Eco-anxiety atau rasa cemas hadapi krisis iklim makin dirasakan anak muda Indonesia. Namun, apa yang perlu dilakukan supaya narasi iklim bisa benar-benar mengajak anak muda peduli, alih-alih menambah beban mental?
Kelelahan akan paparan isu perubahan iklim menjadi nyata di kalangan anak mudaFoto: Thomas Trutschel/photothek/picture alliance
Iklan
Saat suhu terus naik dan perubahan cuaca makin tak menentu, sebagian besar anak muda Indonesia mengaku mengalami rasa cemas menghadapi krisis iklim. Survei Karbon Hero menunjukkan hampir sembilan dari sepuluh anak muda Indonesia atau 89%-nya merasa takut dan tidak berdaya terhadap masa depan bumi.
Fenomena ini dikenal sebagai eco-anxiety, bentuk kecemasan yang muncul saat seseorang menyadari ancaman krisis iklim, tapi merasa sulit untuk berbuat banyak. UNICEF menyebutnya sebagai reaksi wajar terhadap ancaman lingkungan yang nyata.
Bagi sebagian anak muda, kecemasan itu datang pelan-pelan, yakni dari berita yang melintas di linimasa, dari suhu yang makin panas, atau dari masalah banjir yang tidak kunjung surut. Buat yang lain, perasaan itu muncul sebagai kelelahan mental, rasa bersalah, dan pertanyaan tanpa jawaban. Jadi, apa yang bisa aku lakukan?
Iklan
Narasi iklim bebani anak muda, tapi butuh rasa peduli
Buat Syifa Lutfiana, yang baru saja menyelesaikan jenjang kuliah, berita tentang perubahan iklim bukan sekadar wacana di layar ponsel, melainkan sumber rasa cemas yang nyata. Dia mengaku sering kewalahan menghadapi informasi semacam itu. “Kadang aku mau ikut aksi atau donasi, tapi bingung harus mulai dari mana. Akhirnya aku cuma scroll berita dan merasa capek sendiri,” ujarnya.
Sedangkan bagi Liani, kecemasan itu makin nyata terasa. Liani yang tinggal di daerah rawan banjir, sering kali perlu menarik napas panjang setiap kali hujan deras turun tanpa henti. Menyadari bahwa dia adalah salah satu yang langsung terkena dampak perubahan iklim, membuatnya terkadang memilih untuk mengambil jeda dari paparan media sosial.
"Karena merasakan langsung, sih. Setiap hujan lebat yang enggak berhenti, rumahku langganan banjir, lalu sekarang intensitasnya makin sering. Jadi setiap baca berita perubahan iklim, jadi mikir, masa akan selamanya gini terus?" ujarnya.
Sementara itu anak muda lainnya, seperti Khusnul Purwanti, merasakan dilema yang sedikit berbeda, tapi masih berkaitan. Dia merasa cemas dan lelah, tetapi sadar bahwa anak muda tidak boleh berhenti peduli.
"Aku takut dan merasa bersalah karena belum cukup berkontribusi. Kadang aku sengaja pause biar enggak overthinking, tapi sadar juga kalau enggak boleh jadi apatis. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?” katanya.
Gabungan rasa takut, lelah, dan bersalah yang dirasakan Syifa, Liani, dan Khusnul mencerminkan kompleksitas eco-anxiety di kalangan Gen Z, yakni antara kepedulian yang besar dan tekanan mental yang kerap menyertainya.
Studi pada 1.108 remaja dan dewasa muda di Indonesia menunjukkan, ada korelasi positif antara eco-anxiety dan kepedulian mereka terhadap iklimFoto: Thomas Trutschel/photothek/IMAGO
Cara mengurai dampak psikologis di balik eco-anxiety
Perasaan cemas dan kelelahan akibat paparan berita iklim sejatinya memiliki dasar psikologis yang kuat. Kepada DW, psikolog klinis Maria Hanafie menjelaskan bahwa eco-anxiety muncul ketika individu menyadari ancaman lingkungan yang nyata, tetapi merasa kemampuan mereka untuk menanggapinya terbatas.
"Anak muda kerap mengalami konflik antara keinginan untuk peduli dan keterbatasan tindakan yang bisa mereka lakukan. Hal ini bisa memunculkan kelelahan emosional, rasa bersalah, hingga menghindari berita iklim demi menjaga kesehatan mental,” ujarnya.
Maria menekankan bahwa strategi coping yang berfokus pada makna, dapat membantu remaja dan dewasa muda menghadapi kecemasan iklim.
"Tidak ada salahnya untuk sejenak rehat, atau berbagi perasaan cemas yang dirasakan pada teman, agar tidak merasa sendiri," jelasnya, sambil menambahkan bahwa ikut serta dalam aksi lingkungan bisa jadi langkah lanjutan yang diambil.
"Melakukan kegiatan lingkungan di komunitas atau proyek kecil yang berdampak bisa meminimalisir rasa tidak berdaya dan menjaga kesejahteraan mental," ujarnya.
Studi Universitas Indonesia menunjukkan eco-anxiety lebih sering dialami oleh remaja perempuan, pelajar, dan mereka yang tinggal di kota, menandakan tekanan psikologis yang lebih besar pada kelompok ini. Studi lain dari Monash Lens juga menyoroti kurangnya kesadaran tentang dampak gelombang panas terhadap kesehatan mental, yang menambah tekanan psikologis pada generasi muda di Asia Tenggara.
10 Momentum Pemicu Aksi Perlindungan Lingkungan
Gerakan perlindungan lingkungan makin berkobar, dengan penenggelaman kapal "Rainbow Warrior" milik Greenpeace oleh Perancis 30 tahun silam. Inilah 10 momentum yang picu makin maraknya aksi perlindungan lingkungan.
Foto: picture-alliance/dpa/J. Miller/Greenpeace
Kobarkan Gerakan Anti Nuklir
10 Juli 1985 dinas rahasia Perancis gunakan ranjau laut tenggelamkan kapal Greenpeace Rainbow Warrior yang menewaskan fotografer Fernando Pereira. Kapal itu direncanakan lepas sauh dari Selandia Baru untuk memprotes ujicoba nuklir di atol Mururoa. Aksi brutal itu justru menarik lebih banyak minat pada gerakan anti nuklir. Runtuhan kapal hingga kini masih berada di dasar laut pelabuhan Auckland.
Foto: picture-alliance/dpa/R. Grace
Dimulai Dengan Musim Semi Sunyi
Buku "Silent Spring," karya ahli biologi Rachel Carson yang dipublikasikan 1962 menjelaskan dampak pestisida pada tanaman, binatang dan manusia. Buku bestseller itu berhasil memicu pelarangan insektisida DDT, yang terbukti masuk ke rantai makanan dan merusak ekosistem. Buku ini didapuk sebagai inspirasi bagi gerakan perlindungan lingkungan global.
Foto: AP
Lingkungan Jadi Agenda Politik
Konferensi PBB di Stockholm tahun 1972 menjadi pertemuan puncak pertama membahas masalah lingkungan dan menjadi titik acuan bagi politik lingkungan global. Tapi baru 1997 sukses diratifikasi Protokol Kyoto yang merupakan kesepakatan mengikat pertama bagi negara-negara industri maju untuk mereduksi kadar emisi gas rumah kaca.
Foto: picture alliance/AP Images
Jerman Tempat Lahir Partai Hijau
Pada pemilu 1983 Partai Hijau Jerman berhasil masuk parlemen. Partai Hijau yang dulu sering dilecehkan, kini jadi elemen standar politik di kebanyakan negara Eropa. Partai Hijau Jerman jadi Motor penggerak bagi sejumlah gerakan "go green". Tahun 2011 Jerman mengambil keputusan politik monumental, untuk menghentikan bertahap penggunaan energi nuklir.
Foto: picture alliance / dpa
Bencana Bhopal Bangkitkan Gerakan Akar Rumput
1984 kebocoran bahan kimia dari pabrik Union Carbide di Bhopal, India menewaskan antara 3.800 hingga 25.000 orang dan membuat cedera setengah juta orang. Bencana ini memicu gerakan komunitas akar rumput untuk bangkit melawan polusi beracun dan berbahaya.
Foto: DW/L.Knüppel/N. Scherschun
Biangnya Bencana Nuklir
Bencana meledaknya reaktor atom Chernobyl di Ukraina 26 April 1986 menjadi bencana nuklir terburuk dalam sejarah. Terjadi peleburan elemen bakar di inti reaktor dan paparan radiasi berbahaya bocor ke lingkungan sekitar. Bencana ini memicu bangkitnya kembali gerakan anti nuklir .
Foto: picture-alliance/dpa
Cemaran Minyak Exxon Valdez
1989 kapal tanker minyak "Exxon Valdez" karam di Prince William Sound, Alaska. Lebih 252.000 Barrel minyak mentah bocor ke laut mencemari pantai dan membunuh jutaan binatang. Bencana ini memicu meningkatnya kepedulian lingkungan sekaligus menjadi peringatan mengenai bahaya pemboran minyak dekat kutub utara.
