1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Diplomasi Sarkozy dan Mubarak

8 Januari 2009

Mesir dan Perancis menggagas rancangan gencatan senjata. Israel setuju menghentikan penembakan Gaza selama tiga jam. Tapi perang berlanjut.

Nicolas Sarkozy (kiri) dan Hosni Mubarak (kanan) di Sharm el Sheik.Foto: AP

Harian Swiss Tages Anzeiger yang terbit di Zurich menulis:

Pembukaan koridor bantuan kemanusiaan seperti yang sekarang dilakukan Israel adalah tuntutan Mesir. Mubarak mencoba membuktikan pada rakyatnya bahwa ia juga tidak menerima agresi Israel begitu saja. Dari hari kehari, kemarahan warga Mesir makin meningkat. Mereka tidak menuntut agar Mesir terlibat perang. Namun mereka menuntut agar Mesir unjuk kekuatan, misalnya dengan mengusir duta besar Israel.

Harian Perancis Le Monde mengeritik sikap Israel yang menolak berunding langsung dengan Hamas. Harian ini menulis:

Israel tentu bisa mengatakan, tidak mungkin membiarkan Hamas menimbun ribuan roket. Roket yang secara teknis makin kuat dan canggih. Tapi apa situasinya akan berkembang sejauh ini, seandainya dulu dibuka peluang melakukan dialog politik dengan Hamas? Dan apa mungkin mengakhiri perang ini, tanpa memulai dialog dengan Hamas? Tentu saja tidak.

Harian Perancis lainnya, Liberation berkomentar:

Bukan kebetulan, bahwa setelah penembakan sekolah PBB oleh Israel di Gaza, dengan korban sedikitnya 40 orang, ada tanda-tanda menuju gencatan senjata. Kemarahan luas sehubungan dengan serangan ini tentu salah satu alasan. Israel menyetujui prinsip-prinsip dasar mengakhiri krisis ini, sebagaimana disampaikan presiden Mesir Hosni Mubarak dan presiden Perancis Nicolas Sarkozy. Tentu saja semua belum pasti. Sejarah kawasan ini juga mengingatkan untuk hati-hati. Tapi rancangan yang diusulkan langkah demi langkah bisa membantu meredam senjata.

Harian La Reppublica yang terbit di Roma menulis:

Masalah utama krisis ini bukan soal gencatan senjata. Tapi siapa yang harus memerintah Jalur Gaza? Jika Israel menghancurkan pusat kota Gaza, jika darah kemudian dibersihkan dan api dipadamkan, masih tetap ada ribuan anggota milisi Hamas dan anggota pasukan elit. Ditambah lagi ribuan orang yang ingin membalas dendam atas kematian anak, saudara, ibunya. Siapa bisa mengendalikan mereka?

Harian Inggris Independent menulis:

Masih terlalu dini untuk mengatakan, bahwa gencatan senjata bisa dicapai pada beberapa hari mendatang. Ini tergantung dari kegigihan para mediator internasional mencapai kompromi dengan pihak-pihak yang bertikai dan menyepakati mekanisme penerapan kompromi itu. Mungkin saja itu berarti kehadiran misi internasional untuk mengawasi perbatasan antara Israel dan Jalur Gaza. Syarat-syarat dasar mengakhiri konflik di Gaza sudah jelas. Penerapannya akan membutuhkan tekad bulat dan keterlibatan multilateral. (hp)