1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialGlobal

DWGC 2026: Jangan Hanya Menggulir, Periksa Kebenaran Informasi!

6 November 2026

DW Goes to Campus (DWGC) diselenggarakan untuk kelima kalinya dengan tema “Fact-Checking in the Era of AI: Don't Just Scroll, Verify!”. Kegiatan ini ajak mahasiswa lebih kritis menyikapi informasi di media sosial.

DW 2026 | DW Goes To Campus | Foto bersama Universitas Padjadjaran & DW Indonesia
DW Goes To Campus 2026 diselenggarakan di Universitas Padjadjaran dengan mengangkat tema “Fact-checing in the era of AI: Don't Just Scroll, Verify!”Foto: DW

DW Goes to Campus (DWGC), acara tahunan DW Indonesia yang berkolaborasi dengan berbagai universitas di Indonesia, kembali diselenggarakan untuk kelima kalinya. Tahun ini, DW Indonesia bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, untuk mengajak mahasiswa dan sivitas akademika memahami pentingnya memverifikasi informasi di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Mengusung tema "Fact-Checking in the Era of AI: Don't Just Scroll, Verify!", DWGC 2026 menyoroti kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi melalui media sosial. Selain membahas ancaman disinformasi yang dihasilkan AI, tema tahun ini hendak mengingatkan kembali para mahasiswa untuk tidak menjadi audiens pasif. Mereka didorong untuk menjadi lebih aktif memeriksa kebenaran informasi sebelum memercayai ataupun membagikannya.

Rangkaian DWGC 2026 berlangsung selama dua hari. Kegiatan diawali dengan sesi Training of Trainers (ToT) pada 2 November 2026. Sebanyak sembilan jurnalis DW Indonesia berbagi pengetahuan dan metode pengecekan fakta dengan sembilan dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (FIKOM Unpad). Di hari selanjutnya, mereka semua membagikan pengetahuan dan keterampilan cek fakta kepada mahasiswa.

Puncak DWGC 2026 berlangsung pada 4 November 2026 di Auditorium Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Acara ini diikuti oleh 90 mahasiswa serta lima peserta dari kalangan media, yang berasal dari ANTARA Jabar, detik.com, BandungBergerak, dan Koran Gala.

Dalam sesi interaktif dan lokakarya kelompok, mahasiswa diajak mempraktikkan metode verifikasi informasi serta mengidentifikasi berbagai bentuk konten yang beredar di ruang digital.

Mengapa cek fakta semakin penting di era AI?

Head of Indonesian Service Deutsche Welle, Vidi Legowo Zipperer, menjelaskan bahwa DWGC tahun ini ingin mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan informasi yang mereka temui di media sosial. Tidak hanya sekadar menggulir layar, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran konten sebelum membagikannya.

Menurut Vidi, keterampilan ini juga semakin relevan menjelang masa kampanye pemilu mendatang, ketika informasi palsu berpotensi beredar luas.

"Harapan kita, (kegiatan ini dapat) mengurangi (jumlah) orang yang langsung menyebarkan berita yang tidak benar," kata Vidi.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol bagikan.

"Tarik nafas dalam-dalam dulu, pikir tiga detik, konten ini bisa disebar apa enggak ya? Kalau enggak yakin, periksa dulu (...) karena apapun yang kita sebarkan itu berarti tanggung jawab kita," ujarnya.

Hal serupa disampaikan Head of DW Fact Checking, Joscha Webber. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya langsung menerima informasi yang muncul di linimasa media sosial sebagai sesuatu yang benar.

Ia menjelaskan, reaksi spontan untuk membagikan konten sering kali dipengaruhi emosi, baik karena merasa marah, sedih, maupun senang. Padahal, respons tersebut justru perlu diikuti dengan jeda untuk memeriksa keaslian informasi.

"Kita perlu berhenti sejenak dan berpikir, kemudian memverifikasi apakah konten yang kita lihat itu autentik atau tidak," jelas Joscha.

Ia menambahkan, AI juga dapat digunakan untuk proses verifikasi. Namun, hal tersebut tetap perlu disertai dengan sentuhan manusia.

"Teknologi AI bisa kita manfaatkan, tetapi kita juga perlu mengandalkan kemampuan manusia dan riset. Riset jurnalistik tetap relevan di era AI," katanya.

Head of DW Fact Checking, Joscha Weber, mengingatkan bahwa sebelum membagikan informasi, penting untuk berhenti sejenak dan memeriksa kebenarannya terlebih dahuluFoto: DW

Dari ruang pelatihan ke ruang kelas

Kolaborasi DW Indonesia dengan Universitas Padjadjaran tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga para dosen melalui sesi Training of Trainers (ToT).

Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Riset Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Ira Mirawati, menyambut baik kolaborasi tersebut.

"Karena kami tahu bahwa mahasiswa kami membutuhkan keterampilan itu (cek fakta) supaya (mereka) juga bisa memberitahu orang orang tentang bagaimana sih kebenaran sebuah berita," katanya.

Ira juga menilai potensi penyebaran pengetahuan ini cukup besar, mengingat setiap program studi memiliki ratusan hingga ribuan mahasiswa.

"Saya juga berharap dosen-dosen bukan hanya kemudian bermanfaat di lingkungan dalam FIKOM Unpad, (tetapi) juga mereka punya kesempatan untuk menyebarkannya melalui konten-konten, baik itu konten milik fakultas ataupun konten pribadi tentang bagaimana memverifikasi berita-berita atau konten-konten yang beredar di luar sana," tuturnya.

Sementara itu, salah satu dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Abie Besman, menilai pelatihan tersebut memberinya perspektif dan ide baru untuk mengajarkan cek fakta kepada mahasiswa.

"Saya punya banyak ide untuk mengaplikasikannya ke kuliah maupun ke semacam sertifikasi, sehingga membuat anak-anak ini juga semakin sadar," katanya.

Abie mengamati bahwa kerja kelompok selama kegiatan membuat proses cek fakta lebih efektif.

"Beberapa kali tadi saya lihat bahwa mereka saling bantu, mereka saling ukur, mereka bahkan mengadu perspektif terkait dengan bagaimana menemukan sesuatu yang baru atau fact-checking tadi, saya bilang itu tidak pernah saya temukan,” tuturnya.

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Abie Besman, mengamati bahwa cek fakta menjadi semakin efektif saat dilakukan secara berkelompokFoto: DW

Joscha Webber juga melihat pertemuan dengan mahasiswa sebagai kesempatan untuk memahami kebutuhan generasi muda dalam menghadapi persoalan informasi digital. 

"Kami ingin mengetahui mengapa topik ini penting bagi mereka, apa yang ingin mereka ketahui, dan apa yang ingin mereka pelajari dari kami," jelasnya.

Jangan hanya percaya, verifikasi!

Melalui DWGC 2026, Vidi berharap kolaborasi dengan Universitas Padjadjaran dapat memberi dampak konkret yang lebih luas, seperti mengintegrasikan cek fakta ke dalam kurikulum pembelajaran. Dengan begitu, mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan tahun ini tetap berkesempatan mempelajari cek fakta.

Harapan akan keberlanjutan acara DW Goes To Campus juga diamini oleh Abie.

"Jangan (jadi DWGC) yang terakhir. Jadi bantu-bantu saya, bantu kampus, bantu kita semua dalam menghadapi era informasi yang juga penuh tantangan ini," tutupnya.

DW Goes To Campus

01:25

This browser does not support the video element.

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait