1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialAustria

Pengalamanku Kembali ke Wina Setelah 10 Tahun

Ervyna Rizki Febrianny
8 Januari 2022

Hal yang saya lakukan di hari pertama berada lagi di kota ini adalah mengunjungi kembali apartemen tempat saya menghabiskan masa remaja. Oleh Ervyna Rizki Febrianny.

Ervyna Rizki Febrianny
Ervyna Rizki FebriannyFoto: Privat

Di Austria saya untuk pertama kalinya belajar Bahasa Jerman. Austria adalah salah satu negara yang berbahasa Jerman, selain Swiss dan tentu saja Jerman, Tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya akan tinggal di negara yang terletak di Eropa Tengah ini. Sampai suatu saat saya dan keluarga harus menetap di ibukota Austria, yaitu Vienna, untuk beberapa tahun karena alasan pekerjaan orang tua saya. Saat itulah perjalanan hidup saya yang luar biasa dimulai.

Tinggal jauh dari pusat kota

Apartemen tempat tinggal kami sekeluarga di Heiligenstädter StrasseFoto: Privat

Tak lama kami sampai di Vienna, orangtua saya mendapatkan sebuah apartemen yang terletak lumayan jauh dari pusat kota. Tidak ada orang Indonesia ataupun orang Asia lain yang tinggal di sana pada saat itu. Pada awalnya kami mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan tetangga ataupun warga lokal karena mereka terbiasa berbicara dalam bahasa Jerman, bukan Inggris. Terkadang kami memakai bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan mereka, namun mereka bukannya acuh terhadap kami tetapi menghargai usaha kami agar mereka mengerti apa yang kami sampaikan.

Saya dan keluarga tinggal di Vienna mulai tahun 2006 hingga 2009. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi berkesempatan pulang ke rumah kedua saya ini hingga sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada akhir tahun 2019, saya akhirnya kembali ke Vienna. Hal yang saya lakukan di hari pertama berada lagi di kota ini adalah mengunjungi kembali apartemen tempat saya menghabiskan masa remaja saya. Saya masih ingat benar alamat lengkap dan jalur bis, U-Bahn atau Strassenbahn apa yang harus saya naiki untuk bisa ke apartemen. Ternyata tidak ada yang berubah dari area sekitar apartemen saya. Bahkan Café Marx, tempat di mana papa saya sering bersantai dan minum Heiße Schokolade hampir setiap sore di musim dingin atau panas pun masih tegak berdiri di bawah apartemen kami. Dalam hati saya menangis bahagia melihat kembali tempat tinggal kami yang sudah lama ditinggalkan. Sebenarnya daerah ini sangat strategis, hanya dengan menggunakan Strassenbahn D, kalian akan sampai ke Zentrum atau pusat kota. Namun, kalian butuh waktu sekitar 35 sampai 45 menit untuk sampai ke Zentrum. Di daerah ini juga ada terminal U-Bahn dan bis. Biasanya saya pergi ke sekolah dengan menaiki bis 10A dari terminal Heiligenstadt dan turun di Billrothstraße, depan sekolah saya.

Berkesempatan menikmati SMA di sekolah setempat

Balik lagi ke tahun 2006 pertama kali saya masuk sekolah dengan sebagian besar siswa-siswinya warga lokal dan dari negara-negara tetangga lainnya. Saya ingat betul di dalam kelas hanya ada saya dan ketiga teman lain yang berkewarganegaraan Asia. Sebelum masuk sekolah, saya terlebih dulu les privat Bahasa Jerman dengan guru yang biasa mengajar anak-anak dari pegawai kantor tempat Mama saya bekerja. Saat itu saya merasa tidak efektif les privat dengan beliau karena sistem pengajarannya menurut saya membosankan.

Aku dan sekolahku di Wina, Billrothgymnasium Foto: Privat

Ada cerita lucu di hari pertama masuk kelas. Guru les privat Bahasa Jerman saya hanya memberikan sebuah kertas dengan tulisan "ich heiße vyna und ich komme aus indonesien” yang harus diucapkan di dalam kelas. Lalu saya hafalkan tulisan tersebut dan dibacakan di depan teman-teman sekelas saya. Kalimat tersebut singkat, jelas, dan padat. Teman-teman sekelas saya berfikir kalau saya ingin menceritakan lebih banyak lagi tentang diri saya, tidak hanya sekedar tahu nama dan di mana saya berasal. Setelah saya mengucapkan kalimat tersebut, beberapa detik satu kelas hening tidak ada suara, berharap saya akan mengatakan sesuatu lagi. Setelah itu, tiba-tiba teman-teman saya langsung bertepuk tangan dan mengucapkan "Herzlich willkommen, Vyna” (Selamat datang, Vyna). Saya hanya tersenyum menahan tawa dan duduk di kursi depan dekat papan tulis.

Di sekolah ini saya menemukan teman-teman baru yang baik dan mau membantu saya apalagi ketika awal-awal masuk sekolah. Alhamdulillah sampai saat ini kami masih bertegur sapa walaupun hanya via sosial media. Sayangnya, pada saat saya balik ke Vienna tahun 2019, teman-teman saya sedang tidak berada di Vienna. Biasanya mereka mendapat pekerjaan di luar kota atau di luar negeri. Tapi saya sangat senang bisa mengunjungi sekolah ini. Lagi-lagi, tidak ada sedikitpun yang berubah dari bangunan ini. Pintunya saja tetap berwarna biru dengan dinding bewarna earth tone. Saya amat bersyukur bisa diberikan kesempatan bersekolah di salah satu sekolah lokal terbaik di Vienna, Austria. Di sini juga saya belajar mengerti istilah-istilah slang Bahasa Jerman yang sering digunakan teman-teman saya di sekolah. Tiap hari saya catat kalimat-kalimat yang sering mereka ucapkan lalu saya hafalkan, sehingga saya tidak hanya belajar secara formal di sekolah namun juga di lingkungan sekolah supaya dapat bergaul dengan mereka. Saya merasa bahwa ketika kita ingin belajar suatu bahasa, sebaiknya kita sering bergaul dengan orang-orang lokal dan tidak malu untuk bertanya, jika kita tidak mengerti apa yang mereka katakan.

Museum etnograsi "Weltmuseum"Foto: Privat

Pertama kali menari dengan sanggar tari Indonesia di Vienna

Das Weltmuseum Vienna adalah museum etnografi dan menampung beberapa koleksi terpenting dari budaya non-Eropa. Jika kalian berkunjung ke museum ini, kalian dapat melihat patung-patung terbuat dari kayu serta instrumen-instrumen tradisional asal Indonesia maupun negara-negara lain. Di museum ini sering diadakan pertunjukan maupun pameran dari berbagai negara termasuk Indonesia. Saya berkesempatan untuk masuk ke dalam museum ini lagi karena kebetulan teman lama saya bekerja di museum ini. Pada saat istirahat makan siang, kami bernostalgia bersama dan bercerita tentang masa lalu saat masih tinggal di Vienna. Museum ini bagi saya sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya saya tampil membawakan tarian Saman dari Aceh di depan banyak orang yang penasaran dengan budaya Indonesia. Seruan penonton dan tepukan tangan mereka memberikan saya energi untuk dapat tampil sebaik mungkin. Tiap selesai satu gerakan tari saman, mereka selalu bertepuk tangan kencang dan sangat terpukau dengan penampilan kami. Saya seketika merinding dan sangat bangga menjadi orang Indonesia. 

Toko elektronik Saturn

Saturn adalah tempat menjual barang-barang elektronik dan film atau musik. Toko ini berada di dalam sebuah Mall bernama Millenium City yang terletak di dekat stasiun U6 Handelskai. Banyak yang dapat saya lakukan di dalam Mall ini. Entah untuk makan siang, menonton bioskop, ataupun melihat film-film atau musik-musik serta barang-barang elektronik terbaru.

Toko peralatan elektronik Saturn di ViennaFoto: Privat

Saturn merupakan salah satu tempat terbaik untuk saya madol atau bolos sekolah, hehe. Tapi, jika masuk sekolahpun saya pasti ke sini dulu sebelum pulang ke rumah. Saya tidak pernah merasa bosan berkunjung ke Saturn. Yang saya sering lakukan di tempat ini adalah mendengarkan musik gratis dari alat yang tersedia, menggunakan headset dengan menscan CDnya saja. Wow, teknologinya sudah advanced yaa sekitaran tahun 2006-2009. Selain itu jsaya juga sering membeli film-film dan musik-musik bagus yang kerap kali diskon, serta melihat barang-barang elektronik dan perintilannya seperti earphone yang sering saya beli karena hilang ataupun rusak. Baru-baru ini saya tahu bahwa Saturn telah berganti menjadi Media Markt. Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya ceritakan, tapi saya berharap cerita saya dapat menginspirasi kalian yang membaca untuk berwisata atau melanjutkan studi di Vienna, Austria.

*Ervyna Rizki Febrianny, lulusan Magister Sains Management di School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung ini sempat mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas di Vienna, Austria sekitar kurang lebih 12 tahun yang lalu dan akhirnya di tahun 2019 kembali ke Vienna. Melalui pengalaman ini dirinya banyak mendapatkan pelajaran berharga tidak hanya dapat menguasai bahasa Jerman namun juga membentuk pribadi yang open-minded dan mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada.

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan satu foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)