Foto: CHRIS WILKINS/AFP/Getty Images
Gerakan Lingkungan Radikal
Buku "The Monkey Wrench Gang" karya Edward Abbey (1975) menginspirasi gerakan radikal aktivis lingkungan, dimana dilancarkan aksi sabotase untuk mencegah pengrusakan alam. Sebagai reaksi tandingan pada 1980 terbentuk gerakan Earth First! yang menggelar aksi langsung tanpa kekerasan. Gerakan lingkungan tanpa kekerasan tetap hidup hingga kini.
Foto: picture-alliance/dpa/R. Wittek
Bangkitnya Terorisme Ekologi
1998 kelompok Earth Liberation Front (ELF) melancarkan serangan pembakaran di kawasan wisata ski Vail, Colorado, sebagai aksi langsung untuk lindungi habitat kucing liar "lynx". Aksi radikal ini memicu munculnya istilah "Terorisme Ekologi" di Amerika Serikat. Bahkan FBI mengkategorikan ELF sebagai acaman teror domestik nomor wahid di negara paman Sam itu.
Foto: picture alliance/Asian News Network/TJ Watt
Hadiah Nobel Bagi Perlindungan Iklim
2007 Hadiah Nobel Perdamaian dianugerahkan kepada mantan wakil presiden AS Al Gore dan IPCC. Mereka diberi penghargaan atas jasanya meningkatkan kepedulian dan menyebarkan pengetahuan mengenai perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Komite hadiah Nobel menyebutkan: mereka memantapkan basis bagi aksi perlindungan iklim global.
Foto: picture-alliance/dpa/E. Jarl
10 foto1 | 10
Kampanye yang menyembuhkan, bukan menakut-nakuti
Menanggapi gelombang eco-anxiety yang melanda anak muda, banyak organisasi lingkungan kini mencoba mencari cara agar kepedulian terhadap bumi tidak menjadi beban mental, seperti yang disampaikan Afif Saputra, Campaign Manager Greenpeace Indonesia. Sebagai orang yang bekerja di organisasi non-pemerintah yang fokus pada isu lingkungan, Afif berusaha mengedepankan narasi dalam konten-konten Greenpeace tetap ramah mental bagi generasi muda, dengan tujuan mendorong keterlibatan aktif tanpa menimbulkan beban emosional berlebih.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah kampanye kolaboratif lintas platform, bekerja sama dengan figur publik seperti seniman, konten kreator, dan musisi yang dekat dengan audiens muda. Menurut Afif, kolaborasi semacam ini memungkinkan pesan lingkungan tersebar lebih luas, sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bumi bisa diwujudkan melalui cara yang kreatif dan menyenangkan. Ia menambahkan bahwa anak muda cenderung merespons kampanye yang mengajak keterlibatan, dibandingkan yang menekankan rasa bersalah atau tekanan, "pendekatan yang membuat mereka merasa bisa berkontribusi, sekecil apa pun, jauh lebih efektif dibandingkan menakut-nakuti.”
Afif juga menekankan bahwa eco-anxiety bukan hal yang harus ditakuti. Bahkan, beberapa aktivis Greenpeace sendiri mengalaminya. "It's okay to be anxious karena di Greenpeace pun, jujur ya, kami juga sering mengalami eco-anxiety. Bayangin, tiap hari melihat berita buruk,” ujarnya. "Rasa cemas itu wajar, tapi yang penting adalah bagaimana energi itu disalurkan, misalnya dengan curhat kemudian jadi diskusi, kemudian jadi bibit aksi yang positif.” Dengan pendekatan ini, Afif meyakini generasi muda tetap bisa terlibat secara konstruktif, menjaga kesehatan mental, dan melihat bahwa setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti.
Peduli Lingkungan Lewat Aksi Nyata di EcoMasjid
Gerakan cinta lingkungan berlandaskan prinsip agama salah satunya bisa dilihat dari inisiatif "ecoMasjid". Namun, hingga saat ini masih sedikit masjid di Indonesia yang tergabung sebagai bagian dari gerakan ini.
Foto: Eco Masjid
EcoMasjid: Dari masjid makmurkan bumi
Gerakan ecoMasjid diluncurkan secara resmi pada 11 November 2017 di Jakarta oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia periode 2017-2022. Gerakan ini mengutamakan konsep masjid sebagai tempat beribadah yang juga mempunyai kepedulian terhadap hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Foto: ecoMasjid
Bagian dari MUI
EcoMasjid merupakan gerakan peduli lingkungan yang berdasar pada prinsip-prinsip Islam. Inisiatif yang berada di bawah Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia (LPLHSDA MUI) ini, memiliki landasan syariah untuk setiap kampanye yang digalakkan. Di foto tampak Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin selaku Ketua MUI dan Dr. Hayu Prabowo selaku Direktur LPLHSDA MUI.
Foto: ecoMasjid
Ke seluruh penjuru negeri
Inisiatif ecoMasjid, yang berada di bawah LPLHSDA MUI, disebarkan ke komunitas masjid di seluruh Indonesia. Di foto tampak Direktur LPLHSDA MUI, Dr. Hayu Prabowo (kedua dari kiri) menyerahkan secara simbolis, panel listrik surya untuk masjid terpencil di Papua Barat. Tiga fokus utama gerakan ecoMasjid adalah energi, air dan pangan.
Foto: ecoMasjid
Saatnya beralih ke energi bersih
Masjid yang ingin menjadi bagian dari gerakan ecoMasjid bisa mendaftarkan diri dengan memenuhi persyaratan seperti yang tertera di situs web resmi ecomasjid.id. Masjid yang sudah terdaftar wajib melakukan aksi nyata dalam melestarikan lingkungan. Salah satu hal yang bisa dilakukan misalnya memanfaatkan energi bersih, seperti biogas dan listrik surya. Masjid Salman ITB adalah salah satu contohnya.
Memanfaatkan air hujan
Sistem Panen Air Hujan (PAH) diterapkan oleh masjid ramah lingkungan sebagai bagian dari usaha konservasi air. Dikutip dari ecomasjid.id, manfaat PAH diantaranya mengurangi penggunaan air tanah dan mengurangi emisi sehingga mengurangi dampak perubahan iklim dan pemanasan global. Ada banyak ecoMasjid yang menggunakan sistem ini, salah satunya Masjid dan Pesantren Al-Amanah, Wonogiri, Jawa Tengah.
Tabasta, tungku bakar sampah tanpa asap
Masjid yang tergabung dalam inisiatif ecoMasjid aktif berinovasi untuk mencari solusi masalah lingkungan. Di foto terdapat "tabasta" yang diciptakan untuk mengatasi permasalahan terkait sampah yang tak bisa didaur ulang. Sampah dibakar dalam tungku sehingga tidak menghasilkan polusi udara. Tabasta ini berada di lingkungan masjid Al Amanah di Desa Sempon, Wonogiri, Jawa Tengah.
Foto: ecoMasjid
Diakui dunia internasional
Di foto tampak Direktur LPLHSDA MUI, Dr. Hayu Prabowo memberikan pidato pada ajang "Faith for Earth" yang diselenggarakan di Nairobi, Kenya, oleh UNEA, badan lingkungan PBB. Misi gerakan "Faith for Earth" adalah untuk mendorong, memberdayakan dan melibatkan organisasi berbasis agama, di semua tingkatan, untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan ("sustainable development goals" atau SDG).
Foto: ecoMasjid
Peluncuran inisiatif ecoRamadan
Pada level personal, jemaah masjid didorong untuk mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan. Maka itu, di bulan Ramadan ecoMasjid meluncurkan gerakan "ecoRamadan", di mana jemaah diserukan untuk memerhatikan tindakan dalam kehidupan sehari-hari yang berarti besar bagi pelestarian lingkungan. Dalam poster terdapat tips yang bisa dipraktikkan jemaah agar Ramadan bisa menjadi lebih ramah lingkungan.
Foto: Eco Masjid
ecoRamadan: Gaya hidup hijau di level personal
Kampanye ecoRamadan dari ecoMasjid dilakukan secara aktif di media sosial, terutama Instagram dan Facebook. Menurut Direktur LPLHSDA MUI, Dr. Hayu Prabowo, gaya hidup berkelanjutan adalah kewajiban manusia sebagai khalifah di bumi. "Sudah menjadi tugas kita untuk menyebarkan Islam yang...memberikan rahmat ke seluruh alam ini," tegasnya. (na/ts)
Foto: Eco Masjid
9 foto1 | 9
Mengubah kecemasan jadi harapan
Bagi banyak anak muda, eco-anxiety bukan sekadar rasa takut akan krisis iklim, tapi pengalaman nyata yang memengaruhi keseharian mereka. Syifa misalnya, kadang perlu menjauh dari berita agar pikirannya tidak terbebani, sementara Khusnul menyalurkan kekhawatirannya dengan mencari informasi dan berdiskusi tentang aksi kecil yang bisa dilakukan.
Menurut psikolog klinis Maria Hanafie, "Eco-anxiety bisa menjadi sinyal penting bagi anak muda untuk bertindak, asalkan mereka diberi ruang untuk memprosesnya secara sehat.” Dengan dukungan yang tepat, pengalaman emosional ini tidak hanya bisa dikelola, tapi juga menjadi dorongan untuk berkontribusi secara nyata terhadap lingkungan.