Dugaan Kekerasan Seksual Bayangi Konflik Israel-Hamas
14 Mei 2026
Catatan editor: Artikel ini berisi deskripsi eksplisit mengenai kekerasan seksual yang mungkin mengusik kenyamanan pembaca.
Di tengah pusaran opini yang beragam, tak diragukan lagi bahwa perang di Gaza telah memicu krisis kemanusiaan. Selain kelaparan, kematian, dan kehancuran, dua laporan yang dirilis pekan ini mengungkap skala dugaan pelecehan seksual pada tanggal 7 Oktober 2023 dan setelahnya.
Penyelidikan selama dua tahun yang dilakukan oleh The Civil Commission di Israel, dengan menggambarkan dirinya sebagai organisasi nonpemerintah independen, mengatakan telah memeriksa ribuan foto dan video serta mewawancarai ratusan saksi serangan 7 Oktober.
Para penulisnya, yang dipimpin oleh Cochav Elkayam-Levy, menyebutkan laporan itu "dipandu oleh metodologi yang diakui secara internasional untuk mendokumentasikan kejahatan perang dan kekerasan seksual." Laporan ini menuurutnya juga didukung oleh sejumlah tokoh politik, hukum, dan hak asasi manusia (HAM) terkemuka, termasuk Hillary Clinton dan mantan Menteri Kehakiman Kanada Irwin Cotler.
Laporan tersebut menemukan bahwa Hamas diduga "menggunakan kekerasan seksual dan berbasis gender secara sengaja dan sistematis sebagai bagian inheren dari strategi serangan yang lebih luas, terutama menargetkan perempuan dan sandera, sementara anak-anak juga menjadi korban bentuk-bentuk serius dari kekerasan dan pelecehan tersebut."
Hamas secara tegas membantah tuduhan tersebut.
Kisah kekerasan yang memilukan
Menurut laporan itu, tindakan tersebut terjadi di Festival Musik Nova, pangkalan militer, dan dalam beberapa kasus dilakukan di depan anggota keluarga korban. Laporan itu menambahkan bahwa Hamas dan milisi yang terkait dengannya ditengarai "menggunakan penyiksaan seksual untuk memaksimalkan rasa sakit dan penderitaan. Korban diduga mengalami tindakan brutal, termasuk dibakar, dimutilasi, diperkosa, diikat, dipaksa memasukkan benda ke alat kelamin, ditembak di wajah dan area genital, dibunuh dan disiksa di depan anggota keluarga, serta dieksekusi."
Laporan tersebut juga menampilkan sebuah video di mana para sandera Israel yang telah dibebaskan menceritakan kisah-kisah mengerikan tentang penyiksaan yang mereka alami sendiri maupun yang dialami orang lain.
"Para lelaki itu menarik seorang perempuan keluar dari kendaraan...secara paksa melucuti pakaiannya, dan memperkosanya, mereka berulang kali menikamnya, hingga membunuhnya. Mereka terus memperkosanya bahkan setelah dia meninggal," papar Raz Cohen, seorang penyintas dari Nova Music Festival.
PBB: Skala sebenarnya mungkin tak akan pernah terungkap
Sebuah laporan PBB tahun 2024 secara umum sejalan dengan tuduhan yang diajukan oleh Israel. Dalam laporan tersebut, Utusan Khusus PBB untuk Kekerasan Seksual dalam Konflik, Pramila Patten, menyimpulkan selama misi penelusuran fakta bahwa terdapat "alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa kekerasan seksual terkait konflik, termasuk pemerkosaan dan pemerkosaan berkelompok, telah terjadi."
Temuan Patten tidak dimaksudkan sebagai penyelidikan dan ia mengunjungi Israel serta Tepi Barat yang diduduki, tetapi tidak ke Jalur Gaza, karena situasi permusuhan di sana.
Saat mengunjungi Ramallah di Tepi Barat, Patten dan timnya juga menemukan bahwa "para narasumber menyampaikan kekhawatiran mengenai dugaan perlakuan kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan terhadap warga Palestina dalam tahanan, termasuk berbagai bentuk kekerasan seksual berupa pemeriksaan tubuh invasif, ancaman pemerkosaan, dan pemaksaan telanjang dalam waktu lama, serta pelecehan seksual dan ancaman pemerkosaan selama penggerebekan rumah dan di pos pemeriksaan."
Israel menolak tuduhan
Pola perilaku serupa juga dijabarkan dalam artikel terbaru Nicholas Kristof di The New York Times. Artikel tersebut dikategorikan sebagai opini, tetapi didasarkan pada sejumlah wawancara dengan warga dari wilayah Palestina.
Kristof menggambarkannya sebagai "percakapan dengan 14 lelaki dan perempuan yang mengaku telah mengalami pelecehan seksual oleh pemukim Israel atau anggota pasukan keamanan" serta "anggota keluarga, penyelidik, pejabat, dan pihak lain". Artikel tersebut menguraikan beberapa kasus dugaan penyiksaan yang mengerikan.
Kementerian Luar Negeri Israel sebelumnya telah menolak klaim-klaim tersebut sebagai "kebohongan tak berdasar" dan "fitnah keji" yang mencerminkan adanya "kampanye anti-Israel." Pada hari Jumat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Gideon Saar memerintahkan "pengajuan gugatan pencemaran nama baik terhadap The New York Times," menurut pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh kantor mereka.
Pernyataan tersebut menyebut tulisan itu sebagai "salah satu kebohongan paling keji dan terdistorsi yang pernah diterbitkan mengenai Negara Israel dalam pers modern."
The New York Times juga telah membela pelaporannya dalam kasus ini, dan juru bicaranya, Danielle Rhoades Ha, menyatakan: "Ancaman ini—serupa dengan ancaman yang dilayangkan tahun lalu—merupakan bagian dari taktik politik usang yang bertujuan untuk melemahkan pelaporan independen dan membungkam jurnalisme yang tidak sesuai dengan narasi tertentu."
Laporan Save the Children
Laporan Kristof juga mengutip laporan Save the Children tahun 2025 yang menyelidiki perlakuan terhadap anak-anak Palestina di tahanan Israel. Lebih dari separuh anak yang diwawancarai mengatakan "mereka pernah menyaksikan atau mengalami kekerasan seksual selama ditahan," demikian tertulis dalam laporan tersebut, sebelum menambahkan bahwa: "Angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena insiden kekerasan seksual sering kali tidak dilaporkan akibat stigma atau rasa malu."
Laporan Save the Children menyebut bentuk kekerasan meliputi dugaan "alat kelamin yang disentuh atau dipukul, dipaksa melakukan tindakan memalukan saat telanjang, pelecehan seksual termasuk ancaman, dan serangan seksual. Sebagian anak yang diwawancarai mengatakan mereka diancam akan diperkosa. Para pengacara yang diwawancarai melaporkan bahwa banyak anak yang mereka dampingi mengalami kekerasan seksual, termasuk kasus dugaan pemerkosaan."
Tuduhan serupa juga disampaikan dalam laporan oleh B'Tselem, Pusat Hak Asasi Manusia Israel, pada Agustus 2024, dan oleh Pusat Hak Asasi Manusia Palestina pada Mei 2025. Kesaksian yang disampaikan mengungkapkan dugaantindakan kekerasan seksual berulang yang dilakukan oleh tentara Israel atau penjaga penjara terhadap tahanan Palestina, yang digunakan sebagai bentuk hukuman.
Kekerasan seksual sebagai alat perang
Ketika The Civil Commission menyebut Hamas menggunakan kekerasan seksual sebagai alat perang, artikel Kristof menyatakan bahwa "tidak ada bukti kalau pemimpin Israel memerintahkan pemerkosaan." Namun, artikel itu menambahkan bahwa "mereka telah membangun pasukan keamanan di mana kekerasan seksual telah menjadi, seperti disebut laporan PBB tahun lalu, salah satu 'prosedur operasi standar' Israel dan 'elemen utama dalam perlakuan buruk terhadap warga Palestina.'"
Kesulitan yang dihadapi tim perwakilan khusus PBB Pramila Patten dalam mengumpulkan bukti selama konflik yang begitu brutal membuatnya menyimpulkan bahwa "prevalensi sebenarnya dari kekerasan seksual selama serangan 7 Oktober dan setelah serangan tersebut, mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk terungkap dan mungkin tidak akan pernah diketahui sepenuhnya."
Meskipun hal itu diduga mungkin terjadi, laporan minggu ini menunjukkan bahwa beberapa korban setidaknya dapat menceritakan kisah dugaan pelecehan yang mereka alami.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris, diterbitkan pada tanggal 14 Mei dan diperbarui pada tanggal 15 Mei untuk menyertakan perkembangan terbaru terkiat niat Israel untuk menggugat New York Times.
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Editor: Muhammad Hanafi