1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

180809 Ahmadinedschad Kabinett

19 Agustus 2009

Gerakan protes di Iran untuk sementara berhasil diredam dengan kekerasan dan sensor, sementara Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad sibuk membentuk kabinet baru.

Ahmadinedschad und seine Frau Azam Sadat Farahi
Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad bersama istri di Teheran.Foto: picture-alliance/ dpa

Rabu ini, Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad akan mengumumkan kandidat anggota kabinetnya. Hari Minggu lalu, ia sudah menyebutkan nama enam orang.

Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun sejarah Republik Islam Iran, dua jabatan menteri akan diisi oleh perempuan. Yang pertama, Marzieh Vahid-Dastjerdi, seorang ahli ginekologi, profesor ilmu kedokteran berusia 50 tahun disebutkan akan mengisi jabatan Menteri Kesehatan. Sedangkan anggota parlemen, Fatemeh Ajorlu yang berusia 43 tahun akan diberi kepercayaan memegang bidang sosial. Keduanya terkenal konservatif. Namun Ajorlu dianggap sebagai calon kontroversial.

Satu setengah tahun silam, mantan pejabat Kementrian Hukum dan Peradilan, Abbas Palizdar menerbitkan penelitian mengenai korupsi di kalangan ulama dan politisi Iran. Mayoritas nama yang dituding merupakan lawan politik Ahmadinejad, termasuk mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani dan anak-anaknya. Dalam prosesnya, Palizdar kemudian dibui. Ajorlu terungkit sebagai salah seorang informan untuk penelitian itu. Pencalonannya merupakan peluang bagi jajaran politisi yang sakit hati akibat penelitian itu, untuk membalas dendam dengan tidak memberikan suara dukungan.

Meski Presiden Ahmadinejad menyatakan, dua atau bahkan tiga orang perempuan akan menempati jabatan menteri, banyak pihak yang meragukan niatnya. Seorang perempuan Teheran mengatakan, „Menurut saya, adanya dua orang perempuan di kabinet Ahmadinejad tidak sama dengan keterwakilan perempuan dalam pemerintahan. Itu bukan jawaban atas tuntutan perempuan Iran, yang jauh lebih luas, yang mengingat situasi hukum di negara ini tak punya peluang untuk dipenuhi“.

Sejumlah kritik lain terkait dengan latar belakang dan pengalaman kerja kedua calon ini, yang dinilai tidak sesuai dengan jabatannya. Pengamat juga menilai pencalonan perempuan bisa ditentang oleh masyarakat di pedesaan.

Hari Minggu lalu, Presiden Ahmadinejad menyatakan, bahwa syarat utama pencalonan anggota kabinetnya, adalah “moralitas dan komitmen, efisiensi serta kesanggupan bekerjasama”. Di antara jabatan penting lainnya, Ahmadinejad mencalonkan seorang bekas wakil Ayatollah Ali Khamenei, yakni Heydar Moslehi sebagai menteri intelijen. Sementara Menteri Dalam Negeri, Sadeq Masouli yang sebelumnya seorang komandan Garda Revolusi rencananya akan menjabat Menteri Pertahanan.

Diperkirakan jabatan Menteri Luar Negeri akan diisi oleh Said Jalili. Orang kepercayaan Ahmadinejad yang dikenal bergaris keras. Tahun 2007, Jalili ditunjuk sebagai negosiator Iran untuk masalah atom, menggantikan Ali Larijani yang lebih moderat. Sejumlah pengamat menilai bahwa pertukaran ini merupakan isyarat, bahwa Iran akan mengutamakan masalah nuklir.

Larijani yang kini menjabat Ketua Parlemen, telah mengritik Ahmadinejad yang menentukan para calonnya tanpa berkonsultasi dengan parlemen. Setelah pengumuman calon kabinet hari Rabu ini, ke-290 anggota parlemen Iran akan menentukannya pada 30 Agustus mendatang.

Ulrich Pick/ Edith Koesoemawiria
Editor: Dyan Kostermans