
Jerman, Italia, Norwegia, Swiss, Inggris, dan beberapa negara lainnya mengirim pengamat alih-alih perwakilan resmi. Sementara itu, Prancis menolak untuk berpartisipasi dan mengkritik Uni Eropa karena mengirim pejabat.
Indonesia tidak ikut menyumbang?
Berbeda dengan negara-negara yang disebut menyumbang dana, Indonesia tidak masuk dalam daftar donatur tujuh miliar dollar AS tersebut. Namun, Indonesia disebut berkomitmen menyiapkan pasukan untuk membantu pemulihan situasi di Gaza.
Selain Indonesia, negara lain yang juga menyatakan komitmen pengiriman pasukan adalah Maroko, Albania, Kosovo, dan Kazakhstan. Sementara itu, Mesir dan Yordania berkomitmen mengirim personel untuk melatih kepolisian di Gaza.
Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Rizki Nugraha