1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kebebasan PersHong Kong

Dipenjara, Taipan Media Hong Kong Raih Penghargaan DW

Chia-Chun Yeh
30 April 2026

Sebelum dipenjara 20 tahun, Jimmy Lai mendirikan surat kabar prodemokrasi terbesar di Hong Kong. Putranya sebut penghargaan ini menunjukkan bahwa mereka yang berjuang demi kebebasan orang lain “tidak pernah sendirian.”

China, Hong Kong 2014 | Pengusaha media dan aktivis demokrasi Jimmy Lai dalam sebuah aksi unjuk rasa
Lai menggunakan publikasi Apple Daily miliknya sebagai platform untuk kebebasan berpendapat di Hong KongFoto: Alex Ogle/AFP

Tiba di Hong Kong sebagai penumpang gelap berusia 12 tahun dari Cina selatan tanpa uang sepeser pun, Jimmy Lai hanya mencari kebebasan dan masa depan. Saat itu, Lai tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan selamanya terikat dengan bekas koloni Inggris ini.

“Saya akan tenggelam bersama kapal ini, karena tempat ini memberi saya segalanya,” kata Lai dalam wawancara dengan Deutsche Welle beberapa bulan sebelum ia ditahan pada Desember 2020. Ia menjadi salah satu tokoh terkenal pertama yang menjadi sasaran di bawah “undang-undang keamanan nasional” baru yang diberlakukan Beijing di Hong Kong setelah penindasan terhadap protes prodemokrasi.˙

Beijing mengatakan undang-undang tersebut akan mengembalikan Hong Kong “dari kekacauan menuju ketertiban” setelah demonstrasi tahun 2019 yang menentang RUU ekstradisi berkembang menjadi protes besar terhadap meningkatnya intervensi Beijing terhadap kebebasan sipil di Hong Kong.

Sejak itu, mogul media prodemokrasi tersebut telah menghabiskan hampir 2.000 hari dalam kurungan isolasi di Penjara Stanley.

Persidangan panjang Lai berakhir Februari lalu, dengan pria berusia 78 tahun itu dijatuhi hukuman 20 tahun penjara karena “berkolusi dengan kekuatan asing.” Ia menyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan, namun tim hukumnya mengatakan tidak akan mengajukan banding.

Hukuman tersebut merupakan yang terberat sejauh ini di bawah undang-undang keamanan nasional, dan persidangan Lai bagi banyak orang melambangkan kemerosotan tajam kebebasan pers di Hong Kong sebagai bagian dari strategi Beijing yang lebih luas untuk membungkam suara kritis.

Jimmy Lai diakui oleh DW

Sebagai pengakuan atas pembelaannya terhadap kebebasan pers dan kebebasan berbicara, DW menganugerahkan Jimmy Lai dengan Freedom of Speech Award tahun ini.

Sejak 2015, penghargaan ini diberikan kepada jurnalis dan pembela hak asasi manusia untuk menyoroti pembatasan kebebasan pers dan situasi HAM yang mengkhawatirkan di seluruh dunia.

Sebastien Lai, putra Jimmy Lai yang telah lama mengadvokasi pembebasannya, mengatakan kepada DW bahwa “orang-orang yang berjuang untuk kebebasan, yang berjuang demi kebebasan orang lain, tidak pernah sendirian.” Ia menambahkan bahwa penghargaan ini bermakna di saat “banyak media di Hong Kong kini melakukan swasensor.”

“Saya pikir jika dia tahu tentang penghargaan ini, dia akan sangat senang,” kata Sebastien Lai.

Direktur Jenderal DW, Barbara Massing, mengatakan bahwa penghargaan ini diberikan sebagai penghormatan atas “dedikasi tak tergantikan Jimmy Lai terhadap nilai-nilai demokrasi.”

“Jimmy Lai berdiri teguh membela kebebasan pers di Hong Kong dengan risiko pribadi yang besar, bahkan ketika ruang bagi jurnalisme independen semakin menyempit. Melalui Apple Daily, ia memberi jurnalis platform untuk pelaporan bebas dan suara bagi gerakan demokrasi di Hong Kong. Komitmennya mengingatkan kita bahwa kebebasan pers tidak pernah diberikan begitu saja, ia harus terus diperjuangkan.”

Dari penumpang gelap menjadi taipan media

Jimmy Lai lahir dari keluarga kaya di Guangzhou, Cina selatan. Hidupnya hancur akibat perang saudara Cina. Ayahnya melarikan diri, ibunya dikirim ke kamp kerja paksa, dan keluarganya kehilangan segalanya.

Pada usia 12 tahun, setelah mencicipi sepotong cokelat dari Hong Kong, rasa langka yang ia anggap berasal dari dunia yang lebih baik, Lai memutuskan untuk menumpang secara ilegal di kapal nelayan menuju koloni Inggris tersebut, yang kemudian dikembalikan ke Cina pada 1997.

Di Hong Kong tahun 1960-an, dari nol, Lai menjadi taipan tekstil melalui kesuksesan merek pakaian Giordano yang didirikannya pada 1981. Awalnya, kebebasan bagi Lai berarti perut kenyang, namun setelah mencapai keamanan finansial, ia menyadari bahwa kebebasan memiliki makna lebih dalam. Peristiwa pembantaian di lapangan Tiananmen menjadi titik baliknya.

“Ketika penyerahan Hong Kong pada 1997 akan terjadi, ia tahu bahwa jika Cina bersedia melakukan pembantaian Tiananmen, maka seseorang di Hong Kong harus memperjuangkan demokrasi dan mempertahankan kebebasan itu,” kata Sebastien Lai.

Suara lama demokrasi di Hong Kong

Ketika Cina mengirim tank untuk menumpas protes di Tiananmen, Jimmy Lai secara terbuka mendukung mahasiswa pro-demokrasi dan bahkan menulis surat terbuka yang mengkritik pemimpin Cina. Akibatnya, bisnisnya di Cina daratan diboikot.

Ia kemudian beralih ke industri media, mendirikan Next Magazine, dan kemudian Apple Daily.

Media-media miliknya dikenal dengan jurnalisme tajam bergaya tabloid, serta laporan independen yang mengungkap skandal dan mengkritik kebijakan pemerintah. Meski kerap dikritik karena sensasionalisme, media tersebut tetap sangat populer.

Mark Clifford, presiden Committee for Freedom in Hong Kong dan mantan anggota dewan Apple Daily, menggambarkan surat kabar itu sebagai “campuran gila antara jurnalisme investigatif, tips pasar saham, skandal paparazi, dan fokus tanpa henti pada kebebasan, pasar bebas, dan demokrasi.”

Melalui medianya, Lai menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap Beijing. Ia bahkan ikut turun ke jalan dalam Gerakan Payung 2014 dan protes 2019.

Setelah undang-undang keamanan nasional diberlakukan pada 2020, Lai ditangkap dan Apple Daily berhenti beroperasi pada 2021. Sejak itu, sejumlah media independen di Hong Kong juga tutup karena menyusutnya ruang kebebasan pers.

Desember lalu, Lai, yang juga memiliki kewarganegaraan Inggris, dinyatakan bersalah. Pengadilan menilai ia memiliki “kebencian mendalam” terhadap Partai Komunis Cina dan menggunakan pengaruhnya untuk merongrong legitimasi pemerintah.

Di Hong Kong, bekerja sebagai jurnalis menjadi semakin berbahaya saat meliput demonstrasi karena risiko penangkapan dan tekanan hukum meningkat sejak diberlakukannya Undang-Undang Keamanan Nasional pada 2020Foto: Philip Fong/AFP

Akankah Jimmy Lai dibebaskan?

“Hukuman 20 tahun adalah hukuman mati,” kata Sebastien Lai. Keluarganya khawatir terhadap kondisi kesehatannya di penjara. Ia menderita diabetes, kehilangan 10 kilogram dalam setahun, serta mengalami kerusakan kuku dan gigi.

Sebastien belum bertemu ayahnya selama lima tahun dan hanya bisa berkomunikasi lewat surat. Ia tidak dapat kembali ke Hong Kong demi alasan keamanan.

“Sangat menyakitkan mengetahui ada kemungkinan besar ia akan meninggal di penjara,” katanya.

Clifford memperingatkan bahwa jika Lai meninggal di tahanan, itu akan menjadi “bencana” bagi Partai Komunis Cina, dan menjadikannya tahanan politik terkenal kedua yang meninggal dalam tahanan Cina setelah Liu Xiaobo.

Jaksa, bagaimanapun, mengutip laporan medis yang menyatakan kondisi Lai “stabil” dan menolak klaim penurunan kesehatan.

Presiden AS Donald Trump, yang pada 2025 meminta Xi Jinping mempertimbangkan pembebasan Lai, diperkirakan akan kembali bertemu pemimpin Cina bulan depan.

Sebastien berharap Trump dapat membantu membebaskan ayahnya, meski ia mengakui sulit membayangkan situasi jika hal itu benar-benar terjadi.

“Bahkan hanya duduk bersama di meja makan, memasak, dan makan bersama keluarga, itulah yang paling saya nantikan.”

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Ayu Purwaningsih