1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

ESA Bakal Kirim Astronaut Jerman Terbang ke Bulan

27 November 2025

Astronaut Jerman, dalam beberapa tahun ke depan berkesempatan untuk pergi ke bulan melalui program antariksa AS “Artemis”. Bagaimana reaksi Alexander Gerst dan Matthias Maurer, dua kandidat terkuat untuk misi tersebut?

Alexander Gerst und Matthias Maurer
Astronaut Alexander Gerst (kiri) dan Matthias Maurer berbicara dalam konferensi pers tentang program pendaratan bulan Argonaut. Program Argonaut merupakan bagian dari strategi bulan ESA dan ditujukan untuk mendukung misi robotik dan berawak.Foto: Oliver Berg/dpa/picture alliance

Badan Antariksa Eropa (ESA) berencana mengirim astronaut Jerman ke bulan sebagai bagian dari misi "Artemis". Hal ini diumumkan oleh Kepala Badan Antariksa Eropa (ESA), Josef Aschbacher, di sela-sela pertemuan Dewan Menteri ESA di Bremen. "Saya telah memutuskan bahwa orang Eropa pertama yang terbang ke bulan akan menjadi bagian dari program Artemis. Kami sedang mencari astronaut Jerman untuk bergabung dengan para kru program ini," ujarnya.

Meskipun belum diketahui siapa yang akan mencapai bulan dalam program ini, dua kandidat tengah dipertimbangkan, yaitu astronaut ESA Jerman Alexander Gerst (49 tahun) dan Matthias Maurer (55 tahun). Astronaut Jerman dari Badan Antariksa Eropa (ESA), Matthias Maurer, sangat berharap baik dirinya maupun rekannya, Alexander Gerst, bisa mendapat kesempatan itu.

Salah satu dari mereka akan melakukan penerbangan pertama, dan yang lain diharapkan akan mengikuti pada misi berikutnya, ujar  Maurer kepada kantor berita Deutsche Presse-Agentur (dpa). "Ini bukan tentang sekali saja pergi ke bulan untuk kemudian, misalnya, mengibarkan bendera Jerman di sana, tetapi kami ingin menjelajahi bulan, dan itu membutuhkan banyak misi.”

Ia dan Gerst sangat gembira dengan pengumuman Badan Antariksa Eropa (ESA) bahwa dalam beberapa tahun mendatang, sebagai bagian dari program "Artemis” NASA, seorang antariksawan Jerman, seorang astronaut Prancis, dan seorang lagi antariksawan Italia akan terbang menuju bulan.

Pada tahap awal, tujuannya bukan untuk menjejakkan kaki di bulan, melainkan melakukan penerbangan ke stasiun yang direncanakan bernama "Gateway”, yang akan mengorbit bulan.

Gerst: "Tetap realistis”

"Jelas, sebagai astronaut Jerman, senang rasanya mungkin bisa ikut terbang,” kata Gerst (49 tahun). "Namun, tentu saja kita harus tetap realistis. Pertama-tama ‘Artemis 2' harus terbang musim semi tahun depan.” Ini adalah misi uji penting.

Pertama-tama, ‘Artemis 2’ harus terbang musim semi tahun depan.” Misi ini merupakan misi uji penting, di mana empat antariksawan AS akan mengelilingi bulan selama sekitar sepuluh hari pada paruh pertama 2026, untuk memastikan semua sistem berjalan dengan baik. Selanjutnya, Artemis 3 dijadwalkan pada 2027 dan akan menjadi misi pendaratan manusia di bulan pertama setelah lebih dari setengah abad.

Artemis 4 direncanakan pada tahun 2028, meskipun para ahli memperkirakan kemungkinan penundaan — misi inilah yang baru memungkinkan seorang Jerman ikut. Karena ESA terlibat dalam "Artemis”, mereka dijanjikan tiga kursi untuk penerbangan ke bulan.

Siapa Menang Perlombaan di Angkasa?

03:55

This browser does not support the video element.

ESA tetapkan anggaran, Jerman ambil peran

Dalam pertemuan anggota Badan Antariksa Eropa (ESA) di Bremen tersebut, diperingatkan bahwa Eropa berisiko tertinggal dalam perlombaan antariksa. Dengan pendanaan yang jauh lebih besar, negara-negara ESA kini ingin mendorong peran Eropa dalam eksplorasi antariksa.

Anggaran tiga tahunan mendatang ESA mencapai hampir 22,1 miliar euro. Kepala ESA, Josef Aschbacher, menyebut hasil ini sebagai "cukup luar biasa”. Menteri Federal untuk Riset, Teknologi, dan Antariksa Jerman, Dorothee Bär mengumumkan kontribusi Jerman lebih dari lima miliar euro.

Aschbacher sempat menyatakan kekhawatirannya bahwa Eropa bisa tertinggal dalam bidang antariksa. Ia mengatakan: "Saya rasa pesan bahwa Eropa harus mengejar ketinggalan dan berkomitmen untuk benar-benar mendorong masa depan Eropa melalui antariksa telah ditanggapi sangat serius oleh para menteri kami.”

Anggaran yang disetujui hampir sama tingginya dengan usulan Aschbacher. Biasanya, setelah negosiasi, anggaran yang disetujui lebih rendah dibandingkan proposal ESA.

"Kita telah menulis sejarah,” ujar Aschbacher kepada 23 negara anggota ESA. Jumlah rekor ini menunjukkan bahwa antariksa sangat menarik, sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, dan semakin penting bagi keamanan serta pertahanan.

Pada  tahun 2022, negara-negara ESA telah menyepakati anggaran hampir 17 miliar euro, yang saat itu juga merupakan rekor.

Kepala ESA Josef Aschbacher dalam pertemuan ESA di Bremen.Foto: Sina Schuldt/dpa/picture alliance

Jerman penyumbang terbesar ESA

Menteri Bär menyatakan bahwa Jerman kembali menjadi penyumbang terbesar ESA. Kontribusinya naik 30 persen menjadi 5,4 miliar euro, atau jika disesuaikan dengan inflasi sekitar 5,1 miliar euro. "Terutama dalam situasi anggaran yang ketat, ini merupakan sinyal yang jelas dari seluruh pemerintah federal: Antariksa adalah investasi untuk masa depan kita.”

Selama dua hari, 23 negara anggota ESA bertemu di Bremen untuk membahas anggaran ESA ke depan dan prioritas dalam program antariksa Eropa. Bremen, Bayern dan Baden-Württemberg, merupakan pusat-pusat antariksa terpenting di Jerman.

Dalam pertemuan tersebut, para negara anggota juga memberi mandat kepada Kepala ESA Aschbacher untuk menyusun rencana dekarbonisasi sektor antariksa Eropa.

Mengingat situasi geopolitik yang sulit, mereka sepakat untuk, jika perlu, mengadakan pertemuan darurat paling lambat awal 2027 guna menyesuaikan ambisi Eropa dalam bidang antariksa.

 

*Editor: Yuniman Farid

Astronaut InI Akhirnya Kembali ke Bumi!

00:41

This browser does not support the video element.

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya