Sierra Leone mengumumkan keadaan darurat menyusul wabah virus mematikan Ebola, yang juga dicemaskan bisa menyebar ke benua Eropa dan Asia.
Foto: Cellou Binani/AFP/Getty Images
Iklan
Presiden Sierra Leone, Ernest Bai Koroma mengumumkan keadaan darurat kesehatan publik untuk mengatasi penyebaran wabah Ebola yang tercatat paling buruk sepanjang sejarah. Presiden Koroma juga memerintahkan pasukan keamanan untuk menjaga karantina wilayah yang menjadi pusat penyebaran virus mematikan tersebut.
Paket kebijakan keras mengatasi penyebaran Ebola sebelumnya diumumkan oleh negara tetangganya, Liberia pada Rabu malam.
Koroma juga mengumumkan bahwa dirinya membatalkan kunjungan ke Washington untuk acara KTT Amerika Serikat-Afrika pekan depan, akibat krisis Ebola yang menyerang negaranya.
Virus Ebola yang sangat menular bertanggungjawab atas kematian 672 orang di negara Afrika Barat: Liberia, Guinea dan Sierra Leone, demikian menurut keterangan organisasi kesehatan dunia WHO.
Ebola Dicemaskan Meluas
Kekhawatiran akan wabah Ebola di barat Afrika dapat menyebar ke benua lain tumbuh di negara-negara Eropa dan Asia. Kewaspadaan ditingkatkan setelah epidemi berada di luar kendali.
Foto: Cellou Binani/AFP/Getty Images
Kecemasan Dokter Lintas Batas
Organisasi Dokter Lintas Batas mengatakan krisis mencengkeram Guinea, Liberia dan Sierra Leone hanya akan bertambah buruk dan memperingatkan tidak ada strategi menyeluruh untuk menangani wabah Ebola terburuk di dunia selama ini.
Foto: Reuters
Asia dan Eropa waspada
Hongkong mengumumkan tindakan karantina untuk kasus-kasus yang dicurigai, meskipun seorang perempuan yang tiba dari Afrika dengan gejala serupa, setelah diuji hasilnya negatif. Sedangkan Uni Eropa mengatakan siap untuk menghadapi ancaman tersebut.
Foto: picture-alliance/dpa
Pencegahan penyebaran
International Civil Aviation Organization (ICAO) telah mengadakan pembicaraan dengan para pejabat kesehatan global tentang langkah-langkah potensial untuk menghentikan penyebaran penyakit.
Foto: DW/C.Deicke
Gejala Ebola
Hanya dalam tempo beberapa hari, Ebola dapat membunuh korban. Gejalanya, penderita mengalami demam parah dan nyeri otot, muntah, diare dan dalam beberapa kasus terjadi kegagalan fungsi organ dan pendarahan yang tak terbendung. Untuk mengetahui apakah pasien terjangkit, dilakukan tes medis.
Foto: Reuters
Merenggut nyawa
Sejak Maret 2014, telah terjadi lebih dari 1.200 kasus Ebola dan lebih dari 670 orang terenggut nyawanya di Guinea, Liberia dan Sierra Leone, demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Foto: Seyllou/AFP/Getty Images
Relawan ditarik
Korps Perdamaian AS mengumumkan menarik ratusan relawan di tiga negara yang terjangkit. Saat ini ada 102 relawan Korps Perdamaian di Guinea, 108 relawan di Liberia dan 130 orang di Sierra Leone. Mereka bekerja pada sektor pertanian, pendidikan dan kesehatan.
Foto: Cellou Binani/AFP/Getty Images
Uni Eropa bersiap
Uni Eropa melengkapi diri dan siap untuk merawat korban virus mematikan, demikian diungkapkan sumber Uni Eropa di Brussels.
Foto: picture alliance/dpa
Tak ada upaya pengentasan yang paten
Dokter Lintas Batas memperingatkan bahwa pemerintah dan badan-badan global tidak punya "pandangan yang menyeluruh" tentang bagaimana caranya untuk mengatasi wabah ini.
Foto: F. Tchuma
Dokterpun jadi korban
Seorang dokter yang bertanggung jawab atas pusat perawatan di Sierra Leone, Sheik Umar Khan, meninggal dunia pada bulan Juli 2014 akibat virus ini.
Foto: Reuters
Virus Ebola
Virus ini mampu memperbanyak diri di hampir semua sel inang. Khususnya kelelawar mampu menularkan virus tersebut. Manusia yang menyentuh hewan sakit atau mati, akan tertular penyakit yang sama. Virus Ebola berasal dari hutan tropis di Afrika Tengah dan Asia Tenggara. Mereka termasuk famili Filovirus. Artinya, di bawah mikroskop elektron terlihat sebagai benang panjang yang tipis.
Foto: picture-alliance/dpa
Menghindari penularan
Salah satu kiat menghindari penularan virus Ebola, adalah dengan menjaga kebersihan. Mencuci tangan ataupun menggunakan sarung tangan menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan di wilayah dimana terjadi wabah.
Foto: picture-alliance/dpa
11 foto1 | 11
Mengancam Eropa dan Asia
Sementara itu, dikhawatirkan wabah Ebola bisa menyebar ke benua lain. Organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) mengatakan krisis yang menyengkeram Afrika Barat itu hanya akan menjadi lebih buruk dan memperingatkan tidak ada strategi menyeluruh untuk menangani wabah terburuk Ebola yang pernah terjadi di dunia ini.
Bart Janssens, direktur operasi MSF memperingatkan bahwa pemerintah dan negara-negara serta organisasi internasional tidak punya “cara pandang menyeluruh“ tentang bagaimana mengatasi wabah ini.
"Epidemi ini belum pernah terjadi sebelumnya, benar-benar di luar kendali dan situasi ini hanya akan memburuk, karena (virus) masih menyebar, terutama di beberapa titik di Liberia dan Sierra Leone,” kata dia.
“Jika situasi ini tidak membaik dengan cepat, ada resiko nyata negara-negara baru akan tertular,” kata dia kepada harian La Libre Belgique.
Pemerintah Hong Kong mengumumkan akan mengambil langkah berupa karantina untuk kasus-kasus yang dicurigai, meski seorang perempuan yang tiba dari Afrika dengan gejala yang mirip Ebola, setelah diuji laboratorium, hasilnya negatif.
Organisasi penerbangan sipil internasional (ICAO) telah melakukan pembicaraan dengan para pejabat kesehatan dunia terkait langkah-langkah yang bisa diambil untuk menghentikan penyebaran Ebola.
Di Inggris, di mana salah seorang telah diperiksa laboratorium dan dinyatakan negatif, Menteri Luar Negeri Philip Hammond mengatakan kasus ini merupakan “sebuah ancaman serius”.
Sebuah pertemuan darurat telah diputuskan bahwa pendekatan terbaik adalah menyediakan ”sumber daya tambahan untuk mengatasi penyakit di sumbernya” di Afrika Barat, kata dia.
Ebola bisa membunuh korban hanya dalam hitungan hari, ditandai demam tinggi dan nyeri otot, muntah, diare, dan dalam beberapa kasus terjadi kegagalan fungsi organ tubuh dan pendarahan tanpa henti. (Baca: Misteri Virus Mematikan Ebola)
Sejak Maret, ada 1.201 kasus Ebola dan 672 diantaranya berakhir dengan kematian, demikian menurut data WHO.