Negara-negara kaya akhirnya mau berkompromi dalam membiayai program konservasi di negara termiskin. Hasil KTT Keanekaragaman Hayati di Kolombia membuka jalan bagi aksi nyata dalam menghadapi krisis kepunahan spesies.
Monyet Daun François di Taman Nasional Mayanghe, Cina.Foto: Yang Wenbin/Xinhua/picture alliance
Iklan
Setelah tiga hari negosiasi intensif di Roma, negara-negara Perserikatan Bangsa-bangsa, PBB, akhirnya mencapai kesepakatan untuk mendanai perlindungan satwa liar di negara termiskin di dunia. Kesepakatan ini mengakhiri kebuntuan yang terjadi sejak KTT Keanekaragaman Hayati 2024.
Pengambilan keputusan menit-menit terakhir perpanjangan Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB COP16 di Kolombia disambut tepuk tangan para anggota delegasi.
"Tepuk tangan ini untuk kalian semua. Kalian telah melakukan pekerjaan luar biasa," ujar Presiden COP16, Susana Muhamad dari Kolombia.
Iklan
Kesepakatan yang tertunda
Brian O'Donnell, direktur gerakan global Campaign for Nature, menyambut baik keputusan ini setelah negosiasi yang panjang. "Di tengah gejolak dunia, sangat menginspirasi melihat 196 negara bersatu, mengatasi perbedaan, dan mencapai solusi bersama," katanya.
Pada COP16 tahun lalu di Cali, Kolombia, para negara peserta gagal mencapai konsensus mengenai skema pendanaan USD200 miliar per tahun untuk mendukung program keanekaragaman hayati hingga 2030.
Saat membuka perundingan di Roma pekan ini, mantan Menteri Lingkungan Hidup Kolombia, Susana Muhamad, mendesak para delegasi untuk bekerja sama demi tujuan yang dia sebut sebagai "misi terpenting umat manusia di abad ke-21, demi menjaga kemampuan kita untuk menopang kehidupan di planet ini."
Inflasi Sulut Pembalakan Hutan Kosovo
03:56
Mengapa perundingan di Cali gagal buahkan hasil?
Salah satu hambatan utama dalam KTT Keanekaragaman Hayati di Cali adalah mekanisme pendanaan bagi negara-negara miskin untuk melindungi keanekaragaman hayati.
Negara berkembang, dipimpin oleh Brasil dan Afrika, mengusulkan pembentukan dana baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka, dengan alasan bahwa mekanisme keuangan saat ini tidak cukup efektif.
Menurut Florian Titze, analis kebijakan internasional dari organasi konservasi WWF Jerman, prosedur pengajuan dana internasional masih sangat rumit, terutama bagi negara-negara yang memiliki kapasitas administrasi terbatas.
"Bagi negara-negara miskin, proses ini sangat menantang dan memakan waktu. Ini tidak efisien,"kata Titze kepada DW.
Perubahan iklim tak hanya merugikan keragaman hayati. Ada juga yang diuntungkan. Serangga adalah indikator dari pemenang dan pecundang dampak perubahan iklim.
Foto: picture-alliance/dpa/P. Pleul
Tawon Kepanasan
Pemanasan global menciutkan habitat tawon besar di Amerika Utara dan Eropa. Hewan penyerbuk ini gampang kepanasan dan mati gara-gara tubuhnya yang berbulu dan elatif lebih besar ketimbang lebah serta warna gelapnya. Tawon besar juga sulit melakukan migrasi ke kawasan lebih sejuk karena pakannya tergantung pada spesies tanaman tertentu.
Foto: picture-alliance/dpa/P. Pleul
Lebah Madu Bersaing Ketat
Lebah madu bisa selamat dalam ekosistem lebih panas. Tapi dampak perubahan iklim bisa membingungkan lebah madu, karena tanaman berbunga jauh lebih awal. Jika terlambat bereaksi, jumlah nektar yang tersedia di saat lebah aktiv mengumpulkan madu sudah jauh menurun. Akibatnya terjadi persaingan ketat dengan serangga jenis lain dalam memanen nektar.
Foto: Colourbox.com
Kupu-Kupu Menderita
Kupu-kupu bersayap motf kotak (lat. Euphydryas editha) habitatnya di kawasan pantai Pasifik di Amerika Utara, dan makanan utamanya adalah bunga tumbuhan semak. Akibat pemanasan global, tumbuhan ini dewasa lebih dini. Akibatnya ulat yang akan jadi kepompong terlambat menggemukan diri. Dampakny, populasi kupu-kupu menurun drastis.
Center for Biological Diversity memprediksi lalat glasial (Zapada glacier) akan terancam musnah. Habitat serangga ini adalah aliran air lelehan glasial di taman nasional Montana AS. JIka kualitas air memburuk, serangga ini bisa terancam musnah.
Foto: picture-alliance/dpa/Joe Giersch/U.S. Geological Survey via AP
Belalang Kritis
Belalang Beydaglari (lat. Psorodonotus ebneri) kondisinya kini kritis. Hewan ini habitatnya sempit di Gunung Tantali pada ketingian 1.800 meter. Belalang ini tidak bisa terbang hingga sulit melakukan migrasi ke kawasan lain yang masih menunjang kehidupannya.
Foto: Battal Ciplak
Kutu Sengkenit Berkembang Biak
Perubahan iklim juga bisa menguntungan serangga tertentu. Kutu sengkenit (lat. keluarga Ixodes ) justru berkembang biak lebih cepat pada kondisi suhu lebih hangat. Vektor penyakit Lyme yang berbahaya bagi manusia, kini habitatnya makin meluas di kawasan bermusim empat. Penyebabnya, musim dingin yang makin pendek. Pengidap Lyme di AS kini berlipat dua.
Semut Merak Merebak
Pemanasan global juga mendorong perkembangbiakan semut merah (lat. genus: Solenopsis). Semut omnivora ini terkenal agresif dengan mangsa dari mulai serangga, cacing, kutu serta laba-laba. Teritorial semut merah makin meluas, karena perubahan iklim memungkinkan binatang ini hidup di kawasan yang dulunya mematikan mereka.
Foto: Colourbox/P. Chaisanit
Hama Kepik Rakus
Kepik hijau (lat. familiy Pentatomidae.) habitat aslinya adalah kawasan hangat di Laut Tengah, Timur Tengah, Afrika, Australia dan Amerika Utara. Tapi beberapa tahun silam, binatang hama ini ditemukan di Inggris yang habitatnya lebih dingin dan secara teoritis tidak memungkinkan kehidupannya. Hama ini merugikan petani Inggris karena menggagalkan panen.
Foto: imago/blickwinkel
Nyamuk Aedes Berkembang Pesat
Nyamuk Aedes yang jadi vektor penyakit demam berdarah Dengue, chikungunya, dan West Nile diuntungkan dengan makin hangatnya temperatur global. Populasi nyamuk meningkat drastis dan habitatnya juga meluas hingga ke kawasan Eropa. wabah penyakit yang dulunya khas Asia atau Afrika kini juga mulai jadi masalah di Eropa.
Foto: picture alliance/Mary Evans Picture Library
9 foto1 | 9
Kompromi negara kaya
Di sisi lain, negara-negara kaya yang dipimpin oleh Uni Eropa, Jepang, dan Kanada menentang pembentukan dana baru, dengan alasan bahwa terlalu banyak dana akan menyebabkan fragmentasi bantuan. Mereka juga menekankan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan dana.
"Argumen negara kaya terdengar jelas, bahwa 'Ini uang dari pajak rakyat kami, jadi tidak bisa begitu saja diberikan tanpa pertanggungjawaban.' Ada juga faktor politik domestik yang mempengaruhi keputusan ini," jelas Titze.
Meskipun keputusan terbaru belum menetapkan kelonggaran mekanisme pendanaan, kesepakatan di Roma memberikan kerangka kerja untuk menentukan institusi yang akan menyalurkan dana dalam beberapa tahun mendatang.
"Keputusan ini adalah pencapaian besar dan sangat penting. Meski ada perbedaan tajam dan emosi yang kuat, komunitas global tetap bisa bersatu, bekerja keras, dan mencari solusi bersama," ujar Titze.
Bertaruh Nyawa demi Flora dan Fauna Langka
04:04
This browser does not support the video element.
Kenapa keragaman harus dilindungi?
Keanekaragaman hayati penting bagi kesehatan planet dan kelangsungan hidup manusia. Para ahli memperkirakan bahwa lebih dari 75% tanaman pangan bergantung pada serangga dan spesies lain untuk penyerbukan, sementara sekitar setengah dari obat-obatan modern berasal dari sumber daya alam.
Selain itu, hutan dan ekosistem laut berperan besar dalam menyerap karbon dioksida, membantu menahan laju perubahan iklim.
Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa spesies menghilang dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Sebuah laporan mengungkapkan bahwa populasi satwa liar rata-rata turun sekitar 73% antara 1970 dan 2020.
Aktivitas manusia seperti pertanian tidak berkelanjutan, deforestasi, dan polusi disebut sebagai penyebab utama. Para ahli khawatir, dunia alami semakin mendekati titik kritis yang dapat membawa dampak tak terbalikkan dan bencana bagi manusia dan lingkungan.
"Kita sering keliru menganggap keanekaragaman hayati sebagai isu sampingan yang tidak memiliki dampak politik besar," kata Florian Titze dari WWF Jerman. "Padahal, jika kita melihat masyarakat, ekonomi, keamanan, bahkan kesehatan, semuanya bergantung pada alam."
Tanaman obat sudah dimanfaatkan manusia sejak ribuan tahun. Di era pengobatan modern, tanaman masih memainkan peran penting. Namun, kini 4000 tanaman obat terancam punah.
Foto: Fotolia/StefanRiedmüller
Pengobatan Tradisional dan Modern
Kebutuhan akan tanaman obat berdampak buruk. Menurut Serikat Perlindungan Alam se-dunia, sekitar 4000 dari 70.000 tanaman obat terancam punah. Organisasi lingkungan menuntut penanaman jenis tanaman tertentu.
Foto: picture-alliance/dpa
Enak dan Sehat
Artichoke sudah dimakan sejak jaman Mesir kuno dan menyebar ke Eropa melalui orang Yunani dan Romawi. Sayur ini membantu mengatasi keluhan pada lambung. Ini karena kelopaknya mengandung flavonoid dan rasa pahit yang digunakan sebagai ekstrak kering atau jus sayur.
Foto: CC-BY-SA-Brunswyk
Lindungi Kandung Kemih dan Ginjal
Bagian atas dan pinggir daun nettle ditumbuhi bulu-bulu halus yang hanya nampak bila dilihat dari jarak sangat dekat. Bila bulu-bulu ini tersentuh dapat menimbulkan rasa gatal, perih dan panas yang cukup menyengat. Tapi tanaman ini bermanfaat untuk mengobati penyakit kandung kemih, rematik, dan batu ginjal.
Foto: CC-BY-SA- Adampauli
Penguat Kekebalan Tubuh
Pengobatan tradisional Cina mengenal akar ginseng sejak lebih dari 2000 tahun. Di Eropa boom ginseng baru dimulai abad 20. Ginseng berasal dari Asia Timur mayoritas diimpor dari Korea. Tumbuhan ini memperkuat kekebalan tubuh, mengatasi rasa lelah, stres dan influenza.
Foto: CC-BY-SA-Lohrie
Jaga Lambung dan Usus
Kamomil berasal dari Eropa. Kuntum dan minyak eteriknya bisa mengobati keluhan lambung dan usus, serta infeksi pada kulit. Teh kamomil mempunyai efek menenangkan.
Foto: Fotolia/chulja
Penyelamat Hati
Dandelion tumbuh di daerah beriklim sedang di Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Akar tanaman Dandelion diyakini memiliki efek pencahar ringan dan sering digunakan untuk memperbaiki pencernaan. Dalam pengobatan tradisional, akar dan daun Dandelion digunakan untuk mengobati masalah hati.
Foto: picture-alliance/dpa
Cantik dan Menenangkan
Bunga markisa (passifloraceae), salah satu suku anggota tumbuhan berbunga, bermanfaat bagi pengobatan. Khasiatnya untuk mengatasi ketegangan, depresi ringan, gangguan tidur dan menopause.
Foto: Fotolia/StefanRiedmüller
7 foto1 | 7
Pentingnya kesadaran global
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara mulai mengambil langkah serius terhadap krisis ini. Pada KTT PBB 2022, para pemimpin dunia menyepakati target ambisius untuk melindungi 30% daratan dan lautan serta memulihkan 30% wilayah yang rusak pada akhir dekade ini.
Untuk mengukur kemajuan, setiap negara wajib menyerahkan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional, NBSAPs, pada Oktober 2023. Hingga empat bulan setelah tenggat waktu, baru 46 dari 196 negara yang mengirimkan laporan mereka. Inggris, yang baru merilis strateginya di awal KTT Roma, menjadi negara G7 terakhir yang memenuhi kewajiban ini.
Namun, Amerika Serikat belum termasuk dalam daftar, yang bersama Vatikan merupakan dua negara yang belum menjadi anggota Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB.
Meski demikian, Jill Hepp, pakar kebijakan keanekaragaman hayati dari Conservation International, melihat perkembangan ini sebagai tanda positif.
"Hampir setiap pemerintah dunia hadir dan benar-benar menganggap ini serius, dan itu sangat menggembirakan," ujarnya. "Keanekaragaman hayati bukan sekadar tentang spesies ikonik—meskipun itu penting—tetapi juga soal peran alam dalam menyediakan makanan, air bersih, dan udara yang sehat."