1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
ReligiJerman

Enam Fakta Menarik Seputar Masjid di Jerman

Bettina Baumann | Kristina Reymann-Schneider
25 Oktober 2022

Kekaisaran Jerman pernah menggunakan sebuah masjid sebagai tempat untuk bangkitkan sentimen negatif tawanan perang muslim untuk berperang lawan Prancis dan Inggris.

Masjid di Berlin-Wilmersdorf, Jerman
Masjid di Berlin-Wilmersdorf, JermanFoto: Schoening/imageBROKER/picture alliance

Open Mosque Day telah rutin diadakan di Jerman setiap tanggal 3 Oktober sejak tahun 1997. Tahun ini, sekitar 1.000 masjid di seluruh Jerman membuka pintu lebar-lebar bagi muslim dan nonmuslim. Moto besar tahun 2022 adalah "Sumber daya langka - tanggung jawab besar."

"Dampak dari krisis iklim dapat diamati di negara kita dan di banyak wilayah di dunia, seperti yang terakhir dengan terjadinya banjir dahsyat di Pakistan," kata Aiman Mazyek, ketua Dewan Pusat Muslim di Jerman (ZMD).

Memang, tidak ada yang tahu berapa pastinya jumlah masjid di negara ini, tapi perkiraan ada di kisaran 2.350 hingga 2.750. Menurut sebuah studi oleh Konferensi Islam Jerman, pada tahun 2019 sekitar 24% dari 5,5 juta muslim yang tinggal di Jerman rutin mengunjungi masjid setidaknya sekali seminggu.

Berikut ini enam fakta menarik tentang keberadaan masjid di Jerman.

Kekaisaran Jerman pernah melatih jihadis

Masjid Wünsdorf di Brandenburg, dibangun tahun 1915 atas permintaan Mufti Istanbul. Masjid ini dianggap sebagai bangunan Islam pertama di Jerman dan seluruh Eropa Tengah. Didirikan bagi tawanan perang beragama Islam di tengah kamp tawanan, masjid ini dijuluki "half moon camp."

Selain menjadi tempat berdoa, ternyata Kekaisaran Jerman juga menggunakan masjid ini untuk membangkitkan sentimen negatif tawanan muslim untuk melawan Prancis dan Inggris. Kekaisaran Jerman menyebut langkah ini sebagai "strategi revolusioner". Di masjid inilah, para jihadis disumpah dan akhirnya dikirim ke garis depan untuk berperang di "perang suci".

Sebagian dari para tahanan muslim juga dijadikan objek penelitian, yang mencakup rekaman bahasa dan ukuran antropologis mereka. Hasilnya kemudian menjadi bagian dari bidang studi ilmu pseudosains yang oleh Nazi disebut "sains rasial."

Tahun 1928, sebuah masjid baru dibangun di Berlin-Wilmersdorf, dan Masjid Wünsdorf kehilangan peran pentingnya. Masjid Wünsdorf lantas dihancurkan pada tahun 1930, kurang dari 15 tahun setelah diresmikan. 

Masjid di kamp tahanan perang untuk tentara muslim di Berlin-Wünsdorf (gambar arsip sejarah dari tahun 1915 dengan penambahan warna)Foto: akg-images/picture alliance

Mirip Taj Mahal

Masjid di daerah Wilmersdorf di Berlin adalah yang tertua yang ada di Jerman saat ini. Bangunan ini sangat mirip dengan monumen terkenal dunia di India: Taj Mahal. Dua menara yang masing-masing setinggi lebih dari 30 meter membingkai bangunan masjid.

Masjid ini dirancang arsitek Jerman, Karl August Herrmann, untuk komunitas Ahmadiyah Lahore yang berasal dari negara yang sekarang disebut Pakistan. Anggota komunitas ini datang ke Jerman pada tahun 1920. Mereka mendirikan Masyarakat Muslim Jerman bekerja sama dengan muslim yang sebelumnya sudah ada di Jerman. Masjid di Berlin-Wilmersdorf menjadi pusat kegiatan umat Islam.

Khatib perempuan di Berlin

Pada tahun 2017, ada satu jenis tempat masjid yang sangat istimewa didirikan di ibu kota Jerman, yakni Masjid Ibn Rusyd-Goethe di Berlin. Di sana, para perempuan dan laki-laki berdoa bersama. Perempuan juga boleh berkhutbah dan masjid ini sangat inklusif.

"Masjid Ibn Rusyd-Goethe mewakili Islam progresif dan kontemporer yang sesuai dengan demokrasi dan hak asasi manusia. Kami hidup dalam Islam di mana perempuan dan laki-laki setara," tulis situs masjid.

Situs ini juga mengatakan semua aliran dalam agama Islam diterima. "Bersama kami, semua aliran dalam agama Islam diterima, Sunni, Syiah, Sufi dan Alevi punya rasa memiliki dalam komunitas kami."

Seyran Ates yang berprofesi sebagai pengacara, penulis, dan aktivis hak-hak perempuan yang ikut mendirikan masjid ini, telah membayar mahal untuk sikap progresifnya. Dia kerap menerima ancaman pembunuhan dan selalu berada di bawah perlindungan polisi.

Asosiasi kontroversial

Di Jerman, pengelolaan masjid dilakukan oleh asosiasi masjid masing-masing. Asosiasi Islam yang kemungkinan paling terkenal dan terbesar di Jerman dalam hal jumlah jemaah masjid adalah Turkish-Islamic Union for Religious Affairs (Ditib). Asosiasi tersebut dikritik karena berada di bawah otoritas keagamaan Turki yaitu Diyanet. Para imam yang ditempatkan di masjid-masjid Jerman selama beberapa tahun sebagian besar dilatih di Turki dan didanai oleh Turki.

Selama bertahun-tahun, para kritikus telah memperingatkan tentang pengaruh Turki terhadap jemaah di Jerman. Pemilihan presiden Turki 2018 menunjukkan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan punya banyak pendukung di Jerman. Saat berkunjung ke Jerman dia juga disambut dengan hangat dan meriah oleh para pendukungnya.

Tersembunyi, di halaman belakang

Bangunan suci umat Kristen bisa dengan mudah terlihat di lanskap kota-kota di Jerman dan sebagian besar desa dibangun di sekitaran gereja. Namun masjid hampir tidak terlihat.

Mayoritas masjid di Jerman hampir tidak dapat dikenali dari luar. Sering kali, hanya sebuah tanda yang menunjukkan bahwa ada masjid di belakang pintu masuk yang tidak mencolok. Masjid bisa jadi ada di sebuah unit rumah di daerah perumahan atau di daerah komersial di luar pusat kota.

Istilah yang diciptakan dalam bahasa Jerman untuk masjid tersembunyi seperti itu adalah Hinterhofmoschee, atau masjid halaman belakang. Meskipun secara deskriptif keadaan ini tepat, gambaran seperti ini dapat memiliki konotasi yang merendahkan.

Satu yang jadi pengecualian adalah Masjid Pusat di Kota Köln yang menjadi bagian dari Ditib. Dirancang oleh arsitek bintang Jerman Paul Böhm dan dibuka sejak tahun 2017, bangunan suci umat Islam ini terkesan modern dan megah. Bahan bangunan utamanya adalah kaca dan beton ekspos, diapit oleh dua menara melengkung setinggi 55 meter yang menjulang tinggi jauh melebihi tinggi bangunan di sekitarnya.

Awalnya dimaksudkan untuk menjadi masjid terbesar di Jerman, tetapi desainnya diubah setelah kritik terhadap rencana bangunan. Masjid ini dapat menampung 1.200 jemaah. 

Masjid di Kota Köln, Jerman, jauh dari kesan tersembunyi.Foto: Mesut Zeyrek/AA/picture alliance

Jarang ada azan

Di negara-negara Islam, seorang muazin secara tradisional mengumandangkan waktu salat harian, serta salat Jumat dari menara masjid. Di Jerman ini jarang dilakukan. Sebagian besar masjid di Jerman memang tidak memiliki menara.

Selain itu, praktik mengumandangkan azan tidak begitu diterima di masyarakat. Oleh mereka yang menolak, azan dianggap gangguan kebisingan dan dikritik sebagai deklarasi keagamaan yang diungkapkan dalam kalimat-kalimatnya. Tidak seperti lonceng gereja, panggilan salat oleh muazin dinilai punya makna teologis. Karena itu, hanya sekitar 30 masjid di Jerman yang rutin mengumandangkan azan.

ae/pkp

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait