Ebola di Kongo: Catatan dan Protokol Perburuan Sumber Virus
17 September 2026
Wabah Ebola akibat varian Bundibugyo resminya diumumkan muncul di Republik Demokratik Kongo pada 15 Mei tahun ini. Namun, berbagai temuan menunjukkan infeksi pertama kemungkinan terjadi jauh lebih awal.
Seberapa jauh awal epidemi ini dapat ditelusuri masih menjadi perdebatan. Meski begitu, satu hal nyaris tak terbantahkan: respons awal otoritas Kongo dinilai tidak optimal. Sejumlah organisasi internasional menyoroti keterlambatan penanganan, padahal negara tersebut telah mengalami 17 kali wabah Ebola dan selama ini kerap menonjolkan kapasitasnya dalam menghadapi penyakit tersebut.
Peringatan pertama dari WHO
Jejak kronologi mula-mula dapat ditelusuri melalui garis waktu yang direkonstruksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Africa CDC.
Menurut kedua lembaga itu, kasus pertama yang kemudian diidentifikasi secara retrospektif adalah seorang tenaga kesehatan di Mongbwalu, Provinsi Ituri. Berdasarkan sumber yang mereka rujuk, orang tersebut mulai menunjukkan gejala khas Ebola sekitar 24 atau 25 April. Dia kemudian meninggal dunia di sebuah pusat kesehatan di Bunia, ibu kota Ituri. Hingga kini, sekitar 80 persen kasus tercatat berasal dari provinsi di timur laut Kongo tersebut.
Baru pada 5 Mei WHO menerima laporan mengenai kemunculan penyakit tak dikenal dengan tingkat kematian tinggi di Mongbwalu. Sebelum pemerintah Kongo mengeluarkan pernyataan resmi, WHO lebih dahulu menerbitkan peringatan. Organisasi itu menyatakan telah memperoleh informasi tentang "wabah penyakit tidak dikenal dengan tingkat fatalitas tinggi di distrik kesehatan Mongbwalu”, termasuk kematian sejumlah tenaga medis.
Kinshasa bereaksi
Sepuluh hari kemudian, tepatnya 15 Mei, hasil pemeriksaan Institut Nasional Penelitian Biomedis (INRB) di Kinshasa mengonfirmasi keberadaan virus Ebola, tepatnya varian Bundibugyo yang relatif lebih jarang ditemukan. Pemerintah kemudian mengumumkan wabah Ebola ke-17 di Republik Demokratik Kongo.
Tiga hari berselang, Africa CDC menyoroti lambannya respons pemerintah. Jarak antara munculnya gejala pada kasus indeks yang diduga pertama dengan konfirmasi laboratorium terhadap virus Bundibugyo mencapai sekitar tiga pekan. Padahal korban merupakan tenaga kesehatan.
"Penundaan yang signifikan ini menunjukkan bahwa kecurigaan klinis di kalangan petugas kesehatan setempat pada awalnya sangat rendah. Kondisi tersebut memungkinkan penyebaran geografis yang lebih luas sebelum langkah pengendalian diterapkan,” tulis Africa CDC.
Sejumlah kesaksian yang dihimpun DW menunjukkan warga Mongbwalu sebenarnya telah melaporkan kematian mencurigakan sejak akhir April. Koordinator masyarakat sipil Provinsi Ituri, Dieudonné Lossa Dekhana, mengatakan beberapa kematian terjadi setelah pasien mengalami demam tinggi dan sering kali ditemukan jejak perdarahan pada berbagai bukaan tubuh korban.
Palang Merah: "Kepanikan umum” sejak 30 Maret
Sejumlah indikasi bahkan menunjukkan penyakit ini mungkin telah beredar lebih lama.
Dalam laporan yang diterbitkan Palang Merah Republik Demokratik Kongo pada 16 Mei 2026 disebutkan, "sejak 30 Maret 2026 telah terjadi kepanikan umum di kalangan penduduk distrik kesehatan Mongbwalu setelah serangkaian kematian”.
Gejala yang dilaporkan juga menyerupai Ebola: demam tinggi, nyeri dada, kelelahan berat, batuk berkepanjangan, mimisan, muntah, kehilangan kesadaran, koma, hingga kematian.
Laporan tersebut menambahkan bahwa pemicunya diduga adalah jenazah seorang warga Mongbwalu yang meninggal di Bunia. Jenazah itu sempat ditempatkan dalam peti yang dibeli di Bunia sebelum kemudian dipindahkan ke peti lain di Mongbwalu.
Kontak banyak orang dengan jenazah dan peti yang terkontaminasi diduga menjadi penyebab melonjaknya jumlah infeksi dan kematian yang kemudian teramati di Mongbwalu maupun Bunia.
Peneliti AS: Wabah mungkin dimulai pada Februari
Data publik yang tersedia memang belum memungkinkan penarikan kesimpulan pasti bahwa seluruh kematian tersebut berkaitan langsung dengan virus Bundibugyo. Namun, fakta itu menunjukkan adanya fenomena kesehatan yang tidak biasa di wilayah tersebut lebih dari enam pekan sebelum epidemi diumumkan secara resmi.
Dalam penyelidikan setelah pengumuman 15 Mei, muncul dugaan bahwa virus sebenarnya telah beredar jauh lebih awal. Sebuah studi yang dipublikasikan pada 11 Juni 2026 dalam Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR) oleh tim peneliti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat merekonstruksi fase awal epidemi.
Para peneliti memodelkan sejumlah skenario penyebaran selama tiga bulan berdasarkan jumlah kematian kumulatif dan berbagai asumsi kebijakan kesehatan masyarakat. Kesimpulannya cukup tegas: penularan pertama dari hewan ke manusia atau spillover antara pertengahan hingga akhir Februari 2026 dinilai "masuk akal”. Sebaliknya, asumsi bahwa wabah baru dimulai pada akhir April dinilai sulit menjelaskan skala epidemi yang telah tercapai saat studi dilakukan.
WHO sejalan dengan hipotesis Februari
Hipotesis tersebut sejalan dengan temuan terbaru WHO. Pada 10 Agustus, Direktur Regional WHO untuk Afrika, Mohamed Janabi, mengatakan analisis sekuensing genom menunjukkan wabah kemungkinan besar sudah dimulai sejak Februari 2026.
Menurut dia, sejumlah infeksi awal kemungkinan salah didiagnosis sebagai penyakit yang jauh lebih umum di wilayah itu, terutama malaria dan tifus.
Dalam wawancara dengan DW pada Agustus, Janabi juga mengakui adanya kesenjangan besar dalam pendataan kasus. "Situasi Ebola sangat katastrofik. Dalam tiga bulan, kami hanya dapat menjangkau sekitar sepertiga dari total penderita,” ujarnya.
Mungkinkah "Ebola Babi” jadi petunjuk?
Peneliti Institut Pasteur Paris, Jules Villa, yang mempelajari etnologi dan ekologi wabah penyakit, menemukan sejumlah pola menarik dari epidemi Ebola sebelumnya. Penelitiannya mengacu pada laporan masyarakat lokal yang dikumpulkan selama wabah-wabah Ebola terdahulu di timur laut Republik Demokratik Kongo.
Temuan itu menunjukkan bahwa sebelum setidaknya dua wabah Ebola sebelumnya, peternak, dokter hewan, dan warga telah melaporkan kematian hewan dalam jumlah tidak biasa bahkan sebelum muncul laporan infeksi pada manusia.
Pada 2017, sejumlah saksi antara lain menyebut fenomena yang mereka juluki "Ebola babi”, yakni tingginya angka kematian babi yang belakangan diketahui disebabkan oleh wabah pes babi.
Villa tidak mengaitkan langsung temuan tersebut dengan epidemi tahun 2026. Namun, menurut dia, pelajaran dari kasus-kasus terdahulu dapat membantu upaya pencegahan di masa depan. Pemantauan kesehatan ternak, katanya, berpotensi menjadi sinyal peringatan dini yang berguna jauh sebelum suatu epidemi terkonfirmasi secara biologis.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Prancis
Diadaptasi dari Bahasa Jerman oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid