1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Dirndl Kreasi Baru dengan Elemen dari Indonesia

21 Februari 2018

Siapa bilang tekstil khas Indonesia hanya bisa berjaya di tanah air? Lewat koleksi Shanty Couture, desainer Shanty Sutadji menyisipkan teksil khas Indonesia dalam busana khas Jerman Selatan, yang disebut Dirndl.

Dirndl von Shanty Sutadji (Shanty Couture)
Foto: Saskia Kriechbaum

Ketika dijumpai saat peragaan busana di kota Düsseldorf, Shanty Sutadji sedang sibuk mempersiapkan semua busana yang akan dikenakan oleh para peragawati. Ia awalnya tertarik dengan dunia desain karena bibinya yang penjahit. Dengan berbekal pendidikan desainer dari Indonesia, ia kemudian mulai berkarya di Jerman. 

Kalau bekerja sebagai desainer di Jerman, orang harus mengerjakan segalanya sendiri. Demikian ujarnya dengan tersenyum, sambil menyematkan aplikasi bunga-bunga kecil berwarna putih pada salah satu baju kreasinya. Ia bercerita juga, bekerja membuat busana membantunya dalam memerangi stres.

Dirndl Kreasi Baru Gabungkan Elemen Indonesia dan Jerman

02:38

This browser does not support the video element.

 

Setelah fashion show berakhir, ia tampak lebih tenang, dan senang karena kreasinya jelas disukai banyak orang. 

 

DW: Membuat Dirndl dengan menggunakan tekstil khas Indonesia adalah sesuatu yang istimewa. Dari mana ide untuk membuat Dirndl?

Shanty Sutadji: Saya suka segala sesuatu yang berbau tradisional. Buat saya Dirndl seperti kebaya, karena bagi perempuan kelihatan feminin dan seksi. Walaupun badan berukuran besar, jika mengenakan Dirndl, seperti kebaya bisa digunakan untuk memperindah tubuh.

Foto: Saskia Kriechbaum

Mengapa menggunakan tekstil khas Indonesia?

Buat saya Indonesia kaya budaya. Di setiap kota ada berbagai macam tekstil. Dan saya ingin membuat hal yang tradisional Indonesia "go international". Bagi saya, membuat Dirndl seperti membuka pintu, untuk pemasaran kain-kain tradisional di Eropa. 

Tekstil Indonesia yang mana saja yang Anda gunakan?

Saya menggunakan hampir semua tekstil Indonesia, tergantung tren yang berlaku. Misalnya tren di tahun 2013 menggunakan tenun, jadi saya gunakan tenun untuk busana yang saya buat. Tahun 2018 trennya adalah motif garis-garis. Jadi saya menggunakan bahan batik lurik.

Foto: Saskia Kriechbaum

Apa pesan yang ingin disampaikan bagi perempuan muda Indonesia yang ingin jadi desainer?

Yang jelas harus kerja keras. Terutama kalau tinggal di Eropa, seperti saya rasakan sendiri. Kalau jadi desainer di Eropa, segalanya, mulai dari A sampai Z harus dikerjakan sendiri. Mulai dari merancang sampai produksi. Memasang payet atau kancing, juga harus dikerjakan sendiri.

Apakah menurut Anda perancang mode perempuan bisa sukses seperti perancang mode pria?

Tentu saja. Di Indonesia contohnya Anne Avantie yang sudah terbukti sukses di dunia mode. Ia adalah desainer yang saya kagumi, dan karya-karyanya ikut mempengaruhi desain saya. 

Bagi saya perempuan juga harus bisa berdiri sendiri. Di Jerman orang biasanya punya asuransi. Kalau di Indonesia tidak demikian. Sebagai perempuan, walaupun punya suami, kita bisa ditinggal hidup atau ditinggal mati. Jadi perempuan harus bisa independen.

 

 

Yang jelas peragaan busananya di Düsseldorf sukses. Tiga karyanya ditampilkan dua kali di atas catwalk. 

 

Interview: Marjory Linardy (vlz)