1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiAsia

Iran: Ekonomi dalam Cengkeraman Garda Revolusi

20 Januari 2026

Gejolak ekonomi di Iran ikut membidani Revolusi Islam pada 1979. Kini, kegentingan serupa dianggap berulang. Seberapa lama rezim Republik Islam bisa bertahan dari gelombang amarah warga?

Para komandan dan anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menghadiri pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Iran di Teheran pada Agustus 2023
Jajaran perwira tinggi Garda Revolusi Iran, IRGCFoto: Iranian Supreme Leader'S Office/Zuma/picture alliance

Nilai tukar sering menjadi cermin kekuasaan. Pada 1979, ketika Revolusi Islam menggulingkan Syah Iran, satu dolar Amerika Serikat masih bisa ditebus dengan 70 rial Iran. Awal 2026, angka itu melonjak ke level yang nyaris absurd: 1,4 juta rial untuk satu dolar. Dalam waktu kurang dari setengah abad, mata uang Iran terjun bebas hampir 20 ribu kali lipat.

Kejatuhan rial bukan sekadar statistik, tapi juga dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Inflasi merangsek mendekati kisaran 50%. Barang impor menghilang dari toko dan supermarket. Listrik harus padam demi berhemat meski Iran bergelimang minyak. Dan kini, bahkan kelompok yang dulu mendorong lahirnya Republik Islam mulai berbalik arah.

Pada Desember 2025, para pedagang Bazaar Teheran, tulang punggung ekonomi tradisional sekaligus sekutu historis Revolusi Islam, meluapkan frustrasi di jalan-jalan. Mereka memprotes krisis ekonomi yang tak kunjung reda.

"Kami menderita. Kami tak bisa mengimpor barang karena sanksi Amerika, dan karena ekonomi dikuasai Garda Revolusi. Mereka hanya memikirkan keuntungan sendiri,” ujar seorang pedagang kepada Reuters, meminta namanya disamarkan.

Masalah Iran tak berhenti pada sanksi. Infrastruktur energi sudah menua dan mulai rapuh. Pemadaman listrik akibatnya menjadi rutinitas. Sementara subsidi, keputusan yang langsung menghantam keluarga dan pelaku usaha. "Iran kesulitan memenuhi kontrak sosialnya sendiri,” kata Andreas Goldthau dari Universitas Erfurt, Jerman, kepada Deutsche Welle.

Revolutionary Guard has 'massive' role in clampdown: expert

06:23

This browser does not support the video element.

Ekonomi dalam genggaman seragam

Jantung persoalan terletak pada struktur ekonomi yang menyatu dengan elite politik. Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menjelma kekuatan ekonomi raksasa. Bersama jaringan yayasan keagamaan — Bonyads — mereka menguasai proyek-proyek infrastruktur, sekolah, farmasi, hingga industri berat.

Pun nama "Khatam al-Anbiya” atau "Stempel Sang Nabi” bukan mengacu kepada artefak sejarah, melainkan konglomerat konstruksi dan industri terbesar di Iran, berada di bawah kendali IRGC. Dari minyak, klinik medis, pelabuhan, hingga bandara, hampir tak ada sektor yang luput.

IRGC memungut keuntungan dari setiap penumpang pesawat, setiap kontainer, setiap kegiatan ekspor dan impor. Mereka memiliki maskapai seperti Mahan Air, saham dominan di perusahaan telekomunikasi TCI, dan kepentingan di MTN Irancell, bersama lingkaran dekat Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Mereka juga dituduh sebagai jaringan penyelundupan terbesar: mengirim minyak ilegal ke Cina, menyelundupkan alkohol ke dalam negeri.

"Anak-anak mereka hidup di Barat. Anak-anak kami di kuburan atau penjara,” kata Gohar Eshghi, ibu blogger Sattar Beheshti yang tewas disiksa di penjara, dalam sebuah video yang beredar luas.

Seberapa besar kendali IRGC? Tak ada jawaban pasti. Jaringan perusahaan milik Garda Revolusi dikenal buram, bertingkat, dan nyaris tanpa pengawasan. "Sejak akhir 2000-an, IRGC dan Bonyads adalah aktor ekonomi dominan,” ujar Kayhan Valadbaygi dari International Institute of Social History, Amsterdam. Menurut hitungannya, akhir 2010-an mereka telah menguasai sekitar 50% PDB Iran dan kini "jauh di atas setengah”.

Campur tangan mereka terasa bahkan di sektor digital. Ketika startup iklan baris Divar hendak melantai di bursa, IRGC memblokirnya, meski tak memiliki saham. "Setiap kali ada yang mulai menghasilkan uang, selalu muncul organisasi seminegara yang ikut campur,” keluh seorang pengusaha kepada Washington Post.

Kanselir Jerman Merz Kecam Iran

00:48

This browser does not support the video element.

Titik nadir Republik Islam?

Protes di jalan-jalan kota masih bergulir. Berapa lama? Tak ada yang tahu. Karim Sadjadpour dari Carnegie Endowment menyebut jumlah orang tak puas terus bertambah. Dia menyebut penguasa Iran sebagai "rezim zombi, dengan ideologi yang sedang sekarat, legitimasi sekarat, ekonomi sekarat, dipimpin diktator berusia 86 tahun, tapi masih mampu menggunakan kekerasan mematikan."

Kekerasan itu, kata Sadjadpour, hanya menunda penguburan rezim. Perubahan hampir pasti, apalagi dengan usia Khamenei yang menua dan suksesi yang tak jelas.

Bagi Valadbaygi, kunci bukan pada harga minyak, apalagi intervensi militer Amerika. Iran telah bertahan dari harga minyak di bawah USD50 per barel. Yang menentukan adalah satu hal: apakah Iran masih bisa menjual minyaknya di tengah sanksi AS. "Harga rendah menyakitkan, tapi bisa ditahan. Terhentinya ekspor minyak hampir total — itulah yang mematikan.” 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait