Wabah hantavirus Andes menunjukkan betapa seringnya istilah penyakit disalahpahami — dan mengapa istilah-istilah tersebut sebenarnya menggambarkan pola penyebaran, bukan seberapa berbahayanya suatu virus.
Jika SARS-CoV-2 menjadi endemik, belum tentu virus tersebut menjadi kurang berbahaya.Foto: picture-alliance/M. Schönherr
Iklan
Wabah terbaru dari hantavirus Andes yang langka kembali menarik perhatian, khususnya pada istilah yang menjadi sangat dikenal selama pandemi COVID-19: Endemik, epidemi, dan pandemi.
Konsep-konsep ini sering disalahgunakan dalam percakapan publik, tetapi dalam epidemiologi, masing-masing istilah itu memiliki makna yang sangat spesifik.
Yang terpenting, istilah ini menjelaskan bagaimana penyakit menyebar — bukan seberapa berbahaya penyakit tersebut. Jadi, apa sebenarnya arti istilah-istilah ini?
Virus tetap jadi ancaman kesehatan bagi manusia. Walaupun ilmuwan sudah berhasil temukan vaksin untuk sejumlah virus, beberapa tetap menjadi ancaman. Berikut 8 virus yang paling berbahaya.
Foto: Christian Ohde/CHROMORANGE/picture alliance
Corona SARS-CoV-2
Virus corona SARS-CoV-2 yang memicu pandemi Covid-19 tiba-tiba muncul di kota Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019. Ketika itu ratusan orang diserang penyakit misterius mirip pneumonia dengan angka fatalitas sangat tinggi. Virus corona menyebar cepat ke seluruh dunia, menjadi pandemi yang mematikan. Hingga akhir Juli 2021, sedikitnya 205 juta orang terinfeksi dan 4,32 juta meninggal akibat Covid-19.
Foto: Christian Ohde/CHROMORANGE/picture alliance
Marburg
Virus paling berbahaya adalah virus Marburg. Namanya berasal dari kota kecil di sungai Lahn yang tidak ada hubungannya dengan penyakit tersebut. Virus Marburg adalah virus yang menyebabkan demam berdarah. Seperti Ebola, virus Marburg menyerang membran mukosa, kulit dan organ tubuh. Tingkat fatalitas mencapai 90 persen.
Foto: picture alliance/dpa
Ebola
Ada lima jenis virus Ebola, yakni: Zaire, Sudan, Tai Forest, Bundibugyo dan Reston. Virus Ebola Zaire adalah yang paling mematikan. Angka mortalitasnya 90%. Inilah jenis yang pernah menyebar antara lain di Guinea, Sierra Leone dan Liberia. Menurut ilmuwan kemungkinan kalong menjadi hewan yang menyebarkan virus ebola zaire ke kota-kota.
Foto: picture-alliance/NIAID/BSIP
HIV
Virus ini adalah salah satu yang paling mematikan di jaman modern. Sejak pertama kali dikenali tahun 1980-an, lebih dari 35 juta orang meninggal karena terinfeksi virus ini. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, dan melemahkan pertahanan terhadap infeksi dan sejumlah tipe kanker. (Gambar: ilustrasi partikel virus HIV di dalam darah.)
Foto: Imago Images/Science Photo Library
Dengue
Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue. Ada beberapa jenis nyamuk yang menularkan virus tersebut. Demam dengue dapat membahayakan nyawa penderita. Antara lain lewat pendarahan, kebocoran pembuluh darah dan tekanan darah rendah. Dua milyar orang tinggal di kawasan yang terancam oleh demam dengue, termasuk di Indonesia.
Foto: picture-alliance/dpa
Hanta
Virus ini bisa diitemukan pada hewan pengerat seperti tikus. Manusia dapat tertular bila melakukan kontak dengan hewan dan kotorannya. Hanta berasal dari nama sungai dimana tentara AS diduga pertama kali terinfeksi virus tersebut saat Perang Korea tahun 1950. Gejalanya termasuk penyakit paru-paru, demam dan gagal ginjal.
Foto: REUTERS
H5N1
Berbagai kasus flu burung menyebabkan panik global. Tidak heran tingkat kematiannya mencapai 70 persen. Tapi sebenarnya, resiko tertular H5N1 cukup rendah. Manusia hanya bisa terinfeksi melalui kontak langsung dengan unggas. Ini penyebab mengapa kebanyakan korban ditemukan di Asia, di mana warga biasa tinggal dekat dengan ayam atau burung.
Foto: AP
Lassa
Seorang perawat di Nigeria adalah orang pertama yang terinfeksi virus Lassa. Virus ini dibawa oleh hewan pengerat. Kasusnya bisa menjadi endemis, yang artinya virus muncul di wilayah khusus, bagian barat Afrika, dan dapat kembali mewabah di sana setiap saat. Ilmuwan memperkirakan 15 persen hewan pengerat di daerah Afrika barat menjadi pembawa virus tersebut. (Sumber tambahan: livescience, Ed.: ml)
Foto: picture-alliance/dpa
8 foto1 | 8
Endemik: Ancaman yang terus-menerus
Penyakit yang terjadi secara rutin di wilayah tertentu disebut endemik. Ketika suatu penyakit menjadi endemik, jumlah orang yang sakit relatif tetap dari waktu ke waktu.
Iklan
Jumlah kasusnya lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, tetapi tidak meningkat seiring waktu. Dalam periode tertentu, kira-kira jumlah orang yang terinfeksi tetap sama secara berulang.
Contoh yang umum adalah malaria, yang setiap tahun memengaruhi sekitar 300 juta orang di seluruh dunia, dengan sebagian besar kasus terjadi di daerah tropis.
Endemik tidak berarti tidak berbahaya. Penyakit endemik bisa bersifat berat atau bahkan mematikan. Ciri utamanya bukan pada dampaknya terhadap individu, tetapi pada keberadaannya yang stabil dan terbatas secara geografis.
WHO: Hantavirus Tidak seperti COVID
00:37
This browser does not support the video element.
Epidemi: Terbatas pada satu wilayah
Penyebaran suatu penyakit disebut epidemi ketika terjadi dalam frekuensi yang tidak biasa di wilayah tertentu dan dalam periode waktu terbatas.
Ketika jumlah kasus suatu penyakit di wilayah tersebut melebihi tingkat yang diharapkan (endemik), maka disebut epidemi. Jika penyebarannya terbatas secara lokal, sering juga disebut sebagai wabah.
Epidemi dapat terjadi, misalnya, ketika tingkat keganasan suatu patogen berubah: Virus bermutasi dan menjadi lebih mudah menular.
Epidemi juga dapat muncul ketika penyakit baru diperkenalkan ke suatu wilayah. Syaratnya adalah penyakit tersebut dapat menular dari manusia ke manusia.
Contoh awal adalah cacar, yang dibawa ke benua Amerika oleh kedatangan orang Eropa sejak awal abad ke-16. Karena penduduk asli belum pernah terpapar patogen ini, sistem kekebalan mereka tidak mampu melawannya. Perkiraan menunjukkan bahwa hingga 90% populasi pribumi Amerika menjadi korban cacar.
Apa Itu Hantavirus?
01:45
This browser does not support the video element.
Pandemi: Penyebaran global
Jika suatu penyakit menyebar melintasi negara dan benua, para ahli menyebutnya pandemi. Ini terutama berarti bahwa pengendalian penyakit membutuhkan kerja sama antara sistem kesehatan berbagai negara. Hal ini tidak berarti bahwa penyakit tersebut pasti sangat berbahaya atau mematikan.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS, pandemi biasanya disebabkan oleh patogen baru atau jenis virus yang baru muncul. Misalnya, zoonosis — penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.
Jika suatu penyakit baru bagi manusia, sangat sedikit orang yang memiliki kekebalan. Vaksin juga belum tersedia. Hal ini dapat menyebabkan jumlah orang yang terinfeksi menjadi sangat besar.
Seberapa berbahaya atau mematikannya penyakit tergantung pada jenis virus dan kondisi kesehatan individu.
Meskipun secara persentase penyakit tersebut mungkin tidak terlalu berbahaya bagi sebagian besar orang, jumlah absolut kasus berat selama pandemi bisa sangat tinggi karena begitu banyak orang terinfeksi.
Penyakit yang sering mencapai skala pandemi adalah influenza. Pandemi influenza tahun 1918, yang dikenal sebagai flu Spanyol, menewaskan 25 hingga 50 juta orang — lebih banyak daripada korban Perang Dunia I. Flu babi (virus H1N1) juga memicu pandemi pada tahun 2009.
Namun, bahkan selama pandemi, beberapa wilayah tertentu bisa tidak terdampak, misalnya daerah pulau atau pegunungan. Akan tetapi, perjalanan udara mempercepat penyebaran pandemi.
Pertama kali terdeteksi di Cina akhir tahun 2019, COVID-19 terus bermutasi, 10 varian saat ini menjadi Variant of Concern (VoC) yang dicemaskan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Foto: Waldemar Thaut/Zoonar/picture alliance
Varian Alpha mutasi dari Inggris
Varian dengan nama ilmiah B.1.1.7 ini terdeteksi pertama kali di Kent, Inggris Raya. Beberapa peneliti menganggap varian ini jauh lebih menular dibanding virus asli SARS-CoV-2 di Wuhan, Cina. Peneliti Lembaga Molekuler Eijkman Prof. Amin Subandrio sebut varian ini sudah ditemukan pada awal Maret 2021 di Jakarta.
Foto: Hasan Esen/AA/picture alliance
B.1.351 atau Varian Beta
Mutasi jenis ini ditemukan pertama kali di Afrika Selatan pada Oktober 2021. Varian ini disebut-sebut 50% lebih menular. Vaksinasi menggunakan Novavax dan Johnson & Johnson dianggap tidak efektif menghadapi varian ini. Delirium atau kebingungan menjadi salah satu gejala varian Beta.
Foto: Nyasha Handib/AA/picture alliance
Mutasi P.1 di Brasil
Varian ini diberi nama varian Gamma oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Mutasi berasal dari kota Manaus, provinsi Amazonas, Brasil. Virus ini pertama kali terdeteksi oleh ilmuwan Jepang yang meneliti sampel seorang warga yang pulang dari Manaus pada Desember 2020.
Foto: Bruna Prado/AP Photo/picture alliance
Delta, mutasi paling menular asal India
Dengan nama B.1.167.2, Delta dianggap 50% lebih menular dibanding varian Alpha yang disebut 50% lebih menular dari virus aslinya. Varian ini pertama kali ditemukan di India pada Oktober 2020. Mutasi ini memicu gelombang kedua COVID-19 di India.
Foto: Satyajit Shaw/DW
Mutasi dari Amerika latin, Lambda
Bernama ilmiah C.37, Lambda pertama kali terdeteksi di Peru pada Agustus 2020. Pada 15 Juni 2021, WHO menetapkannya sebagai varian yang menjadi perhatian. Tercatat 81% kasus aktif di Peru pada musim semi 2021 akibat varian ini.
Foto: Ernesto Benavides/Getty Images/AFP
Mutasi varian Kappa asal India
Pada Oktober 2020, terdeteksi varian 1.167.2 di India. Gejalanya tidak berbeda jauh dengan gejala varian asli COVID-19. Namun, pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, menyebut gejala campak muncul pada awal infeksi varian ini.
Foto: Adnan Abidi/REUTERS
Eta, varian yang sama dengan Gamma dan Beta
Varian ini membawa mutasi E484-K yang juga ditemukan di varian Gamma dan Beta. Kasus pertama varian ini dlaporkan di Inggris Raya dan Nigeria pada Desember 2020. Ditemukan di 70 negara di dunia, Kanada mencatat rekor 1.415 kasus Eta pada Juli 2021.
Foto: Adeyinka Yusuf/AA/picture alliance
Varian asal New York, B.1.526
Iota merupakan satu-satunya Variant of Concern (VoC) WHO di Amerika Serikat. Dideteksi pada November 2020, jenis virus ini disebut lebih menular dari varian sebelumnya. Para peneliti menyebut varian Iota meningkatkan angka kematian 62-82% bagi para penderita COVID-19 yang berusia lebih tua.
Foto: Wang Ying/Xinhua/imago images
Varian Mu asal Kolumbia di awal tahun 2021
Dengan nama ilmiah B.1.621, varian Mu ditemukan pertama kali di Kolumbia pada Januari 2021.Varian ini sempat dikhawatirkan dapat kebal dari vaksin. Bahkan WHO memperingatkan varian ini memiliki mutasi yang lebih tahan vaksin.
Foto: AGUSTIN MARCARIAN/REUTERS
Ditemukan di Afrika Selatan, Omicron lebih gampang menular
Varian ini ditemukan di Afrika Selatan pada November 2021. Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan sebut gejala dari varian ini sangat ringan. Dilaporkan tidak ada gejala anosmia pada varian ini. Namun, 500 kali lebih cepat menyebar dibanding varian lain. (Berbagai sumber) (mh/ha)
Foto: Fleig/Eibner-Pressefoto/picture alliance
10 foto1 | 10
"Epidemi” yang bukan dalam arti sebenarnya
Istilah epidemi dan pandemi biasanya merujuk pada penyakit menular. Namun, karena memberi kesan adanya kebutuhan tindakan segera, penyakit tidak menular atau kebiasaan tidak sehat kadang juga disebut "epidemi”.
Secara ketat, penggunaan ini bersifat metaforis atau kiasan, misalnya "epidemi diabetes” atau "epidemi opioid”. Istilah ini bahkan pernah digunakan untuk menggambarkan peningkatan perilaku kriminal dalam masyarakat, dengan media menyebut "epidemi pemerkosaan”. Namun, sebagian pihak menilai bahwa penggunaan istilah ini yang tidak tepat dapat mengalihkan perhatian dari tanggung jawab pelaku.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris