ESA Umumkan Misi Baru untuk Temukan Planet Mirip Bumi
Rebecca Staudenmaier
8 Desember 2021
Badan Antariksa Eropa (ESA) menjeaskan data yang dikumpulkan dalam misi ini dapat membantu mengetahui apakah ada kehidupan di tempat lain di alam semesta dan apakah ada planet lain seperti Bumi.
Akan diluncurkan tahun 2029, satelit 'Ariel' akan melihat lebih dekat sekitar 1.000 eksoplanetFoto: ESA
Iklan
Badan Antariksa Eropa (ESA) mengumumkan pada hari Selasa (07/12) rencana mereka untuk mengembangkan satelit baru yang akan digunakan untuk mengeksplorasi eksoplanet, yakni planet yang berada di luar tata surya kita.
Ini adalah misi eksplorasi eksoplanet ketiga yang direncanakan ESA, berkolaborasi dengan perusahaan kedirgantaraan Eropa, Airbus, dalam rencananya membangun dan mengembangkan satelit baru tersebut.
Apa tujuan dari misi ini?
Satelit yang dikembangkan yang diberi nama "Ariel" — kependekan dari Atmospheric Remote-sensing Infrared Exoplanet Large-survey — akan diluncurkan pada tahun 2029 mendatang.
Iklan
Eksoplanet adalah planet yang mengorbit sebuah bintang atau bintang di luar tata surya kita. Selama empat tahun, satelit Ariel akan mengumpulkan data sekitar 1.000 eksoplanet, demikian kataESA dalam sebuah pernyataan .
Ini adalah misi pertama yang semata-mata didedikasikan untuk mengumpulkan data tentang komposisi kimia dan struktur termal eksoplanet, dan bagaimana bintang induknya memengaruhi evolusi planet.
Data tersebut akan membantu para ilmuwan lebih memahami tahap awal bagaimana planet dan atmosfernya terbentuk dan dapat menunjukkan apakah ada kehidupan di luar Bumi.
"Mereka dapat membantu kita mengetahui apakah ada kehidupan di tempat lain di alam semesta kita dan apakah ada planet lain seperti Bumi," ungkap ESA.
Ariel akan mengikuti dua pendahulunya, yakni Cheops yang diluncurkan pada tahun 2019, dan Plato yang dijadwalkan diluncurkan pada tahun 2026.
Desain satelit ArielFoto: Airbus/ESA
Bekerja sama dengan Airbus
Airbus telah menandatangani kontrak dengan ESA untuk merancang dan membangun satelit "Ariel".
"Dengan tonggak pencapaian misi Ariel ini, kami merayakan kelanjutan hubungan luar biasa dengan mitra industri kami untuk menjaga Eropa tetap terdepan dalam keunggulan di bidang penelitian planet ekstrasurya hingga dekade berikutnya dan seterusnya," kata direktur sains ESA, Günther Hasinger, dalam sebuah pernyataan.
Menurut ESA, satelit akan dibangun dan dirancang di dua fasilitas Airbus yang terletak di Toulouse, Prancis, dan Stevenage di Inggris.
Jean-Marc Nasr, Kepala Sistem Luar Angkasa di Airbus, mengatakan perusahaan memiliki "pengalaman luas" dalam memimpin misi sains yang akan membantu pembangunan Ariel.
7 Hal yang Perlu Diketahui tentang Badan Antariksa Eropa
Kita akan memasuki dekade luar angkasa baru. Badan Antariksa Eropa ESA sudah menyiapkan berbagai misi terbaru, yang diyakini dapat menemukan solusi terkait perubahan iklim hingga meningkatkan jaringan 5G.
Foto: picture-alliance/dpa/F.Gambarini
Terbang menjauh dari Bumi
Menyambut dekade yang baru, Badan Antariksa Eropa (ESA) menyiapkan anggaran terbesar untuk misi lebih jauh lagi mengeksplorasi luar angkasa. Misi-misi yang disiapkan diharap membuat manusia dapat memahami lebih baik hal-hal yang sedang terjadi di Bumi. Misalnya memonitor hal-hal yang sulit untuk dipahami dari Bumi, seperti penyebaran kebakaran hutan dan dampak bencana alam.
Foto: NASA/NOAA
Memperkenalkan jaringan non-terestrial
Apa hubungannya dengan jaringan 5G? ESA mengklaim merencanakan pengembangan sistem satelit yang akan digunakan bersama jaringan 5G. Ini adalah generasi terbaru jaringan komunikasi nirkabel. Semua akan terhubung secara online, di mana saja dan kapan saja. Keren atau menakutkan?
Foto: picture-alliance/AP Photo/EA/ATG MEdialab
Bersih-bersih ruang angkasa
Sejak era misi penerbangan antariksa dimulai di tahun 1957, ruang angkasa terus dipenuhi sampah puing-puing bekas satelit dan benda lain. ESA menyatakan pihaknya berencana mengatasi masalah ini dengan misi membersihkan sampah antariksa secara aktif dan terus menerus. Lebih dari 34.000 objek yang lebih besar dari 10 cm mengorbit bumi, yang setidaknya harus ditangkap dan dimusnahkan.
Foto: ESA
Gerbang menuju antariksa
Stasiun ruang angkasa yang direncanakan mengorbit bulan bernama Gateaway akan dibangun pada tahun 2020-an. Dari stasiun tersebut, bulan akan diamati lebih dekat dan stasiun itu akan menjadi pangkalan untuk penerbangan eksplorasi yang lebih jauh. Salah satu misi yang sudah direncanakan adalah JUICE yang akan memulai perjalanannya ke Jupiter pada tahun 2022.
Foto: ESA
Menghentikan asteroid yang akan bertabrakan?
Untuk mengetahui apa yang diperlukan untuk membelokkan asteroid dari jalurnya, NASA dan ESA sedang merencanakan misi eksplorasi. Satu asteroid yang menjadi fokus adalah Didymos. Misi yang bernama HERA ini kemudian akan mengukur impak tabrakan dengan tepat.
Foto: ESA
Sistem pengangkut dan pesawat ruang angkasa terbaru
Roket Ariane 6 akan jadi wahana pengangkut baru dari Eropa yang membawa kargo ke luar angkasa mulai akhir 2020. Dilengkapi dengan kapsul yang dapat memisahkan unitnya, UE ingin mengamankan akses independennya ke ruang angkasa. ESA sedang membangun Space Rider, sebuah laboratorium antariksa ulang-alik yang akan kembali ke Bumi setelah menyelesaikan misi.
Foto: ESA
Lebih jauh, lebih jauh dan lebih jauh lagi!
ESA menyatakan ingin melangkah lebih jauh dari sebelumnya dalam dekade mendatang. Untuk pertama kalinya, astronot Eropa Matthias Maurer (foto) akan terbang ke bulan. Mereka juga akan melakukan perjalanan ke Mars bersama NASA, dengan rencana untuk membawa pulang sampel dari planet merah itu ke ke Bumi. Penulis: Sophia Wagner/Charli Shield (pa/as)
Foto: picture-alliance/dpa/F.Gambarini
7 foto1 | 7
Apa itu eksoplanet?
Eksoplanet atau Planet Exo adalah planet-planet yang terletak di luar tata surya kita dan mengorbit bintang induknya sendiri — atau beberapa bintang.
Para peneliti yang ingin menjawab pertanyaan "apakah ada kehidupan di luar sana" berharap dapat menemukan jawaban atas pertanyaan itu di eksoplanet.
Ini adalah salah satu "area dengan perkembangan tercepat dalam astronomi," menurut ESA.
Hingga saat ini, lebih dari 4.000 eksoplanet telah ditemukan - mulai dari ukuran yang besar seperti Jupiter hingga yang kecil seperti Merkurius.
Ada banyak lagi juga "yang sama sekali tidak memiliki analog di tata surya kita," menurut ESA.