Dipenjara, Taipan Media Hong Kong Raih Penghargaan DW
Chia-Chun Yeh
30 April 2026
Sebelum dipenjara 20 tahun, Jimmy Lai mendirikan surat kabar prodemokrasi terbesar di Hong Kong. Putranya sebut penghargaan ini menunjukkan bahwa mereka yang berjuang demi kebebasan orang lain “tidak pernah sendirian.”
Lai menggunakan publikasi Apple Daily miliknya sebagai platform untuk kebebasan berpendapat di Hong KongFoto: Alex Ogle/AFP
Iklan
Tiba di Hong Kong sebagai penumpang gelap berusia 12 tahun dari Cina selatan tanpa uang sepeser pun, Jimmy Lai hanya mencari kebebasan dan masa depan. Saat itu, Lai tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan selamanya terikat dengan bekas koloni Inggris ini.
“Saya akan tenggelam bersama kapal ini, karena tempat ini memberi saya segalanya,” kata Lai dalam wawancara dengan Deutsche Welle beberapa bulan sebelum ia ditahan pada Desember 2020. Ia menjadi salah satu tokoh terkenal pertama yang menjadi sasaran di bawah “undang-undang keamanan nasional” baru yang diberlakukan Beijing di Hong Kong setelah penindasan terhadap protes prodemokrasi.˙
Beijing mengatakan undang-undang tersebut akan mengembalikan Hong Kong “dari kekacauan menuju ketertiban” setelah demonstrasi tahun 2019 yang menentang RUU ekstradisi berkembang menjadi protes besar terhadap meningkatnya intervensi Beijing terhadap kebebasan sipil di Hong Kong.
Sejak itu, mogul media prodemokrasi tersebut telah menghabiskan hampir 2.000 hari dalam kurungan isolasi di Penjara Stanley.
Persidangan panjang Lai berakhir Februari lalu, dengan pria berusia 78 tahun itu dijatuhi hukuman 20 tahun penjara karena “berkolusi dengan kekuatan asing.” Ia menyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan, namun tim hukumnya mengatakan tidak akan mengajukan banding.
Hukuman tersebut merupakan yang terberat sejauh ini di bawah undang-undang keamanan nasional, dan persidangan Lai bagi banyak orang melambangkan kemerosotan tajam kebebasan pers di Hong Kong sebagai bagian dari strategi Beijing yang lebih luas untuk membungkam suara kritis.
Hongkong: Satu Negara, Dua Wajah
Ketika Cina berpesta, Hongkong diliputi protes. Sementara Beijing mempertontonkan kesatuan, teriakan kebebasan membahana di negeri jiran. Pada hari nasional Cina, Hongkong tampil kontras dengan nafas demokrasinya.
Foto: Reuters/Carlos Barria
Antara Patriotisme....
Cina mengibarkan bendera. Pada 1 Oktober 1949 Mao Zedong mendirikan Republik Rakyat Cina. Sejak saat itu setiap tahun penduduk negeri tirai bambu merayakan hari nasional dengan upacara seremonial yang mendemonstrasikan patriotisme, seperti pada upacara bendera di Hefei, Provinsi Anhui ini.
Foto: Reuters
…dan Protes
Namun ketika Cina berpesta, situasi di jalan-jalan kota Hongkong memanas. Ratusan ribu manusia tumpah ke jalan untuk memrotes reformasi sistem pemilihan umum dan pengaruh Beijing yang dianggap terlampau besar.
Foto: Reuters/Carlos Barria
Sehaluan....
Hongkong sebenarnya juga menggelar pesta menyambut kemerdekaan Cina. Kepala pemerintah Hongkong, Leung Chun Ying yang kontroversial itu pun turut diundang. Secara demonstratif ia dan tamu yang lain saling bersulang dengan sebotol Champagne. Selain itu mereka juga menyanyikan lagu nasional Cina.
Foto: Reuters/Bobby Yip
… dan bersilangan
Menurut tradisi, setiap pagi kota metropolis Asia itu mengibarkan bendera Hongkong dan Cina secara bersamaan. Namun kali ini pemimpin demonstrasi, Joshua Wong dan aktifis yang lain memunggungi bendera sambil menyilangkan tangan. Mereka menuntut pengunduran diri Leung Chun Ying karena dianggap berada di bawah pengaruh Beijing.
Foto: Reuters
Kekuatan militer…
Di ibukota Beijing, Partai Komunis Cina unjuk otot dengan mempertontonkan satuan elit militer Cina di lapangan Tiananmen. Upacara di jantung kekuasaan Komunis itu berlangsung menurut ritual yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Foto: ChinaFotoPress via Getty Images
… dan determinasi mahasiswa
Pada malam menjelang 1 Oktober para demonstran kembali berkumpul. Kebanyakan diliputi rasa lelah setelah bertahan selama berhari-hari dan hujan yang tidak henti-hetinya mengguyur dari langit. Namun begitu para mahasiswa tidak beranjak. Mereka mengaku tidak akan pergi sebelum tuntutannya dipenuhi.
Foto: Reuters/Carlos Barria
Dalam barisan...
Upacara nasional mengenang warisan Mao Zedong itu tidak cuma berlangsung di Beijing, tapi kota-kota besar lain di Cina. Dalam gambar ini sebuah satuan kepolisian sipil memberikan hormat di hadapan bendera negara di Nanjing. Tidak ada satupun yang bisa merusak kedamaian dan stabilitas di Cina, begitulah isyarat yang ingin didengungkan penguasa Cina di Beijing.
Foto: picture alliance/ZUMA Press
…dan kekacauan yang terorganisir
Sebaliknya di Hongkong ribuan mahasiswa memblokir jalan utama di wilayah perbelanjaan Mongkok. Jumlah demonstran diyakini akan terus membengkak. Pasalnya Hongkong memiliki tradisi meliburkan pegawai dan siswa di dua hari pertama bulan Oktober.
Foto: Reuters/Tyrone Siu
Keceriaan...
Penduduk Cina tidak mengetahui banyak tentang apa yang terjadi di Hongkong. Untuk itu pemerintah di Beijing telah lebih dulu memastikan agar tidak ada gangguan sama sekali. Lembaga sensor bertugas siang malam untuk memblokir laporan dari Hongkong. Sementara di media-media sosial, pemerintah menghapus ribuan komentar.
Foto: picture alliance/ZUMA Press
…dan penolakan dalam diam
Sebaliknya Hongkong menikmati kebebasan pers dan berpendapat. Namun demonstran mengkhawatirkan pengekangan menyusul meningkatnya pengaruh Beijing. Secara simbolis mereka mengenakan masker untuk mendemonstrasikan sikap mereka yang tidak akan pernah diam.
Foto: AFP/Getty Images/Philippe Lopez
Kekuatan negara...
Presiden Cina, Xi Jinping sebaliknya banyak menutup mulut atas aksi protes di Hongkong. Sang presiden terjebak dalam dilema, antara menindas demonstrasi atau menyetujui kompromi. Kini ia mengirimkan utusan khusus ke Hongkong untuk mencari jalan keluar.
Foto: Reuters
…dan suara mahasiswa
Mahasiswa memberikan ultimatum kepada pemerintah Hongkong hingga Kamis (2/10) untuk mencabut amandemen Undang-undang pemilihan dan pengunduran diri Leung Chun Ying. Jika tidak mereka mengancam akan memperluas aksi protes, antara lain dengan aksi mogok masal dan pendudukan kantor pemerintahan.
Foto: Reuters/Carlos Barria
12 foto1 | 12
Jimmy Lai diakui oleh DW
Sebagai pengakuan atas pembelaannya terhadap kebebasan pers dan kebebasan berbicara, DW menganugerahkan Jimmy Lai dengan Freedom of Speech Award tahun ini.
Iklan
Sejak 2015, penghargaan ini diberikan kepada jurnalis dan pembela hak asasi manusia untuk menyoroti pembatasan kebebasan pers dan situasi HAM yang mengkhawatirkan di seluruh dunia.
Sebastien Lai, putra Jimmy Lai yang telah lama mengadvokasi pembebasannya, mengatakan kepada DW bahwa “orang-orang yang berjuang untuk kebebasan, yang berjuang demi kebebasan orang lain, tidak pernah sendirian.” Ia menambahkan bahwa penghargaan ini bermakna di saat “banyak media di Hong Kong kini melakukan swasensor.”
“Saya pikir jika dia tahu tentang penghargaan ini, dia akan sangat senang,” kata Sebastien Lai.
Direktur Jenderal DW, Barbara Massing, mengatakan bahwa penghargaan ini diberikan sebagai penghormatan atas “dedikasi tak tergantikan Jimmy Lai terhadap nilai-nilai demokrasi.”
“Jimmy Lai berdiri teguh membela kebebasan pers di Hong Kong dengan risiko pribadi yang besar, bahkan ketika ruang bagi jurnalisme independen semakin menyempit. Melalui Apple Daily, ia memberi jurnalis platform untuk pelaporan bebas dan suara bagi gerakan demokrasi di Hong Kong. Komitmennya mengingatkan kita bahwa kebebasan pers tidak pernah diberikan begitu saja, ia harus terus diperjuangkan.”
Dari penumpang gelap menjadi taipan media
Jimmy Lai lahir dari keluarga kaya di Guangzhou, Cina selatan. Hidupnya hancur akibat perang saudara Cina. Ayahnya melarikan diri, ibunya dikirim ke kamp kerja paksa, dan keluarganya kehilangan segalanya.
Pada usia 12 tahun, setelah mencicipi sepotong cokelat dari Hong Kong, rasa langka yang ia anggap berasal dari dunia yang lebih baik, Lai memutuskan untuk menumpang secara ilegal di kapal nelayan menuju koloni Inggris tersebut, yang kemudian dikembalikan ke Cina pada 1997.
Di Hong Kong tahun 1960-an, dari nol, Lai menjadi taipan tekstil melalui kesuksesan merek pakaian Giordano yang didirikannya pada 1981. Awalnya, kebebasan bagi Lai berarti perut kenyang, namun setelah mencapai keamanan finansial, ia menyadari bahwa kebebasan memiliki makna lebih dalam. Peristiwa pembantaian di lapangan Tiananmen menjadi titik baliknya.
“Ketika penyerahan Hong Kong pada 1997 akan terjadi, ia tahu bahwa jika Cina bersedia melakukan pembantaian Tiananmen, maka seseorang di Hong Kong harus memperjuangkan demokrasi dan mempertahankan kebebasan itu,” kata Sebastien Lai.
Apa Arti Warna dari Sebuah Revolusi?
Dari baju hitam yang dipakai demonstran Hong Kong, sampai spanduk oranye yang digunakan demonstran Ukraina, beginilah cara mereka mengadopsi warna untuk mewakili gerakan perubahan.
Foto: AFP/Getty Images/F. Belaid
Hong Kong berpakaian hitam
Hitam, yang dipilih karena berkaitan dengan berkabung dan duka, adalah warna pilihan ratusan ribu demonstran yang turun ke jalan di Hong Kong untuk memperjuangkan demokrasi di metropolis mereka. Demonstran penentang, yang mendukung walikota pro Beijing, memilih putih untuk membedakan diri.
Foto: AFP/H. Retamal
Revolusi payung kuning Hong Kong
Aksi protes Hong Kong tidak selalu hitam putih. Di tahun 2014 pada masa yang disebut Revolusi Payung, para demonstran menuntut diadakannya pemilu yang bebas dan reformasi-reformasi demokratis untuk kota semi otonom mereka. Payung-payung kuning dipilih sebagai simbol. Para demonstran menggunakannya untuk menangkis gas air mata yang ditembakkan polisi.
Foto: AFP/Getty Images/A. Wallace
Oranye pilihan Ukraina
Menggantikan warna merah, yang sering dikaitkan dengan komunisme pada zaman Uni Soviet, oranye adalah warna pilihan pihak oposisi pada masa “Revolusi Oranye” Ukraina di tahun 2004. Selama 17 hari di musim dingin Ukraina yang keras, warga dari berbagai kelas sosial bersatu untuk mendukung kandidat oposisi Viktor Yushenko.
Foto: Sergey Dolzhenko/picture-alliance/dpa
Revolusi Safron di Myanmar
Demonstrasi damai di Myanmar pada tahun 2007 menjadi terkenal dengan warna safron, yang merupakan warna khas jubah biksu Buddha. Di garis depan aksi protes menentang pemerintah militer, mahasiswa dan aktivis politik ikut bergabung dengan para biksu. Banyak perempuan juga ikut berdemonstrasi.
Foto: picture alliance/AP Photo
Revolusi Kuning Filipina
Setelah tiga tahun berdemonstrasi menentang presiden Ferdinand Marcos dan rezimya dari tahun 1983 sampai 1986, warga Filipina memenangkan sebuah revolusi damai. Ini sering disebut sebagai “Revolusi Kuning” karena warna pita yang dipegang para demonstran ketika berkumpul. Foto ini menunjukkan konfeti kuning yang dilemparkan untuk mengenang hari peringatan revolusi tersebut pada tahun 2013.
Foto: imago
Gerakan Hijau Iran
Warna hijau dianggap sebagai warna Islam dan dipilih oleh para demonstrantan yang menentang pemerintah pada masa pemilihan umum di Iran tahun 2009-2010. Para demonstran menuduh rezim waktu itu memalsukan hasil pemilihan. Rezimnya bereaksi dengan cepat, melukai para demonstran yang tidak berdaya dan menahan sekitar 4.000 orang. Sekarang aksi demonstrasi ini masih disebut sebagai “Gerakan Hijau”.
Foto: picture-alliance/dpa/Stringer
Revolusi warna-warni Makedonia
Kenapa memilih satu warna saja jika bisa menggunakan semuanya? Untuk memprotes menentang keputusan pemerintah untuk menghentikan penyelidikan dalam skandal penyadapan pada tahun 2016, para demonstran Makedonia berkumpul di ibu kota negara ini pada pertengahan April untuk menunjukkan ketidakpuasan mereka. Banyak yang melemparkan cat berwarna-warni ke gedung-gedung pemerintah.
Foto: Getty Images/AFP/R. Atanasovski
Revolusi Anyelir di Portugal
Berbagai bunga juga digunakan untuk melambangkan protes penting di sejarah modern. Setelah kudeta sukses di Portugal pada tanggal 25 April 1974, yang mengakhiri kediktatoran selama bertahun-tahun, warga yang sangat gembira merayakan ini dengan menaruh anyelir merah di senjata-senjata para pejuang mereka. Ini adalah bentuk mekarnya sebuah era demokrasi baru, yang diikuti oleh Spanyol dan Yunani.
Foto: picture-alliance/dpa/M. de Almeida
Revolusi Anggur di Moldova
Di Moldova, “Revolusi Anggur” adalah nama yang diberikan kepada aksi protes menentang hasil pemilu pada tahun 2009. Setelah partai komunis menang, para demonstran turun ke jalan. Nama ini dilaporkan mengacu kepada banyak kebun anggur yang ada di Moldova. Revolusi ini tidak berkembang sampai sebesar yang terjadi di negara-negara mantan Uni Soviet lainnya, seperti di Ukraina.
Foto: picture-alliance/dpa/D. Doru
Revolusi Melati di Tunisia?
Selama 28 hari pada tahun 2011, warga Tunisia turun ke jalan untuk memprotes korupsi, pengangguran dan kondisi hidup yang miskin. Menariknya, nama “Revolusi Melati” populer di media Barat, tetapi tidak di Tunisia sendiri. Sebaliknya, rakyat Tunisia menyebut ini sebagai “Revolusi Kehormatan”, karena penggulingan Presiden Ben Ali pada tahun 1987 sudah disebut “Revolusi Melati”. (ag/pkp)
Foto: AFP/Getty Images/F. Belaid
10 foto1 | 10
Suara lama demokrasi di Hong Kong
Ketika Cina mengirim tank untuk menumpas protes di Tiananmen, Jimmy Lai secara terbuka mendukung mahasiswa pro-demokrasi dan bahkan menulis surat terbuka yang mengkritik pemimpin Cina. Akibatnya, bisnisnya di Cina daratan diboikot.
Ia kemudian beralih ke industri media, mendirikan Next Magazine, dan kemudian Apple Daily.
Media-media miliknya dikenal dengan jurnalisme tajam bergaya tabloid, serta laporan independen yang mengungkap skandal dan mengkritik kebijakan pemerintah. Meski kerap dikritik karena sensasionalisme, media tersebut tetap sangat populer.
Mark Clifford, presiden Committee for Freedom in Hong Kong dan mantan anggota dewan Apple Daily, menggambarkan surat kabar itu sebagai “campuran gila antara jurnalisme investigatif, tips pasar saham, skandal paparazi, dan fokus tanpa henti pada kebebasan, pasar bebas, dan demokrasi.”
Melalui medianya, Lai menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap Beijing. Ia bahkan ikut turun ke jalan dalam Gerakan Payung 2014 dan protes 2019.
Setelah undang-undang keamanan nasional diberlakukan pada 2020, Lai ditangkap dan Apple Daily berhenti beroperasi pada 2021. Sejak itu, sejumlah media independen di Hong Kong juga tutup karena menyusutnya ruang kebebasan pers.
Desember lalu, Lai, yang juga memiliki kewarganegaraan Inggris, dinyatakan bersalah. Pengadilan menilai ia memiliki “kebencian mendalam” terhadap Partai Komunis Cina dan menggunakan pengaruhnya untuk merongrong legitimasi pemerintah.
Di Hong Kong, bekerja sebagai jurnalis menjadi semakin berbahaya saat meliput demonstrasi karena risiko penangkapan dan tekanan hukum meningkat sejak diberlakukannya Undang-Undang Keamanan Nasional pada 2020Foto: Philip Fong/AFP
Akankah Jimmy Lai dibebaskan?
“Hukuman 20 tahun adalah hukuman mati,” kata Sebastien Lai. Keluarganya khawatir terhadap kondisi kesehatannya di penjara. Ia menderita diabetes, kehilangan 10 kilogram dalam setahun, serta mengalami kerusakan kuku dan gigi.
Sebastien belum bertemu ayahnya selama lima tahun dan hanya bisa berkomunikasi lewat surat. Ia tidak dapat kembali ke Hong Kong demi alasan keamanan.
“Sangat menyakitkan mengetahui ada kemungkinan besar ia akan meninggal di penjara,” katanya.
Clifford memperingatkan bahwa jika Lai meninggal di tahanan, itu akan menjadi “bencana” bagi Partai Komunis Cina, dan menjadikannya tahanan politik terkenal kedua yang meninggal dalam tahanan Cina setelah Liu Xiaobo.
Jaksa, bagaimanapun, mengutip laporan medis yang menyatakan kondisi Lai “stabil” dan menolak klaim penurunan kesehatan.
Presiden AS Donald Trump, yang pada 2025 meminta Xi Jinping mempertimbangkan pembebasan Lai, diperkirakan akan kembali bertemu pemimpin Cina bulan depan.
Sebastien berharap Trump dapat membantu membebaskan ayahnya, meski ia mengakui sulit membayangkan situasi jika hal itu benar-benar terjadi.
“Bahkan hanya duduk bersama di meja makan, memasak, dan makan bersama keluarga, itulah yang paling saya nantikan.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris