1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Pendidikan

40 Sekolah Internasional Jerman Kesulitan Dana

Mirjam Benecke
4 Mei 2020

Semua 140 sekolah Jerman di luar negeri saat ini ditutup, beberapa mengadakan pelajaran online. Tanpa bantuan dana pemerintah Jerman, banyak yang mungkin tutup selamanya.

Sekolah Jerman Alexander-von-Humboldt-Schule di Lima, Peru
Foto: WDA

Kegiatan belajar di kompleks Deutsche Internationale Schule – DIS - di Lima, ibu kota Peru, sudah terhenti selama tujuh minggu. Biasanya, sekolah internasional Jerman yang mengusung nama DIS Alexander von Humboldt ini dipenuhi sekitar 1500 murid. Sekarang masih ada beberapa kelas yang menawarkan pelajaran online dengan cakupan terbatas.

Tapi masalah terbesarnya bukan mengalihkan pelajaran ke platform online, melainkan pendanaan sekolah secara keseluruhan. "Kami selalu dalam posisi yang sangat baik (secara finansial)," kata kepala sekolah Ann-Katrin Petersen kepada DW. "Tapi sekarang, semuanya menjadi goyah."

DIS Alexander von Humboldt di Lima adalah satu dari 140 sekolah internasional Jerman yang tersebar di luar negeri. Seperti sekolah internasional pada umumnya, pengelolaan dan pembiayaannya dijalankan oleh yayasan nirlaba. Sekitar 70% pembiayaan DIS  didapat dari uang sekolah, sisanya disediakan oleh pemerintah Jerman, termasuk penyediaan staf pengajar yang dikirim dari Jerman.

Kesediaan orang tua membayar uang sekolah menurun

"Pandemi ini berdampak bahwa hampir semua sekolah terpuruk ke dalam situasi keuangan yang tidak pasti," kata Dr. Peter Fornell, Ketua Asosiasi Sekolah Internasional Jerman di Luar Negeri, WDA. Kepada DW dia menerangkan, sekolah-sekolah ini bergantung pada kesediaan orang tua murid membayar uang sekolah. Tetapi sekarang banyak keluarga yang mengalami kerugian finansial dan tidak mampu lagi atau enggan membayar uang sekolah.

Ann-Katrin Petersen juga mengeluhkan hal yang sama: "Moral pembayaran banyak orang tua jadi sangat buruk - bahkan dalam kasus keluarga yang benar-benar punya uang." Banyak orang tua yang juga menuntut agar uang sekolah dipotong, karena sekarang pelajaran hanya berlangsung secara digital.

Sekalipun pelajaran di sebagian besar sekolah dihentikan, tetapi ada biaya operasi yang tetap harus dibayar, tambah Ann Katrin. "Kami adalah sekolah swasta yang tidak  dijalankan untuk meraup untung," jelasnya. Semua dana yang masuk dibelanjakan untuk kebutuhan sekolah.

Dibutuhkan bantuan cepat dan langsung

Sebuah survei yang dilakukan oleh WDA menunjukkan betapa seriusnya kondisi banyak sekolah internasional Jerman saat ini. Dalam sebuah survei yang melibatkan 105 yayasan pendukung DIS,hampir dua per tiganya memperkirakan jumlah murid akan turun drastis.

Sedangkan 64 sekolah mengatakan mereka terancam tutup untuk seterusnya.

"Kami membutuhkan bantuan segera dari negara Jerman, jika sekolah-sekolah itu tidak mau dibiarkan runtuh," kata Peter Fornell. Dia menuntut agar paling sedikit yayasan dibantu mendapat kredit dengan lebih mudah dan lebih murah.

Pertengahan Mei, ketua yasasan dan kepala sekolah dari seluruh jaringan DIS akan menggelar konferensi online untuk membahas situasi ini. Anggota Parlemen Jerman dan Menteri Negara Urusan Budaya Michelle Müntefering juga akan ikut serta.

Yayasan pengelola DIS Alexander von Humboldt di Lima sangat berharap ada dukungan dari pemerintah Jerman. "Kalau tidak, kita sebentar lagi tidak bisa membayar para staf pengajar lagi," kata Kepala Sekolah Ann-Katrin Petersen. (Ed: hp/ts)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait