Laporan terbaru UNEP menyebut triliunan dolar dapat dikumpulkan setiap tahun dan jutaan nyawa dapat diselamatkan dengan melindungi iklim dan lingkungan. DW membahasnya lebih lanjut dengan Inger Andersen.
Inger Andersen mengatakan bahwa laporan baru ini menawarkan ‘peta jalan’ untuk tindakan iklim global.Foto: Martial Trezzini/KEYSTONE/picture alliance
Iklan
Inilah yang membangunkan Inger Andersen setiap hari dengan tekad baru, "Ketakutan terbesar saya adalah saat kita menjadi abai,” kata ekonom Denmark yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) sejak 2019 itu. Ia menambahkan bahwa orang-orang miskinlah yang akan sangat menderita jika kita tidak bertindak cepat.
Biaya operasional bisnis secara normal tanpa mengubah cara menangani krisis iklim dan lingkungan mencapai triliunan dolar setiap tahun dan angka ini terus meningkat, menurut laporan yang diliris UNEP hari ini. Menurut laporan tersebut perubahan iklim dapat mengurangi 4% dari PDB global pada 2050 dan 20% di akhir abad ini.
Lebih lanjut, laporan tersebut menunjukkan dunia yang tengah berada di persimpangan. "Kita lanjut ke masa depan yang kian hancur oleh perubahan iklim, alam yang terdegradasi, tanah yang rusak, dan udara yang tercemar atau segera mengubah arah, memastikan planet yang sehat, manusia yang sehat, dan ekonomi yang sehat.”
"Meskipun demikian ini sama sekali bukanlah pilihan, ” jelas Andersen.
Banjir dan longsor melanda Sumatra, menewaskan ratusan orang, dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Di balik tragedi ini, kerusakan ekosistem memperparah dampaknya. Bahkan, satwa liar turut menjadi korban.
Foto: Stringer/REUTERS
Melanda tiga provinsi
Banjir dan longsor melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, lebih dari 780 orang meninggal dunia, sementara sekitar 560 orang masih hilang di 50 kabupaten/kota yang terdampak.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Ribuan rumah dan infrastruktur hancur
Menurut data BNPB, kerusakan di Aceh mencakup 204 jembatan, 75 sekolah, 99 kantor, 48 rumah ibadah, dan 5.200 rumah. Di Sumatra Utara, 27 jembatan, 19 rumah ibadah, 1 fasilitas kesehatan, serta 2.400 rumah rusak. Sementara di Sumatra Barat, kerusakan meliputi 64 jembatan, 65 rumah ibadah, 8 fasilitas kesehatan, 1 kantor, 84 sekolah, dan 2.800 rumah.
Foto: Levie Wardana/DW
Modifikasi cuaca di Aceh dan Sumatra Utara
BNPB bersama BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca di Aceh dan Sumatra Utara untuk mempercepat penanganan dampak bencana. Langkah ini diharapkan mempercepat pembersihan jalur transportasi darat dan memastikan pengiriman logistik lewat udara tidak terhambat cuaca buruk.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Polemik status bencana nasional
Tingginya korban dan kerusakan membuat masyarakat menanti penetapan banjir Sumatra sebagai bencana nasional. Namun, Menko PMK Pratikno menegaskan status itu tidak diberikan karena penanganan sudah bertaraf nasional. "Dan kami telah mewaspadai dan mempersiapkan sedini mungkin untuk mengurangi risiko semaksimal mungkin," ujarnya.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Akibat kerusakan lingkungan
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Satgas Penertiban Kawasan Hutan sedang menelusuri penyebab terjadinya bencana banjir dan longsor Sumatra. "Selain faktor cuaca ekstrem, ada faktor kerusakan lingkungan yang memperparah bencana," katanya, Rabu (03/12). Selain itu, pemerintah juga terus berkonsentrasi untuk mengevakuasi dan menangani warga yang terdampak bencana.
Foto: Levie Wardana/DW
Bukti kondisi lingkungan kritis
Gelondongan kayu yang terseret arus memicu sorotan terhadap kerusakan hutan di hulu, dari konversi lahan hingga dugaan illegal logging. Arie Rompas, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace, menilai hampir semua Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatra kritis dengan tutupan hutan alam kurang dari 25%, jauh di bawah batas ideal 30% sesuai UU Kehutanan sebelum dihapus Omnibus Law.
Foto: Levie Wardana/DW
Satwa liar turut jadi korban
Banjir dan longsor juga merusak habitat satwa liar. Jasad seekor gajah Sumatra ditemukan terseret arus di Pidie Jaya, Aceh, memicu kekhawatiran terhadap hilangnya keanekaragaman hayati. Ahli menilai bencana bukan hanya mengancam manusia, tetapi juga satwa yang kehilangan rumah dan sumber pakan.
Foto: Levie Wardana/DW
7 foto1 | 7
Manfaat besar masih dapat diraih
Menurut Andersen laporan baru UNEP, yang disusun oleh 287 ilmuwan dari 82 negara, telah menetapkan "peta jalan” untuk tindakan bersama secara global.
Menurut para ilmuwan dalam laporan tersebut, penting untuk mengubah arah dunia termasuk menambah target triliunan dolar setiap tahunnya dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini akan menghindarkan jutaan angka kematian, menyelamatkan ratusan juta orang dari kemiskinan dan kelaparan,
Namun hal tersebut memerlukan koordinasi antara seluruh pemerintah, bisnis, dan masyarakat, untuk mempercepat proses peralihan menuju pertanian berkelanjutan, pemulihan ekosistem, dan peralihan ke energi bersih serta dalam merancang produk dan bahan yang lebih tahan lama dan mengurangi limbah.
Anak-anak bermain di tengah sampah plastik, sungai membawa sampah-sampah ke laut, hewan memakannya. Plastik ada di mana-mana. Produksinya kian berkembang pesat dan membahayakan manusia dan lingkungan.
Foto: Channi Anand/AP Photo/picture alliance
Pemandangan indah yang dipadati sampah
Plastik, bahan yang serbaguna, sangat diperlukan dalam konstruksi dan pengemasan. Tapi, plastik juga jadi bahaya global. Berton-ton sampah, termasuk botol plastik, ban bekas dan berbagai bahan non-organik, mengapung di Sungai Drina dan membentuk tempat pembuangan sampah terapung di Višegrad, Bosnia dan Herzegovina.
Foto: Armin Durgut/AP Photo/picture alliance
Dilarang bermain? Sayangnya tidak!
Di sebuah pantai di Filipina, anak-anak berjalan tanpa alas kaki di atas sampah plastik, sisa bencana topan lalu. Sampah-sampah yang dibuang sembarangan, melintasi sungai hingga ke berakhir di laut dan terdampar di pantai. Bukan hanya terbawa air, sampah-sampah ini pun turut tertelan hewan-hewan.
Foto: Aaron Favila/AP Photo/picture alliance
Berkurang satu kantong plastik
Nina Gomes mengambil satu kantong plastik yang dibuang di laut dekat pantai Copacabana, pantai yang terkenal di Rio de Janeiro, Brasil. Setiap tahun, Brazil menghasilkan sekitar 11,3 juta ton sampah plastik. Hanya 1,2 persen yang didaur ulang. Sampah plastik yang berakhir di lautan dan membahayakan ekosistem laut.
Foto: Bruna Prado/AP Photo/picture alliance
Jaring penghalang yang rusak
Di kota Alexandra, Afrika Selatan, sebuah jaring dibuat untuk menahan sampah plastik di Sungai Jukskei. Tiga orang sukarelawan dengan hati-hati menyingkirkan sampah yang menumpuk di jaring. Langkah-langkah ini menghambat sampah terbawa arus hingga ke laut, tapi tidak menghentikan sumbernya. Sampah masih menjadi tantangan - tidak hanya di Afsel, tapi juga di Indonesia, India dan di seluruh dunia.
Foto: Jerome Delay/AP Photo/picture alliance
Sebelumnya adalah pantai berpasir
Orang-orang berjalan melewati sampah plastik yang menutupi pasir pantai Badhwar Park di pesisir Laut Arab Kota Mumbai, India. India, dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, adalah salah satu konsumen plastik terbesar di dunia. India diperkirakan menghasilkan sekitar 3,5 juta ton sampah plastik setiap tahunnya dan hanya sebagian kecil yang didaur ulang.
Foto: Rajanish Kakade/AP Photo/picture alliance
Daerah pemukiman miskin di New Delhi yang dibangun di atas sampah
Di sebuah pemukiman miskin di ibu kota India, New Delhi, nampak setiap jengkal lanskapnya dipenuhi sampah plastik. Kantong-kantong sampah mengantre untuk disortir para pengepul sebelum dijual.
Foto: Manish Swarup/AP Photo/picture alliance
Protes terus berlanjut
“Hentikan polusi plastik!”, demikian bunyi poster-poster para aktivis lingkungan di Seoul. Mereka memprotes gagalnya negosiasi perjanjian global PBB melawan sampah plastik di Korea Selatan, awal Desember lalu. Beberapa negara penghasil minyak telah menolak pembatasan produksi plastik. Perundingan kembali dilangsungkan 5-14 Agustus 2025 di Jenewa.
Foto: Jung Yeon-je/AFP
Kaos di Jakarta
Di Jakarta, tumpukan sampah plastik menumpuk di pinggir jalan dan menghalangi lalu lintas. Pada tahun 2023, Indonesia menghasilkan setidaknya 10,8 juta ton sampah plastik. Sebagian besar sampah tersebut tidak dibuang pada tempatnya. Di tahun yang sama, tercatat sekitar 359.000 ton sampah berakhir di lautan.
Foto: Dita Alangkara/AP Photo/picture alliance
Berharap dan segera beraksi
Seorang pendeta duduk di antara sampah yang ditinggalkan oleh para jemaat yang menghadiri festival “Kuse Aunsi” di kuil Gokarneshwor di Kathmandu, Nepal. Satu hal yang jelas: krisis plastik membutuhkan keputusan politik yang tegas dan pemikiran global. Tanpa adanya tindakan, plastik akan terus mencemari sungai dan lautan, mengancam kehidupan, dan mencegah masa depan yang berkelanjutan.
Foto: Niranjan Shrestha/AP Photo/picture alliance
9 foto1 | 9
Andersen mengingatkan untuk membatasi penggunaan berlebihan sumber daya penting baik itu tanah, air, energi, atau lainnya sehingga ada "tingkat keadilan antar generasi bagi anak-anak dan cucu kita.”
Penulis laporan menyoroti perlunya mengubah pola perilaku dari konsumsi berlebihan dan transformasi ekonomi, tidak semata fokus pada PDB tapi juga menyertakan pengukuran kesejahteraan manusia dan lingkungan, serta menghentikan subsidi berbahaya seperti yang mengalir ke bahan bakar fosil.
Hal ini menurut para ahli dapat menghasilkan manfaat ekonomi global sebesar USD20 triliun (Rp. 330 kuadriliun) per tahun pada tahun 2070, yang akan terus meningkat hingga lima kali lipatnya, USD100 triliun (Rp. 1.550 kuadriliun).
Investasi global tahunan sebesar sekitar $8 triliun (Rp. 124 kuadriliun) diperlukan untuk membantu memulihkan keanekaragaman hayati dan mencapai net-zero pada tahun 2050. Ini adalah titik di mana emisi yang tersisa di atmosfer dapat diserap oleh alam atau dihilangkan melalui teknologi seperti penangkapan karbon.
Investasi ini, menurut para ahli dalam laporan tersebut, jauh lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang ditimbulkan dari keputusan untuk tidak melakukan apa-apa.
Sementara jejak karbon banyak dianggap remeh oleh perusahaan bahan bakar fosil, ada banyak hal yang dapat kita lakukan secara individu untuk membantu membatasi emisi gas rumah kaca yang meningkatkan pemanasan global.
Foto: picture-alliance/U. Baumgarten
Pilih alat transportasi yang rendah emisi
Gunakan bus, kereta, atau sepeda. Kereta untuk perjalanan antarkota di Eropa menghasilkan hingga 90 persen lebih sedikit emisi karbon dibanding menggunakan pesawat.
Foto: Binh Truong/Photoshot/picture alliance
Pilih makan tumbuhan ketimbang daging
Peternakan daging dan susu menyumbang sekitar 15% dari emisi gas rumah kaca (GRK) global. Industri ini juga bertanggung jawab atas hilangnya keanekaragaman hayati, mengontaminasi tanah, dan polusi.
Foto: picture-alliance/dpa/Photoshot/R. Levine
Kritisi kebijakan pemerintah yang tidak ramah lingkungan
Aksi protes, kampanye di media sosial, atau menyampaikan aspirasi kepada perwakilan lokal yang akan berdampak pada politisi.
Foto: Justin Ng/Avalon/picture alliance
Pilih energi terbarukan
Menggunakan listrik yang berasal dari tenaga angin atau matahari adalah cara yang baik untuk memangkas sumber utama karbon perusak iklim.
Foto: Amit Dave/REUTERS
Hemat Energi
Cabut colokan elektronik yang tidak digunakan dan matikan komputer di malam hari.
Foto: Jens Niering/picture alliance
Setop buang makanan
Kamu dapat meminta supermarket untuk berhenti membuang makanan ekstra. Selain itu, sebaiknya bawa wadah penyimpanan untuk sisa makanan yang tidak kamu habiskan saat berada di restoran. (ap)
Pada tahun 2019, dampak kesehatan akibat polusi udara mencapai 6% dari PDB global, dan biaya ekonomi akibat polusi udara diperkirakan akan meningkat menjadi $18-25 triliun(300 hingga 417 kuadriliun) pada tahun 2060, menurut UNEP.
Iklan
2025: Tahun dengan kemajuan yang beragam
Laporan ini dirilis di akhir tahun yang disertai dengan kemajuan yang beragam dalam isu-isu iklim dan lingkungan.
"Jelas ini adalah tahun yang sulit bagi multilateralisme,” kata Andersen. Namun, ia tetap optimis tentang apa yang dapat dicapai oleh negara-negara bersepakat bekerja sama.
Meskipun "negara-negara tidak bergerak cukup cepat” untuk mengurangi emisi, dia menjelaskan bahwa kemajuan telah dicapai dalam menghindari kenaikan suhu yang lebih tinggi yang diprediksi ketika negara-negara berkumpul pada tahun 2015 untuk menandatangani Perjanjian Paris, yang bertujuan untuk membatasi pemanasan global idealnya hingga 1,5 derajat Celsius.
Meskipun demikian ia tetap antusias melihat output konferensi yang ingin melakukan akselerasi penghentian penggunaan bahan bakar fosil. Konfrensi yang dipimpin oleh Belanda dan Kolombia ini dijadwalkan pada bulan April.
"Konvensi iklim terus berjalan, tetapi kita perlu mempercepatnya,” katanya, menambahkan bahwa jika tidak, kita akan membayar harga yang tinggi dalam bentuk kebakaran, banjir, kekeringan, dan panas ekstrem.
Alasan untuk tetap optimis di tahun 2026
Ke depannya, Andersen mengatakan pentingnya untuk "merayakan energi terbarukan yang kini menjadi sangat, sangat kompetitif.”
Dia menyoroti "fenomena menarik” di mana sumber energi seperti angin dan matahari kini menghasilkan energi dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada bahan bakar fosil.
Andersen menyoroti contoh Texas di AS, yang meskipun merupakan negara bagian penghasil minyak, kini mampu mendapatkan hampir 40% listriknya dari energi terbarukan.
Harga energi terbarukan seperti panel surya telah turun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.Foto: Xinhua/SEPCO III/picture alliance
"Sungguh menarik melihat pasar bergerak membantu kita mengatasi krisis iklim,” kata Andersen, menambahkan bahwa energi terbarukan adalah sektor yang "tidak dapat dihentikan karena harga dan karena daya saingnya.”
Ketakutan terbesarnya mungkin adalah rasa cepat berpuas diri dan menjadi abai. Andersen termotivasi melihat gerakan-gerakan yang diinisiasi berbagai kelompok mendorong aksi iklim yang mulai dari dunia usaha, aktivis muda, ilmuwan, hingga pemimpin agama. Menurutnya gerakan-gerakan ini kian kuat dan tak dapat diputar-dibalikkan.
"Yang memberi saya harapan adalah adanya solusi dan jutaan orang yang menyerukan hal yang sama.”
Dia berharap hal ini akan terwujud dalam tindakan politik. "Saya sering mengatakan, pegang tangan anak Anda atau posisikan diri Anda sebagai seorang anak saat Anda memasuki bilik pemungutan suara. Pilihlah pemimpin yang tepat untuk masa depan Anda....”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris