Tiga bom dari Perang Dunia II berhasil dijinakkan di Köln Rabu (4/6). Lebih 20 ribu warga dievakuasi untuk memungkinkan para ahli menjinakkan bom. Ini adalah momen yang sering terjadi di Jerman juga di seluruh dunia.
Sebagian besar warga di kawasan kota tua Köln dievakuasi untuk operasi penjinakan tiga bom dari PD II.Foto: Thomas Banneyer/dpa/picture alliance
Iklan
Lima belas pasangan telah menantikan momen spesial untuk mengucapkan janji pernikahan mereka. Namun, pernikahan yang seharusnya berlangsung di balai kota bersejarah Köln, Jerman, pada 4 Juni harus dibatalkan karena gedung tersebut berada tepat di tengah zona evakuasi. Untungnya, mereka tetap bisa menikah di balai kota distrik lain.
Tiga bom peninggalan Perang Dunia II yang tidak meledak, adalah penyebab dilakukannya evakuasi tersebut. Sedikitnya 20.500 warga dalam radius satu kilometer persegi, harus diungsikan ke tempat aman. Evakuasi ini disebut yang terbesar sejak 1945. Tiga bom ditemukan saat persiapan pembangunan di Jembatan Deutz, Köln. Bom buatan Amerika Serikat (AS) ini terdiri dari satu bom seberat 450 kilogram dan dua bom seberat 900 kilogram.
Ketiganya menggunakan sumbu pemicu tumbukan sehingga tidak bisa dipindahkan demi alasan keamanan. Oleh sebab itu, bom harus dijinakkan di lokasi, yang membuat beberapa distrik di kota Nordrhein-Westfalen, Jerman Barat, harus dievakuasi.
Menjinakkan Ranjau di Pesisir Utara Jerman
03:30
This browser does not support the video element.
Ribuan orang dievakuasi
Sekitar 20.500 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka pada hari Rabu (04/06). Pasien satu rumah sakit dan dua panti wreda juga dievakuasi, di mana para pasien serta penghuni dipindahkan ke fasilitas lain. Hampir 60 hotel ditutup sementara dan tamu-tamunya dipindahkan ke tempat lain.
Iklan
Penjinakan bom adalah tugas yang sangat kompleks dan rumit, tapi Jerman sudah sangat terbiasa dengan hal ini. Tahun 2024 lalu, lebih dari 1.600 bom berhasil dijinakkan hanya di negara bagian Nordrhein-Westfalen saja. Saat proyek pembangunan terus berlangsung, seperti pemasangan kabel serat optik baru, renovasi jembatan, atau perbaikan jalan, penggalian sering kali menemukan bom yang belum meledak dari era tahun 1930-an dan 1940-an.
Sekitar 20.000 orang harus meninggalkan rumah mereka agar tiga bom dari Perang Dunia II dapat dijinakkan di distrik Deutz, KölnFoto: Björn Kietzmann/DW
Masalah serupa di Prancis, Belgia dan Polandia
Kawasan metropolitan seperti Hamburg dan Berlin adalah target utama pengeboman Sekutu selama Perang Dunia II. Infrastruktur sipil juga menjadi sasaran, sehingga daerah-daerah ini sangat terpengaruh. Selain negara bagian Nordrhein-Westfalen, negara bagian Brandenburg juga sangat terkontaminasi bom peninggalan perang Dunia Kedua. Pada tahun 2024, tim penjinak bom menemukan 90 ranjau, 48.000 granat, 500 bom api, 450 bom seberat lebih dari 5 kilogram, dan sekitar 330.000 peluru artileri yang tidak meledak dari PD II.
Masalah ini juga ada di negara tetangga seperti Prancis dan Belgia, terutama bom sisa dari Perang Dunia I di wilayah Verdun dan Somme. Tiga tahun lalu, kekeringan di Lembah Po, Italia, mengungkap sejumlah bom yang belum meledak. Di Inggris pada 2021, sebuah bom udara Jerman seberat 1.000 kilogram diledakkan secara terkendali di Exeter, dan lebih dari 250 bangunan mengalami kerusakan.
Situasi di Polandia dan Republik Ceko juga kritis, di mana banyak bom dari dua perang dunia belum meledak dan masih tersebar di tanah. Pada 2020, bom seberat 5 ton buatan Inggris berhasil dijinakkan di Swinoujscie, Polandia. Baru-baru ini, bahkan terjadi kecelakaan fatal di Republik Ceko.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Bahaya mematikan di Vietnam, Laos, dan Gaza
Di Asia, situasinya juga mengkhawatirkan. Di Vietnam, Laos, dan Kamboja, orang-orang masih menjadi korban bom cluster buatan AS yang digunakan pada tahun 1960-an dan 1970-an. Menurut PBB, ada sekitar 80 juta bom yang belum meledak di Laos akibat 500.000 serangan AS yang dilakukan secara rahasia antara tahun 1964 hingga 1973.
Masih banyak juga bom yang belum meledak dan mengancam keselamatan wargai di Suriah dan Irak. Namun, kedua negara ini belum memiliki sistem penjinakan bom yang memadai.
PBB juga menyatakan bahwa bom yang belum meledak di wilayah Gaza, Palestina, telah menimbulkan bahaya mematikan, meskipun Israel terus melakukan pengeboman di wilayah tersebut.
Warisan Maut Ranjau Darat
Walaupun upaya banyak untuk melarang penempatan ranjau darat secara internasional, jutaan masih tersebar di sekitar 50 negara. Sehingga "langkah salah" bisa berakibat fatal. Bagaimana cara menjinakkan ranjau darat?
Foto: DW/Y. Castro
Lebih dari 10 Juta di Seluruh Dunia
Tidak ada informasi jelas, berapa ranjau tertanam di tanah di seluruh dunia. Tapi diperkirakan jutaan. Ranjau-ranjau itu tetap tertanam di tanah, dan membahayakan hidup warga bahkan setelah perang usai. Konvensi Ottawa yang melarang penggunaan, penyimpanan dan penyebarannya ditandatangani 162 negara.
Foto: picture-alliance/dpa
Mine Kafon: Pembersih Ranjau Masa Depan
Rupanya seperti bunga Löwenzahn yang sudah tak berkelopak. Dan seperti kepala sari nya, ia bergerak sesuai hembusan angin. Sebutannya Mine Kafon, dan dibuat Massoud Hassani dari Afghanistan. Mine Kafon punya 175 semacam piringan plastik di tiap ujung tangkai dari bambu. Beratnya seperti seorang pria dewasa, sehingga menyebabkan ranjau meledak, jika dilaluinya.
Foto: Massoud Hassani
Pembersih Ranjau Tenaga Angin
Inspirasi untuk Mine Kafon diperoleh Hassani dari sebuah mainan yang dimilikinya ketika kecil. Karena Departemen Pertahanan Belanda tertarik, prototipe Mine Kafon dites dan dikembangkan. Sebuah tim penyelidikan dan pengembangan kini memperbaiki desainnya, agar tidak hanya aman melainkan juga ampuh di medan apapun.
Foto: Massoud Hassani
Menyulut Ranjau dari Udara
Hassani (kanan) juga sedang membuat Mine Kafon berupa pesawat tak berawak. Mine Kafon jenis ini melacak ranjau dengan sensor dan mengeluarkannya dengan semacam lengan. Ranjau kemudian dibawa ke tempat aman untuk diledakkan. Menurut Hassani, alat yang masih dioptimalisasi ini, lebih cepat dan murah daripada teknologi lainnya saat ini.
Foto: picture-alliance/dpa/R. de Waal
Mencium Ranjau Darat
Organisasi swadaya masyarakat APODO dari Belgia mengembangbiakkan tikus yang bisa mencium ranjau darat. Tikus sudah digunakan di beberapa negara. Dengan kemampuan menciumnya, tikus dilatih untuk menemukan bahan peledak Trinitrotoluol. Menurut NGO itu, sejauh ini belum ada tikus yang mati ketika bekerja.
Foto: Getty Images/T. Weidman
Aksi Pencari Ranjau
Bukan hanya tikus bisa melacak ranjau, tapi juga anjing. Setelah latihan beberapa bulan, anjing mampu melakukannya. Marshall Legacy Institute mulai mengadakan program pelatihan anjing 1999. Sekarang lebih dari 900 anjing pelacak digunakan di 24 negara di seluruh dunia.
Foto: Getty Images/AFP/S. Loeb
Peralatan Perang Atasi Ranjau
Penampilannya seperti kombinasi panser dan alat bajak pertanian, dan berfungsinya juga demikian. Alat Aardvark untuk membersihkan ranjau dilengkapi 72 rantai yang membongkar tanah dan menyebabkan ranjau meledak, tanpa menyebabkan kendaraan rusak atau pengemudinya cedera. Alat itu tiap harinya bisa digunakan untuk lahan seluas lapangan sepak bola.
Foto: Aardvark
Bahaya Jangka Panjang
Setelah dikubur di tanah, ranjau darat aktif sampai lebih dari 50 tahun. Ini bukan hanya bahaya bagi manusia. Melainkan juga mempersulit kembalinya pengungsi, juga memperlambat pembangunan kembali kawasan yang ditanami setelah perang berakhir.
Foto: picture-alliance/dpa
Luka Sepanjang Hidup
Hanya tinggal 11 negara, antara lain Cina dan Rusia, yang memproduksi ranjau darat. Sejak penandatanganan Konvensi Ottawa sudah banyak kemajuan yang berhasil dicapai. Tapi tantangan masih banyak, selama ranjau masih terkubur di sana, dan menyebabkan kematian, kelumpuhan dan cedera. Penulis: Tamsin Walker (ml/ap)
Foto: DW/Y. Castro
9 foto1 | 9
Seperempat wilayah Ukraina terkontaminasi
Situasi di Ukraina pun sangat dramatis. Sejak invasi besar-besaran Rusia pada tahun 2022, sekitar seperempat wilayah Ukraina diduga tercemar ranjau, bom kluster, dan alat peledak lainnya.
Lebih dari setengah juta alat peledak sudah berhasil dijinakkan, tapi jutaan lainnya masih tersisa. Konsekuensi kemanusiaan dan ekonomi sangat besar: Ratusan warga sipil meninggal, lahan pertanian luas menjadi tidak bisa digunakan, dan gagal panen semakin memperparah krisis ekonomi.
Saat perang berakhir, penjinakan ranjau akan menjadi salah satu tugas utama selama bertahun-tahun ke depan.
Tikus Pelacak Ranjau
Dalam perang melawan ranjau darat, para petugas pelacak ranjau melatih tikus sebagai pengendus bahan peledak yang banyak memakan korban warga sipil tak berdosa.
Foto: Lieve Blancquaert
Pahlawan Tikus
NGO Belgia APOPO di Morogoro Tanzania melatih sejenis tikus besar Afrika untuk melacak ranjau. Tikus memiliki indera penciuman amat tajam, dan hidungnya yang dekat tanah, diharapkan jauh mengungguli anjing pengendus ranjau. Selain itu, bobotnya yang hanya satu kilogram terlalu ringan untuk memicu ledakan ranjau.
Foto: Lieve Blancquaert
Hidung Pengendus Harus Dilatih
Tikus-tikus dilatih sejak kecil, untuk melacak jejak bahan peledak TNT. APOPO sejak 2000 melatih hewan pengerat itu di Kampus Universitas Sokoine untuk Ekonomi Pertanian di Tanzania. Tikus pertama pelacak ranjau dikerahkan 2006 untuk pembersihan ranjau di Mozambik. Sebelum diizinkan bertugas, tikus-tikus pelacak harus lulus ujian untuk memenuhi standar internasional pembersihan ranjau.
Foto: Lieve Blancquaert
Pelacakan Sistematis
Tikus-tikus belajar melacak areal secara sistematis. Untuk itu tikus diikat pada poros galah dan dua pelatih berdiri di kedua ujungnya. Tikus bekerja pada garis lurus, dari satu ujung ke ujung lainnya. Pada fase latihan, tikus mula-mula dilatih mengendus TNT murni dalam wadah kecil dari logam.
Foto: DW/A. Schmidt
Melacak Ranjau Dalam Tanah
Setelah itu, tikus dilatih di sebuah lapangan, dimana ranjau sebenarnya yang sumbu peledaknya di non-aktifkan ditanam dalam tanah. Jika tikus mengendus TNT, hewan ini akan menunjukkan lokasinya dengan mencakar-cakar tanah. Pelatihan tikus pelacak ranjau berlangsung sekitar setahun dan ongkosnya 6.000 Dollar.
Foto: APOPO
Sukses Diganjar Hadiah
Dalam pelatihan setiap sukses pelacakan, tikus akan diganjar hadiah, misalnya dengan sepotong pisang. Tikus terlatih bisa melakukan pelacakan areal hingga 400 meter persegi per hari. Sebagai perbandingan, petugas pencari ranjau memerlukan waktu dua minggu untuk melacak areal seluas itu.
Foto: DW/A. Schmidt
Hidung Pengendus Fleksibel
Tikus berbeda dengan anjing, karena tidak terikat pada satu orang pelatih saja. Artinya, pelatih tidak perlu turun sendiri ke lapangan, dan tikus tetap bekerja handal. Dengan itu, tikus-tikus yang dilatih di Tanzania dapat dikirimkan ke Mozambik, Angola, Thailand atau Kamboja untuk tugas pembersihan ranjau.
Foto: Lieve Blancquaert
Misi di Mozambik
Sejauh ini tim pembersih ranjau di Mozambik sudah memeriksa lebih dari 6,5 juta meter persegi areal dan menemukan lebih dari 2000 ranjau darat, 1000 bom yang tidak meledak dan 12.000 senjata api serta amunisinya, yang semuanya dimusnahkan. Saat ini tujuh tim dengan 54 tikus pelacak ranjau yang bertugas dalam misi ini.
Foto: Lieve Blancquaert
7 foto1 | 7
Jerman menanggung biaya terbesar
Di Jerman, sebagian besar bom yang dijinakkan adalah peninggalan Perang Dunia II dan dibuat oleh Sekutu. Negara-negara bagian di Jerman menanggung sebagian besar biaya penjinakan bom ini. Jerman sendiri bertanggung jawab atas bom-bom buatannya dari era Kekaisaran Jerman (1871-1945). Upaya untuk membuat pemerintah bertanggung jawab atas semua bom yang belum meledak di Jerman sejauh ini belum berhasil. Tahun lalu, biaya penjinakan bom di negara bagian Nordrhein-Westfalen saja mencapai 20 juta euro (sekitar Rp320 miliar).
Sementara biaya terus naik, teknologi penjinakan bom juga berkembang. Jika dulu pada tahun 1990-an petugas menggunakan tangan, palu, dan pahat, dan tang air, sekarang mereka memakai alat pemotong air bertekanan tinggi yang dapat memotong bom dari jarak aman dan menmbuat sumbu pemicunya tidak berfungsi.
Para ahli memperkirakan, ada puluhan ribu bahan peledak yang belum meledak di Jerman, dengan total berat mencapai 100.000 ton.
Monumen Perang Dunia II di Jerman yang Mengingatkan akan Kebebasan
Hitler menyerah tanpa syarat pada 8 Mei 1945, yang menandai berakhirnya Perang Dunia II di Eropa. Berikut monumen-monumen di Jerman yang memperingati beberapa lokasi peninggalan pembebasan oleh pasukan sekutu.
Foto: picture-alliance/dpa/Oliver Berg
Monumen Kamp Konsentrasi Dachau
Tanggal 29 April 1945, tentara AS membebaskan kamp konsentrasi di dekat München. Tahun 1965, sebuah monumen dibangun di kamp konsentrasi. Patung yang dibangun oleh seniman Yahudi, Nandor Glid, didirikan di tengah-tengah bekas Appelplatz pada tahun 1968 untuk memperingati para korban kekejaman Nazi. Korban Holocaust juga telah kehilangan banyak anggota keluarga di kamp-kamp konsentrasi.
Foto: picture-alliance/ImageBroker/H. Pöstges
Pertempuran Hutan Hürtgen
Pasukan AS bertempur dalam beberapa peperangan sengit melawan Nazi di Hutan Hürtigen dekat Aachen yang berlangsung pada musim gugur tahun 1944 hingga awal tahun 1945. Pertempuran ini juga diingat sebagai salah satu pertempuran yang paling lama di Jerman. Hutan Hürtigen sekarang menjadi bagian dari "Rute Pembebasan Eropa," sebuah jejak peninggalan pasukan sekutu.
Foto: picture-alliance/dpa/Oliver Berg
Jembatan di Remagen
Jembatan yang masih berdiri kokoh ini adalah jembatan kereta api di Remagen, selatan Köln. Jembatan ini berhasil dikuasai pasukan AS ditangkap pada 7 Maret 1945. Ribuan tentara AS mampu menyeberangi sungai Rhein untuk pertama kalinya, peristiwa ini dikenal sebagai "Keajaiban Remagen". Serangan bom Jerman akhirnya menyebabkan jembatan itu runtuh 10 hari setelahnya.
Foto: picture-alliance/dpa/Thomas Frey
Monumen Seelow Heights
Di timur, Tentara Merah Soviet melancarkan serangan besar terakhir pada 16 April 1945. Pertempuran Seelow Heights melibatkan sekitar 900.000 tentara Soviet dan 90.000 tentara Jerman. Peristiwa ini menjadi pertempuran Perang Dunia II terbesar di tanah Jerman – di mana ribuan nyawa melayang.
Foto: picture-alliance/dpa/Patrick Pleul
Museum Jerman-Rusia, Berlin-Karlshorst
Dalam kekacauan, para perwira dari angkatan bersenjata Jerman di Berlin-Karlhorst menandatangani penyerahan tanpa syarat pada 8-9 Mei 1945. Saat ini, Act of Surrender yang asli - tertulis dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Rusia, adalah koleksi utama museum ini. Peninggalan lainnya yang dipamerkan berfokus pada perang antara Nazi melawan Uni Soviet yang dimulai pada tahun 1941.
Foto: picture-alliance/ZB
Monumen Soviet War di Treptower Park
Besarnya ukuran monumen di Treptower Park sangat mengesankan. Monumen dan pemakaman militer memiliki area seluas 100.000 meter persegi. Monumen tersebut dibangun setelah Perang Dunia II untuk memperingati tentara Tentara Merah yang gugur dalam Pertempuran Berlin. Sepasang bendera Soviet terbuat dari granit merah yang berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam monumen.
Foto: picture-alliance/ZB/Matthias Tödt
Konferensi Potsdam di Istana Cecilienhof
Setelah Nazi Jerman menyerah, kepala pemerintahan dari tiga pasukan sekutu bertemu di Istana Cecilienhof di Potsdam pada musim panas tahun 1945. Joseph Stalin, Harry S. Truman dan Winston Churchill memimpin delegasi yang dikenal sebagai Konferensi Potsdam. Konferensi ini bertujuan untuk membangun tatanan pasca-perang di Eropa dan memutuskan pembagian Jerman menjadi empat zona pendudukan.
Foto: picture-alliance/dpa/Ralf Hirschberger
Museum Sekutu
Bekas bioskop Angkatan Darat AS "Outpost" di distrik Zehlendorf telah diubah menjadi bagian dari Museum Sekutu. Museum ini mendokumentasikan sejarah politik dan komitmen militer dari Sekutu Barat di Berlin - merinci pendudukan Berlin Barat pada tahun 1945, pengiriman udara ke kota dan penarikan pasukan AS pada tahun 1994.
Foto: AlliiertenMuseum/Chodan
Istana Schönhausen di Berlin
Istana Barok Prusia ini adalah lokasi pembicaraan "Two Plus Four Agreement" pada tahun 1990 di antara Jerman dan negara-negara yang menduduki Jerman pada akhir perang, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet. Keempat negara tersebut melepaskan semua hak yang mereka miliki di Jerman, membuka jalan bagi penyatuan Jerman.
Foto: picture-alliance/dpa/Hans Joachim Rech
9 foto1 | 9
Meskipun teknik pendeteksian modern dan foto udara digital bisa mengurangi risiko, setiap operasi penjinakan bom adalah perlombaan melawan waktu. Semakin tua bom, semakin tinggi risiko korosi dan ledakan tidak terkendali. Menjinakkan bom yang lebih tua juga lebih sulit karena perubahan kimia dalam bom antara selongsong dan sumbu pemicunya.
Penjinakan tiga bom di Köln bukan hanya soal gangguan pernikahan dan aktivitas warga, tapi juga menjadi pengingat nyata akan kehancuran perang -- baik di Jerman, Prancis, Vietnam, Laos, Suriah, Ukraina, maupun Gaza.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman