280109 Kurzstreckenraketen Moskau
28 Januari 2009
Seminggu setelah pelantikan Presiden Barack Obama, ketegangan antar Amerika Serikat dan Rusia menurun. Kantor berita Rusia Interfax melaporkan Moskow menunda penempatan peluru kendali jarak pendek di Kaliningrad. Alasan penundaan tersebut, menurut seorang pejabat militer, adalah sikap pemerintah baru Amerika Serikat yang tampaknya tidak tergesa-gesa membangun sistem penangkis rudal di Eropa Timur. Menteri Luar Negeri Rusia Segej Lavrov:
"Kami juga mengamati, Presiden Obama menangguhkan soal sistem penangkis rudal - antara lain karena situasi keuangan saat ini - Obama sudah menyatakan itu sebelumnya. Ia akan menganalisa proyek ini, terutama soal efisiensi serta pendanaannya. Kami berharap, Obama mempertimbangkan usulan yang diajukan Rusia. Tahun 2007 kami mengusulkan pendirian sistem bersama Rusia, Amerika Serikat dan Eropa untuk menurunkan risiko global serangan roket."
Sistem penangkis rudal digagas George W. Bush saat ia menjabat presiden Amerika Serikat. Sampai masa jabatannya berakhir Bush mengupayakan pembangungan sistem tersebut di Polandia dan Ceko. Bulan November lalu, beberapa waktu setelah Obama menang pemilu, Presiden Dmitri Medvedev mengancam Rusia akan memasang peluru kendali jarak pendek tipe Iskander di Kaliningrad bila Washington mewujudkan rencananya. Penundaan pihak Rusia mengisyaratkan kemungkinan kerja sama lebih erat antara Moskow dan Washington di masa depan. Demikian menurut pakar militer Rusia Pawel Felgenhauer: "Itu salah satu isyarat yang belakangan kami kirim pada pemerintah Amerika Serikat di Washington, kami siap berdialog dan mencapai kesepakatan baru."
Andai Rusia dan Amerika Serikat berhasil menuntaskan debat sistem pertahanan ini dalam waktu dekat sekalipun, ini barulah suatu langkah awal. Moskow menginginkan kemitraan yang setara dengan Washington. Menurut kepala Institut untuk Studi Amerika Victor Kremenjuk, pemerintah Amerika Serikat di bawah pimpinan George W. Bush terlampau sering melangkahi kepentingan Rusia:
"Amerika Serikat harus berhenti memaksakan pandangannya pada negara lain. Tentu, Amerika Sertikat adalah negara maju yang pantas dihormati. Tapi mereka kadang kesulitan mengerti keunikan negara lain."
Hubungan Amerika Serikat dan Rusia kerap tegang. Misalnya karena perluasan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang juga merangkul sejumlah negara bekas Uni Soviet. Pakar militer Rusia Felgenhauer masih ragu apakah hubungan kedua negara dapat membaik di bawah kepemimpinan Obama:
"Tentu saja, kesepakatan masalah teknis mudah dicapai. Tapi yang diinginkan Moskow adalah hubungan politik yang lebih baik, pemisahan jelas antar ruang pengaruh masing-masing. Pembagian seperti yang dilakukan tahun 1945 tentu tidak mungkin. Mungkin itu yang menyebabkan ada keinginan untuk mencapai kata sepakat, melanjutkan dialog dan bahkan mencapai kompromi. Tapi, apakah semua masalah bisa selesai dan ketegangan itu hilang, harus dipertanyakan. Saya kira peluangnya kecil."
Harapan Rusia pada Barack Obama sangat tinggi. Ada peluang era baru diplomasi Amerika Serikat seperti yang dijanjikan Washington dapat terwujud. Pertemuan pertama antara Presiden Obama dan Presiden Rusia Medvedev baru dijadwalkan untuk April mendatang. Menteri Luar Negeri Rusia Lavrov mengatakan, keduanya akan bertemu di sela-sela pertemuan G20 di London. (zer)