1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ditembak di Teheran: Kesaksian Korban Represi di Iran

Sarah Majdi
23 Januari 2026

Keluarga korban protes di Iran memberikan kesaksian kepada DW tentang brutalitas aparat keamanan. Ribuan orang dikabarkan tewas, tapi skala kekerasan yang sebenarnya masih sulit dipastikan.

Bendera Iran
Aksi solidaritas dengan protes Iran di London, Inggris.Foto: Amanda Rose/Avalon/Photoshot/picture alliance

Akses informasi independen dari dalam Iran masih sangat terbatas, setelah rezim menutup internet dan memblokir panggilan internasional, menyusul gelombang pemberontakan terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Sejak beberapa hari lalu, sebagian warga Iran di luar negeri mulai dapat menghubungi kerabat mereka di kampung halaman setelah akses komunikasi dibuka secara terbatas. DW berbicara dengan salah satu dari mereka, yang kini tinggal di Köln, Jerman.

Mohammad Saleh Zarif Moghadam meninggalkan rumahnya di Teheran pada malam 8 Januari. Dia menuju salah satu aksi protes anti-pemerintah yang meletus di berbagai kota di Iran.

Menurut bibinya, Farzaneh, pria berusia 28 tahun itu sebelumnya juga ikut demonstrasi pada 2022, setelah kematian Jina Mahsa Amini, perempuan muda Kurdi yang meninggal dalam tahanan polisi moral Iran karena dituduh melanggar kewajiban menutup aurat.

Kali ini, Saleh tak pernah kembali.

"Dia kehilangan nyawanya demi kebebasan," kata Farzaneh kepada DW.

Mendiang Mohammad-Saleh Zarif Moghadam yang tewas ditembak saat aksi protes di Iran.Foto: Privat

Demonstran ditembak dengan peluru tajam

Protes bermula pada akhir Desember di Bazaar Raya Teheran, dipicu krisis ekonomi, yang dengan cepat berubah menjadi perlawanan politik dan menyebar ke seluruh negeri.

Menurut sejumlah pejabat negara, organisasi HAM luar negeri, dan kesaksian saksi mata, tanggal 8 dan 9 Januari menandakan malam paling mematikan bagi demonstran.

"Di kawasan Narmak, mereka menembak dan membunuh setidaknya lima atau enam orang tepat di depan kami," kata seorang saksi mata dari Teheran yang dikutip Amnesty International.

"Mereka tidak lagi menggunakan peluru karet, tapi peluru tajam."

Ketika pasukan keamanan bergerak menumpas protes, pemerintah membatasi akses internet, membuat banyak keluarga nyaris mustahil mengetahui nasib kerabat mereka.

Farzaneh baru mengetahui kematian keponakannya setelah komunikasi dibuka kembali secara terbatas pada akhir pekan lalu.

"Sejak protes dimulai, dia sudah bilang ke keluarga bahwa dirinya akan ikut setiap aksi," ujarnya. "Dia muak, sama seperti banyak anak muda Iran lainnya."

Malam itu, Mohammad Saleh bergabung dengan seorang teman berusia 25 tahun dan pacar temannya di kawasan Arya Shahr, Teheran.

Di sana, mereka berhadapan dengan milisi Basij, kelompok paramiliter sukarela di bawah kendali Garda Revolusi Iran, yang kerap membantu aparat anti-huru-hara menekan unjuk rasa.

"Mohammad Saleh dan temannya sama-sama terkena peluru tajam," kata Farzaneh.

"Peluru pertama menghantam sisi tubuhnya."

Temannya juga tewas. Sang pacar berhasil melarikan diri dan kemudian memberi tahu kedua keluarga tentang kejadian tersebut.

"Menurut pacar temannya, Mohammad Saleh masih hidup ketika jatuh ke tanah," kata Farzaneh kepada DW.

"Kemudian mereka menembaknya di kepala."

Keluarga dipaksa bayar "uang peluru" demi jenazah

Sejumlah media internasional melaporkan praktik aparat Iran yang menuntut apa yang disebut "uang peluru" dari keluarga demonstran yang tewas, sebagai syarat pengembalian jenazah.

Keluarga lain mengaku dipaksa menandatangani dokumen yang menyatakan kerabat mereka adalah anggota pasukan keamanan, bukan demonstran.

Pejabat Iran membantah kedua praktik tersebut.

Namun, Farzaneh mengatakan keluarganya mengalami hal itu persis seperti yang dilaporkan.

Menurutnya, aparat mula-mula meminta orang tua Mohammad Saleh menandatangani pernyataan bahwa ia adalah anggota Basij. Keluarga menolak. Setelah itu, aparat menuntut uang untuk menyerahkan jenazah.

Awalnya, petugas meminta 700 juta toman (sekitar US$4.950), jumlah yang sangat besar bagi kebanyakan keluarga Iran.

Setelah empat hari negosiasi, jenazah akhirnya dilepaskan dengan bayaran 200 juta toman (sekitar US$1.400).

Mohammad Saleh dimakamkan pada Senin lalu dalam upacara yang diawasi ketat di Behesht-e Zahra, pemakaman utama Teheran.

Kanselir Jerman Merz Kecam Iran

00:48

This browser does not support the video element.

Jumlah korban tewas masih simpang siur

Kematian Saleh adalah satu dari ribuan korban dalam penindakan yang jumlah pastinya hingga kini masih belum jelas.

Saksi mata dan kelompok HAM menyebut aparat pemerintah menembaki demonstran di berbagai kota.

Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS menyatakan hingga Rabu lalu telah memverifikasi 4.519 kematian, dengan lebih dari 9.000 kasus lain masih diselidiki. Dari jumlah itu, 4.251 adalah demonstran dan 197 aparat keamanan.

Kelompok Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia melaporkan lebih dari 3.400 korban tewas.

Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah telah memverifikasi setidaknya 5.000 kematian akibat protes.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam pidatonya pada Kamis lalu menyebut "ribuan" orang tewas dalam dua pekan terakhir, sebuah pengakuan yang jarang disampaikan secara terbuka.

DW tidak dapat memverifikasi angka-angka tersebut secara independen dan tidak diizinkan meliput secara bebas di Iran.

Human Rights Watch meninjau bukti bahwa banyak demonstran tewas atau terluka akibat tembakan di kepala dan tubuh bagian atas.

Mohammad Saleh meninggalkan seorang anak laki-laki berusia lima tahun, Barsam.

"Keluarganya bahkan belum bisa memberi tahu anak itu bahwa ayahnya telah dibunuh," kata Farzaneh.

"Bagaimana menjelaskan kepada anak lima tahun bahwa ayahnya ditembak mati dengan dua peluru tajam?"

Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Farsi dan disadur ke dalam Bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait