1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SejarahIndonesia

Eksil di Belanda: Dicabut Paspornya, Tak Tercabut Cintanya

1 Oktober 2025

Tak ada niat mencari cinta ketika mereka berangkat ke Moskow, hanya cita-cita dan tugas belajar dari negara. Namun sakit, dan diktat ekonomi membawa kedua pelajar ini ke perjalanan kasih selama enam dekade.

Eksil
Jarna Mansur dari Tarusan, Sumatra dan Gde Arka dari Bali Foto: Ayu Purwaningsih/DW

Dari ladang petani miskin di Tarusan dan kantor-kantor kecil di Bali, sepasang eksil bertemu di jalan panjang menuju Uni Soviet. Awalnya untuk menuntut ilmu, berlanjut saling bantu. Lalu musim demi musim, cinta tumbuh, di tengah pelajaran-pelajaran kuliah dan operasi ginjal.

Jarna Mansur dari Tarusan, Sumatra dan Gde Arka dari Bali kuliah di Moskow tahun 1962. Lalu tragedi 1965 pecah di tanah air.  Paspor Jarna Mansur dan Gde Arka yang tengah studi dicabut. Mereka lalu menikah. Lebih dari enam puluh tahun berlalu keduanya tetap bersama-mulai dari Moskow, Peking, Berlin, Oran di Aljazair hingga Amsterdam di Belanda. Tak pernah kembali sebagai warga negara, tapi tak pernah berhenti mencintai Indonesia.

Di usia menginjak 86 tahun, keduanya mengaku belum selesai berjuang memperjuangkan keadilan. Dalam pertemuan dengan Deutsche Welle (DW), pasangan eksil ini menceritakan kisah hidupnya.

Deutsche Welle (DW): Kalian itu dulu cinta pandangan pertama?

Jarna: Pertama kali bertemu Gde Arka saat persiapan studi ke Uni Soviet. Perasaan saya saat itu biasa-biasa saja. Saya berasal dari keluarga petani yang miskin di Kecamatan Tarusan, Sumatra Barat, jadi yang saya pikirkan saat mau berangkat ke Soviet itu hanya bagaimana saya mampu membantu keluarga saya secara ekonomi. Jadi apa ya artinya jatuh cinta? Yang jelas, dari awal itu, saya dan Gde Arka itu saling membantu saja. Ternyata itu yang terjadi, ketika sudah jadi pelajar kami saling bantu.

Gde Arka: Kami berjumpa untuk sekolah di luar negeri itu karena sama-sama bekerja. Dia di bagian koperasi, saya bekerja di perusahaan negara. Lalu kenalan karena persiapan sekolah, dia mau sekolah jurusan ekonomi juga, jadi saya berpikir, kita bisa bekerja sama.

Lalu kami terbang ke Moskow pada sekitar September 1962. Belajar bahasa dulu. Ternyata pada musim panas pertama, Jarna tidak enak badan dan sakit. Tahunya ada batu di ginjal. Dia harus pergi ke sanatorium, enam jam terbang jauhnya dari Moskow. Dekat Tbilisi. Karena dirawat di santorium, Jarna ketinggalan pelajaran. Saya harus membantu dia menjelaskan materi pelajaran, sehingga ia tidak tertinggal studinya.

Jarna: Di ginjal saya tumbuh batu. Dibuanglah dengan operasi. Namun setelah operasi tumbuh lagi batunya, jadi akhirnya saya sering bolak-balik ke sanatorium. Saya jadi jarang kuliah. Misal setelah enam bulan di sanatorium, saya kembali ke Moskow dan belajar dibantu Gde Arka. Saya mengikuti kuliah dari cerita dia.

Gde Arka: Karena dia sakit, semua urusan  diserahkan kepada saya. Termasuk urusan keluarga, memberitahu mereka kondisi Jarna dan lain-lain. Setelah terjadi G/30/S, kami tak bisa pulang. Tambah lama kami tambah dekat, akhirnya menjalin hubungan. Lalu kami kawin. Jadi sebelum bersama, kami menjalani proses kerja sama cukup lama. Saling bantu. Kami menikah September 1966.

Keluarga tidak menentang pernikahan kalian, karena Gde Arke keluarganya Hindu, dan Jarna dari keluarga muslim?

Jarna: Tidak ada tentangan dari keluarga saya. Keluarga saya tahu dia selalu mebantu. Hanya adik bolak-balik bilang, kenapa tidak disuruh masuk Islam saja... si Anu si anu si anu, bisa kok suaminya atau istrinya masuk Islam, saya jawab: Ya nanti sajalah.

Indonesia admits abuses, but victims say that's not enough

03:24

This browser does not support the video element.

Jarna masih muslim?

Ya, muslim KTP.

Gde Arka: Kalau di Bali tidak ada masalah.

Kalian tidak ada anak?

Jarna: Tidak ada, karena saya kan sakit. Karena kualitas dan fungsi ginjal kurang baik. Namun ia tetap setia dan baik, meski tidak bisa punya anak. Kualitas pengobatan di Soviet saat itu masih kurang. Jadi kami itu berhubungan dengan anggota-anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) atau mahasiswa dari negeri lain. Antara lain dari Republik Rakyat Tiongkok. (RRT). Ada salah seorang dari anggota PPI itu dari Sumatra Barat. Kita bertemu. Saling cerita. Terus dia bersedia membantu saya. Katanya, kalau bisa datang saja ke Peking (Beijing). Nanti saya urus. Jadi dari Moskow ke Peking mula-mulanya saya sedniri. Saya kan belum selesai sekolah. Itu tahun 1965, sebelum kudeta, saya berangkat ke Peking. Meneruskan pengobatan ginjal saya. Di sana itu. Dokter-dokter bilang sebaiknya dioperasi kembali. Walaupun saya sudah di operasi di dekat Moskow. Namun saya juga belum kelar kuliah. Akhirnya berdiskusi dengan dokter-dokter itu kami putuskan saya kembali dulu. Balik ke Moskow. Selesaikan studi. Setelah selesai. Kembali ke Peking. Akhirnya setelah menerima ijazah saya dari Universitas di Moskow. Kami terus berdoa. Kembali ke Peking tahun 1967. Lalu pindah berdua ditemani suami, enam tahun di sana sampai tahun 1973. Lalu pindah ke Berlin.

Hingga tahun berapa di Berlin?

Gde Arka: Sampai 1979 kami memutuskan pindah ke Aljazair guna mendapat pekerjaan. Berbelak bantuan kawan di sana, kami cari-cari kerja beberapa bulan. Ada perusahaan pembuatan kapal di sana. Ada yang mengajak kerja di Mozambik, tapi kami tidak mau. Di Aljazair kami tidak berhasil akhirnya kembali ke Eropa. Lalu dari Berlin lagi memutuskan pindah ke Belanda. Itu masih di tahun 1979.

Kenapa memilih ke Belanda?

Jarna: Di Belanda sudah dibentuk  Komitee Indonesië. Kita berusaha ke situ. Dapat info, banyak LSM-LSM di sana. Antara lain sempat bertemu Adnan Buyung Nasution.

Foto kenangan persiapan ke Moskow.Foto: Ayu Purwaningsih/DW

Apa yang dilakukan di Komitee Indonesië?

Di Komite Indonesia, saya membantu untuk mengedit majalah yang namanya "Indonesia Faith and Meaning .Jadi saya harus mengedit tulisan. Bersama seorang teman Belanda juga.

Kemudian majalah itu harus dikirim. Jadi disamping urusan administrasi juga membantu untuk dikirim ke langganan di Belanda, luar Belanda, sampai ke Australia dan Amerika Serikat.

Kerja apa  di Belanda? Selain di Komitee Indonesië,ada pekerjaan lain?

Jarna: Kliping koran, memilah-milah berita-berita. Apakah ini untuk ekonomi., sejarah atau budaya, semua sektor. Atau khusus tentang Indonesia. Membantu Indoc di Leiden, suatu organisasi yang mendokumentasikan apapun terkait Indonesia.

Cukup tidak gajinya?

Oh itu tak dapat gaji. Itu kerja sukarela.

Jarna hanya punya satu ginjal, namun masih aktif sehari-hari.Foto: Ayu Purwaningsih/DW

Tapi kan harus hidup. Jadi uang dari mana?

Gde Arka: Kita dapat tunjangan dari pemerintah Belanda. Waktu itu kami belum dapat izin tinggal. Jadi waktu itu, kalau tak punya izin tinggal, tidak bisa kerja. Jadi harus menunggu sampai dapat izin tinggal. Kira-kira 5-6 tahun. Selama tidak dapat izin tinggal, kami dapat bantuan. Nah selama tak kerja, kami membantu Komitee Indonesië dan Indoc.

Pertama kali setelah 5-6 tahun, Jarna kerja di kantor wali kota Amsterdam. Kalau saya bekerja di kantor sosial pemerintah juga. Bagian keuangan.

Cukup lama berarti untuk dapat kerja? Ada masa-masa yang paling berat dalam perantauan  panjang ini?

Gde Arka: Tidak ada. Di Eropa, terutama di Berlin sebagai mahasiswa asing, kami bisa kerja. Jadi kita kerja.. Bisa hidup. Tidak merasa berat. Masih bisa bantu keuangan keluarga juga. Selama bersama-sama (dengan Jarna), kami tidak merasa berat, sama-sama bekerja.

Jarna: Kami berdua saja dari awal sudah sama-sama  saling bantu. Kami mulai sama-sama dari  bawah di rantau, jadi menjaga nilai-nilai kebaikan. Itu yang tidak membuat kami merasa berat.

Waktu pulang dari Cina itu kok bisa masuk ke Berlin?

Jarna: Waktu kita datang pertama kali dari Tiongkok ke Berlin itu masuk sebagai mahasiswa. Mahasiswa di Technische Universität. Berlin-TUB. Kita dapat kartu mahasiswa. Dengan kartu mahasiswa, kita bekerja. Kayak mahasiswa abadi. Pada saat itu, pada umumnya begitu. Dan untuk dapat izin tinggal, kita harus kerja. Padahal paspor kami itu tidak diperpanjang oleh pemerintah.

Jadi paspor Indonesia itu tetap kita bawa. Paspor tua yang tidak diperpanjang. Artinya sebenarnya stateless. Tapi masih bisa dipakai. Masih bisa ke mana-mana pakai paspor itu bahkan ke Aljazair.

Nah ketika pindah dari Berlin ke Amsterdam dan menunggu di Amsterdam hingga dapat paspor, dapatnya paspor apa?

Gde Arka: Dapat paspor asylum, pencari suaka. Warnanya cokelat, beda dengan paspor Belanda. Meskipun kami bisa saja mengajukan dari semula, karena tahun kelahiran kami sebelum 1949- yang memungkinkan, sebagai orang yang disebut kawulo. Tapi seetlah empt tahun pegang paspor itu akhirnya kami ambil paspor Belanda.

Kenapa?

Gde Arka: Dengan pengertian, kalau tidak mengambil paspor Belanda, tak bisa ketemu keluarga atau mengunjungi keluarga. Sejak saat itu bisa pulang lagi ke Indonesia.

Gde Arka memegang album kenangan di rumahnya di Amsterdam.Foto: Ayu Purwaningsih/DW

Nah, bicara soal keluarga. Waktu tak bisa-bisa pulang, bagaimana tuh?

Gde Arka: Ya, dengar kabar G/30/S  kita tak bisa berhubungan dengan keluarga. Tak ada surat menyurat. Tragedi 65, tidak bisa pulang.

Jarna: Ya, perasaannya jelas enggak enak. Takut gitu ya. Sedih ya, sedih juga. Kok jadinya enggak bisa ketemu keluarga gitu. Ya, begitu. Tapi ya harus dijalani. Setengah diterimalah.

Gde Arka: Ya, karena jadi keluarga kami itu sudah dari orang-orang tua sudah sering itu jadi orang buangan. Keluarga saya, sejak zaman nenek moyang itu sudah sering dibuang. Ada Kerajaan Klungkung, ada Karangasem. Itu leluhur saya jadi orang buangan dulu. Jika dianggap salah menentang raja ya dibuang. Yang terakhir yang saya tahu pakde saya, kakak dari ayah saya dibuang ke Klungkung. Tapi karena dibutuhkan, pakde saya ditarik kembali oleh Raja Badung. Dan di Bali itu dibagi banyak kerajaan dulu.

Berakhirnya kekuasaan Presiden Sukarno ditandai oleh pembantaian massal simpatisan Partai Komunis Indonesia. Banyak loyalis Sukarno yang dipaksa mengasingkan diri di luar negeri.Foto: imago

Jadi Bli tidak down?

Gde Arka: Enggak. Karena sudah  melihat leluhur sering terjadi begitu, ya terima saja. Artinya melayani, melakukan saja.

Tapi ketika orang tua meninggal, bagaimana?

Jarna: Jadi sebelum orang tua meninggal itu kami sempat berkunjung ke daerah saya gitu. Di Sumatera Barat. Nah, pada waktu itu Ibu juga sebelumnya sudah pernah datang ke rumah ini. Dua kali ya?

Gde Arka: Kalau  saya, saat pergi ke Uni Soviet tahun 1962 musim panas, ibu saya meninggal. Tahun 1973, ayah saya meninggal. Waktu itu kita di Berlin ya? Waktu itu, begitu. Iya sedih.Tapi juga mau bilang bagaimana lagi? Karena keadaannya memaksa. Cuma kita berdoa saja. Dan berusaha bagaimana bisa berhubungan dengan keluarga, dengan adik-adik. Dan berusaha membantu mereka. Itu yang kita lakukan. Kami membantu keuangan keponakan-keponakan waktu itu. Membantu sekolah mereka.

Kalian disebut eksil. Apa arti eksil bagi kalian?

Jarna: Orang yang sengaja ditelantarkan oleh pemerintah.Orang yang tidak dianggap seperti musuh.Perasaan saya begitu. Jadi orang yang memang tidak dikendaki. Tidak dianggap. Itu dari orang kedutaan dulu bilang: Kalau bisa, janganlah pulang. Memang begitu. Terus terang begitu. Janganlah pulang ke Indonesia. Jadi memang sengaja dibuang. Bukan terbuang kita itu. Sengaja dibuang. Karena tidak diingini.

Gde Arka: Ya, mungkin ucapan Gus Dur (Ed: Mantan Presdien Abdurrahman Wahid)  yang betul. Dibilang: Keluyuran. Kelayapan. Karena tidak punya paspor, kelayapan ke mana-mana.

Kalian kini 86 tahun usianya, masih ada keinginan yang masih ingin kalian gapai?

Gde Arka: Banyak. Yang penting dulu keinginan bagaimana membangun Indonesia menjadi baik. Seperti ide Bung Karno (Ed: Presiden pertama Republik Indonesia). Apalagi kita sebagai orang asing. Hanya bisa membantu kalau yang diperjuangkan di sana.

Memang belum terbangun menjadi baik?

Gde Arka: Belum. Cita-cita itu belum terwujud. Bahwa ada perbaikan, ya. Tapi belum terwujud. Waktu saya di sana, saya juga bekerja kan sambil sekolah juga begitu. Memang sulit. Tapi ingin agar bagaimana masyarakat miskin itu bisa sekolah yang baik. Itu yang harus diperjuangkan. Itu yang masih sulit sampai sekarang.

Jarna: Keluarga saya orang miskin. Jadi saya membantu secara finansial sedikit-sedikit. Itu saya anggap sudah mulai terlaksana. Artinya sudah mulai terwujud. Tetapi ada lagi sesuatu yang saya tidak bisa wujudkan.Bagaimana mengembangkan pendidikan mereka sedikit lebih tinggi. Itu saya tidak bisa bicara lebih lanjut. Bagaimana bisa memberi semangat. Tidak bisa berhubungan langsung dengan lancar. Saya tidak banyak berpikir lagi.

Untuk saya sendiri, menurut saya, saya cuma ingin menenangkan diri saja. Mengalami proses sampai entah ke kuburan atau ke langit. Saya ingin tetap bisa berpikir terang dan jernih. Dan masih mampu tidak menjadi orang yang lupa ingatan yang betul-betul tidak bisa apa-apa.Cuma begitu saja. Jadi saya itu sekarang berusaha menenangkan diri saya, secara kerjenihan pikiran dan senang hatinya.

Gde Arka: berusaha selalu gembira. Ya, memang susah. Tapi masih dibilang masih gembira ketika bagaimana bisa berusaha membantu gerakan di tanah air. Itu yang kita usahakan,  membantu mereka kegiatan anak-anak muda di sana. Itu kita lakukan. Baik dalam bentuk memberi sumbangan, dalam bentuk materi maupun dalam hal yang lain.

Rumah kecil ini penuh dengan foto-foto dan arsip.Foto: Ayu Purwaningsih/DW

Kalian bahkan masih aktif jadi pembicara di diskusi-diskusi. Dan itu masih akan ingin dilakukan ke depan?

Jarna: Tenang-tenang saja juga. Ya, tenang-tenang itu juga bukan berarti kita tidak melakukan sesuatu yang secara fisik masih mampu dikerjakan. Jika ada diskusi, ingin mendengar. Ada ya, misalnya olahraga. Atau apalah gitu. Yang masih mampu dikerjakan.

Gde Arka: Kalau ada demonstrasi, kami ikut demo dulu ya. Sekarang ini kan sudah tidak ada yang demo. Tapi, tadinya ikut membuat, menyebarkan majalah, mengedit majalah, Sekarang, situasinya sudah lain. Jadi, mungkin kerja-kerja itu sudah lain juga bentuknya.

Apakah itu artinya perjuangan masih lanjut?

Gde Arka:

Perjuangan masih lanjut. Tidak selesai. Perjuangan itu terus. Tidak ada berhenti. Perjuangan itu jalan terus.

Jarna: Karena kemajuan itu tidak bisa dicegah. Tidak bisa ditahan.

Gde Arka: Dan cita-cita itu harus dituntut. Yang kami perjuangan itu kan keadilan. Sesuai dengan Undang Dasar 45. Keadilan sosial itu harus dibangun di tanah air. Nah, selama itu belum ditegakkan, ya kita harus perjuangkan terus.

Khususnya untuk korban 1965 bagaimana?

Gde Arka: Harus dibuka masalahnya. Siapa di belakang peristiwa 1965 itu? Kenapa orang yang tidak salah dituduh melakukan hal itu? Yang dituduh PKI, namun ada yang bukan orang PKI. yang karena kerja sebagai buruh, ditangkap. Sedangkan kita sebagai mahasiswa di luar negeri karena ikut pemerintah Soekarno, tidak boleh pulang. Paspornya cabut.

Jarna: Pahamilah apa yang terjadi masa lalu. Masa lalu masyarakat di Indonesia, apa korban itu karena kesalahannya sendiri atau ada yang orang, pelaku yang jahat di belakang itu. Itu siapa? Kebenaran itu tidak akan bisa disembunyikan. Dalang atau penyebab dari kejadian 30 September ditumpahkan kepada PKI, namun saya sampai hari ini saya tidak percaya bahwa itu adalah dalangnya PKI. Itu permainan antara pemerintah elite luar negeri dan Soeharto yang dipakai sebagai kaki tangan, ya terus terang saja, CIA Amerika Serikat, begitu saja.

Gde Arka: Dan yang pentingnya, kalau menurut undang-undang dasar, yang berhak mencabut paspor atau keluarga negaraan bangsa Indonesia itu bukan kedutaan, tapi MPR. Tapi yang melakukan itu bukan MPR. Jadi paspor kami dicabut itu sebenarnya secara hukum itu tidak legal. Itu bertentangan dengan undang-undang dasar. Masalah itu harus dibongkar di tanah air itu. Ini yang belum ada yang mau membuka masalahnya.

Jarna:  Dan masalah takut itu memang harus diatasi, bagaimana caranya itu. Takut. Ya orang memang hubungannya dengan nasib ya: Nasib hidup, makan, dan tempat tidur semua itu langsung ada hubungannya. Jadi susah antara mau menceritakan keadaan nyata sebenarnya dengan orang-orang yang hanya mau hidup. Itu pertentangan yang sangat berat di dalam diri setiap manusia. Jadi itu memang berat. Tapi kalau bisa bercerita, ya berceritalah. Itu yang menurut saya yang harus disampaikan kepada anak muda.

Gde Arka: Ada hal yang menarik mungkin ya, perlu kita pelajari. Jadi ketika terjadi pembunuhan enam jenderal (G/30/S), kami diminta kedutaan menandatangani surat pernyataan mengutuk pembunuhan enam jenderal. Kami tandatangani pernyataan itu kita mengutuk pembunuhan enam jenderal. Kemudian disuruh menandatangani lagi mengutuk pemerintah Soekarno. Kami menentang. Karena kami menentang, paspor kami dicabut. Kalau ditinjau dari segi hukum, kita kan sudah mengutuk kudeta yang dilakukan itu terhadap pemerintah Soekarno. Kita kan mendukung Soekarno. Sekarang kita disuruh mengutuk penmerintah Soekarno. Itu kan bertentangan. Itu akibatnya kami dicabut paspornya. Kalau dicabut itu artinya diambil sama sekali. Karena ada teman yang teman memperpanjang paspornya karena paspor itu sudah harus diperpanjang. Paspornya diambil, dikasih satu kertas lembaran harus pulang ke Indonesia.Karena pengalaman itu kami tidak memperpanjang.

Anda komunis?

Gde Arka: Kami nasionalis. Kami kan mendukung Soekarno, juga ide dari perjuangan Soekarno. Kita perjuangkan ideologi nonblok dan bebas aktif. Itu yang kita lakukan. Artinya selama kita belajar, kita bekerjasama sama masyarakat negara lain. Itu kita lakukan.

Kalian masih tampak sangat sehat meski ginjal Jarna tinggal satu. Apa resepnya?

Jarna: Resepnya makan sehat. Saya itu senangnya makan sayur. Sejak dahulu dari kecil itu di rumah itu kita itu, ibu bapak saya itu dapat membeli daging itu cuma sekali atau dua kali satu tahun. Karena kita tidak mampu. Jadi sayur itu sering kita cari di sekitar sekeliling rumah kita.Jadi di rumah itu, ibu saya itu kerjanya ke sawah. Jadi kita cari sayur-sayuran itu entah di sawah atau di ladang di sekitar kita. Ya antara lain paku, pakis, daun ubi jalar.

Kalian juga langgeng hingga lebih dari enam dekade, apa rahasianya?

Jarna: Itu dari sayur-sayur itu hahaha.

Gde Arka: Tetap bersama hahahaha....

Jarna: Apa ya resepnya? Saya sering bertengkar sama dia. Barang kali itu juga resep kami awet.

Gde Arka: Kalau terjadi perbedaan itu wajar. Kami pasti ada perbedaan. Tapi kami punya cita-cita yang sama. Bagaimana awalnya sama-sama kami dikirim sekolah, bagaimana nanti pulang bisa membangun Indonesia itu sesuai dengan tujuan bersekolah itu.

Jarna: Ya berantem. Ya itu pernah beberapa kali berantemnya sampai keras. Tapi habis itu kita bisa ketawa lagi. Bisa tenang lagi. Ya saling menahan diri ya. Mungkin ada sedikit pengertian-pengertian  mendahulukan kepentingan bersama, daripada egonya sendiri. Sadarlah sedikit bahwa setiap orang itu mempunyai kekurangan dan kelebihan. Jangan pernah menghina orang, jangan pernah menyakiti.

Kalian itu tidak romantis, ya?

Jarna:  Saya pikir mungkin termasuk yang romantis. Saya misalnya sering diantar.oleh dia.

Gde Arka: Ya. enggak tahu. Ya bagaimanapun kita merasa hidup miskin dulu ya. Jadiharus kerja sama. Itu yang dasarnya mula-mula. Di samping itu kita punya cita-cita yang sama, bagaimana menyelesaikan persoalan.

Tidak pernah bosan, meski tidak ada anak?

Jarna: Ya. Kadang ada juga bosan. Tapi karena dalam pekerjaan itu kita saling butuh. Jadi ya tidak bosan juga. Biasa saja. Misalnya kita di rumah ini duduk santai, tak mesti bersama.  Saya di dapur, dia di mana.

Gde Arka: Kalau dia minta ini itu, saya bantu semua. Jadi tak bosan. Tanpa dia kan lebih susah malah hahahaha.

Enam puluh tahun lebih bersama,  apa arti cinta bagi kalian?

Jarna: Aduh. Berat pertanyaannya. Apa arti cinta? Saling mengasihi. Saling menyayangi. Saling membantu. Bekerja sama dalam banyak bidang. Dalam banyak hal. Ya. Terutama dalam kesulitan. Tetap setia dalam suka dan duka.

Gde Arka: Berusaha keras mengatasi kesukaran satu sama lain. Jadi jangan karena yang satu menderita terus ditinggal. Bagaimana membantu pasangan yang sama-sama mulai dari bawah. Saya ambil contoh misalnya.Ketika dia sakit, saya harus membantunya, menyuapin dia. Dan membantu keluarga sejak belum menikah, saat masuk sanatorium, semua urusan keluarga dia diserahkan ke saya. Saya cinta sama dia.

Pernah bilang?

Gde Arka: Dulu pun sudah bilang. Saya senang sama kamu. Saya bilang begitu. Terus terang begitu sama dia. Iya. Saya bilang begitu sama dia, eh dia ketawa, hahaha.

Kalau Ibu ke Bapak?

Jarna: I love you. Selesai.

 

*Editor: Rizki Nugraha

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya