Era Orban Berakhir di Hungaria, Harapan Baru Muncul
14 April 2026
Akhir era Orban dimulai dari sebuah unggahan Facebook sederhana berlatar biru pada Minggu (12/04) malam pukul 21.11 waktu Eropa Tengah.
Pesan yang diposting oleh pemimpin oposisi Hungaria, Peter Magyar, itu singkat dan langsung pada intinya: “Perdana Menteri Viktor Orban baru saja menelepon saya untuk mengucapkan selamat atas kemenangan kami.”
Meski saat itu baru sekitar setengah suara dalam pemilihan parlemen Hungaria yang telah dihitung, kekalahan telak Partai Fidesz milik Orban dan kemenangan bersejarah partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar sudah mulai terlihat jelas.
Mayoritas terbesar sejak berakhirnya komunisme
Meski memulai kampanye pemilu dari posisi yang sangat kuat setelah 16 tahun berkuasa, Fidesz pada akhirnya kalah dalam pemilu Hungaria.
Sebaliknya, Tisza meraih mayoritas dua pertiga terbesar yang pernah dicapai sebuah partai sejak berakhirnya kediktatoran komunis di Hungaria pada 1989/90. Selain itu, kemenangan tersebut terjadi dengan tingkat partisipasi pemilih yang mencapai rekor hampir 80%.
Hasil yang begitu telak ini memicu sesuatu yang selama 16 tahun pemerintahan Orban yang dinilai semakin otokratis oleh banyak orang di Hungaria dianggap hampir mustahil: hanya sepuluh menit setelah unggahan Facebook Magyar, perdana menteri yang akan lengser itu naik ke panggung dan secara singkat mengakui kekalahan di hadapan ratusan pendukungnya.
Orban mengatakan partainya akan “melayani negara dan bangsa Hungaria dari oposisi,” seraya menambahkan bahwa mereka “tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah menyerah.”
Suasana di markas partai
Tak lama kemudian, kerumunan warga yang bersorak, sebagian besar anak muda, turun ke jalan-jalan di Budapest serta kota-kota lain di seluruh negeri.
Dalam suasana yang mengingatkan pada 1989/90, puluhan ribu orang merayakan berakhirnya pemerintahan Orban.
Media daring independen terbesar di negara itu menulis tentang “akhir tirani” dan “tumbangnya sistem Orban,” atau sekadar menyatakan: “Sudah berakhir.”
Sementara itu, Peter Magyar menyampaikan pidato kemenangan selama 40 menit di hadapan ribuan pendukungnya. Pidato tersebut dipenuhi pernyataan emosional dan janji-janji besar, namun tanpa nada kemenangan berlebihan atau balas dendam. Pidato itu berisi sejumlah pengumuman cerdas sekaligus kata-kata yang menenangkan bagi mereka yang memilih Orban.
“Mulai hari ini, negara kita hidup kembali, Kita telah diberi mandat untuk membangun negara yang berfungsi dan manusiawi. Kami akan bekerja setiap menit dan setiap detik untuk mendapatkan kembali kepercayaan ini.”
“Mitra kuat bagi NATO dan Uni Eropa”
Ketika ia mengatakan bahwa Hungaria akan kembali menjadi negara Eropa dan mitra kuat bagi NATO serta Uni Eropa, massa mulai meneriakkan “Russians go home!” (berarti: Orang Rusia pulang saja!) dan kemudian “Europe! Europe!” sebagai dukungan untuk Uni Eropa.
Magyar juga menyerukan agar para pejabat tinggi negara, presiden, jaksa agung, dan dua pejabat tertinggi lembaga peradilan, mengundurkan diri. Ia berjanji akan memulihkan sistem checks and balances.
Ia juga mengulurkan tangan kepada para pemilih Fidesz: “Saya juga akan menjadi perdana menteri Anda dan memastikan bahwa kita dapat saling menerima, meskipun kita tidak memiliki pandangan yang sama.”
“Era baru”
Banyak ilmuwan politik Hungaria pada Minggu malam langsung menggunakan berbagai istilah superlatif dalam analisis awal mereka.
Pakar pemilu Robert Laszlo dari lembaga riset Political Capital menulis di Telex tentang “era baru” dan bahwa dengan mayoritas dua pertiga, Tisza dapat memulai “pembongkaran rezim Orban.”
Ilmuwan politik Daniel Rona mengatakan bahwa jika ingin mencari penyebab kekalahan Fidesz, “Orban harus bercermin.”
Memang, hasil pemilu ini hanya dapat dipahami dalam konteks bertahun-tahun sistem Orban yang dinilai arogan, sewenang-wenang, dan menyalahgunakan kekuasaan.
Perdana menteri yang akan lengser itu membersihkan aparatur negara dan administrasi publik dari pegawai negeri yang dianggap tidak loyal, serta membawa lembaga peradilan dan sebagian besar media berada di bawah pengaruhnya, sambil terus mengklaim bahwa Hungaria adalah negara paling bebas di Eropa.
Ia membangun sistem yang sangat korup, dan secara bersamaan menyatakan bahwa tidak ada yang lebih mampu membela kepentingan negara selain dirinya.
Selama era Orban, yang dimulai pada 2010 ketika Fidesz memenangkan mayoritas dua pertiga pertamanya, para pengkritik kerap dilabeli sebagai pengkhianat dan musuh bangsa.
Selama 16 tahun, banyak pengamat melihat Hungaria terjebak dalam kampanye kebencian yang seolah tak berujung, yang belakangan mencapai puncaknya dalam serangkaian tuduhan yang dianggap keterlaluan terhadap Ukraina.
Pada saat yang sama, Orban juga dituduh berupaya mendekatkan diri dengan Presiden Rusia Vladimir Putin serta para pemimpin otoriter lainnya.
Beberapa faktor di balik hasil bersejarah
Untuk waktu yang lama, banyak pengamat di Hungaria merasa bahwa hampir mustahil untuk menyingkirkan Orban secara damai melalui pemilu.
Beberapa faktor kunci akhirnya berpadu dan membuat sesuatu yang tampaknya mustahil itu menjadi mungkin, sekaligus memberikan mayoritas dua pertiga bersejarah bagi partai oposisi demokratis.
Pertama, adanya keinginan kuat dari mayoritas besar warga Hungaria untuk tidak lagi hidup di bawah sistem Orban; kedua, undang-undang pemilu yang sangat terdistorsi yang justru merugikan Orban dalam pemilu ini; ketiga, munculnya pemimpin politik yang berbakat dan karismatik; dan keempat, mundurnya hampir semua partai oposisi lain dari pemilu.
Kemungkinan besar dukungan yang semakin terbuka terhadap Orban dari Moskow dan Washington pada akhirnya juga menjadi beban bagi perdana menteri yang dinilai otokratis tersebut.
Kekalahan Orban merupakan pukulan pribadi besar bagi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena keduanya secara terbuka mendukung Orban.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah kekalahan Orban menandai awal dari berakhirnya konservatisme populis sayap kanan dan ekstremisme sayap kanan di Eropa? Masih sulit dipastikan.
Sekutu Orban, salah satu pendiri Fidesz sekaligus penulis sayap kanan ekstrem Zsolt Bayer, tampak pesimistis. Ia mengatakan pada Minggu malam bahwa Hungaria selama ini merupakan “benteng para patriot,” dan dengan runtuhnya benteng itu “harapan untuk membangun Eropa yang terdiri dari negara-negara bangsa yang kuat kini hilang untuk waktu yang lama.”
Sebaliknya, banyak pemerintahan di seluruh Eropa segera mengucapkan selamat kepada pemenang pemilu, Peter Magyar, pada Minggu malam. Mereka berharap masa veto, blokade berkepanjangan, dan agitasi kini akan berakhir dan hubungan yang lebih normal akan kembali di Uni Eropa.
Saat ini masih mustahil untuk mengatakan seberapa cepat sistem di Hungaria dapat diubah dan seberapa berhasil perubahan tersebut nantinya.
Marton Gergely, penulis sekaligus pemimpin redaksi mingguan HVG, menyatakan harapannya agar Peter Magyar tidak menyalahgunakan mayoritas parlemen yang sangat besar itu.
Ia menambahkan bahwa kini tergantung pada pemenang pemilu untuk membuktikan bahwa ia akan membangun kembali demokrasi, meskipun, seperti kata Gergely, “angka-angka yang ada sebenarnya berarti ia tidak perlu melakukannya.”
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman
Diadaptasi dari Bahasa Inggris oleh Rahka Susanto
Editor: Arti Ekawati