1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Diplomat Iklim Khawatir Pengaruh Industri Migas pada COP28

Ajit Niranjan
8 Juni 2023

Perundingan di Bonn, Jerman, menyiapkan agenda KTT Iklim COP28 di Uni Emirat Arab pada November mendatang. Pertemuan itu diharapkan bisa memudahkan negosiasi seputar pembiayaan iklim bagi program mitigasi dan adaptasi.

Pertemuan teknis KTT Iklim di Bonn, Jerman
Pertemuan teknis KTT Iklim di Bonn, JermanFoto: Christoph Driessen/picture alliance/dpa

Diplomat dari seluruh dunia berunding di Bonn, Jerman, pekan ini sebagai persiapan jelang KTT Iklim COP28. Pertemuan tersebut membahas antara lain rencana teknis seputar program mitigasi dan adaptasi krisis iklim, serta meletakkan pondasi bagi perundingan tingkat tinggi di Uni Emirat Arab, November mendatang.

Selama di Bonn, diplomat dan pakar iklim berpeluang ikut memengaruhi hasil akhir KTT Iklim, serta menyaring apa yang efisien dan tidak dalam kebijakan di tingkat domestik dan internasional, kata Alex Scott, pakar iklim di lembaga wadah pemikir E3G di London, Inggris. "Apa yang berbeda dengan pertemuan di Bonn adalah absennya para politisi atau setidaknya cuma segelintir yang hadir."

Perundingan selama KTT Iklim tahun lalu di Mesir berlangsung alot. Namun, konferensi di Sham el-Sheikh itu berhasil menyepakati dana ganti rugi atas bencana cuaca ekstrem di negara-negara miskin, meski sempat ditandai keengganan negara industri membiayai pendanaan.

Lemah dalam mitigasi

Namun begitu, COP27 tetap mendulang kritik lantaran lemahnya komitmen mengurangi emisi gas rumah kaca (GHG). "Kita menyepakati dana baru," kata Marjo Nummelin, juru runding iklim Finlandia. "Tapi kita tidak bisa menyelenggarakan KTT Iklim lain tanpa adanya kemajuan dalam agenda mitigasi."

Di Bonn, para juru runding akan ikut membahas sasaran pembiayaan iklim yang baru untuk setelah 2025. "Perkiraan saya di Bonn kita akan menghasilkan nota informal," kata Juan Carlos Monterrey, bekas juru runding Panama. "Dan nota informal berarti sebagaimana bunyinya, yakni cuma sebuah tulisan yang mencantumkan semua visi dan posisi dari setiap pihak dan kelompok."

Komitmen membatasi pemanasan global sebesar 1,5 derajat Celsius pada akhir abad ini sudah dibuat pada 2015 silam di Paris, Prancis. Untuk mewujudkannya, ilmuwan mendesak agar perekonomian global segera menghentikan pembakaran energi fosil dan memangkas emisi di semua sektor. Rencananya, pada KTT Iklim COP30 tahun 2025 di Belem, Brasil, negara-negara di dunia harus merembukkan sasaran baru untuk memerangi krisis iklim.

"Bagi kita, sangat kritis bahwa adanya platform internasional yang memudahkan semua pihak membidik sasaran paling ambisius," kata seorang juru runding iklim asal Brasil yang menolak menyebutkan namanya. Menurutnya, ambisi dan strategi yang berbeda-beda di setiap negara akan berdampak luas. "Jika kita tidak bisa menjalankan kebijakan iklim dalam dekade yang kritis ini, maka kita akan gagal mencapai target 1,5 derajat Celsius."

Anak-anak Muda Indonesia Tuntut Aksi Nyata

03:44

This browser does not support the video element.

Lobi minyak dan gas

Belum apa-apa, KTT COP28 sudah dihujani kritik karena dikepalai oleh Sultan al-Jaber, Direktur ADNOC, perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab. Dalam surat terbuka dari Mei silam, 130 anggota parlemen Eropa dan Amerika Serikat meminta agar Uni Emirat Arab mencari kandidat selain.

"Dengan penunjukkan itu, mereka mengirimkan pesan bahwa industri minyak yang berkuasa," kata Monterrey, bekas juru runding Panama. "Risikonya kini lebih besar bahwa upaya iklim akan kandas, karena jika masyarakat melihat penyelanggaraan KTT, mereka akan berpikir semuanya hanya lelucon."

Namun begitu, sejumlah delegasi lain mengungkapkan pandangan yang lebih optimis. Karena turunnya minat pasar terhadap bahan bakar fosil sudah mendorong pemerintah UEA untuk berinvestasi di teknologi hijau.

"Mereka berada dalam posisi unik untuk juga menghasilkan perkembangan positif," kata Khadeeja Naseem, juru runding Maladewa. "Saya benar-benar berharap UEA bisa memainkan peran kritis dalam mendorong transisi menuju teknologi hijau dan energi terbarukan, serta membantu negara-negara seperti milik kami untuk bertahan hidup lebih lama."

(rn/hp)

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya