1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiJerman

Ekonomi Lesu, Dunia Usaha Jerman Dilanda Frustrasi

13 Mei 2026

Tak ada kelompok yang berharap lebih besar pada pemerintahan Kanselir Friedrich Merz selain komunitas bisnis Jerman. Namun, bagaimana kondisi dunia usaha Jerman satu tahun setelah Merz menjabat?

Papan berwarna kuning bertuliskan "Insolvenz" atau kebangkrutan. Di bawahnya terdapat papan berwarna putih dengan tulisan "Krise" atau krisis.
Perekonomian Jerman berada dalam mode krisis, di mana banyak perusahaan mengkhawatirkan insolvensiFoto: MICHAEL BIHLMAYER/CHROMORANGE/picture alliance /

Ketika Friedrich Merz dinobatkan sebagai kanselir pada Mei 2025, ruang-ruang dewan perusahaan dipenuhi optimisme. Pemimpin partai konservatif Uni Kristen Demokrasi (CDU) itu datang dengan janji besar: Sebuah “titik balik ekonomi.”

Di bawah kepemimpinannya, Merz menegaskan bahwa setiap keputusan politik akan diuji dengan satu pertanyaan sederhana: apakah kebijakan itu memperkuat daya saing ekonomi Jerman?

Janji itu terdengar masuk akal. Sebelum kembali ke dunia politik, Merz lama berkecimpung di dunia bisnis. Ia menjabat sebagai ketua dewan pengawas BlackRock di Jerman selama empat tahun, dan pernah menulis sebuah buku berjudul “Berani Merangkul Kapitalisme yang Lebih Besar.”

Sebagai kandidat kanselir, Merz berjanji bahwa tidak akan ada lagi “politik kiri di Jerman,” dan tak lama setelah menjabat, ia menyerukan efisiensi ekonomi yang lebih besar. “Kita tidak akan mampu mempertahankan kemakmuran negara ini hanya dengan mengandalkan minggu kerja empat hari dan keseimbangan kehidupan kerja.”

Pada pertengahan Mei 2025, para pengusaha dan manajer merayakan pernyataan itu dalam Economic Day, sebuah acara yang diselenggarakan oleh Dewan Ekonomi CDU.

Dengan sekitar 13.000 anggota dari kalangan dunia usaha, Dewan Ekonomi bukanlah komite partai, melainkan asosiasi lobi yang mewakili kepentingan bisnis dan memposisikan diri sebagai penasihat CDU. Dari 2019 hingga 2021, Friedrich Merz sendiri pernah menjabat sebagai wakil presiden lembaga tersebut.

Namun, setahun kemudian, suasana berubah.

Punya Jutaan Pengangguran, tapi Jerman Kekurangan Pekerja

01:35

This browser does not support the video element.

Jerman sebagai pusat industri “di ambang ancaman eksistensial”

Dari sudut pandang ekonomi, Merz dipandang gagal pada tahun pertama masa jabatannya, dengan hanya sedikit realisasi dari janji besar yang ia lontarkan.

Federasi Industri Jerman melaporkan: “Hampir tidak ada reformasi struktural mendesak yang telah diumumkan yang benar-benar diimplementasikan. Tidak ada rencana menyeluruh untuk reformasi konkret guna mendorong pertumbuhan dan daya saing.” Lembaga itu menambahkan bahwa posisi Jerman sebagai pusat industri berada “di bawah ancaman eksistensial.”

Asosiasi dan Kamar Dagang Industri Jerman yang terutama mewakili usaha kecil dan menengah, menyatakan: “Jerman kini dipandang sebagai negara dengan birokrasi yang kompleks dan mahal. Di banyak negara lain, kondisi untuk investasi dan inovasi jauh lebih baik.”

Jörg Dittrich, presiden Konfederasi Kerajinan Tangan Jerman, dalam wawancara media menyebut adanya “frustrasi reformasi alih-alih pemulihan ekonomi.” Beban dalam operasional bisnis sehari-hari “cenderung bertahan, dalam beberapa kasus bahkan meningkat, tetapi jelas tidak berkurang.”

Setahun setelah pemerintahan baru dimulai, harapan awal akan kebangkitan ekonomi berubah menjadi “kekecewaan yang nyata dan di banyak tempat menjadi rasa frustrasi yang jelas” di sektor kerajinan.

Bahkan, jumlah kebangkrutan di Jerman kini kembali mencapai tingkat seperti setelah krisis keuangan lebih dari satu dekade lalu. Ekonomi stagnan, pertumbuhan tidak terlihat, dan kepercayaan terhadap ekonomi Jerman berada pada titik terendah sejak puncak pandemi COVID-19 pada Mei 2020.

Peringatan ulang tahun Merz diwarnai sambutan dingin

Para peneliti ekonomi di ifo Institute secara rutin mengukur tingkat kepercayaan dunia usaha, dan laporan menunjukkan bahwa kepercayaan menurun di semua sektor. Ekspektasi bersifat pesimistis, sebagian besar dipicu oleh perang di Iran dan krisis yang terus berlangsung di Timur Tengah.

Harga minyak tetap tinggi, bahkan bahan bakar jet mulai langka. Blokade Selat Hormuz menyebabkan gangguan pasokan di banyak sektor, dan inflasi meningkat. Untuk sementara, harapan akan pemulihan menghilang.

Kanselir Merz sangat menyadari semua itu, begitu pula rasa kekecewaan yang meluas. “Saya tahu suasana hati di negara ini sangat buruk, bahkan sangat-sangat buruk,” ujar Friedrich Merz pada awal Mei 2026 dalam Economic Day tahun ini—tempat yang setahun sebelumnya menyambutnya dengan penuh pujian. Kali ini, sambutannya dingin, tepuk tangan pun hambar. “Saya mengakui suasana ini. Saya menerimanya, dan saya menganggapnya sangat serius.”

“Sejak Perang Dunia Kedua, mungkin belum pernah ada waktu yang lebih menantang bagi pemerintah federal, masyarakat, dan ekonomi Jerman,” ujarnya kepada Kamar Industri dan Dagang pada awal Mei.

Ia mengakui bahwa banyak hal masih harus diubah di Jerman, dan ia memahami kritik serta ketidaksabaran dunia usaha. “Saya juga memahami dorongan luas untuk melakukan sesuatu hari ini agar masalahnya selesai besok.” Namun, apa yang telah menumpuk selama bertahun-tahun dan dekade tidak dapat dibalikkan dalam sekejap. “Anda tidak mengubah sebuah negara dalam seminggu atau sebulan.”

Hal itu semakin sulit karena pemerintahan harus berjalan dalam koalisi. Bersama Partai Sosial Demokrat (SPD) yang berhaluan tengah-kiri, kubu CDU/CSU kerap berbeda pandangan dalam isu ekonomi, ketenagakerjaan, dan kebijakan sosial.

"Kaum Sosial Demokrat cenderung berpikir dalam kerangka kolektif besar,” ujar Merz, "sementara kami berpikir dalam kelompok-kelompok kecil yang produktif. Sosial Demokrat lebih percaya pada redistribusi. Kami lebih percaya bahwa kekayaan harus diciptakan terlebih dahulu sebelum bisa dibagikan.”

Kanselir Jerman itu tidak melihat alternatif yang layak selain berkoalisi dengan SPD. Ia juga menutup kemungkinan pemilu baru. “Kami bertekad untuk berhasil dengan koalisi yang ada sekarang,” katanya. “Saya bertekad kuat untuk membawa koalisi ini menuju keberhasilan.”

Namun semakin sedikit orang yang percaya Merz mampu mewujudkannya. Survei terbaru ARD Deutschlandtrend menunjukkan bahwa kepercayaan pemilih terhadap pemulihan ekonomi yang cepat merosot tajam. Hal yang sama juga terlihat di kalangan dunia usaha. Federasi Industri Jerman mencatat: “Jika perusahaan berinvestasi, mereka terutama berinvestasi di luar negeri.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Rizki Nugraha

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya